Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
37. Cemburu


__ADS_3

"Nobody is very tough in this life. Everybody feels the sadness, but they sometimes pretend to smile."


***


Penasaran menimbulkan banyak tanya. Keingintahuan yang menggebu terkadang memicu banyak luka. Dan mungkin memilih tidak tahu akan bisa menyelamatkan manusia dari rasa sakit hati juga kecemasan.


Nindy terbaring dalam dekapan lelaki itu. Jemarinya mengetuk-ngetuk dada yang dijadikannya bantalan kepala, menggoreskan jari telunjuk, membuat bentuk-bentuk abstrak di dada bidang lelaki itu. "Yang, kau sudah berjanji untuk bercerita." Dia menggoyang-goyangkan bahu lelaki itu, menuntut janji yang sebelumnya sempat terucap.


Sekali lagi Yang Pou Han melempar senyum ke arah Nindy. Dia hanya ingin mengulur waktu, mencari kesempatan dalam keingintahuan Nindy yang begitu besar terhadap masa lalunya. Dan kini mereka sedang terbaring dengan saling menempelkan badan dan ditutupi oleh selimut yang sama. Posisi yang menurutnya sangat menyenangkan.


"Apa yang ingin kau ketahui? Rahasiaku sangat banyak. Mulutku bisa pegal jika menceritakan semuanya kepadamu." Dia menyisir rambut panjang itu dengan jemarinya, terasa halus dan lembut. Emm, Nindy pandai merawat rambut.


"Kau selalu beralasan pegal saat menjelaskan sesuatu kepadaku. Tetapi kau tidak pernah pegal jika meminta 'itu'."


Perkataan Nindy terdengar sangat lucu. Yang terkekeh mendengar jawaban lugu yang terucap dari bibir yang sudah membuatnya kecanduan itu. "Ya, aku menganggapnya sebagai olahraga fisik. Semakin banyak berolahraga akan semakin membuat tubuh sehat, bukan?" Dia menjawab asal, dan hal itu membuat Nindy semakin mengerucutkan bibirnya, kesal.


"Kau semakin menyebalkan, ya?" keluh Nindy kemudian.


Yang masih betah mengulas senyum di bibir. Dia senang dengan perdebatan kecil mereka. Perkataan-perkataan Nindy kepadanya selalu terdengar menggelikan, dan membuatnya tidak bisa menahan tawa atau sekadar senyum di bibir.


"Lalu kenapa kau bisa mencintai pria menyebalkan?"


Nindy memutar bola mata, menghela napas kemudian. "Heeemm, aku tidak tahu. Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Tidak sempat memikirkan itu, karena hari-hariku sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan." Dia menengadah, menatap wajah lelaki itu yang sepertinya sedang menatap langit-langit kamar sembari mendengar perkataannya. "Apakah kau terlalu sering jatuh cinta, hingga saat ini sulit sekali mencintaiku?"


Yang menundukkan pandangan, menatap manik bulat berkilauan yang kini sedang memandangnya. Terlihat banyak pertanyaan dari tatapan itu, tetapi Yang seolah abai dan tidak peduli. "Setidaknya, meski aku belum mencintaimu, tetapi aku bisa bercinta denganmu, 'kan?"


Dengan gemas Nindy mencubit lemak yang ada di perut lelaki itu, tetapi sayang Nindy kesulitan untuk mencarinya. "Kau benar-benar menyebalkan, Yang." Dia akhirnya menyerah, membiarkan semua itu tetap menjadi pertanyaan. Tangannya terulur memeluk tubuh yang berbalut selimut itu, dengan lengan lelaki itu sebagai bantalan kepalanya. Nindy merasakan sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya. Dia tersenyum kemudian, memejamkan mata dengan tubuh dipeluk erat oleh lelaki itu.


"Selamat tidur," bisik lelaki itu yang terdengar bagaikan lagu pengantar tidur bagi Nindy.


