
Hampir empat bulan lebih, Nindy menjalani operasi, juga kemoterapi. Pipi tembamnya dulu menghilang, bergantikan pipi tirus dengan tulang menonjol. Tulang-tulang di tubuhnya makin terlihat jelas.
Pengobatan dengan jalan kimia membuat rambutnya kian menipis karena rontok. Nindy selalu menangis ketika melihat rambutnya tiba-tiba berjatuhan dengan bergerombol tanpa sedikit pun dia tarik. Dia menyembunyikan rambut itu di bawah bantal, lalu meminta perawat yang menjaganya untuk segera membuang rambut itu sebelum Yang Pou Han mengetahuinya.
Dia hanya tidak ingin semakin merasa membebani lelaki itu dengan kondisinya saat ini. Jika masih bisa disembunyikan, maka akan dia sembunyikan. Akan tetapi, dia tidak tahu sampai kapan dia bisa menyembunyikan kenyataan yang ada, sementara kepalanya sedikit botak di beberapa sisi.
Sebagai suami, melihat kondisi Nindy seperti itu sangat melukai batin Yang Pou Han. Wanita setia, yang memberinya keturunan, juga dicintainya telah menderita secara fisik hingga seperti itu. Tak jarang Yang Pou Han mendengar keluhan dari bibir Nindy yang tanpa sadar perempuan itu ucapkan. Yang Pou Han tahu, jika selama ini Nindy menyembunyikan rasa sakitnya itu dengan selalu tersenyum dan tertawa. Namun, ketika semua orang tidak sedang memperhatikannya, dia akan mengekspresikan rasa sakitnya itu dengan leluasa.
Yang Pou Han sering mengintip, ketika Nindy tengah sendiri. Perempuan itu tak jarang menangis, mengaduhkan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Suaranya begitu lirih, juga menyedihkan. Lelaki itu hanya bisa menatap pedih terhadap penderitaan yang dialami oleh Nindy.
Jika bisa, Yang Pou Han ingin rasa sakit itu dibagi dengannya saja, agar Nindy tidak terlalu menderita dan merasa sendiri saat didera rasa sakit itu. Sungguh batinnya tidak tega melihat penderitaan Nindy.
Dokter mengatakan, efek dari kemoterapi sangat berbahaya bagi tubuh. Karena pada dasarnya, kemoterapi berfungsi untuk menghambat sel membelah diri serta menghambat tubuh memproduksi DNA. Banyak terjadi kematian ketika seseorang melakukan proses kemoterapi, karena pengobatan ini bisa membunuh sel limfosit atau sel darah putih pasien.
Dokter juga memberitahu, jika ada kemungkinan akan terjadi perusakan sum-sum tulang belakang apabila proses ini terus berlanjut demi mematikan sel-sel kanker yang masih bersemayam, menggerogoti tubuh Nindy.
Yang Pou Han bahkan sudah membuat berita besar di luar sana untuk mendapatkan donor sum-sum tulang belakang demi kesembuhan Nindy. Ya, apa pun akan dilakukannya demi kesembuhan sang istri. Nindy tidak boleh mati, karena Yang Pou Han merasa belum sempat membahagiakan perempuan itu selama menjadi istrinya.
Anya telah tumbuh dengan baik. Bayi perempuan yang cantik dengan berat badan montok itu menjadi hiburan tersendiri bagi Yang Pou Han dan juga Nindy. Melihat bayi cantik itu tersenyum, sembari menatap secara bergantian ayah dan ibunya membuat suasana hati baik Nindy maupun Yang Pou Han merasa bahagia.
Malaikat kecil mereka telah tumbuh dengan luar biasa. Bayi yang pintar, cantik dan menggemaskan. Setiap orang yang memandang pasti akan merasa jatuh cinta dengannya. Rambutnya tebal dan sedikit bergelombang. Mata sipit berbingkai bulu mata lentik. Kulit seputih susu dengan hidung yang runcing menjulang. Sungguh perpaduan maha karya Tuhan yang sempurna.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Sayang?" Yang Pou Han mengecup kening Nindy sebelum lelaki itu berangkat bekerja, tangannya tanpa sengaja mengusap kepala Nindy dan hal itu membuat hantinya perih. Sekali lagi rambut perempuan itu tertarik dengan mudah di tangannya.
