
"Terkadang manusia harus sampai pada titik kehilangan untuk mengerti arti dari sebuah cinta, kesetiaan dan kasih sayang."
***
"Yang, apakah kau menyukai bunga?"
Perempuan berhijab itu menoleh ke samping, di mana lelaki itu sedang berdiri di sisinya.
"Ya, kau bisa lihat di taman belakang, banyak sekali bunga," kata Yang Pou Han.
"Emm, aku tahu." Dia memetik dua tangkai bunga dandelion yang bunganya masih utuh karena belum ada angin yang mengempaskannya.
"Kalau dandelion, apakah kau menyukainya?" tanya perempuan itu lagi seraya menunjukkan bunga dandelion di tangan.
"Aku menyukainya, jika kau yang membawanya."
"Heem, kau selalu tidak pernah serius." Perempuan itu meniup bunga dandelion yang ada ditangannya, melayangkan biji-biji kecil yang terdapat sayap-sayap mungil menyerupai kapas, bertaburan dan berhamburan ke udara.
"Kau lihat itu? Mereka terbang sendiri-sendiri, sesuai embusan angin yang membawa mereka ke mana. Mereka begitu berani, kendati kecil dan terlihat rapuh, juga lemah, mereka tidak takut akan pergi sendiri menuju tempat baru. Mereka bisa hidup mandiri, membuat kehidupan sendiri di tempat baru itu. Kendati angin kencang membawanya ke tempat nan jauh, bunga kecil dandelion tidak akan pernah rusak dan tetap menyatu." Nindy menoleh ke arah lelaki itu yang kini tengah mendekat ke arahnya, mengikis jarak yang sempat tercipta di antara mereka.
"Aku ingin seperti mereka. Meski aku hanya orang biasa yang terlihat lemah dan rapuh, aku yakin akan bisa hidup mandiri tanpa takut apa pun yang mungkin menjadi penghalang jalan hidupku." Wajah itu nampak menahan kesedihan, menyembunyikan sebuah luka dan lara di hati.
"Apa maksudmu? Kau tidak perlu melakukan itu, karena ada aku yang akan selalu melindungimu."
Perempuan itu tersenyum, yang semakin lama terlihat semakin lebar. "Heem, apakah aku bisa mengandalkanmu?"
"Tentu saja. Aku suamimu, seharusnya kau bisa berbangga diri menjadi istri seorang pengusaha sukses sepertiku."
"Bukankah kita sudah berpisah, Yang. Kau ... tidak datang menemuiku. Kau ... dan aku telah berpisah." Nindy mencium pipi lelaki itu, begitu lembut dan hidmat. "Selamat tinggal, Yang. Kita tidak mungkin bersama lagi."
Sesaat setelahnya tubuh Nindy menjauh, yang semakin lama bayangannya semakin kabur. Yang Pou Han berusaha meraih tubuh perempuan itu, membawa dalam pelukannya. Akan tetapi, apa yang dia lakukan ternyata sia-sia. Bayangan Nindy tak bisa disentuh, hanya terlihat senyum teduh perempuan itu yang terlihat samar lalu menghilang.
"Nindy! Tidak! Tidaaak!"
Napas Yang Pou Han tersenggal. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Semua terlihat sunyi, tiada seorang pun yang berada di sampingnya.
__ADS_1
Apa yang terjadi?
Tangannya terulur untuk menyentuh kening yang berbalut perban itu. Ingatannya terpecah-pecah, menjadi kepingan-kepingan kecil yang terserak, berhamburan.
Yang Pou Han merasakan sakit di kepala, terasa berdenyut serta pening. Dia mencoba merangkai sepotong demi sepotong memori, untuk kemudian disusun secara perlahan, membentuk ingatan yang menjadi jawaban atas segala pertanyaan yang berada di kepalanya.
Dia kecelakaan, dan ... Nindy. Iya, dia sedang ingin menjemput Nindy.
Seketika bayangan raut wajah kecewa Nindy terlukis di kepalanya, hingga membuat lelaki itu bergegas turun dari brankar untuk menyusul Nindy. Entah siapa yang telah membawanya ke rumah sakit, dia tidak peduli.
Lelaki itu dengan tertatih-tatih, lantaran masih merasakan kesakitan di kepala akibat benturan keras itu, mencoba memaksakan diri untuk pergi dari ruangan berbau obat yang terasa mengganggu.
