Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
21. Harus Lebih Bersabar


__ADS_3

Nindy mengerjapkan mata ketika tidurnya terusik. Matanya terbuka perlahan dan langsung dihadapkan dengan dada lelaki itu.


Pipinya memanas seketika memikirkan itu semua. Dalam keadaan tidak sadar mereka tidur dalam posisi saling memeluk. Hawa dingin di luar sangat mendukung dua insan berlawan jenis untuk saling menghangatkan.


Dia berusaha melepas lengan kekar yang tengah memeluknya, tetapi sepertinya lengan itu menempel lebih erat di pinggang. Dia mencobanya sekali, dan tampaknya usaha gadis itu sia-sia belaka. Hingga dia memilih menepuk pipi lelaki itu guna membangunkannya.


"Yang ...!"


Tidak ada sahutan dari lelaki itu. Bergeming dan tak membuka mata.


Sekali lagi Nindy mencoba membangunkannya, tetapi bukan menepuk pipi melainkan mendorong dada lelaki itu.


"Diam! Tetap tidur." Akhirnya dia bersuara, tetapi matanya tetap terperjam membuat Nindy sedikit kesal.


"Yang, aku ingin ke toilet."


Lelaki itu membuka mata kemudian, melonggarkan pelukan lalu mengatakan, "Jangan menyesal telah membangunkanku, ya!"


Perkataan aneh yang keluar dari bibir lelaki itu membuat Nindy mengernyit. "Kenapa harus menyesal?"


Dia sudah menahan diri sejak semalam. Menurunkan hasrat yang sudah bergejolak terlalu dalam, membumbung tinggi di angkasa, lalu harus diturunkan secara paksa. Dan kini Nindy dengan pertanyaan lugunya, tanpa merasa bersalah menanyakan hal itu kepada Yang Pou Han. Bukankah dia sangat menguji kesabaran Yang?


Lelaki itu menahan Nindy kemudian, memerangkap tubuh gadis itu di bawahnya, mengunci pergerakannya dengan mencengkram kedua tangan Nindy ke atas. Seketika mata gadis itu mendelik, memrotes tindakan Yang Pou Han kepadanya.


"Apakah kau sedang menguji kesabaranku, heem?" Embusan napas lelaki itu menerpa wajah Nindy, mengganggu kedamaian gadis itu hingga saraf-saraf otaknya ikut menegang.


Apa yang akan dilakukan lelaki itu kepadanya?


Sampai ketika Nindy tak bisa menahannya, dia memberontak di bawah tubuh lelaki itu. Pergerakannya begitu mengganggu Yang Pou Han, menggesek bagian bawahnya yang sudah menegang sempurna, memercikkan rasa yang kemarin sempat dipadamkan secara paksa. Mendulang kembali gairah yang sebelumnya telah susah payah dikubur dalam-dalam.


"Aku sudah tidak bisa menahannya, Yang. Menyingkirlah!" bujuk Nindy dengan wajah penuh permohonan. Anehnya, wajah polos itu justru terlihat seksi di mata Yang Pou Han, hingga lelaki itu tak kuasa menahannya lagi.


Tidur berdua semalaman, dengan Nindy yang mengenakan kemeja putihnya yang kebesaran, tanpa mengenakan pakaian dalam, hanya celana bokser milik Yang Pou Han yang diikat dengan kuat karena terlalu longgar di perut Nindy membuat lelaki itu menahan diri untuk tak segera menghabisi gadis itu. Dia berusaha meredam semuanya dengan memeluk tubuh Nindy erat, mengusir pikiran kotor yang sudah tak bisa dikondisikan lagi.


Dan kini, gadis itu terbangun dengan memberontak di bawah tubuhnya. Menggesek bagian-bagian sensitif yang sudah mulai menegang sejak tadi. Apakah Nindy sengaja ingin menguji kesabarannya?


Ketika lelaki itu menyibakkan kemeja putih itu ke atas, memperlihatkan kulit perut yang rata, Nindy membelalakkan matanya. "Apa yang kau lakukan, Yang!"


Dia tak peduli, dia mengusap perut itu perlahan, hingga Nindy tampak semakin gelisah dan tak nyaman.

__ADS_1


"Hentikan, Yang! Stop it, please!" dia memohon.


"Kenapa? Bukankah aku suamimu?" Lelaki itu nampak marah ketika Nindy menolaknya. Meski mereka tak saling mencintai, tetapi Nindy tetaplah istrinya. Dan dia berhak atas tubuh itu, bukan?


"Maaf, aku ... ingin buang air kecil. Aku sudah ... tidak tahan."


Wajah dingin itu berubah teduh seketika, menampilkan senyum yang tertahan. "Cepat selesaikan. Aku tidak ingin menundanya lagi."


Nindy nampak mengerjapkan bulu mata lentiknya dua kali, menatap bingung lantaran perkataan yang terlontar dari mulut Yang Pou Han, hingga dia diam beberapa saat sembari memandang wajah lelaki yang sedang menindih tubuhnya itu.


"Jangan memasang wajah seperti itu. Jika kau tidak ingin aku berubah pikiran untuk menerkammu langsung."


Nindy menggeleng kemudian. Sedikit mengerti dengan maksud perkataan Yang Pou Han. Merasakan tubuhnya mulai terbebas, dia segera turun dari ranjang lalu berlari ke arah kamar mandi.


