Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
47. Meminta Bantuan


__ADS_3

Di dalam ruangan itu, dua orang anak manusia sedang tertidur pulas dengan saling memeluk untuk saling menghangatkan. Di luar, udara pagi terasa dingin, menembus, menusuk ke tulang.


Hari minggu, di mana setiap orang menantikannya karena terbebas dari rutinitas harian yang terasa penat dan melelahkan, menggantinya dengan olahraga bersama atau sekadar jalan-jalan pagi di sekitar kompleks perumahan.


Namun, ada yang berbeda dengan pagi ini. Cahaya mentari yang muncul malu-malu, tertutup oleh awan putih yang mulai menggelap dengan bulir-bulir air yang menetes deras menbasahi bumi pertiwi, menjadikan penduduk bumi enggan untuk meninggalkan selimut mereka.


"Mengapa aku bisa ketiduran lagi?" Perempuan itu memindahkan lengan suaminya yang sedari tadi melingkar di pinggang. Mengambil japit rambut untuk menyatukan surainya yang menjuntai supaya rapi. Dia ingin beranjak, tetapi lelaki yang masih pulas dengan bertelanjang dada itu menahan pergerakannya.


"Mau ke mana?" Suara serak itu mengalihkan perhatiannya. Dia menoleh sembari menyunggingkan senyum kepada si pemilik manik biru kesayangannya.


"Sudah pagi, Mas. Aku mau menyiapkan sarapan."


"Emm, tetap di tempat!" Lelaki itu menarik tubuh berbadan dua itu perlahan, sehingga perempuan itu tak bisa menolaknya. Dia berbaring kembali, dengan tubuh lelaki itu miring menghadapnya.


"Bagaimana kabar anakku hari ini? Apakah dia nakal?" Tangan lelaki itu mulai menelusup di balik piyama sang istri, mengusap perut yang sedikit buncit lantaran terdapat kehidupan baru di dalamnya.


Warna merah jambu itu seketika membias di pipi perempuan itu, merasakan sentuhan lembut yang membelai perutnya. Dia mengulas senyum kemudian tanpa mengalihkan tatapannya dari netra biru yang nampak meredup itu.


"Dia anak yang penurut, sama sekali tidak nakal. Sebenarnya, yang nakal adalah ayahnya."


Lelaki itu terkekeh, lalu menghujani ciuman di wajah sang istri. Penantian anak ke dua di kehamilan sang istri yang ke tiga membuat dia semakin siaga dalam menjaga calon buah hati, juga sang belahan jiwa.


"Emm, apakah menurutmu ayahnya nakal?" Dia berbicara sembari mengedipkan sebelah mata.


"Sangat nakal."


"Baiklah, mungkin ayah yang nakal ini harus diberi hukuman agar tidak nakal lagi."


Lelaki itu menahan tubuh sang istri dengan tangan, meletakkan kepalanya di cerukan leher sembari menghujani kecupan-kecupan kecil di sana, membuat perempuan itu mengeliat dengan tangan menahan kepalanya. "Mas, hentikan! Geli!"


"Emmm, aku hanya sedang menerima hukuman." Dia berkata dengan posisi bibir yang masih di tempat yang sama.


"Kau sedang menerima hukuman, atau memberi hukuman, sih! Emm ...." Perempuan itu ingin melanjutkan protesnya, tetapi dengan cekatan lelaki itu membungkam bibirnya dengan cara yang ... menyenangkan*.


"Di luar dingin. Kinan juga sepertinya masih tidur. Emm ... apakah kita bisa melakukannya?" Bisik-bisik di telinga membuat tubuh perempuan itu memanas.


"Tapi sarapannya?"


"Biar pelayan yang menyiapkan," jawab lelaki itu cepat dengan tangan yang sudah melepas satu per satu buah baju sang istri. Perempuan itu nampak menahan tangan lelaki itu agar tidak melanjutkan kegiatan melepas kancing piyama miliknya.

__ADS_1


"Tapi ... tadi malam 'kan sudah."


