Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
25. Hampir Ternoda


__ADS_3

Note : Dua Part berikutnya adalah area dewasa (Bocil dilarang keras mengintip atau membaca. Diperuntukkan hanya untuk dewasa)


Dosa jangan minta Author yang naggung, ya!


Author dosanya udah banyak.


********.


Petugas yang memutar video itu ditangkap oleh anak buah Yang Pou Han. Dengan kasar mereka mendorong lelaki itu di depan semua orang.


Nampak gurat ketakutan di wajah lelaki pemutar video itu. Dia menunduk, bersujud di kaki Yang Pou Han. Berusaha mengiba untuk mendapatkan belas kasihan dari lelaki itu. "Maafkan saya, Tuan Yang. Saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya memutar video yang ada di kaset itu tanpa memeriksa isinya terlebih dahulu."


Lelaki itu menatap dengan ekspresi dingin dan angkuh. Dia cukup berang dengan sikap seorang WO yang kurang profesional dalam menjalankan tugasnya. Memutar video tanpa mengetahui isi dari video itu terlebih dahulu.


"Dari mana kau mendapatkan kaset video itu?"


Lelaki malang itu menggeleng. Dia menunduk, menghindarkan tatapan Yang Pou Han yang nampak mengerikan, menghunjam langsung ke dalam sudut nyali hingga menyisahkan sedikit saja keberanian dalam dirinya.


"Katakan! Jika kau masih ingin nyawamu masih menyatu dengan tubuhmu."


Perkataan lelaki itu sontak membuat semua tamu undangan beringsut mundur, menajuh dari lelaki itu untuk sekadar menyelamatkan diri.


Beberapa orang yang sebelumnya berbisik dengan suara keras mengatai Nindy dengan kata-kata menghina mulai menyembunyikan diri, berusaha menghindar dari amukan lelaki itu yang kini wajahnya berubah bagaikan pemangsa yang haus dan kelaparan. Mencari tawanan juga buruan untuk memuaskan rasa lapar yang mendera dalam jiwa.


"Saya mendapatkannya dari fotografer Wedding Organizer, saya hanya memutarkan apa yang harus saya putar. Maafkan saya tidak melihat dulu isinya, Tuan. Ampuni saya!" Lelaki itu terus mengiba, berharap belas kasihan dari Yang Pou Han.


"Bawa fotografernya kemari!" Yang Pou Han memerintah.


Tepat ketika Yang menyelesaikan kalimatnya, Nindy seketika mencengkram lengan lelaki itu sembari menundukkan pandangan. Yang menoleh kemudian, melihat ke arah sang istri yang berwajah sembab juga berlinang air mata.


"Aku ingin ke toilet sebentar," ucap Nindy lirih.


"Aku antar."


Nindy menggeleng perlahan, "Aku ingin sendiri, Yang."


Dia terlihat tak setuju dengan permintaan Nindy. "Kau sedang tidak baik-baik saja. Aku akan mengantarmu." Perkataan Yang terucap begitu dingin dan tegas, tetapi sarat akan sebuah perhatian yang belum bisa Nindy mengerti.


Gadis itu masih menggeleng. Dia merasa malu jika Yang mengantarnya. Dia ke toilet bukan untuk buang air atau membasuh wajah yang penuh dengan air mata. Nindy ingin menangis di sana. Dia ingin meluapkan kesakitannya sendiri di dalam bilik toilet dan tanpa seorang pun yang mengetahui betapa rapuhnya dia.


"Aku ingin sendiri, Yang. Kumohon!" Matanya kembali berkaca-kaca, seolah tak kuasa untuk menahan bulir bening yang hampir terjatuh di pelupuk mata.

__ADS_1


Terdengar helaan napas berat dari bibir Yang Pou Han, lelaki itu akhirnya membiarkan Nindy ke toilet seorang diri tanpa dirinya menemani. "Hubungi aku jika kau berubah pikiran."