Yang Pou Han merobohkan tubuhnya terlentang, merentangkan kedua tangan seraya menatap langit-langit kamarnya. Senyuman itu tak kunjung hilang dari bibirnya. Dia menggeleng kemudian. Bangkit dari posisi tidur, berubah setengah duduk dengan menyandarkan punggung di head board ranjang.


Netra sipit itu mengawasi pintu kamar mandi yang masih tertutup, lalu beralih ke jam dinding. Masih pukul tiga pagi, cukup baginya untuk melakukan malam pertama mereka. Jangan sampai tertunda lagi. Dia sudah tidak tahan ingin segera menyatu dengan Nindy, melampiaskan hasrat yang selama ini terpendam dan tertahan.


Sampai ketika ia mengambil selimut yang ada di bawah kakinya, pandangannya tanpa sengaja melihat sesuatu yang menodai sprei ranjang tidurnya.


Gerahamnya seketika mengeras. Tangannya terkepal kuat. Dia segera turun dari ranjang, berjalan cepat ke arah kamar mandi. Dengan kasar lelaki itu menggedor kuat pintu kamar mandi, mengagetkan Nindy yang berada di dalamnya.


Gedoran pintu itu semakin kuat, hingga Nindy harus mempercepat kegiatannya di dalam kamar mandi.


"Aku bilang buka!"


Dalam hitungan detik, pintu terbuka dengan wajah Nindy yang nampak pasi.


Lelaki itu dengan kasar menarik lengan Nindy, lalu mengentakkannya ke dinding. Sorot matanya menunjukkan kemarahan, hingga Nindy ketakutan dibuatnya.


Apa yang terjadi?


"Siapa yang melakukannya? Katakan!"


Nindy ternganga? Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Yang Pou Han. Siapa? Melakukan apa?


"Apa yang kau katakan, Yang?"


Lelaki itu mencengkram kerah kemeja Nindy, hingga terlepas kancing bajunya secara paksa. Dia tak peduli akan hal itu. "Siapa yang telah menidurimu?"

__ADS_1


"Apa?"


Pertanyaan apa itu? Nindy bingung harus menjawab apa? Dia sejak semalam hanya tidur dengan lelaki itu. Mengapa Yang menanyakan sesuatu yang tidak perlu membutuhkan jawaban?


Lelaki itu menyeret lengan Nindy, mencengkram pergelangan tangan gadis itu dengan kuat. Hingga Nindy memrotes sikap kasar Yang kepadanya, memberontak dengan berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman tangan kekar itu. "Yang, kau menyakitiku."


"Diam!"


Dia mendorong Nindy, hingga gadis itu terjatuh ke ranjang. Sorot mata Yang Pou Han nampak menakutkan, antara marah bercampur kecewa. Nindy bisa melihat itu. Namun, apa yang membuat lelaki itu marah kepadanya? Apalagi kecewa, Nindy bahkan merasa tidak melakukan apa-apa yang bisa membuat Yang Pou Han merasakan kekecewaan seperti yang tersirat dalam tatapan matanya itu.


Sampai ketika lelaki itu menunjukkan sesuatu, segalanya terjawab sudah. "Itu darah apa? Kau berselingkuh setelah kutinggal beberapa jam saja?"


Dengan ragu Nindy menatap darah yang menempel di sprei, darah segar yang hanya sedikit itu memercikkan kemarahan Yang Pou Han. Nindy terlihat bingung dan takut. Namun, dia bisa menguasai keadaan.


Terdengar helaan napas berat dari bibir gadis itu. Hingga jawaban yang keluar dari bibir Nindy membuat Yang Pou Han melemas seketika. "Aku ... datang bulan, Yang."


*******


"Jadi ada pesta pernikahan?" Nindy nampak bersemangat ketika mengatakannya. Berbeda dengan Yang Pou Han, lelaki itu mengangguk lemas ketika menjawabnya.


Tragedi tadi pagi cukup membuatnya terpukul berat. Takdir belum berpihak kepadanya untuk mencicipi tubuh indah sang istri. Hingga ia harus bersabar menahan semuanya beberapa hari ke depan.


Sabar, ya. Orang sabar disayang Tuhan.


"Kau ingin melihat gedungnya? Gedung itu masih baru, jadi aku yang pertama menyewanya." ucapnya dengan mengancingkan kemeja berwarna putih itu.


"Benarkah? Aku jadi tidak sabar."


Yang menaikkan sebelah alisnya, menanggapi perkataan Nindy yang begitu bersemangat. "Gedung itu milik Sean Paderson. Dia datang ke negara ini hanya untuk melakukan peresmian pembukaan gedung itu, setelah itu dia kembali ke Indonesia. Bersiaplah, aku akan mengajakmu ke sana!"


Bibir Nindy tersenyum lebar setelahnya. Akhirnya dia bisa berjalan-jalan setelah sekian purnama hidup dalam penindasan. Hingga tanpa terasa dia melompat kegirangan seraya meninjukan kepalan tangannya ke udara. "Yeay!"


"Dasar anak kecil."


"Apa kau bilang?" Nindy menoleh mendengar sebutan Yang untuknya.


"Sudahlah, cepat bersiap. Sebelum aku berubah pikiran." Lelaki itu mengacak rambut Nindy setelahnya, lalu pergi terlebih dulu keluar dari kamar meninggalkan gadis itu yang masih mematung di tempat.


******

__ADS_1


.


__ADS_2