
Fidel menggigit kukunya mencoba merangkai kata-kata ingin menjelaskan pada budaknya itu tetapi akankah dia mengerti?
"Begini Sakura, menikah bukan untuk tujuan seperti itu. Orang dewasa menikah karena saling mencintai dan ingin saling menjaga" jelas Fidel.
Sakura terdiam, ia tersadar mungkin dirinya dan Fidel memang hanya sebatas tuan dan budak, tidak ada perasaan lebih. Fidel dapat melihat raut wajah itu, wajah yang kecewa.
"Haaahhh" Fidel membuang napasnya. "Sebaiknya kita tidak usah membahas hal ini lagi, cepat habiskan makanmu" ujarnya tak ingin melihat Sakura lebih sedih.
Sakura memakan sisa makanannya meski kurang bersemangat.
Kini Fidel dan Sakura tengah berada di dalam mobil, Sakura tertidur di kursi samping Fidel sepertinya gadis itu kelelahan telah melewati hari yang cukup menguras tenaga dan pikirannya, maklum saja dia sudah lama tidak bersekolah.
Dokter tampan tersebut menepikan mobilnya, mereka telah sampai rumah, ia turun dan membuka pintu di samping Sakura, melihat budaknya itu tertidur pulas Fidel menjadi tidak tega untuk membangunkannya, akhirnya ia memutuskan untuk menggendongnya, membawanya ke kamar.
Perlahan Fidel menurunkan tubuh Sakura di atas ranjangnya, rambutnya tersingkab menutupi wajahnya, Fidel menggerakan tangannya merapikan pelan rambut Sakura, ia memandanginya selama beberapa menit sebelum ia beranjak bangun. Fidel memegang selimut berusaha untuk menyelimuti tubuh Sakura tetapi kemudian ia merasa seperti ada yang menarik kerah bajunya bahkan lehernya ada merangkul, ia terjatuh membelakangi Sakura, matanya masih terpejam, gadis itu menaikkan kakinya di atas tubuh Fidel memeluknya seolah ia adalah bantal guling.
Fidel berusaha menggerakan tubuhnya dan menyingkirkan tangan serta kaki Sakura, tetapi kemudian kedua anggota tubuhnya itu kembali memeluk Fidel bahkan semakin erat. Selama beberapa waktu Fidel menahan keinginannya untuk pergi tak ingin mengusik tidur Sakura, kemudian ia menoleh ingin melihat wajah Sakura memastikan jika budaknya itu sudah terlelap tidur atau belum tetapi yang berada di depan wajahnya itu bukan wajah Sakura melainkan dadanya. Tepat saat Fidel menoleh, Sakura sempat mengerang dan menarik tubuh Fidel lebih dalam. Mau menolak pun rasanya terlambat, kini kepala Fidel tepat bersandar di dada Sakura. Jantungnya berdetak kencang, Fidel menelan salivanya.
"Haissshhh posisi apa ini" keluhnya.
Fidel memundurkan tubuhnya tapi lagi-lagi Sakura menariknya masuk ke dalam dekapannya lebih kencang. Ia bahkan bisa mendengar detak jantung Sakura.
Entah kenapa salah satu kancing pada kemeja Sakura terlepas menampakkan sedikit bagian atas dadanya, Fidel menutup matanya tetapi kemudian melirik pelan, ia bahkan menahan napasnya. Salah satu tangan Sakura melepas dekapannya pada Fidel, dia menggaruk dadanya yang gatal membuat dadanya semakin terbuka. Wajah Fidel memerah rasanya semakin panas, bahkan kini ia bisa merasakan sesuatu dalam dirinya ada yang mulai terbangun.
"Ini tidak bisa di biarkan"
"SA-SAKURAAAAAAA" teriak Fidel membuat gadis itu berjengit kaget, terbangun dan langsung mendudukkan dirinya.
"Ada apa tuan?" tanyanya panik.
"Kancingmu, kancingmu terlepas. Betulkan kancingmu" ucapnya menunjuk dada Sakura.
"Maaf tuan" Sakura mengancingkan bajunya.
Fidel bangun dan berdiri, ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kamar Sakura.
"Tuan ada apa tadi berteriak memanggilku? apa ada yang tuan butuhkan?" tanyanya kembali memastikan apa yang akan di minta tuannya.
"Tidak ada apa-apa aku hanya ingin kamu membenarkan kancingmu" Fidel menutup pintu kamar Sakura.
"Hah? cuma membenarkan kancing?" Sakura keheranan.
"Syukurlah akhirnya aku bisa keluar dari jeratan dua gunung kecil itu" Fidel membuang napasnya, kini ia merasa harus pergi mandi untuk mendinginkan kepalanya.
Dddrttt Drrrtt
Tiba-tiba ponselnya bergetar, panggilan tersebut berasal dari sang kakak. Ia mengusap tombol hijau pada layar ponselnya.
"Iya kak ada apa?" tanyanya malas.
"Fidel gantikan aku menghadiri acara peresmian cabang perusahaanya pak Beni, kakak lupa acaranya akan di adakan malam ini" jawabnya.
"Kenapa tidak kakak sendiri yang menghadirinya?"
__ADS_1
"Kamu lupa mata kakak masih bengkak, akan sangat memalukan jika kakak datang dalam keadaan seperti ini"
"Kenapa tidak yang lain saja yang kak, kenapa harus aku?"
"Kamu kan adikku lagipula yang lain sedang sibuk"
"Aku lelah kak, aku baru sampai rumah"
"Acara ini penting Fidel, pak Beni adalah salah klien yang selalu menjadi donatur tetap untuk perusahaan kita"
"Kakak selalu bisa mencari alasan"
"Ya sudah kalau kamu tidak mau mungkin sebentar lagi perusahaan kita akan bangkrut karena kekurangan dana"
Fidel sempat terdiam, rasanya setiap permintaan kakaknya ia tak bisa menolaknya.