Nindy mengangguk. Dia berjalan pergi kemudian. Diiringi tatapan cemas oleh lelaki itu. "Ikuti dia! Pastikan tidak ada yang mengganggunya selama perjalanan ke toilet!" Yang memerintah anak buahnya sekali lagi. Dengan anggukan, dua orang berpakaian formal mengikuti Nindy dari jarak tertentu yang mereka anggap aman.


Nindy mempercepat langkah kakinya. Air matanya sudah tak sanggup lagi ditahan. Hingga ketika dia sudah memasuki area toilet, dengan cepat ia membuka salah satu bilik toilet yang terdekat. Nindy mengunci bilik toilet itu lalu menyandarkan tubuhnya di sana.


Dia menunduk, menekuk kakinya hingga terlipat. Air matanya pecah, tak mampu ditahan lagi, luruh membasahi pipi yang sempat mengering.


Dia malu. Apakah dia salah karena terlahir dari rahim seorang pel@cur? Namun, bukankah seorang pel@cur juga seorang wanita? Mereka juga seorang ibu yang menyayangi anak-anaknya, sama dengan ibu-ibu lain di muka bumi terlepas dari apa profesinya.


Seberapa burukkah pandangan orang lain terhadap darah daging wanita lacur? Ataukah mereka merasa seorang anak dari wanita lacur akan memilih jalan hidup yang sama dengan ibunya?


Nindy tergugu dalam pikirannya. Mencoba berdamai dengan keadaan, tak menyalahkan nasib dan juga takdirnya. Dia ada bukan karena sebuah kutukan atau kesalahan, tetapi Tuhan memang menakdirkan dirinya ada dan terlahir di dunia. Jika dia menyalahkan Tuhan atas kelahirannya, bukankah itu sangat berdosa?


Entah apa yang dilakukan oleh Yang Pou Han di sana. Dia sudah tak peduli lagi. Dia bahkan tak berani untuk keluar dari bilik toilet untuk sekadar menampakkan diri.


Nindy bangkit kemudian, setelah selesai menguasai gejolak emosi di dada. Gadis itu membuka pintu bilik toilet, berjalan ke arah wastafel. Dia meletakkan tas kecil di atasnya. Menyalakan kran air, Nindy membasuh wajahnya yang nampak mengerikan karena riasan yang luntur. Membersihkan dengan tisu yang tersedia di atas wastafel berbahan keramik itu.


Menyanggah tubuh dengan kedua tangan yang diletakkan di atas marmer hitam dengan semburat warna emas di atasnya, Nindy menghela napas berat kemudian. Mengerjapkan mata dua kali untuk mengembalikan senyuman yang telah pudar setelah tragedi penghinaan itu. Dia harus kuat, tak boleh kalah dengan hinaan seperti itu. Ya, bukankah dia tidak melakukan kesalahan apa pun? Apa yang harus ia malukan?


Sampai ketika dia hendak berbalik, ingin segera keluar dari dalam toilet wanita, seseorang membungkamnya dari arah belakang.


"Hemmmmm ...."


Dengan gerakan cepat, Nindy merasakan tangannya diikat dengan tambang. Dia berteriak, "Tol ...." Belum sempat Nindy mengucap sebuah kata, mulutnya dibungkam lagi.


Orang itu maju ke depan, mengitari tubuh Nindy dengan tangan tetap dalam posisi membungkam mulut Nindy dengan kain.


"Hai! Apakah aku harus memperkenalkan diriku dulu sebelum kita memulai permainan?" Ekspresi lelaki itu terlihat menjijikkan dengan lidah dijulurkan ke depan.


Seringai keji dan menjijikkan lelaki itu terbit, dan langsung membuat alarm tanda bahaya di otak Nindy. Dia menggeleng, meronta, berusaha melepas tali yang mengikat kedua tangannya. Ia ingin menghubungi Yang, tetapi tali yang mengikat kedua tangannya menghentikan pergerakan untuk mengambil bag kecil yang tertinggal di wastafel.


