Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
62. Keikhlasan Seorang Ibu


__ADS_3

Lelaki itu menatap takjub bayi mungil yang sedang dibersihkan ala kadarnya. Bayi mungil itu tidak dimandikan, membiarkan lapisan Vernic Caseosa menyelimuti hampir keseluruhan tubuh bayi.


Yang Pou Han memejamkan mata sesaat, mengalihkan pandangan dari suntikan vaksin yang akan diberikan kepada anaknya yang masih sangat belia itu, lalu menengadah, menatap ke luar jendela kaca yang disibakkan kelambunya sedikit.


Dipandangnya awan-awan di langit itu, berjajar, bagaikan permen kapas yang sedang ditata oleh penjualnya, sementara langit yang membentang justru terlihat seperti permadani biru yang menyegarkan mata.


Dia mengucap syukur berkali-kali atas kelahiran putri kecilnya. Tak ada hal yang paling mengharukan dan membahagiakan bagi seorang suami, yaitu ketika melihat sang buah hati yang selama ini dinantikan telah berhasil terlahir di dunia. Dunia yang mungkin sangat kejam untuk mereka, tetapi dengan segala kekuatan dan kesanggupan sang ayah, akan selalu menjaga dan melindungi sang buah hati.


Seorang perawat mendekati Yang Pou Han seraya memberikan bayi mungil yang berbalut selimut lembut berwarna putih gading. Tangan lelaki itu gemetar, ketika sosok mungil tanpa dosa, dan zahir itu telah berpindah ke tangannya.


Dia menitikkan air mata, tetapi buru-buru disekanya dengan punggung tangan. Cukup lama dirinya menikmati wajah suci tanpa noda itu, menciptakan rasa yang begitu syahdu dan menggebu di dalam dada. Hingga suara Nindy yang terdengar lirih membuat perhatian Yang Pou Han teralihkan.


"Yang, lakukan tugasmu. Kau sudah bisa, 'kan?"


Yang Pou Han mengangguk. Dia melempar senyum ke arah Nindy. Kepalanya menunduk, mendekatkan bibirnya di telinga si mungil yang sedang digendongnya. Suaranya serak, tetapi terdengar hidmat bagi siapa saja yang menyaksikannya.


Yang Pou Han mengazani bayi mungil itu. Mengislamkan anak semata wayangnya, memberikan ruh ketuhanan yang akan menjadi jalan penerang bagi malaikat kecilnya itu.


Rasa haru itu kian mendera, ketika kalimat terakhir azan itu dia lantunkan. Bulir bening itu sedikit demi sedikit berjatuhan, membasahi pipi yang sebelumnya sempat mengering beberapa saat.


Tuhan mengirimkan kuasanya. Hanya dari setitik air mani yang bernama nutfah, lalu menjadi segumpal darah yang bernama alaqah. Dan kemudian berubah menjadi segumpal daging yang bernama mudgah. Tuhan mengumpulkannya menjadi satu dalam sebuah rahim seorang ibu. Lalu ditiupkannya roh ke dalam jasad yang masih berbentuk janin itu.


...Wahai Malaikat, tulis, tulis, tulis!...


...Apakah ujung hayatnya akan mati dalam kondisi husnul khotimah?...


...Ataukah justru akan mati dalam kondisi su'ul khotimah?...


...Sesungguhnya surga hanya sehasta saja jaraknya dengan amalan baik....


...Dan sesungguhnya neraka hanya sehasta saja jaraknya dengan amalan buruk....

__ADS_1


..."Tuhanku, aku bukanlah layak untuk surgaMu, tetapi aku tidak juga kuat menanggung siksa nerakaMu. Sehingga, karuniakanlah kemampuan bagiku, ampuni dosa-dosaku. Karena sesungguhnya, Engkaulah Sang Pengampun dosa-dosa besar."...


...Kemudian, lahirlah bayi itu....


...Lahirlah makhluk itu....


...Lahirlah hamba Allah....


...Lahirlah khalifah Allah di muka bumi....


...Lahirlah makhluk Allah yang bernama manusia....


...Tangisan bayi di bawah kelopak keheningan sujud,...


...Kenapa kau menangis, Anak?...


...Demikian setiap anak manusia dilahirkan, tidak terlepas dari kutukan setan yang terkutuk....


^^^Sajak Kelahiran_ oleh Anonim^^^


Sejenak terdengar tangis sendu, sukma berbisik syahdu. Mengungkap kebesaran Tuhan, mengilhami makna sebuah kelahiran.


