
"Mari, Nona. Semua sudah siap." Asisten Lie dengan sedikit membungkuk mempersilakan Nindy untuk naik ke kursi roda. Yang tidak bisa menjemputnya, hingga asisten Lie yang menggantikan untuk menjemput kepulangan Nindy dari rumah sakit.
"Terima kasih. Saya bisa berjalan. Tidak perlu menggunakan kursi roda."
"Mohon maaf. Ini adalah perintah tuan Yang. Harap Nona mengerti."
Nindy mengangguk kemudian, mengerti dengan posisi asisten Lie yang harus mengerjakan segalanya secara sempurna. Hingga Nindy memilih untuk duduk di kursi roda itu dan membiarkan asisten Lie untuk mendorongnya daripada harus melakukan perdebatan panjang.
Mereka turun ke lantai dasar menggunakan lift pasien dengan didampingi dua orang anak buah kepercayaan Yang Pou Han. Angka digital dengan warna menyala secara berangsur-angsur menunjukkan penurunan secara berkala sampai denting lift berbunyi bersamaan dengan pintu lift terbuka beberapa detik setelahnya.
Nindy dengan tenang duduk di atas kursi roda dengan asisten Lie Am mendorong di belakangnya. Baru beberapa langkah keluar dari lift, ponsel asisten Lie berbunyi membuat lelaki itu meminta izin kepada Nindy untuk menunggunya sebentar.
Nindy mengangguk, mengizinkan asisten Lie Am untuk mengangkat panggilan itu. Sementara dua orang anak buah Yang Pou Han masih menjaga Nindy di belakang kursi roda. Nindy menatap ke arah di mana asisten Lie menjawab panggilan teleponnya. Sepertinya lelaki itu sedang terlibat perbincangan serius, hingga membutuhkan waktu cukup lama dalam menyelesaikan panggilan teleponnya.
Nindy menoleh ke belakang, menatap dua orang lelaki berperawakan tinggi yang sedari tadi menjaganya. "Aku ingin berjalan-jalan ke sana."
"Kami antar, Nona." Salah seorang dari mereka menjawab. Nindy mengangguk, tetapi dia meminta satu syarat. "Aku ingin berjalan, kalian bisa mengikutiku di belakang atau menungguku di sini."
"Tetapi ...." Belum sempat lelaki itu menyelesaikan kalimatnya, Nindy menyela. "Kumohon, aku ingin berjalan kaki di taman itu," ucapnya seraya mengedikkan dagunya ke arah taman yang ada di area rumah sakit.
Satu minggu berada dalam ruangan membuat Nindy bosan. Berjalan-jalan sebentar melihat tanaman dan bunga bermekaran sepertinya bisa mengusir rasa bosan itu.
"Baiklah, kami akan mengikuti Anda dari belakang."
Nindy tersenyum kemudian. "Terima kasih."
Dia beranjak dari posisi duduk, berdiri lalu melangkah perlahan menuju area taman yang terletak dekat dengan posisinya saat ini.
Dihirupnya udara dalam-dalam sembari memejamkan mata, dengan angin sepoi-sepoi yang mengayunkan ranting-ranting pohon terasa ringan menyapu wajahnya. Nindy tersenyum, bersyukur masih sempat merasakan udara sejuk yang terbebas dari bau rumah sakit, kendati dirinya saat ini belum keluar sepenuhnya dari bangunan besar itu.
__ADS_1
"Bermalamlah di rumah, Yang." Sayup-sayup telinganya mendengar suara seorang wanita, membuat Nindy membuka mata. Dia menoleh ke arah suara itu yang berada agak jauh di sebelah kirinya. Seorang wanita berambut curly, berwajah cantik bak boneka barbie menggandeng mesra lengan seseorang yang sangat ia kenal sedang berjalan bersama ke arahnya. Bukan, lebih tepatnya akan melewati koridor di belakang Nindy.