Tatapannya memohon untuk segera dilepaskan. Namun, hal itu sama sekali tak memengaruhi lelaki itu. Dengan wajah mesumnya, dia melingkarkan lengannya ke tubuh Nindy, meraih ujung resleting gaun milik gadis itu.


Nindy mengentakkan tubuhnya, berusaha menghalau tangan kurang ajar lelaki itu, tetapi pergerakannya tak bisa membuat Nindy menghentikan tindakan asusila yang dilakukan oleh lelaki itu.


Resleting itu turun hingga sebatas punggung. Air mata Nindy mulai meluruh ketika merasakan tangan lelaki itu sudah berhasil melepas pengait pakaian dalamnya. Dia menggeleng, menggerak-gerakkan tubuhnya dengan kuat agar lelaki itu yang hanya menggunakan satu tangannya untuk menjamah tubuh Nindy kesulitan untuk melakukannya. Dia merasa begitu hina saat merasakan tangan itu mengusap punggungnya yang terbuka, Nindy begitu jijik dengan dirinya sendiri.


Tangan yang membungkam mulut Nindy terlepas, memberikan kesempatan gadis itu untuk berteriak meminta tolong. Namun, sebelum Nindy berhasil melakukan itu, lelaki itu membungkam bibir Nindy dengan bibirnya. Nindy membelalakkan mata, menggeleng dengan kuat, membuat bibir lelaki itu berlabuh di pipinya. Dengan kasar lelaki itu menampar Nindy, menciptakan rasa panas dan sakit di pipi seeta bibir.


Dagunya dicengkram dengan kuat, membuat dia tak bisa berkutik lagi. Nindy tak bisa diam saja, dia mengentakkan kakinya, berupaya menendang milik lelaki itu, tetapi justru pergerakannya membuat kakinya terbuka, hingga lelaki itu dengan kurang ajar meletakkan tubuhnya mengapit di antara kaki Nindy yang terbuka.

__ADS_1


Nindy merasa terdesak, dengan wajah lelaki itu yang semakin mendekat ke wajahnya. Tubuh Nindy bergetar kuat, ketika tangan lelaki itu dengan kurang ajar melepaskan kerudung yang membalut kepalanya. Nindy berteriak, tetapi tamparan keras itu mendarat lagi di pipinya. Membekaskan rasa perih bercampur nyeri yang mendera.


Hingga ketika lelaki itu memeluk Nindy dari arah depan, berusaha melepaskan gaun pengantin yang sudah terbuka bagian belakangnya, pintu bilik kamar mandi didobrak dengan kuat dari luar.


Lelaki itu terjungkal, terjerembab dengan kepala terbentur pinggiran kloset, sementara Nindy terperangah terkejut. Antara takut bercampur lega, antara merasa bersalah bercampur senang melihat siapa yang sudah datang menyelamatkannya.


"Kurang ajar!" Yang Pou Han mengahantam wajah lelaki itu sebelum berhasil bangkit dari jatuh. Dia menyeret tubuh itu untuk keluar dari bilik toilet. "Berani sekali kau menyentuhkan tangan kotormu itu di tubuh istriku!" Tendangan mendarat di kepala, lelaki itu roboh seketika dengan kepala sudah terhantam ke dinding marmer berwarna hitam legam itu.


Yang menginjak, menendang secara bertubi-tubi tubuh, tangan dan kaki lelaki itu, hingga berakhir menginjak kepala lelaki yang sudah tak berdaya itu dengan sepatu hitam berkilat miliknya.


Wajahnya begitu berang, kilatan keji terpampang jelas dari sorot matanya. Dia mengeluarkan gun silencer lalu memasangkannya pada raging bull miliknya. Sebuah pistol asli buatan perusahaan Taurus di negara Brazil yang bisa melontarkan peluru dengan energi hingga dua ribu tujuh ratus joule. Sebuah pistol yang biasa digunakan oleh polisi dunia untuk memberantas kejahatan kini sudah dalam posisi siap melubangi kepala pria tidak berguna itu.


