
Bulatan terang berwarna jingga keemasan itu telah turun dari singgasananya, bergantikan kelamnya malam dengan banyak pendaran lampu yang mulai dinyalakan untuk menerangi gulita.
Nindy duduk miring di boncengan sepeda itu dengan tangan kanan melingkar di perut Yang Pou Han. Senyum itu tak kunjung pudar dari bibirnya. Rasa bahagia yang saat ini bersemayam dalam hati membuat Nindy tak kuasa untuk sekadar menutup-nutupi. Dia tersenyum dengan bibir juga matanya. Ya, beginikah rasanya jatuh cinta? Jatuh cinta yang terbalaskan ternyata begitu indah saat dirasakan.
Sampai ketika mereka berada di jalan raya, lelaki itu menghentikan laju sepedanya. Dia menurunkan satu kaki, sebagai tumpuan agar sepeda itu tidak sampai berguling.
“Apakah kau lapar?" Yang Pou Han menoleh ke belakang ketika menanyakannya.
"Emmm, sepertinya begitu."
”Di mana ada restoran di sini? Apakah bisa ditempuh menggunakan sepeda?" tanya Lelaki itu dengan mengedarkan pandangan ke jalan raya. Nindy tersenyum menanggapi. Di tempat seperti ini, mana ada restoran? Adanya juga warung makan dengan gubuk-gubuk kecil sebagai naungan dari paparan panas terik matahari, dan guyuran hujan.
“Ada, tentu saja. Kita bisa makan di sana," ucap Nindy dengan senyum mengembang.
***
”Kau yakin kita makan di tempat seperti ini?"
Nindy terkekeh, melihat Yang Pou Han nampak kebingungan melihat alas terpal yang membentang di atas tanah dengan meja-meja kecil yang tertata berjajar di atasnya. Mereka berada di dekat jalan raya, sedikit ke dalam dengan trotoar di mana para pejalan kaki sedang melakukan aktivitasnya.
Bunyi klakson mobil yang arogan dengan pengendara di depannya menambah kesan buruk pada tempat yang dipilih Nindy untuk kencan mereka. Belum lagi suara sumbang penyanyi jalanan dengan alunan gitar yang dipetik dengan nada serampangan menambah citra mengerikan tempat itu.
Namun, hal yang tergambar di depan mata hanya ditanggapi senyuman oleh Nindy. Dia menarik lengan sang suami untuk mengikutinya duduk di hamparan terpal berwarna biru tua dan sedikit lusuh itu. Mereka melepas sandal terlebih dulu sebelum menapakkan kaki mereka di atasnya.
Nindy memlih duduk di meja paling ujung. Tepat di sampingnya adalah pagar pembatas sungai. Ya, tempat paling ujung, jauh dari kebisingan bisa membuat suasana romantis tercipta meski berada di tempat sederhana.
Yang Pou Han mengikutinya dengan duduk di depan Nindy, menekuk kaki, bersila dengan kedua siku berada di atas meja. "Ini tempat apa?" tanyanya kemudian.
"Restoran, kaki lima." Nindy nampak terkekeh ketika mengucapkannya, membuat lelaki itu mengernyitkan dahi.
"Kau mau pesan apa? Aku akan memesankannya."
Nindy mengangsurkan lembaran menu yang diprint di kertas putih serta dilapisi plastik laminasi. "Aku tidak mengerti. Kau pilihkan yang terbaik menurutmu. Aku akan memakannya," kata lelaki itu sembari mengembalikan daftar menu kepada Nindy.
"Heemm, kau yakin?"
"Aku akan memakan, apa yang kau makan. Bukankah itu romantis?"
Senyum itu sekali lagi melebar. Yang Pou Han benar-benar berubah. Dia nampak semakin manis dan menyenangkan. Ya, Nindy merasa lelaki itu jauh lebih baik daripada saat pertama kali mereka bertemu dulu.
__ADS_1
"Aku akan memesannya. Tunggulah di sini! Emmm, jangan genit sama wanita lain selama aku tidak ada. Kau mengerti!" ancam Nindy kepada Yang Pou Han. Lelaki itu hanya mengangguk menanggapi.
Hanya beberapa menit menunggu, Nindy sudah kembali tanpa membawa pesanan. Dia duduk di tempat semula, saling berhadapan dengan Yang Pou Han. Dia menyatukan kedua tangan, menopang dagu di atas tangan yang disatukan sembari berbincang dengan lelaki itu.
"Kau sering kemari?" tanya Yang Pou Han.
Lelaki itu meraih tangan Nindy, menggenggamnya dengan sedikit mengusap-usap perlahan.