Senyum Nindy seketika sirna, menatap lelaki itu tanpa berkedip. Hingga lelaki itu menghentikan langkahnya, ikut terkejut mendapati Nindy telah berada di depannya. Nindy menatap lengan yang biasa memeluknya ketika malam, kini sedang dipeluk oleh wanita lain.
Nindy mengulum bibirnya sendiri, matanya mulai berembun, tetapi ia tahan. Tak ingin terlihat lemah di depan lelaki itu.
"Kau hebat, Yang. Kau selalu mengatakan bahwa kau benci dengan perselingkuhan. Dan hari ini, kau telah menunjukkannya di depanku. Kau membuktikan bahwa, jika setiap apa yang keluar dari bibirmu adalah ... kebohongan."
Nindy segera berbalik setelah mengatakan hal itu, meninggalkan Yang Pou Han yang masih terpaku di tempat. Dan sampailah ketika Nindy melangkah, tangannya segera ditarik ke belakang, mengubah posisi Nindy menjadi berhadapan dengan lelaki itu.
"Aku tidak berselingkuh."
"Lalu? Apa namanya?" Nindy tertawa sendiri, mentertawakan perasaannya yang sempat terperosok jauh ke dalam, sementara lelaki yang telah memporak-porandakan hatinya telah bermain di belakangnya.
"Aku hanya mengantarkan dia memeriksa luka jahitnya saja. Tidak lebih."
Nindy menghempaskan tangan lelaki itu yang menahannya secara kasar hingga terlepas. "Bukankah ini sudah satu bulan? Kau bisa melepasku jika kau mau, Yang. Aku tidak akan menuntut apa-apa darimu."
Seketika itu juga dia berlari, tak memedulikan Yang Pou Han yang masih terkejut dengan perkataannya. Air matanya luruh seketika membasahi pipi, perasannya kian sesak dengan hati yang luluh lantak menjadi serpihan-serpihan kecil yang ikut terserak.
Dua orang berperawakan besar itu mengikutinya di belakang, tak membiarkan Nindy pergi seorang diri karena tugas mereka adalah menjaga Nindy. Sampai perempuan itu menghentikan langkahnya, ketika napasnya mulai tersengal akibat berlari kencang sambil menangis.
Nindy menyandarkan punggungnya di pohon besar, meluruh ke bawah. Membiarkan gaya gravitasi bumi menariknya hingga terhempas ke tanah. Dia memeluk lututnya sendiri, membenamkan wajahnya di sana.
Sakit, rasanya begitu sakit. Mengapa bisa sesakit ini?
Nindy tak menyangka akan mengalami patah hati seperti saat ini. Dia tak bisa menyangkal lagi, perasaannya sudah mulai tumbuh seiring waktu. Setiap mereka saling berinteraksi, saling menyentuh dan menghangatkan tiap malam, membuat perasaannya kian membesar tanpa ia sadari. Setiap bisikan, belaian serta perlakuan lembut Yang Pou Han kepadanya membuat Nindy terpedaya. Nindy bahkan sempat ingin memiliki lelaki itu untuk dirinya sendiri, menemaninya hingga maut memisahkan. Bersama-sama membangun rumah tangga dengan anak kecil yang lucu-lucu di dalamnya.
Mungkin, itu semua hanya angan Nindy saja. Kebahagiaan masih menjadi harapan yang sulit untuk dia raih. Nindy menyadari, jika dirinya bukanlah siapa-siapa. Mana mungkin dia bermimpi menjadi seorang ratu dalam hati orang berpengaruh seperti Yang Pou Han? Dia hanyalah kerikil kecil yang tanpa sengaja dipungut oleh seorang pangeran, lalu dilemparkan kembali ke tempat semula dirinya berada.
__ADS_1
Hingga ia berpikir, sebenarnya hubungan apa yang sedang mereka jalani? Apakah lelaki itu memang sengaja ingin mempermainkan perasaannya?