***


Langit terlalu menyayangi bumi. Dia memberikan matahari untuk menyinari, memberikan bulan serta bintang sebagai penghias malam yang kelam. Dia juga memberikan hujan yang sebagian orang mensyukurinya sebagai wujud terima kasih kepada Tuhan Yang Esa. Namun, banyak juga manusia yang tak menginginkannya. Kendati karena hujan, mereka kesulitan untuk berjalan kaki, karena hujan mereka tak bisa keluar rumah sesuka hati.


Berbeda dengan Nindy. Wanita yang kini sedang mengenakan hijab berwarna biru muda tengah mengulurkan tangannya ke depan, di mana hujan telah turun membasahi bumi. Dia menunggu Yang Pou Han menjemputnya selepas pulang bekerja. Lelaki itu mengatakan akan memberikan kejutan manis untuknya. Bukankah itu sangat mengherankan?


Nindy sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan dengan satu buah troli penuh berisi bahan-bahan makanan yang sudah dikemas dalam kantung-kantung plastik besar. Dia masih betah menunggu dengan bermain rintik-rintik hujan itu yang secara bersamaan menghantam telapak tangannya yang sengaja menantang dengan terulur menghadap ke atas. Senyuman manis itu terbit di bibirnya.


Ya, hatinya sedang senang saat ini. Membayangkan kejutan manis apa yang akan diberikan oleh Yang Pou Han untuknya. Ah, sepertinya dia sudah tidak sabar lagi untuk mengetahuinya.


Dia masih memandangi rintik hujan itu, sampai sebuah suara mengagetkannya, membuat Nindy menoleh seketika. "Hai, lama tidak bertemu."


Nindy mengulas senyum seraya menganggukkan kepala melihat siapa yang telah menegurnya. "Hai, kebetulan sekali, Zang Nan."


Lelaki itu tersenyum kepada Nindy, menatap ke depan, mengulurkan tangan seperti yang dilakukan Nindy sebelumnya, menadah air hujan. "Pluviophile?"


"Apa kau bilang?" tanya Nindy, menatap lelaki yang sedang berdiri beriringan dengannya.


"Kau menyukai hujan?" Lelaki itu malah bertanya.

__ADS_1


"Heeem, begitulah. Setiap hujan turun, aku merasa mendapatkan kedamaian, dari suaranya serta bau khas dari hujan itu ketika membasuh tanah yang mengering. Baunya sederhana, tetapi akan terasa tenang dan damai ketika kita menciumnya. Aku merasa sedang berada di negaraku sendiri. Kau tahulah, aku sudah lama meninggalkan negaraku."


Nindy masih menatap rintik-rintik hujan itu yang terus -menerus turun tanpa henti. Senyum itu masih setia bertengger di bibirnya, dengan beberapa bulir air hujan yang terciprat mengenai wajahnya.


"Pluviophile, itu adalah istilah seseorang penyuka hujan, sepertimu. Mereka akan tersenyum, menikmati suara dentuman air yang turun secara beruntun membasahi bumi. Mereka selalu merasa damai ketika mencium aroma hujan yang turun untuk pertama kalinya."


"Iya, aku menyukainya. Baunya yang khas membuatku selalu merindukan hujan itu," ucap Nindy antusias.


"Itu adalah petrikor. Bau khas hujan yang selalu dinantikan oleh seorang pluviophile. Mereka selalu merasa rindu dengan aroma itu, yang kadang kala kesulitan untuk menemukan, jika tidak sedang musimnya." Lelaki itu bertutur panjang, tanpa menatap ke arah Nindy, hanya tersenyum dengan tangan terulur menyentuh rintik hujan di depannya.


"Kau tahu banyak tentang hujan, ya?" Perempuan itu nampak takjub dengan pengetahuan Zang Nan tentang hujan.


Lelaki itu terkekeh, dia menatap ke arah Nindy. "Tidak juga. Aku hanya sedikit tahu." Dia sedikit terlihat malu, nampak dari raut wajahnya yang memerah.


"Emmm, aku tidak berpikir begitu." Nindy menunduk, menyembunyikan senyum di bibirnya. Pandangannya terarah ke bawah, di mana air itu menciprat tak beraturan di lantai aspal.


