
Secuil kisah masa lalu, mengukir sejarah yang mungkin akan menjadi cerita kita di masa mendatang. Masa kanak-kanak yang telah terlewat bergantikan masa dewasa di mana telah kenyang memakan asam dan garam kehidupan, membentuk sebuah pengalaman berharga yang tentunya tidak bisa tergantikan oleh apa pun.
Sejenak mereka saling memandang, tanpa ada sepatah kata yang terucap. Rasa canggung melingkupi bersamaan kegugupan yang membelenggu lantaran komunikasi mereka terawasi secara langsung oleh seseorang yang memeliki rasa cemburu berlebihan.
Yang Pou Han bersedekap, mengamati Nindy dan Adnan yang tak kunjung berbicara. Dia berlagak seperti seorang scurity yang sedang mendapat tugas menjaga barang berharga, bersiap memukul atau memarahi siapa saja yang menurutnya melanggar aturan.
"Hai, kenapa kau diam saja. Apakah kau tidak ingin bicara sesuatu dengan istriku? Kau jangan membuatnya menunggu!" Yang Pou Han berkata dengan tidak sabar.
Adnan, dengan kikuk menggaruk belakang kepalanya yang merasa gatal tanpa sebab. Dia tersenyum tidak jelas, bingung harus memulai percakapan dari mana. Akan tetapi, Nindy tampak lebih menguasai keadaan.
"Terima kasih, Adnan. Padahal kita tidak saling mengenal. Kita juga tidak pernah bertemu sebelumnya, tetapi kau mau membantuku sampai seperti itu. Aku berhutang banyak kepadamu."
"Aku ... senang karena bisa membantu. Aku senang saat mengetahui jika aku memiliki keluarga. Meskipun aku tidak pernah hidup dalam kekurangan, tetap saja aku masih bingung dengan asal-usulku. Siapa ayahku, karena Mama tidak pernah menunjukkan siapa ayah dan ibuku sesungguhnya."
__ADS_1
Nindy mengangguk, tatapannya kian sendu seiring melihat rasa kelegaan di wajah Adnan. Dia bisa memahami itu semua. Dia pun sama, sepanjang hidup harus memendam rasa penasaran dengan sosok Ayah, tetapi dia takut untuk menanyakannya, dan bahkan tidak tahu harus bertanya kepada siapa, karena ibunya telah meninggal ketika dia masih duduk di bangku sekolah dasar.
"Aku dulu sangat merindukan dan ingin mengenal sosok Ayah, tetapi setelah bertemu dengannya, aku bersyukur tidak mengenalnya. Adnan, aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Dia sama sekali tidak menginginkan kita. Jika dia menginginkan kita, tentu saja dia tidak akan lari dari tanggung jawab dengan menelantarkan Ibu serta anak-anaknya. Apalagi saat Ibu meninggal, dia sama sekali tidak berniat menjemputku. Padahal saat itu, aku sangat membutuhkan sosok Ayah yang bisa melindungiku."
Adnan tampak mengangguk. "Aku mengerti apa yang kau rasakan. Sepertinya kesusahan yang kita lalui memiliki arti penting dalam hidup kita. Setidaknya, Tuhan menjauhkan kita dari manusia seperti itu." Adnan berkata dengan senyum tipis menghiasi bibir.
Tepat ketika Adnan menyelesaikan perkataannya, Yang Pou Han angkat bicara. Menyela dengan apa yang Adnan dan Nindy perbincangkan.
"Akmal Arrayan dikabarkan sakit keras. Saat dia mencarimu waktu itu, bukan karena ingin menebus kesalahannya, tetapi dia membutuhkan darah murnimu umtuk didonorkan kepadanya. Dia tidak tahu jika kau memiliki saudara kembar. Jika dia mengetahuinya, mungkin, ...." Yang Pou Han mengalihkan pandangannya yang sebelumnya ke arah Nindy beralih kepada Adnan. "kau juga akan dicarinya sampai dapat."
Kenyataan baru itu membuat Nindy terkejut. Jika sebelumnya Nindy masih merasa sedikit kasihan dengan lelaki tua itu saat mengusirnya dari rumah, tetapi tidak sekarang.
Dia merasa dipermainkan. Perasaan seorang anak yang sebelumnya merasa diinginkan oleh sang Ayah, ternyata hanya sebuah tipu muslihat lantaran mengincar hal lain.
__ADS_1
Hatinya sakit, menyadari bahwa ada darah lelaki tak berperikemanusiaan itu mengalir dalam dirinya. Bahkan lelaki tua itu tega mengorbankan orang-orang disekitarnya hanya demi kepentingannya saja.
"Aku ... tidak menyangka hal itu. Aku ... tidak tahu. Mengapa dia bisa setega itu kepadaku, jika memang aku adalah anak kandungnya?"
Nindy memejamkan mata, merasa sesak hati dan pikiran. Sosok paripurna Ayah yang sejak kecil diimpikannya terpecah, menjadi puing-puing kecil yang tak berharga.
Air matanya menitik, bersamaan hati yang tercabik. Sebegitu tidak berartinyakah dirinya bagi lelaki tua itu?
Seharusnya lelaki itu tak perlu lagi menampakkan diri, membiarkan sosok Ayah tetap menjadi misteri bagi Nindy. Akan tetapi, semua telah terjadi. Nindy sudah mengetahui semuanya. Ya, semuanya telah jelas, dan Nindy harus menerima semua itu dengan hati yang lapang.
Yang Pou Han duduk di sisi ranjang Nindy, membungkukkan tubuh, memeluk tubuh kurus itu. Dia berusaha menenangkan istrinya, membiarkan Nindy menumpahkan segala marah dan juga kecewa. Perasaan sakit hati karena ditelantarkan sejak dalam kandungan, ditambah dengan dicari hanya ketika sedang dibutuhkan. Namun, Nindy tetap bersyukur. Ketika semua terbongkar, dia memiliki Yang Pou Han, suami yang selalu menemaninya dan memberikan dukungan kepadanya.
**** 》 Next chapter
__ADS_1