__ADS_1
Yang Pou Han berusaha tersenyum kendati hatinya ingin menangis. Dia menggenggam rambut itu, menyembunyikannya dari Nindy. "Baik, maaf aku tidak pernah bisa mengurus kebutuhanmu. Aku bukan istri yang baik," ucap Nindy sembari menunjukan raut wajah bersalah.
"Tidak, itu tidak benar. Kau istri sekaligus ibu terbaik yang ada di dunia ini. Jangan pernah merasa bersalah lagi, hem?"
Nindy tampak mengangguk dan melempar senyum. Perempuan itu mencoba tegar di hadapan Yang Pou Han, menjadi wanita kuat agar tidak membebani pikiran lelaki itu.
"Aku ada janji dengan dokter. Kami masih mencari pendonor sum-sum tulang belakang yang cocok denganmu. Semoga dokter segera mendapatkannya, sehingga operasi bisa dilakukan segera."
Nindy mengangguk lagi dengan memejamkan mata. Dia masih berharap kesembuhan itu datang, kendati hati sudah ingin menyerah karena teramat lelah. Namun, melihat bagaimana peejuangan Yang Pou Han begitu gigih dalam mencari pengobatan untuknya, membuat Nindy malu jika harus menyerah. Apalagi baby Anya sangat membutuhkan sosok ibu. Bukankah Nindy sudah berjanji akan memberikan kasih sayang yang tulus untuk anaknya itu hingga dewasa? Cukuplah itu sebagai motivasi Nindy untuk tetap berjuang melawan penyakit yang telah menggerogoti tubuhnya.
"Hati-hati, semoga semuanya berjalan dengan baik."
Nindy menyalimi tangan Yang Pou Han, rutinitas yang setiap hari dilakukan sebelum lelaki itu meninggalkannya untuk pergi bekerja.
Yang Pou Han melebarkan langkahnya, tidak sabar untuk segera sampai di ruangan dokter yang menangani Nindy. Dokter Veronica - dokter penyakit dalam senior- telah menunggu Yang Pou Han untuk membicarakan hal yang serius. Lelaki itu menaiki elevator untuk menuju lantai delapan di mana ruangan khusus Dokter Veronica berada.
Tepat di saat lelaki itu memasuki ruangan sempit berwarna silver berkilat itu, seseorang menyerobot untuk ikut masuk ke dalam. Seorang wanita yang selama ini selalu membayangi hidup Yang Pou Han. Wanita yang sempat mendekam selama empat bulan di penjara karena mencaci Nindy saat itu, Danisha.
Perempuan itu mengikuti Yang Pou Han sejak lelaki itu berada di dalam mobil. Sifatnya yang nekad, tidak peduli dengan penolakan Yang Pou Han sebelumnya, membuat lelaki itu kesal. Apalagi saat ini, pikiran Yang Pou Han hanya tertuju pada kesembuhan Nindy.
Dengan lancang dan tidak tahu malu, Danisha memeluk lelaki itu dengan erat. Seolah kerinduan yang teramat sangat begitu menggebu di dalam dirinya.
Yang Pou Han mendorong tubuh Danisha yang berbalut pakaian kurang bahan itu, hingga terentak ke dinding elevator yang dingin. "Aahh!" keluh Danisha, bersamaan dengan pintu elevator yang tertutup.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan! Apa kau tidak punya rasa malu? Aku sudah menikah. Jaga kelakuanmu terhadap laki-laki yang sudah beristri!"
Bukannya takut, Danisha justru terkekeh. Dia melempar senyum kemudian, yang terlihat sangat menjijikkan. Langkahnya maju ke depan, mendekati Yang Pou Han. Jemarinya meraba dada lelaki itu yang berbalut kemeja putih berlengan panjang.
