
"Ibu pertanyaaan apa itu? sepertinya ibu terkena virus kakak!!"
Fidel menatap ibunya sambil menahan batuk yang masih menderanya di bantu Sakura yang ikut menepuk-nepuk punggungnya.
"Kamu sudah dewasa, ibu rasa kamu sudah bisa membicarakan hal seperti ini dengan ibu"
"Tetap saja bu, tidak mungkin aku akan menceritakan masalah kejantananku dengan ibu" suaranya mengecil menjadi pelan, Fidel menundukkan wajahnya tak berani memandang sang ibunda.
"Apa dugaan ibu selama ini benar, kamu penyuka sesama jenis?" pertanyaan ini lebih menghujam jantung Fidel.
"Aku laki-laki normal bu, aku sangat menyukai wanita dan tergila-gila pada wanita" kilahnya sambil membelalakan matanya. "Aku tak menyangka ibu akan berpikir seperti itu kepadaku"
"Lalu apa saat bersama Sakura 'adikmu' tidak berdiri?" Ibu menyipitkan matanya masih mempertanyakan kenormalan Fidel.
"Berdiri bu!" Fidel menundukkan wajahnya kembali merasa canggung dan malu.
"Apa karena Sakura kamu menolak perjodohan yang sudah ibu atur satu bulan yang lalu?"
Sakura tertegun mendengar soal perjodohan Fidel.
"Bukan bu, aku hanya tidak ingin ibu ikut campur dalam masalah pribadiku, aku akan menikah saat aku ingin dan dengan siapa aku menikah. Aku ingin aku sendirilah yang menentukannya" Ibu menghela napasnya mendengar perkataan anak bungsunya.
"Baiklah ibu tidak akan ikut campur tapi pastikan secepatnya kamu harus memberi kabar baik pada ibu"
"Iya bu"
Setelah menghabiskan makan siangnya, Fidel menyamankan tubuhnya duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Sang ibu tengah duduk santai sembari membuka-buka majalah kesehatan sementara Sakura tengah membereskan peralatan makan yang mereka gunakan tadi. Ibu menyerah dan ikut duduk dengan Fidel karena Sakura menolak untuk di bantunya. Kini ibu dan anak itu tengah sibuk dengan diri mereka sendiri, sebenarnya Fidel masih terguncang dengan kedatangan ibunya, bukannya tidak senang tetapi ia hanya belum siap terlebih karena adanya Sakura. Ia belum siap menceritakan hal yang sebenarnya tentang budaknya itu.
Sesekali Fidel melirik pada ibunya, ia gugup dengan alasan yang tak jelas. Ia memilih diam khawatir takut salah bicara.
"Kenapa ibu belum pulang sih, inikan sudah hampir sore. Ayolah bu lebih baik ibu cepat pergi eh maafkan aku ya Tuhan aku menjadi anak durhaka karena tidak mau bertemu ibunya" gerutuknya dalam hati dan sedang asyik-asyiknya bergelut dengan pikirannya tiba-tiba. .
"Kenapa kamu mencuri-curi pandang begitu pada ibu Fidel?" Ibu memecah keheningan, Fidel tertangkap basah. Ia berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.
"Tidak apa-apa kok bu" Fidel mengalihkan kembali pandangannya pada layar ponsel.
"Ngomong-ngomong di mana kamu bertemu gadis seperti Sakura? dia gadis yang sopan dan rajin, jaman sekarang ini sulit menemukan gadis yang seperti itu" pertanyaan yang tidak di inginkan akhirnya keluar.
__ADS_1
"Aku bertemu dengan Sakura di. . di jalan. Iya jalan bu" Jawab fidel bingung.
"Di jalan? maksudmu kalian bertemu secara tidak sengaja?"
"Iya betul bu kami berpapasan di pinggir jalan, ya seperti itulah" Fidel gelagapan tak tahu harus menjawab apa.
Melihat Sakura yang sudah merapikan bungkusan yang tadi di bawa olehnya akhirnya ibu beranjak bangun dan menghampirinya.
"Ahhh ibu rasa sudah waktunya ibu pulang"
"Syukurlah" Fidel menarik napas lega.
"Apa ibu mau aku antar pulang?"
"Tidak usah, ibu sudah mengirim pesan pada supir pribadi ibu untuk menjemput tadi, Sakura tante pulang ya" pamitnya.
"Baik nyonya tante, hati-hati di jalan" Sakura membungkukan badannya.
"Nyonya tante? kenapa kamu memanggil ibu seperti itu?" tanya Fidel merasa keheranan.
"Iya bu" Fidel mengantar ibunya sampai ke pintu depan rumahnya.