"Hujan mengajarkanku tentang arti sebuah kehidupan. Bagaimana kerasnya kehidupan yang kujalani selama ini. Hujan telah jatuh berkali-kali, dan dia tidak sekalipun menyerah. Dia akan selalu datang dengan kekuatan yang sama, terkadang akan jauh lebih besar dan hebat dari sebelumnya. Kendati banyak orang yang membencinya, tetapi dia tidak peduli. Karena dia yakin kedatangannya telah membawa manfaat secara tidak langsung bagi penduduk bumi."


Perkataan Nindy tentang hujan seolah menyimpan kesedihan di dalam benaknya, hingga lelaki itu terheran karenanya.


"Apakah kau bahagia dengan pernikahanmu, Nindy?" Tiba-tiba terbesit pemikiran tentang pernikahan Nindy yang tidak bahagia di kepala Zang Nan, membuat lelaki itu tidak bisa menghentikan pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya.


"Ah, aku bahagia." Dia tersenyum. "Tuan Yang memperlakukanku dengan baik. Aku beruntung menjadi istrinya," imbuhnya lagi.


"Sungguh?" Lelaki itu menatap dengan pandangan menelisik, tetapi Nindy mengabaikannya. "Apakah dia mencintaimu? Maaf jika aku terlalu ikut campur, hanya saja aku penasaran dengan hubungan kalian."


Nindy terdiam, merasa tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Tidak perlu semua orang tahu jika hanya dia yang mencintai, tetapi tidak dengan Yang Pou Han. Di hatinya masih ada nama wanita lain, dan Nindy bisa merasakan itu.


"Kau gadis yang baik. Aku yakin tuan Yang akan mudah untuk mencintaimu. Jika dia menyakitimu, aku dengan senang hati bersedia menjadi tempat pelarianmu." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya kepada Nindy, membuat Nindy tidak suka.


"Aku bercanda. Jangan dimasukkan ke dalam hati." Dia mengelak kemudian.


"Emm, bercandamu tidak lucu."


Tepat di saat Nindy mengatakan itu sembari melempar pandang ke arah Zang Nan, sebuah mobil berhenti di depannya. Kaca belakang mobil itu menurun, dengan menampilkan sosok dingin dengan mata menatap tajam ke arahnya.


"Masuk!" Wajah dingin itu menatap lurus ke arah lelaki yang berada di samping Nindy. Tatapan penuh arti yang tersembunyi di balik wajah dingin itu membuat semua orang yang melihatnya bergidik ngeri.


Begitu juga yang terjadi dengan Zang Nan. Lelaki itu meneguk ludah melihat siapa yang sedang memandangnya dengan aura menyeramkan. Nindy tersenyum, kendati wajah dingin masih tercetak jelas di wajah itu.


"Sepertinya aku harus pergi. Terima kasih waktunya, Zang Nan. Senang bertemu denganmu." Nindy mengagguk seraya tersenyum, ia melangkah menuju mobil itu dengan Yang Pou Han sudah menunggu di dalamnya. Sementara barang belanjaan Nindy sudah diambil alih oleh sopir pribadi Yang Pou Han untuk diletakkan di bagasi mobil.


Nindy masuk ke dalam mobil itu dengan Yang Pou Han sudah menggeser duduk menepi. Lelaki itu masih mempertahankan wajah dinginnya, mengalihkan pandangan ke depan setelah puas mematri wajah lelaki yang tadi berbincang dengan Nindy. Mobil melaju kemudian, meninggalkan area perbelanjaan dengan kecepatan normal.


"Kau sepertinya senang sekali hari ini." Yang Pou Han memulai pembicaraan dengan nada sinis kepada Nindy.


"Benarkah? Apa sangat terlihat?" Nindy tampak malu-malu. Dia memang tidak sabar melihat kejutan apa yang akan diberikan Yang Pou Han untuknya, tetapi sepertinya lelaki itu salah mengartikan.