"Siapa yang menyuruhmu?" Lelaki itu bertanya dengan nada berat dan penuh ancaman. Ujung raging bull sudah berada di kening lelaki itu, menciptakan rasa dingin yang menguar dari logam itu.


Bukannya menjawab, lelaki itu justru menyeringai menjijikkan. Tidak takut dengan ancaman Yang Pou Han, bahkan terkesan mengejek juga merendahkan. Tanpa suara, tanpa aba-aba, timah panas itu sudah melubangi kepala tidak berguna itu, membuat sebuah luka yang mengerikan dengan darah terciprat di mana-mana.


Yang melepaskan jas mahalnya. Membuangnya dengan menutupkan ke wajah menjijikkan itu. Dia menegakkan tubuh dari posisi berjongkok, melipat lengan kemeja hingga sebatas siku. Memutar kran di watafel, Yang membasuh wajah serta tangannya yang terciprat darah lelaki itu.


Dia menatap kemejanya yang penuh dengan darah. Dengan kasar dia melepaskan kancing kemeja, lalu membuangnya di tubuh yang sudah tak bernyawa itu.


Seorang anak buah Yang Pou Han datang menghampiri, membawakan kemeja baru untuk sang majikan. Lelaki itu segera mengenakan kemeja itu, lalu mengancingkannya dengan cepat. "Ambilkan selimut!"


Dia menghela napas kemudian, menyangga tubuhnya di atas meja wastafel berbahan marmer itu. Lelaki itu menatap pantulan dirinya di cermin, menyugar rambutnya yang berantakan lalu merapikannya. Dalam senyap seorang anak buah Yang membawakan sebuah selimut. Dia menerima selimut itu, dengan langkah pasti dia kembali ke dalam bilik toilet di mana Nindy berada.


Gadis itu nampak berjongkok, menekuk kaki seraya memeluk lututnya sendiri. Nindy membenamkan wajahnya di atas lutut itu. Sepertinya dia berhasil melepas tambang yang mengikat tangannya. Gadis itu terlihat menyedihkan, dengan pakaian yang sudah koyak di sana- sini juga tak lagi terpasang dengan benar.


Yang menekuk kakinya, menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh Nindy, mengusap kepala gadis itu.


Nindy seketika menengadah ketika merasakan usapan di kepalanya, senggukan masih terdengar dari bibir gadis itu..


"Ayo kita pulang!" ajak Yang Pou Han seraya mebatap netra bening milik Nindy.


Dia menangis, memeluk lelaki di depannya itu. Takut, tubuh Nindy benar-benar bergetar hebat. Dia tidak pernah mengalami pelecehan seperti itu sebelumnya. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis sembari memeluk Yang Pou Han. Hingga lelaki itu mengajaknya bangkit, Nindy mengikutinya.


Sampai ketika Yang melepaskan gaun pengantin milik Nindy, gadis itu tak bisa berkata apa-apa. Yang membuang gaun pengantin dengan harga jutaan dollar itu di tong sampah, membalutkan selimut yang ia bawa menutupi tubuh Nindy yang hanya tertutup pakaian dalam. Dengan gerakan peelahan, lelaki itu membawa Nindy dalam gendongannya, tak membiarkan Nindy terlihat dari luar.


"Sembunyikan kepalamu!" perintah Yang kemudian.


Lelaki itu membawa Nindy keluar dari bilik toilet, lalu menemui anak buahnya. "Bereskan semuanya!" Dia memerintah, seraya pergi dari ruang toilet wanita itu dengan membawa Nindy bersamanya.


Yang berjalan dengan beberapa orang mengikut di belakang, menuju ke lift khusus yang langsung membawa mereka ke area *basemant.

__ADS_1


》Bersambung* ...


__ADS_2