Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
44. Kau Tak Datang


__ADS_3

Nindy segera berbalik, beranjak pergi meninggalkan Yang Pou Han yang masih mematung. Lelaki itu hanya bisa menatap pedih kepergian Nindy, tak bisa melakukan apa-apa selain kembali menemui Emelie untuk menyelesaikan semua drama itu.


Zang Nan berlari kecil menyusul Nindy di belakang, menyejajarkan langkahnya dengan langkah perempuan itu untuk mengantarkannya pulang.


"Terima kasih, Zang Nan. Aku akan naik taksi. Kau bisa kembali, tidak perlu mencemaskanku."


"Aku akan mengantarkanmu!"


Nindy menggeleng, "Kumohon! Aku akan pulang sendiri. Aku hanya butuh waktu menyendiri."


Selang beberapa saat taksi sudah berhenti di depan Nindy. Tanpa menunggu dibukakan, perempuan itu membuka sendiri pintu itu, lalu memasukkan tubuhnya ke dalam.


"Terima kasih atas bantuanmu. Aku pergi dulu."


****


Pakaian Nindy belum sempat keluar dari dalam koper itu. Dia melirik ke arah jam dinding, dan ini sudah memasuki pukul sebelas malam, tetapi Yang Pou Han belum juga menunjukkan batang hidungnya.


Ya, sudah tidak bisa diharapkan lagi. Kenyataan bahwa lelaki itu memilih tidak pulang setelah pertengkaran mereka tadi siang, menunjukkan ke mana hatinya memilih.


Dada Nindy terasa semakin sesak, ketika harapan untuk sedikit diperhatikan oleh suaminya telah musnah. Yang Pou Han bahkan tak menghubunginya. Lelaki itu seolah tak acuh kepada Nindy.


Dia tersenyum pedih, membiarkan rasa lara itu meruntuhkan pertahanannya. Sudah cukup, dia sudah tidak sanggup lagi. Mungkin ini adalah akhir segalanya. Nindy tak bisa menahan lelaki itu untuk tetap di sisinya.


Untuk apa dipertahankan, jika hanya menyakitkan?


Untuk apa bertahan, sementara yang dipertahankan tak menunjukkan keinginan untuk bersama?


Karena berjuang sendiri itu begitu ... menyakitkan.


Dengan langkah gontai, Nindy menyeret kopernya. Meninggalkan secarik kertas yang dia letakkan di atas ranjang tidurnya. Ucapan selamat dan perpisahan. Ya, mungkin ini yang terbaik.


Dia sudah memesan tiket penerbangan ke Indonesia. Kembali ke kampung halamannya berbekal uang mahar pemberian Yang Pou Han. Kartu kredit dan Debit Card sudah ditinggal di atas ranjang tidur, bersama surat perpisahannya. Nindy menyapukan pandangannya ke segala penjuru, mematri untuk terakhir kalinya kamar itu. Kamar yang telah menjadi saksi bisu tumbuhnya rasa cinta di hati yang semakin lama semakin besar untuk sang suami. Namun, rasa cinta itu hanya tumbuh di hatinya seorang. Ya, cinta Nindy bertepuk sebelah tangan.


Dia memesan taksi dengan menyeret koper itu ke luar pagar rumah. Penjaga rumah hanya bisa mengangguk patuh tanpa berani mencegah. Nindy memberikan senyuman terakhir untuk penjaga itu dengan mengucapkan salam perpisahan.


Dan sampailah taksi itu tiba di depan rumahnya, Nindy segera masuk ke dalam. Mendaratkan pantatnya di kursi penumpang dengan koper yang sudah diambil alih oleh sopir taksi tersebut.


"Selamat tinggal, Yang." Dia berucap lirih dengan suara yang telah menghilang, tertelan oleh angin malam.


***


"Mungkin sebaiknya aku pulang." Yang Pou Han beranjak dari kursi sofa itu setelah menyadari hari sudah hampir tengah malam.


"Kau meninggalkanku di sini sendiri?"


Dia menoleh ke arah Emelie, menghela napas kemudian. "Nindy terlalu lama kutinggal. Tidurlah! Ini sudah sangat larut."


Emelie nampak mengulas senyum, menatap getir ke arah Yang Pou Han. "Pulanglah! Semua orang satu per satu meninggalkanku. Sean, orang tuaku, nenekku, dan sekarang kau. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk sendiri sampai maut menjemputku."


"Emelie, kau tidak sendiri. Kau hanya harus bersosialisasi lagi. Hidupmu akan lebih luas, tidak sesempit apa yang telah kau pikirkan. Dunia tidak hanya berisi kau dan aku, tetapi banyak orang yang hidup di dalamnya. Kau hanya tinggal keluar dari duniamu, melihat dunia luar yang siap menantimu. Kau masih muda, masa depanmu masih cerah. Jangan menghukum dirimu seperti ini!"