"Ayolah, Yang! Aku tahu kau sangat menderita menikahi perempuan itu. Dia sakit-sakitan, bukan? Dia tidak bisa melayanimu dengan benar. Sebaiknya buang saja dia. Perempuan pembawa penyakit hanya membebanimu saja."
Rahang Yang Pou Han sudah terlihat mengeras dengan wajah yang memerah, mencoba menahan marah. Akan tetapi, tampaknya sia-sia belaka. Lelaki itu tidak bisa menahan diri dengan penghinaan yang merujuk atas nama Nindy. "Apa kau bilang?"
Danisha masih mengusap dada lelaki itu, wajahnya kian merona mendengar perkataan Yang Pou Han. Lelaki itu tampaknya mulai menanggapi apa yang telah dia sampaikan. "Emm, mungkin kau merasa kasihan. Aku tahu itu. Akan tetapi, aku yakin dia tidak lama hidup di dunia ini. Aku akan setia menunggumu sampai waktu itu tiba."
Seketika lelaki itu menghempaskan jemari Danisha yang menempel di bajunya. Tangannya mencengkram dagu perempuan itu, mendorongnya hingga terentak ke dinding elevator.
Danisha terkejut, matanya membeliak tak percaya. Seharusnya tidak begitu. Yang Pou Han adalah lelaki pemuja sahwat. Lelaki itu tak sanggup menahan godaan seorang wanita, apalagi wanita cantik sepertinya. Namun, apa yang sekarang terjadi di luar perkiraannya.
Wajah Yang Pou Han terlihat murka, sorot matanya menajam, menusuk hingga ke relung jiwa. Tangan itu menurun, yang semula di dagu kini berlabuh di leher. Cengkramannya semakin kuat, terasa mencekik di kerongkongan. Danisha bahkan memukul-mukul dada Yang Pou Han karena merasa kesakitan bercampur kesulitan hanya untuk bernapas. Sudut matanya mengeluarkan cairan bening, wajahnya diliputi ketakutan yang kentara, sangat berbeda dengan saat pertama kali dia memasuki elevator itu.
"Seharusnya aku melenyapkanmu saja sejak dulu, tanpa harus membuang uang karena memberikan banyak kompensasi kepadamu. Kau melupakan siapa aku, Perempuan? Kau lupa, berapa nyawa yang telah aku pisahkan dari tubuhnya? Apakah kau ingin aku mengulang kejadian lama kepadamu hanya untuk mengenangnya?"
Danisha menggeleng, dia sudah merasa kehabisan napas. Jika lelaki itu terus menerus mencekiknya, dia yakin waktunya tidak lama lagi berada di dunia ini. Dia ingin mengiba, tetapi tak sanggup bersuara. Hanya gelengan dan air mata yang terus berderai membasahi pipi, melunturkan maskara yang telah dia bubuhkan di matanya.
Dia sangat mengingat siapa Yang Pou Han. Dia tidak pernah lupa seberapa berbahayanya lelaki itu. Bahkan mungkin istri Yang Pou Han sendiri tidak tahu, manusia jenis apa yang telah menikahinya. Jika tahu begini, dia tidak akan berani mendekat lagi. Kompensasi yang diberikan Yang Pou Han memang sangat banyak, tetapi obsesinya untuk memiliki lelaki itu sepenuhnya mengalahkan logika serta akal sehatnya, membuat dia nekad melakukan hal gila itu.
Denting lift berbunyi, yang sebentar lagi pintu elevator itu akan terbuka. Yang Pou Han melepaskan cengkraman tangannya, lalu berbisik perlahan. "Menjauh dari kehidupanku, atau nyawamu terlepas dari jasadmu dengan kondisi yang mengerikan."
__ADS_1
Yang Pou Han segera berlalu setelah mengatakan itu, meninggalkan Danisha yang sedang terbatuk-batuk akibat kekurangan oksigen di paru-parunya. Tubuhnya terjatuh di lantai elevator, dengan kaki berselonjor dan diikuti pintu silver itu menutup secara otomatis.