"Jadi kau memang senang berduan dengan lelaki itu?" Yang mengepalkan tangannya. Netra sipit itu menatap tajam ke arah Nindy, menusuk hingga ke dalam jiwa perempuan itu.

__ADS_1


"Apa? Maksudmu Zang Nan?" tanya Nindy memastikan.


"Kau bahkan telah berkenalan dengannya?"


Wajah tegang itu tak membuat Nindy takut. Perempuan itu justru terkekeh karenanya. "Aku tidak berkenalan dengannya. Aku sudah mengenal dia sebelumnya. Kami tidak sengaja bertemu di sana."


"Berbicara berdua sambil menikmati hujan bersama. Bukankah itu sangat romantis?" Yang berucap sinis sekaligus kesal, tetapi Nindy tak menyadarinya.


"Ah, iya. Benar juga. Sepertinya memang terlihat romantis." Nindy malah tersenyum ketika mengucapkannya, membuat lelaki itu semakin geram.


Yang menahan bahu Nindy dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mencengkram dagu perempuan itu. Sorot matanya kian menajam, penuh ancaman. "Kau berselingkuh?" tuduh lelaki itu.


"A-pa?"


"Katakan! Apakah kau berselingkuh dengannya?"


"Ehh!"


Nindy nampak terkesiap dengan tuduhan itu. Tak menyangka jika Yang Pou Han mengira dia berselingkuh hanya dengan berbicara dengan seorang lelaki berdua.


"Jika kau berani berselingkuh, aku tidak akan segan untuk melenyapkan lelaki itu di depanmu."


Nindy membulatkan mata mendengar ancaman lelaki di depannya itu. Melenyapkan? Apa maksud dengan melenyapkan yang terucap dari bibir Yang Pou Han? Apakah itu artinya membunuh?


Nindy menggeleng, membayangkan hal-hal menyeramkan dalam kepalanya. Namun, sejenak dia berpikir alasan lelaki itu begitu marah melihatnya berbicara dengan Zang Nan. Senyum tiba-tiba terulas di bibirnya menyadari sikap lelaki di depannya itu.


"Yang, apakah itu artinya kau ... cemburu?"


Seketika tangan itu terlepas dari dagu Nindy, membebaskan dagu perempuan itu dari cengkramannya. "Cemburu? Tidak mungkin." Dia berkilah.


Nindy memajukan kepalanya, menatap lelaki itu seraya tersenyum lebar. "Yang, kau cemburu, 'kan? Ayo, mengakulah!" Dia tertawa geli, melihat wajah lelaki itu berubah kemerahan.


"Jangan terlalu percaya diri. Itu hanya ada dalam mimpimu!"


Nindy tak bisa menahan tawa. Dia menutup mulutnya karena terlampau ingin mentertawai tingkah Yang Pou Han. "Baiklah, jika kau tidak cemburu. Aku akan menemuinya lagi."


"Tidak! Kau tidak boleh bertemu dengannya!" Yang Pou Han segera melarang Nindy dengan tegas.


"Kenapa aku tidak boleh bertemu dengannya? Ayolah, katakan jika kau cemburu!" Nindy menggamit lengan lelaki itu, mencolek-coleknya dengan menahan tawa.


"Ayolah! Kau pasti cemburu, tetapi malu mengatakannya. Aku benar, 'kan?" Nindy mendesak lagi.


"Ayo jujurlah! Katakan jika kau cemburu!"


Terdengar helaan napas dari lelaki itu. Terusik dengan desakan Nindy kepadanya. "Iya, iya, baiklah. Aku cemburu." Dia mengaku, tetapi wajahnya masih terlihat kesal.


"Ah, akhirnya. Aku bisa membuatmu cemburu juga." Nindy tersenyum, melingkarkan tanganya di lengan Yang Pou Han. Menyandarkan kepala di lengan itu juga.


Senyum itu menular kepada lelaki itu. Menundukkan kepala menyamping, Yang Pou Han menghadiahi kecupan hangat di dahi Nindy. "Dasar bodoh," ucapnya sembari mengulas senyum di bibir.

__ADS_1


》Bersambung ...


__ADS_2