Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
74. Ekstra Chapter 4 ~End~


__ADS_3

Detik demi detik terlewati, menampilkan beberapa pasang mata yang setia mengawasi ruangan itu. Ruangan tertutup dengan seorang yang sedang menahan kesakitan berada di dalamnya.


Salwa memangku Anya yang sedang menangis mencari Nindy dan Yang Pou Han. Sementara Sean mengajak dua anak lelakinya duduk di samping Salwa.


Rasa cemas ikut melanda ketika pintu itu tak kunjung terbuka. Salwa masih menepuk-nepuk punggung Anya, menenangkan gadis kecil itu akan takut kehilangan orang tuanya. Wajah cemas akan apa yang sedang terjadi di dalam ruangan itu begitu kentara di wajah Salwa. Cukup lama mereka menunggu, hingga pintu terbuka dengan seseorang telah keluar dari sana.


Tampak Yang Pou Han berjalan lesu dengan wajah kusut menghampiri Sean dan Salwa. Dia terlihat begitu kacau dengan tampilan tak semestinya. Kesakitan Nindy yang tak biasa meninggalkan banyak tanda tanya pada dua orang yang sedari tadi telah menunggu di luar. Sampai akhirnya Sean Paderson tak sabar dengan rasa penasarannya, dia mengguncang bahu Yang Pou Han.


"Apa yang terjadi?"


Yang Pou Han belum juga menjawab. Dia hanya bergeming, menampilkan wajah linglung tak sedap di pandang. Dia menatap Sean dan Salwa secara bergantian, lalu tiba-tiba memunculkan senyuman yang aneh.


Anya yang melihat papanya telah kembali segera meminta berpindah kepada Yang Pou Han. Lelaki itu menggendong Anya, lalu mencium pipi gembul putrinya.


"Apa yang terjadi di dalam?" tanya Sean Paderson lagi yang sudah tak sabar akan penjelasan Yang Pou Han.


"Nindy ... hamil. Aku akan memiliki anak lagi."


"Apa?" Sean terlihat tak percaya, tetapi kemudian Yang Pou Han mengangsurkan sebuah foto hasil USG kepada Sean.


"Mereka ... kembar."


"Bagaimana mungkin?" Sean kembali meragukan perkataan Yang Pou Han. Ada sirat keirian di matanya mendengar bahwa Yang Pou Han bisa mendapatkan anak lagi dengan dua sekaligus.


"Ckk, kau meragukan kemampuanku?"


"Dokter pasti salah menganalisa." Sean tampak berkilah, tak mau mengakui kenyataan yang ada.


"Oh, jangan salah, Tuan Paderson. Seorang di depanmu ini begitu andal dalam mencetak anak. Kau harus banyak-banyak belajar dariku."


"Hai, apa yang sudah kalian perdebatkan!" Salwa yang mendengar perdebatan dua orang lelaki dewasa di depannya itu tak terima dengan topik pembahasan Sean dan Yang Pou Han yang dibicarakan di depan anak-anak mereka.


Yang Pou Han terkekeh kemudian dan itu membuat Sean semakin kesal. "Sayang, ayo kita bikin kembar tiga. Kita buktikan jika aku lebih piawai membuat anak kembar," ucap Sean dengan memeluk pinggang Salwa yang telah berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Salwa hanya menggelengkan kepala, lalu mencubit pinggang suaminya. "Jangan membahas hal seperti itu di depan anak-anak!"


"Apa Ayah dan Bunda akan membuat anak kembar? Apakah Kinan boleh membantu membuatnya?" Kinan yang sejak tadi terfokus dengan layar ponsel yang ditonton bersama Reynand pun akhirnya ikut bicara, membuat Salwa semakin membulatkan matanya.


"Ayah hanya bercanda, Sayang. Bukan Ayah yang bisa membuat anak kembar, tetapi Tuhan."


"Oh, begitu." Kinan tampak mengangguk-angguk, lalu kembali menatap layar digital di genggamannya.


"Dasar!" ucap Salwa lirih kepada Sean.