"Tidak, aku hanya sering lewat tempat ini. Hanya lewat, tetapi tidak makan."
"Lantas, mengapa kau mengajakku ke sini? Aku tidak percaya dengan masakannya. Sebaiknya kita cari restoran saja."
"Emmm, kau akan menyukainya. Temanku pernah membelikannya untukku."
"Teman? Laki-laki?" Yang Pou Han nampak menelisik, menatap lekat Nindy yang akan menjawab pertanyaannya.
"Menurutmu?"
"Sudah, jangan dibicarakan lagi. Membuatku kesal saja." Dia mengerutkan kening, tidak suka dengan arah pembicaraan mereka.
"Apakah itu artinya kau ... cemburu?" tanya Nindy dengan sedikit terkekeh. Belum sempat Yang Pou Han menjawab, seorang pelayan datang dengan membawa baki penuh berisi makanan.
Pelayan itu menekuk kaki, melempar senyum kepada Yang Pou Han dan .... Tidak, sepertinya pelayan itu tidak menoleh sama sekali kepada Nindy. Pandangannya hanya tertuju pada satu orang, Yang Pou Han.
Mimik wajah Nindy nampak kesal, terlihat dari bibirnya yang sedikit manyun. Pelayan itu segera memindahkan makanannya ke atas meja kecil yang berada di antara Nindy dan Yang Pou Han.
"Silakan, selamat makan." Sikap ramah itu hanya ditujukan kepada Yang Pou Han, tidak untuk Nindy. Pelayan itu segera berlalu setelah menyelesaikan tugasnya.
"Jangan tebar pesona! Aku cemburuan."
Nindy menyeruput es jeruk itu setelah mengatakannya. Wajahnya ditekuk dengan bibir dimajukan.
"Hei, ada apa?" Lelaki itu nampak mengerutkan dahi, menanggapi perkataan Nindy.
"Hemm, gadis itu tadi menyukaimu."
"Lalu?"
"Aku tidak suka."
__ADS_1
"Nanti aku suruh pemilik tempat makan ini pecat dia."
"Eh, kenapa dipecat?"
"Karena kau tidak suka."
Nindy terkekeh, dia menggeleng kemudian. "Sudahlah, ayo kita makan!"
Dia mendorong piring-piring itu untuk didekatkan ke tengah, mengangsurkan milik Yang Pou Han agar segera dimakan. Namun, ketika piring itu sudah diletakkan di tempat yang semestinya, lelaki itu menahannya.
"Apa itu? Kau memesan apa?"
Dia mengambil satu tusuk daging yang berderet memanjang, lalu mengamatinya dengan saksama. Oh, bukan. Itu bukan daging, bentuknya kotak-kotak, sedikit lentur dan bertekstur kenyal. Yang Pou Han bahkan mencolek-coleknya untuk memastikan jenis makanan apa yang sedang dia pegang.
Nindy terkekeh melihat tingkah suaminya. Sungguh menggelikan. Dia mengambil makanan yang sama, lalu menyuapkan ke dalam mulutnya.
"Ini adalah sate cecek. Rasanya enak. Cobalah! Kau belum pernah mencobanya, bukan?"
"Cecek?" Dia nampak berpikir, lalu meletakkan sate cecek itu kembali dan memungut makanan lain yang sejenis, tetapi berbeda bentuk.
"Lalu ini?" Dahinya berkerut dalam, terlihat ngeri sekaligus jijik dengan apa yang tersaji di depan mata.
"Itu sate usus. Lezat juga."
"Kalian menyebut makanan sampah sebagai hidangan lezat?"
"Cobalah sekali!" Pinta Nindy.
"Tidak mau. Makanan seperti itu bisa merusak lambungku."
"Ayolah, Yang. Sekali saja, demi ... aku." Wajah Nindy nampak memelas, menunjukkan raut memohon kepada lelaki itu.
Yang Pou Han menghela napas, lalu mengangguk mengiakan. Senyum seketika terbit di bibir Nindy bersamaan tepukan di tangan, senang. "Yeaay!"
"Kau manis sekali. Aku semakin mencintaimu."
"Emm, jangan banyak bicara. Habiskan makananmu! Kau bisa menunjukkan rasa cintamu padaku saat di rumah."
Glek.
__ADS_1
Nindy menelan es jeruk yang diseruputnya dalam satu tegukan besar. Dirinya sudah membayangkan apa maksud dari perkataan Yang Pou Han itu, sehingga dia hanya bisa tersenyum sembari melanjutkan aktivitas makannya.
Emm, mulutmu harimaumu, Nindy.