"Terima kasih, Tuhan. Atas segala nikmat dan karuniaMu."


Yang Pou Han menciumi pipi bayi mungil itu yang masih terlihat keriput. Terlahir prematur membuat bayi itu memiliki berat badan kurang, tetapi masih saja terlihat paling cantik di mata Yang Pou Han. Dia menunjukkannya kepada Nindy, ibu yang telah susah payah mengandung dan mempertahankan bayi mungil itu.


Andai saat itu Nindy menyerah, mungkin saat ini bayi mungil mereka tidak akan pernah punya kesempatan melihat dunia. Dia akan menjadi bidadari kecil penghuni surga yang tidak pernah mengenal siapa ayah dan ibunya.


Nindy mencium bayi mungil itu dengan penuh haru. Tubuhnya masih belum bisa digerakkan dengan benar, tetapi dia sudah ingin sekali menimang bayi mungil yang cantik itu.


"Dia sangat cantik. Seperti ibunya. Terima kasih, sudah berjuang demi anak kita." Yang Pou Han mengusap pipi Nindy lembut, menatap teduh wajah kurus itu. "Dan saat ini, kau harus berjuang demi kesembuhanmu sendiri. Berjanjilah, kau tidak akan pernah menyerah dengan penyakit ini. Demi aku dan anak kita," lanjutnya kemudian.

__ADS_1


Yang Pou Han mencium kening Nindy, dengan tangan masih menggendong bayi mungil yang belum diberi nama itu. Sejenak mereka saling memandang, menikmati kebersamaan keluarga kecil mereka, keluarga yang sempurna.


"Apa kau sudah memilihkan nama yang bagus untuk putri kita?" tanya Nindy kemudian. Pandangannya masih tertuju pada bayi mungil yang sedang tertidur lelap.


Lelaki itu tampak mengangguk, mengiakan. Sebuah kecupan hangat dilabuhkannya ke dahi mungil itu. "Zevanya, dia akan menjadi pribadi yang kuat dan memiliki hati nurani yang bisa merasakan apa yang ada di sekitarnya. Kau bisa memanggilnya dengan sebutan 'Anya'."


Sebuah kelegaan tersendiri, ketika seorang ayah telah memberikan nama untuk buah hatinya. Mereka saling melempar senyum, mengilhami rasa emosional dalam hati. Memercikkan kebahagiaan yang telah disusun skenarionya oleh Yang Kuasa.


Hingga seorang perawat datang menghampiri mereka, mengambil kembali bayi mungil itu untuk diletakkan ke dalam inkubator bayi.


***


Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Seolah semuanya berlalu semakin cepat, tetapi begitu melelahkan bagi seorang Nindy.


Dia belum bisa melakukan pengobatan dengan benar. Demi anak tersayang, dia menunda pengobatan itu. Nindy bersikeras untuk memberikan ASI-nya hingga berat badan sang buah hati dalam posisi normal.


Hingga tubuhnya terasa lemas tak bertenaga karena asupan nutrisi telah terserap oleh anaknya, sementara Nindy hanya mengonsumsi makanan yang kurang karbohidrat dan rendah protein.


"Mulai besok, kau harus menjalani terapi dan pengobatan rutin. Aku tidak akan membiarkan penyakit itu terlalu lama bersarang dalam dirimu."


Nindy hanya terdiam. Dia merasa terlalu letih, rasa sakit di perut sering kali menyiksa diri. Dia tak sanggup berdebat atau sekadar menggelengkan kepala.


Tatapan Yang Pou Han tampak sayu, ikut sakit melihat kondisi Nindy yang seperti itu. Dia menyadari, jika kasih sayang seorang ibu pastilah sangat besar untuk anaknya. Hingga Nindy berani mengambil risiko besar atas nyawanya demi sang buah hati tercinta.


"Berjanjilah, untuk berjuang sekuat tenaga. Berjuang demi kami, yang selalu menunggu kesembuhanmu."


Nindy tersenyum, mengerjabkan kedua matanya perlahan, pertanda mengerti juga menyetujui.


Dan di saat-saat sulit itulah, perhatian dan kasih sayang orang-orang terdekat mampu membawa spirit juga kekuatan pagi pesakit untuk tetap bertahan dan berjuang melawan penyakitnya.


"Aku akan berusaha. Demi kalian. Aku berjanji," ucap Nindy lirih tak bertenaga, tetapi terdapat tekad kuat di dalam dirinya untuk melakukan itu semua.

__ADS_1


__ADS_2