"Ingat kalau 'adikmu' berdiri lepaskan saja biarkan dia bebas asal jangan lupa pakai pengaman" bisik ibu menggoda anaknya.
"Ibuuuuu!!!" wajah Fidel merah padam menatap kepergian sang ibunda.
"Dah Fidellll" ibu melambaikan tangannya sambil melangkah pergi.
Setelah memastikan ibunya menaiki mobil, Fidel pun menutup pintu.
"Akkhh ibu dan kakak sama saja, orang bilang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, pepatah itu benar-benar nyata" Fidel berjalan masuk ke dalam rumahnya yang sepi, ia mencari sosok keberadaan budaknya yang cantik karena tak terdengar tanda-tanda kehidupan darinya.
"Sakura" panggilnya tetapi tak ada jawaban. "Sakura kamu dimana?" Fidel berkeliling di lantai satu rumahnya, ia tak berhasil menemukannya. Kemudian ia mencari ke lantai dua, lantai ini khusus tempat untuk bersantai dan menjemur pakaian.
Ia melangkahkan kakinya menaiki tangga dan benar saja, gadis itu tengah menjemur pakaian yang sudah di cucinya.
"Kamu di sini, aku mencarimu kemana-mana" ucap Fidel membuat Sakura menoleh.
__ADS_1
Di dekat tempat Sakura menjemur pakaian ada sebuah sofa besar dan sebuah meja, Fidel mendudukan dirinya di sana.
"Ada apa tuan Fidel mencariku?" Sakura berbicara sambil melanjutkan kembali aktifitasnya.
"Tak ada apa-apa aku hanya ingin menanyakan sesuatu, tadi kamu tidak memceritakan hal macam-macam kan pada ibu?" Fidel berbicara sambil memandang Sakura, budaknya itu masih mengenakan baju Fidel yang kebesaran, baju itu terangkat saat Sakura menggantungkan jemurannya menampakkan celana short yang di kenakannya. Rambut panjangnya yang tertiup angin menambah estetika tentang keindahan dirinya, Fidel tak bisa mengalihkan fokus pandangannya.
"Maksud perkataan tuan?" Sakura berbalik menatap Fidel.
"Ibuku tidak tahu bahwa aku sudah membelimu, dia tidak tahu cerita yang sebenarnya. Aku meminta padamu untuk menutup mulut sampai aku siap berbicara jujur tentangmu padanya"
"Baik tuan" Sakura memunggungi Fidel kembali.
Pemandangan itu membuat Fidel terhanyut, gadis ini sangat cantik dan menarik meski kisah kehidupannya amat menyedihkan, menurut Fidel Sakura seperti bunga teratai yang hidup di atas lumpur, dia tetap bersih dan indah meski hidup di lingkungan kotor.
Fidel memperhatikan gerakan Sakura dengan seksama, setelah dia menjemur potongan-potingan baju yang berukuran besar kini dia menjemur potongan-potongan pakaian yang kecil.
Sakura menggibas-gibaskannya, ada sedikit percikan air melebar dan bertebangan dari kain segitiga itu. Air itu bergerak slowmotion di mata Fidel, indah memang menambah kecantikan Sakura tetapi tunggu dulu Fidel rasa ia tahu kain yang sedang di gibaskan oleh Sakura bentuknya seperti sesuatu yang ia kenal.
"Seperti celana dalamku?" suaranya terdengar oleh Sakura.
"Hem? maksud tuan ini" Sakura mengangkat pakaian dalam itu di depan dadanya, tidak miring dan tidak terbalik, bentuk segitiga berwarna hijau tua yang sempurna. "Ini memang celana dalam tuan" ucapnya polos.
"Berarti percikan air yang menambah keindahan wajah Sakura tadi?" Fidel berlari dengan cepat merebut pakaian dalam basah yang di pegang Sakura, ia juga mengambil beberapa potong sisa pakaian dalamnya yang berada di keranjang jemuran. Setelah mendapatkan semuanya ia berlari menuruni tangga dan masuk ke dalam kamar.
"Ada apa dengan tuan Fidel? kenapa dia mengambil semua celana dalamnya, apa dia ingin mencoba menjemur pakaian juga sambil menggibaskannya?" Sakura hanya bisa memandang Fidel yang bergerak cepat dan pergi.
Fidel memeluk pakaian dalam basah itu hingga membasahi baju yang di pakainya.
"Aduh memalukan sekali kenapa dia harus menjemur dan terkena air cucian ini" Fidel mengangkat celana dalamnya, sesalnya begitu terpesona tadi dan ia juga merasa malu.
***
Maafkan cerita yang abal-abal dan gaje ini
Jangan lupa pencet jempol komen sama vote nya jika berkenan
Semoga terhibur 😘
__ADS_1