Yang Pou Han melangkah setelahnya, meninggalkan Emelie yang masih tertunduk lesu.


"Aku menginginkanmu, Yang. Bukan yang lain. Apakah kau mengerti?" ucap Emelie lirih dengan air mata yang mengalir di pipi.


***


Ruangan itu nampak sunyi, seolah aura kebahagiaan telah lenyap dengan sendirinya. Yang Pou Han datang dengan terburu-buru. Memeriksa setiap bilik ruangan untuk mencari seseorang, Nindy.


Dia berteriak, memanggil-manggil nama Nindy untuk ke sekian kalinya. Akan tetapi, tak ada sahutan yang tertangkap dalam indra pendengarannya. Rumah besar itu telah berubah dalam sekejab, ketika sumber kebahagiaan telah menghilang entah ke mana.


Yang Pou Han memeriksa kamarnya sekali lagi, membuka lemari pakaian Nindy. Isinya masih banyak, tetapi dia tak menemukan koper Nindy.

__ADS_1


Matanya mengedar ke arah ranjang, dan menaangkap sesuatu yang tergeletak di sana. Dia melangkah mendekat, melihat dengan jelas apa yang tertinggal di atas ranjang. Kartu kredit, debit dan sepucuk surat.


...***...


...Aku ingin mengajakmu bicara, tetapi sepertinya kau enggan untuk menemuiku. Aku sudah berusaha, Yang. Mungkin sudah saatnya aku menyerah. Menyerah akan perasaan dan hubungan ini. Karena kau tahu, berjuang sendiri begitu melelahkan. Berjuang sendiri terasa menyakitkan....


...Terima kasih atas hari-hari menyenangkan itu. Terima kasih atas waktu berhargamu yang sempat kau luangkan untukku....


...Kau bisa menikahinya, aku tidak akan menuntut apa pun kepadamu. Kau bisa mengurus perceraian kita. Aku akan dengan suka rela menandatanganinya. Dan kau bisa hidup bahagia bersamanya....


...Nindy...


...***...


Kertas itu terjatuh seketika, seolah tangan Yang Pou Han kesilitan untuk menahan bebannya. Hatinya terasa lepas secara paksa dari tubuh. Dia merasakan sakit yang berkali-kali lipat di relung hatinya.


"Nindy. Mengapa kau bodoh sekali!"


Dia merogoh ponselnya, menghubungi nomor Nindy untuk mencari keberadaan perempuan itu.


Sekali panggilan tidak diangkat, panggilan ke dua juga tidak di angkat. Yang berdecak kesal, tetapi dia tidak langsung menyerah. Dia memberondong Nindy dengan banyak panggilan hingga akhirnya perempuan itu menjawabnya.


"Kau di mana?" Suara Yang Pou Han terdengar tidak sabar.


"Apakah kau perlu tahu?" Nindy berada di salah satu kios roti dengan slogan 'fresh from the oven' yang terletak di area Bandara. Dia membeli roti dengan segelas teh untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Kendati hatinya sakit, tetapi perutnya masih saja bisa merasakan lapar.


"Aku suamimu?"


"Sebentar lagi bukan." Nindy menyela, mengunyah roti itu yang kini terasa hambar untuk menyembunyikan rasa tangisnya.


"Apa maksudmu?" terdengar Yang menahan marah ketika Nindy mengucapkan itu.


"Seorang suami yang tidak pernah mencintai istrinya. Aku akan melepaskan suami seperti itu agar dia bisa bahagia dengan cintanya. Kau tidak perlu susah payah lagi untuk berusaha mencintaiku, Yang. Semua sudah berakhir. Hiduplah bahagia dengan Emelie. Aku tidak akan mengganggu kalian."


"Kau di bandara? Tunggu aku! Aku akan menjemputmu. Jangan pergi!"


"Jam berapa keberangkatanmu. Tunggu aku! Aku akan ikut denganmu!"


"Kau ingin ikut denganku?"


"Tentu saja. Bagaimana mungkin aku membiarkan istriku pergi sendiri. Bagaimana jika ada laki-laki lain yang menggoda dan mendekatinya?" Dia mulai mengendara, menyematkan ear piece di telinga.


"Satu jam lagi. Di kedai Roti *****."


"Aku akan ke sana!"


Panggilan berakhir, dengan meninggalkan perasaan yang campuraduk. Ada rasa bahagia, tetapi juga kecewa. Nindy tak bisa mengartikan perasaannya saat ini. Namun, dia akan menunggu kedatangan Yang Pou Han sesuai permintaan lelaki itu. Mungkin ini adalah pertemuan terakhirnya dengan lelaki yang ia cintai.