"Iya baiklah aku akan ke sana"
"Nah begitu dong, jangan lupa ajak Sakura"
"Kenapa harus mengajak Sakura?"
"Tentu saja untuk menemanimu di sana, oia dia pasti tidak punya gaun dan tidak bisa berdandan kan? mampirlah ke salon langganan kakak, aku tunggu di sana" cakra mematikan panggilan tanpa menunggu jawaban dari Fidel.
"Sepertinya dia sudah merencanakannya, awas saja jika dia mengerjaiku lagi!"
Kemudian Fidel berbicara dengan Sakura, gadis itu setuju untuk menemani Fidel kemudian mereka segera pergi ke tempat yang di perintahkan Cakra, kakak konyolnya itu sedang duduk menunggu kedatangan mereka.
"Akhirnya adikku datang" sambutnya merentangkan tangan seolah akan memeluk Fidel tetapi kemudian beralih menyalami Sakura yang berada di samping adiknya. "Halo Sakura kita bertemu lagi"
"Untung saja aku tidak bermaksud menerima pelukanmu" ucap Fidel acuh melihat tingkah laku kakaknya.
"Fidel kamu sudah membawa pakaianmu?" tanya Cakra.
"Sudah jasku ada di mobil"
"Baguslah, aku jadi tidak perlu menyewakan jas untukmu hanya tinggal menyewa dasinya saja agar serasi dengan gaun yang akan Sakura pakai"
"Tuan Cakra tidak usah menyewakan gaun untukku aku punya beberapa pakaian yang di belikan tuan Fidel, pakaian itu cukup bagus dan masih bisa aku pakai"
"Tak apa Sakura, ini acara spesial sehingga kamu pun harus terlihat spesial di mata semua orang terlebih kamu akan pergi dengan Fidel, sekalian membuktikan jika Fidel juga suka perempuan"
"Aku ini memang laki-laki normal kak"
"Tapi yang lain menganggapmu tidak normal karena tidak terlihat mempunyai pacar dan selalu menolak perjodohan" rumor itu memang berhembus kencang di kalangan luar.
"Terserahlah" Fidel tetap akan kalah jika berdebat dengan kakaknya.
Cakra menjentikkan jarinya dan dua orang pegawai salon pun menghampirinya.
"Tolong rias dan pakaikan gaun paling cantik untuknya"
"Baik tuan" kedua pegawai itu menjawab kompak dan menggiring Sakura masuk ke dalam ruang dengan gorden yang tertutup, Sakura sempat melirik pada Fidel dia terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Sakura ikuti saja mereka" ucap Fidel menenangkan.
Cakra dan Fidel duduk berdampingan, mereka menunggu Sakura selesai di dandani. Kedua adik kakak itu sibuk bermain game dari ponselnya masing-masing.
"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Sakura?" tanyanya tiba-tiba. Cakra berbicara tetapi pandangannya fokus pada permainannya.
"Memangnya hubunganku apa kak? aku hanya ingin menolongnya" sama halnya dengan Cakra, Fidel berbicara tanpa menoleh padanya.
"Dia gadis yang baik dan penurut, tidak ada salahnya jika kalian saling jatuh cinta"
"Seorang budak tidak boleh jatuh cinta pada tuannya kak itu peraturan tertulis pada kertas perjanjiannya"
"Siapa yang membuat peraturan seperti itu?"
"Mami Stella pemilik Griya tempat Sakura tinggal dulu"
"Kalau budak jatuh cinta pada tuannya lalu bagaimana?"
"Mereka harus di kembalikan ke tempat griya itu lagi"
"Peraturan konyol!"
"Yah begitulah kak"
"Mereka hanya menyuruh budak melayani tuannya tetapi tidak membiarkan mereka jatuh cinta, kejam sekali"
"Aku setuju dengan kakak" Fidel menaruh ponselnya dan menyambar sebuah botol minuman di sampingnya.
Crekkkk
Suara gorden besar itu di buka, terlihat seorang gadis cantik dan anggun, iya itu adalah Sakura. Penampilannya sangat berbeda dari yang biasanya.
Bruuusshhh
Fidel tersedak menyemburkan kembali minumannya.
"Cantik sekali Sakura" puji Cakra dengan mata berbinar memandangnya.
"Kak ada tisu tidak?" Fidel mengusap air minum yang membasahi dagunya.
Cakra merogoh tasnya, pandangannya fokus pada Sakura, setelah ia rasa memegangnya, ia segera memberikannya pada Fidel dan pergi menghampiri budak yang berubah menjadi cantik bak cinderella.
Sebelum menyobek tisu yang di beri kakaknya, Fidel membaca tulisan dan petunjuk yang berada pada bungkus plastiknya.
"Tisu magic membuat pria ereksi lebih lama. Akkhh kakak aku butuh tisu wajah bukan tisu ini" Fidel mengangkat tisu tersebut sambil berteriak.
"Adanya tisu itu, pakai saja untuk mengelap wajahmu" jawabnya cuek tanpa menoleh.
"Memangnya wajahku ini 'anu'!!" Fidel mendesah sambil membuang wajahnya, "Kakak seperti seorang maniak yang selalu membawa alat-alat mesum"
***
Terima kasih untuk semua readers dan author yang selalu mendukung cerita abal-abal ini.
__ADS_1
Maafkan author telat update, author sedang patah semangat nih. Hehe
Tolong di semangatin ya 😁