Seringai nakal muncul di bibir lelaki itu, dilanjutkan dengan sebuah uraian panjang yang berhasil membuat sang istri harus mengalah dengan kemauannya.


"Kata dokter, semakin sering melakukan hubungan suami istri, maka proses persalinan akan semakin mudah. Aku tidak ingin kau terlalu kesakitan seperti dulu. Aku ingin membantumu untuk mempermudah persalinanmu. Dan itu akan kita mulai dari sekarang. Saat malam, sebelum berangkat kerja, dan sebelum tidur. Sepertinya aku harus mengatur jadwal bercinta kita supaya lebih efisien dan tepat waktu. Aku tidak ingin sampai melewatkan meski hanya sekali saja."


"Issh, mana ada yang seperti itu? Aku tidak yakin dokter mengusulkan seperti itu?"


"Emm, memang buat apa aku berbohong? Sudahlah, jangan banyak bertanya! Waktu kita sangat sempit, jangan membuang banyak waktu lagi. Bukankah langsung melakukannya akan lebih baik daripada hanya berdebat saja."


"Hei ...!" Dia ingin protes lagi, akan tetapi sepertinya tidak ada kesempatan untuk itu. Karena pada detik selanjutnya lelaki itu sudah mulai melanjutkan misinya.


Sentuhan demi sentuhan dia lakukan, membuat perempuan itu kian melayang. Merasakan sensasi luar biasa, acapkali mereka melakukannya. Lelaki itu seolah hafal di luar kepala di mana bagian-bagian yang menyenangkan untuk dimainkan. Kendati tiap hari tanpa jeda dilakukan, keduanya sama sekali tak merasakan kebosanan. Perut yang menbuncit pun tak membuat hasrat lelaki itu berkurang untuk sang istri. Dia merasa semakin menyayangi dan mencintai wanita itu, lebih dan lebih setiap harinya.


Hemm, cinta memang membuat mereka merasa luar biasa.


Sampai sebelum mereka mengakhiri kegiatan yang membuat lelaki itu betah berlama-lama di atas ranjang, sebuah gedoran di pintu membuatnya mengumpat kesal.


Perempuan itu menahan dada sang suami, terkejut dengan gedoran yang tak biasa di depan kamarnya. Kinan memang sering mengganggu mereka, tetapi anak kecil itu tidak memiliki kekuatan untuk mengedor pintu sekuat itu.


"Siapa, ya?"


Lelaki itu beranjak dari posisi tidur, berdiri. Mengambil jubah tidurnya dan mengikatnya secara asal, dia segera melangkah menuju pintu kamar untuk melihat siapa yang telah berani mengganggu waktunya bersama sang istri.


"Kau!" Netra itu membulat, terkejut dengan siapa yang tidak tahu etika membangunkannya.


"Sean, aku butuh bantuanmu!"


***


Langit masih nampak mendung, seolah matahari enggan untuk menunjukkan kuasanya. Kendati hari sudah hampir siang, tetapi suasana pagi masih terasa. Ya, suasana suram di langit sangat sesuai dengan apa yang dirasakan oleh lelaki itu -- Yang Pou Han. Dia menunduk, ketika temannya --Sean Paderson, mulai menceramahinya di ruang tamu..


"Jadi, kau telah membuatnya kabur?"


Anggukan ringan dilakukan oleh Yang Pou Han, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain mengiyakan pertanyaan Sean.


"Kau membuatnya kecewa karena kau terlalu dekat dengan Emelie?"


Dia mengangguk lagi.

__ADS_1


"Dia mencintaimu, tetapi kau tidak?"


"Itu tidak benar. Aku mencintainya, tetapi dia tidak tahu, karena aku tidak pernah mengatakannya. Bantu aku menemukannya! Aku saat ini tidak bisa berpikir jernih." Lelaki itu mengacak rambutnya kasar. Dia begitu gelisah memikirkan Nindy.


Di mana perempuan itu berada?


Apakah dia baik-baik saja?