"Tapi ucapanku serius. Kita memulainya nanti malam, ya?" bisik Sean kemudian yang dibalas pelototan oleh Salwa.


...***...


Suasana itu tampak hening, tetapi terasa damai dan menentramkan. Lelaki itu masuk ke dalam ruangan yang pencahayaannya dibuat redup lantaran hari sudah malam.


"Kau belum tidur?"


Nindy menjawab dengan gelengan kepala. Wajahnya menampilkan senyuman teduh kepada lelaki itu.


"Mengatakan apa?"


"Anak kita. Mereka yang sedang tumbuh di sini. Mengapa kau merahasiakannya?"


Nindy mengusap perutnya yang masih rata. Kehamilannya baru menginjak tujuh minggu, tetapi dia belum sempat memeriksakannya hingga kejadian tadi sore menjelaskan semuanya.


"Aku tidak merahasiakannya. Aku tidak tahu sebelumnya."


"Benarkah? Tapi kau sempat mengatakan anak kita saat itu."


"Yeah, aku hanya menebak. Karena aku teringat telah terlambat datang bulan beberapa minggu ini. Aku belum sempat memeriksakannya."


Yang Pou Han mengusap perut Nindy, mengecupnya di sana. "Kau sangat ceroboh. Aku akan menghukummu lain kali. Aku pasti sangat menyesal jika terjadi sesuatu kepada mereka."

__ADS_1


"Maafkan aku, Yang. Aku akan lebih berhati-hati."


"Sudahlah. Jangan dipikirkan! Kau pasti sangat lelah, kan?"


"Anya? Di mana Anya?" Nindy tampak mencari-cari keberadaan putri kecilnya itu.


"Tidak perlu cemas. Sean dan Salwa membawanya."


"Mereka menjaga tiga anak sekaligus?"


"Yaa, biarkan saja. Pastinya mereka tidak akan sempat membuat anak kembar malam ini." Yang Pou Han terkikik membayangkan bagaimana kerepotan Sean dan Salwa mengurus ketiga anak kecil itu bersamaan di hotel tanpa membawa pengasuh.


"Membuat anak kembar?"


"Tentunya Sean tidak mau kalah denganku, kan?"


"Hai, ya ampun. Apa yang sedang kalian pertunjukkan? Kenapa kalian selalu mendebatkan hal yang tidak penting?" Nindy hanya bisa menggelengkan kepala mendengar penuturan Yang Pou Han.


"Hanya sebatas pembuktian. Tidak lebih. Sudahlah, jangan memikirkan itu. Malam ini aku akan tidur bersama istri dan kedua anak kembarku."


"Apa?" Dan sebelum Nindy mendapatkan jawaban, lelaki itu ikut naik ke ranjang perawatan Nindy. Mengganggu kenyaman Nindy dengan ikut berbaring di ranjang sempit itu, Yang Pou Han memeluk Nindy dari belakang kemudian.


"Aku mencintaimu. Terima kasih. Kau membuatku menjadi seorang laki-laki yang luar biasa. Terima kasih atas semuanya." Sebuah kecupan penuh sayang dilabuhkan di dahi Nindy dan ditanggapi senyuman oleh perempuan itu.


"Sama-sama," ucap Nindy seraya memejamkan mata, menikmati kedekatan dan kebahagiaan yang tercipta di antara mereka.


Yang Pou Han mengeratkan pelukan itu, membenamkan wajahnya di rambut Nindy yang tergerai. Dia tersenyum kemudian, tidak menyangka bahwa dia berada di titik ini. Sebuah kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan di kehidupannya yang dulu. Sungguh dia merasakan kemurahan Tuhan dalam hidupnya. Menerangi kehidupannya yang suram menjadi terang benderang dan diliputi kebahagiaan.


"Thanks, God. Alhamdulillah."


...~ The End ~...


Note : Semoga mengobati rasa rindu terhadap mereka, ya. Terima kasih atas dukungannya. Salam sayang selalu.

__ADS_1


🤗🤗


__ADS_2