Gemuruh di dada membuat hati Nindy kian sesak. Tak mungkin untuk terus melangkah kembali. Dia tak sanggup menerima, jika kepercayaan yang dia tanamkan dalam diri dirusak begitu saja tanpa beban. Ikatan tali suci pernikahan telah dinodai dengan yang namanya perselingkuhan. Apakah itu tandanya Nindy harus menyerah, melepaskan lelaki itu untuk dimiliki wanita lain?
Dan jika memang Tuhan tidak menakdirkan Yang Pou Han menjadi jodohnya, cukup sampai saat ini saja dirinya menangisi lelaki itu. Nindy akan ikhlas menerima kepergiannya, membiarkan lelaki itu bahagia dengan wanita yang dia suka.
Terdengar helaan berat dari napas Nindy, dia menengadah, mengusap air mata yang membasahi pipi. Mencoba bangkit dari keterpurukan, Nindy menegakkan tubuhnya, melangkah ke depan di mana trotoar berada. Dari kejauhan ia melihat taksi mendekat, tangannya melambai-lambai menghentikan taksi itu.
Tanpa menunggu dibukakan pintu, Nindy membukannya sendiri sesaat setelah taksi itu berhenti di depannya. Dia memasukkan tubuhnya, lalu duduk dengan menyandarkan punggung di sandaran jok mobil. Air mata itu masih mengalir deras tanpa ingin terhenti. Berlinang, begitu deras, menjatuhkan sikap arogannya terhadap perasaan yang tak mungkin akan tersakiti.
Taksi itu mulai melaju, dengan Nindy termenung dengan pandangan kosong. Ingatan tentang kebersamaan dirinya dan lelaki itu berputar-putar di kepalanya. Bagaimana sikapnya yang terkadang menjengkelkan, terkadang lembut membuat Nindy kehabisan akal untuk meladeninya.
Mereka sering berselisih hal-hal kecil, bertengkar, tetapi tak berlangsung lama, karena perdebatan sesengit apa pun akan berakhir dengan ciuman panas yang memabukkan, lalu merambah melakukan persetubuhan dengan saling memadu kasih di atas ranjang.
Apakah Nindy terlalu bodoh, karena tak menyadari jika dirinya hanya dianggap sebagai pemuas nafsu birahi saja? Namun, bukankah memang itu kewajiban seorang istri yang melayani suaminya dengan suka cita? Entah mereka saling mencintai atau tidak, Nindy wajib melayani kebutuhan biologis suaminya dengan ikhlas dan suka rela.
Nindy memperhatikan ke samping, di mana pohon-pohon rimbun yang berjajar di kiri dan kanan jalan beraspal itu berada. Barulah ia menyadari satu hal, ini bukanlah jalan menuju rumahnya. Tidak, Nindy bahkan terlupa memberi tahu alamat rumahnya. Lalu ke mana sopir taksi itu akan membawanya?
"Tolong hentikan! Ini bukan jalan yang saya mau." Nindy nampak panik, terlalu larut akan kesedihan hingga terlupa jika dia masih berada di dalam taksi.
Sopir taksi itu bergeming, tak acuh dengan permintaan Nindy. Hingga Nindy melihat lelaki itu menaikkan kecepatan laju kendaraannya.
"Tolong hentikan! Saya ingin pulang!" Nindy mencondongkan tubuhnya ke depan, menarik tangan lelaki yang dalam posisi menyetir itu agar menghentikan kendaraannya.
"Hentikan! Aku ingin pulang, kumohon!" Dia masih berusaha keras meraih tangan lelaki itu, menariknya dengan mengeluarkan seluruh tenaga yang tersisa. Sampai wajah lelaki itu menoleh ke arahnya, membuat Nindy seketika melepaskan cengkraman tangannya.
Dia ternganga, tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan mata. Lelaki yang sangat ia kenal, mengenakan seragam sopir taksi dengan menunjukkan wajah dinginnya. Hingga satu kalimat menggantung terucap dari bibir Nindy, melepaskan keterkejutan yang hampir mustahil terjadi itu.
"Yang, kau? Bagaimana bisa?" ucap Nindy dengan mata membulat penuh.
__ADS_1