"Kenapa kau sangat lamban! Aku sudah pernah mengingatkanmu, jika perempuan membutuhkan kepastian. Jika kau mengabaikannya, dan Emelie bertingkah gatal kepadamu, mungkin lebih baik dia pergi saja dari kehidupanmu."


"Aku menyesal. Aku tidak ingin kehilangan dia. Kau tidak pernah merasakan apa yang kurasakan saat ini. Aku akan membahagiakannya setelah ini. Sean, bantu aku mencarinya! Bukankah aku pernah membantumu mencari Salwa dulu? Jadi, saatnya kau membantuku saat ini! Lelaki itu nampak mengiba. Dia tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Negara ini bukanlah ranahnya. Sehingga bantuan Sean sangat berarti baginya.


"Kau sudah mencarinya di panti asuhan, tempatnya dibesarkan?" tanya Sean mencoba menerka kemungkinan yang terjadi.


Yang Pou Han menggeleng lesu. Dia tidak bisa berpikir apa-apa. Sesaat setelah menggenggam cincin pernikahan yang terlepas dari jari manis Nindy, otaknya seolah berhenti bekerja. Bayangan kehilangan sosok yang selalu membuatnya tersenyum setiap kali mereka berinteraksi, membuat lelaki itu ketakutan. Tanpa dia sadari, Nindy telah mengambil separuh jiwanya pergi, yang sekarang terasa tidak utuh lagi.


Yang Pou Han seperti kehilangan tujuan hidup, tiada senyum serta gairah di wajahnya. Pandangannya kosong dengan logika yang tak bisa bekerja dengan semestinya. Dia mencemaskan perempuan itu, sekaligus takut kehilangannya. Namun, satu hal yang ia ingat, yang mungkin bisa membantunya -- Sean Paderson.


Dia memutuskan mengganggu temannya itu, agar membantu menemukan Nindy. Tanpa berpikir dua kali, dia melakukan penerbangan ke Indonesia dan langsung menuju ke kediaman Sean Paderson.


"Aku akan menyuruh orang untuk mencari alamat panti asuhan di mana dia dibesarkan. Mandilah! Kau sangat bau."


Yang mencium bau tubuhnya. Ya, memang bau karena dia belum sempat membersihkan diri setelah kecelakaan itu. Dia hanya pulang sebentar dari bandara untuk mengambil paspor dan juga sesuatu yang penting untuk Nindy.


"Baiklah, aku akan mandi." Dia berlari menaiki tangga, melangkah lebar menuju ke kamar utama.


"Kau mau ke mana?" Sean mencegah langkah lelaki itu, yang tak tahu diri berlari menuju kamarnya.


"Tentu saja mau membersihkan diri, meminjam pakaian ganti di kamarmu."


"Kau mau mati sekarang?!" bentak Sean yang membuat lelaki itu menghentikan langkahnya seketika. Salwa masih ada di dalam kamar. Dia juga tidak tahu, kondisi Salwa sudah dalam posisi benar atau tidak, mengingat kegiatan yang mereka lakukan tadi pagi yang masih berjalan setengah permainan. Mana mungkin dia membiarkan lelaki hidung belang seperti Yang Pou Han masuk ke dalam kamarnya.


"Turun! Kau semakin tua, semakin tidak tahu malu, ya? Pantas saja istrimu meninggalkanmu."


"Hei, jangan menghinaku seperti itu! Jangan mentang-mentang aku membutuhkan bantuanmu, sehingga kau bisa seenaknya mengata-ngataiku!" Yang Pou Han turun dari tangga itu, menghampiri Sean kembali.


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Tunggu saja di sini! Biar pelayan yang akan mengantarkan ke kamarmu."


Lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan Yang Pou Han untuk kembali ke kamarnya. Yang Pou Han berdecak kesal, dia tahu apa yang dilakukan Sean setelah ini. Bagaimana lelaki itu bisa melanjutkan kegiatan seperti itu, di saat temannya sedang berada dalam fase getir ditinggalkan pasangan. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perkataan Sean, menunggu pelayan menyiapkan kamar dan pakaian untuknya.

__ADS_1


Next ...


__ADS_2