Yang Pou Han menyetir kendaraannya dengan begitu cepat. Mengabaikan bunyi klakson pengendara lain yang memprotes aksi berbahayanya. Dia tak peduli. Dalam pikirannya hanya ada nama Nindy.


Nindy, Nindy, Nindy, nama itu terus-menerus berputar di otaknya. Dia tidak mau berpisah dengan perempuan itu. Semuanya akan berakhir jika Nindy memutuskan pergi dan menyerah dengan perasaannya. Yang Pou Han tidak pernah merasakan dicintai seseorang seperti itu, kendati sebelumnya banyak perempuan yang berusaha mendekatinya, tetapi mereka hanya menginginkan kekayaannya saja. Berbeda dengan Nindy, perempuan itu tak pernah meminta apa pun kepadanya. Bahkan ketika pergi, Nindy meninggalkan semua pemberian Yang Pou Han untuknya.


Dia terlalu menggebu dalam keinginannya menemui perempuan itu. Tidak boleh ada kata perpisahan di antara mereka. Hingga sebuah motor yang melewati jalur yang salah hampir bertabrakan dengan mobil Yang Pou Han. Lelaki itu membanting setir, membelokkan mobilnya hingga menerabas pembatas jalan.


"Aaagghhh!"


Mobil itu menabrak tiang listrik di samping jalan, dengan cap mobil penyok sebagian. Kening Yang Pou Han terbentur dengan keras pada setir mobil, hingga mengeluarkan banyak darah karena melukai pembuluh darah utama yang berfungsi mengalirkan darah ke otak.


Lelaki itu berakhir tak sadarkan diri, membiarkan harapannya bertemu Nindy hanya ada dalam bayangannya saja.


***


Nindy berkali-kali mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hampir empat puluh lima menit Yang Pou Han tak juga datang. Harapan terakhir bertemu dengan lelaki itu sepertinya tak pernah terjadi.

__ADS_1


"Tidak, dia akan datang. Yang Pou Han akan datang. Dia sudah berjanji."


Dalam hati, Nindy memberikan keyakinan pada dirinya. Mencoba percaya kembali pada ucapan lelaki itu. Berusaha tetap tenang dengan memberi harapan baru meski sangat tipis.


Namun, hingga waktu yang ditentukan, Yang Pou Han tidak juga datang. Dia merutuki kebodohannya sendiri. Membiarkan harapan itu muncul kembali.


Ya, Yang Pou Han tidak datang dan tidak akan pernah datang. Dia terlalu bodoh memercayai ucapan lelaki itu lagi.


Rasa sesak itu kembali mengimpit hatinya, hingga ia tak kuasa menahan tangis itu supaya tidak pecah. Namun, aiir mata itu luruh juga, mengalir dengan deras dan tak bisa berhenti kendati dia ingin menahannya. Dia ingin marah, tetapi kepada siapa?


"Yang, aku membencimu. Kau ... pembohong!"


Keyakinan terbesarnya untuk memercayai ucapan lelaki itu telah lenyap seiring dengan tidak hadirnya Yang Pou Han untuk menjemputnya. Dia kecewa dengan sikap lelaki itu yang hanya bisa mempermainkan perasaannya saja.


Ya, Yang Pou Han ternyata lebih memilih Emelie, wanita yang dicintainya sejak kecil daripada seorang wanita biasa, tak memiliki kelebihan apa pun seperti Nindy.


Nindy beranjak dari duduknya, ketika mendengar panggilan boarding yang mengingatkan jika pesawat akan melakukan penerbangan.


Nindy menitipkan sesuatu kepada penjaga stand toko roti itu, sekaligus memberikan pesan untuknya. Kendati dia tidak ingin berharap lebih, tetapi dia masih saja memberikan jejak untuk lelaki itu.


"Selamat tinggal, Yang." ucapnya lirih seraya pergi menuju ke salah satu gate, di mana ia akan melakukan penerbangan.


***


Sedikit waktu yang kau miliki


Luangkanlah untukku


Harap secepatnya datangi aku


Sekali ini kumohon padamu


Ada yang ingin kusampaikan


Sempatkanlah


Hampa kesal dan amarah


Seluruhnya ada di benakku


Tandai seketika hati yang tak terbalas


Oleh cintamu


Kuingin marah melampiaskan


Tapi 'ku hanyalah sendiri di sini


Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada


Bahwa hatiku kecewa


Sedetik menunggumu di sini


Seperti seharian


Berkali kulihat jam di tangan


Demi membunuh waktu


Tak kulihat tanda kehadiranmu


Yang semakin meyakiniku

__ADS_1


Kau tak datang


^^^Kecewa by Bunga Citra Lestari^^^


__ADS_2