Nindy, dia harus bertemu Nindy. Dia akan menjelaskan semuanya. Ya, dia tidak ingin kehilangan perempuan itu yang telah berhasil menjungkirbalikkan dunianya, mengalihkan kehidupan dan perhatiannya. Nindy harus tahu bagaimana perasaan Yang Pou Han selama ini, yang secara mati-matian ditutupi, demi sebuah misi.
Sampai ketika kakinya berada di koridor rumah sakit, netranya menangkap seseorang yang sangat ia kenal, Emelie.
Apakah Emelie yang telah membawanya ke rumah sakit?
Dia nampak penasaran dengan apa yang dilakukan oleh perempuan itu. Jika memang Emelie yang membawanya ke rumah sakit, seharusnya perempuan itu berada di sisinya, menunggu dia siuman. Akan tetapi, melihat Emelie berada di koridor sepi seperti itu, membuat jiwa penasaran Yang Pou Han tergelitik untuk mengetahui.
Lelaki itu mengenakan topi yang ditutup ke bawah, seolah menyembunyikan wajahnya dari pandangan orang-orang di sekitarnya.
Yang Pou Han semakin mendekat, bersembunyi di antara tiang-tiang koridor itu, menajamkan telinga, mencuri dengar dengan apa yang akan dibicarakan oleh Emelie juga lelaki misterius itu.
"Ini bayaranmu. Sebaiknya kau segera menjauh dari Yang Pou Han. Aku yakin, dia pasti akan bisa mengenalimu suatu saat nanti." Emelie memberikan selembar cek kepada lelaki itu dan segera berlalih tangan dengan cepat.
"Aku tidak menyangka, kisah Tuan Yang dan Salwa yang kau ceritakan akan memercikkan kebencian di hati Nindy terhadap Tuan Yang. Ternyata wanita akan berubah menjadi singa ketika berurusan dengan masalah hati," tutur lelaki itu seraya memasukkan lembaran cek kosong ke dalam saku.
"Sudah, pergi sana! Aku akan menemani Yang Pou Han lagi." Emelie tampak tidak senang mendengar jawaban jujur dari lelaki itu. Saat ini, bukan hanya manusia yang bisa mencuri dengar. Tembok, angin, dan tumbuh-tumbuhan pun bisa menjadi saksi percakapan mereka, sehingga Emelie harus bisa mengantisipasi itu semua.
"Kau tidak perlu menemaniku, Emelie!" Suara Yang Pou Han tiba-tiba terdengar dari arah belakang, membuat Nindy dan lelaki misterius itu terkejut dibuatnya.
Emelie nampak tersenyum. Sedikit kikuk, dia mendekati lelaki itu, memeluk lengan Yang Pou Han dengan ekspresi cemas. Akan tetapi, dengan kasar, Yang Pou Han mengempaskan tangan itu dari lengannya.
"Jangan menyentuhku!" Tolakan itu membuat Emelie terkejut. "Aku sudah tahu semuanya. Kau dan dia telah melakukan tindakan yang memalukan," imbuh Yang Pou Han.
__ADS_1
"A-apa maksudmu, Yang? Aku yang menolongmu dari kecelakaan itu."
"Ya, kau yang menolong, tetapi kau juga yang menyebabkan kecelakaan itu." Yang Pou Han berdecih, menatap sinis ke arah Emelie dan juga lelaki misterius itu.
"Buka saja topimu! Aku sudah mengenalmu dengan baik, Zang Nan. Kau seorang pengendara motor ugal-ugalan itu, bukan?"
Terlihat gurat ketakutan di wajah lelaki itu. Tangannya tiba-tiba gemetar melihat sorot mata tajam dari manik Yang Pou Han. Dia tidak menyangka penyamarannya dalam melakukan misi kecelakaan itu bisa diketahui oleh Yang Pou Han. Akan bagaimana nasibnya nanti?
Yang Pou Han bergerak maju, mendekat ke arah Emelie dan juga Zang Nan. Kendati kepalanya masih terasa sangat sakit, tetapi aura lelaki itu masih saja bisa membuat orang lain ketakutan dengan kemarahannya.
"Kau!" Menunjuk ke arah Zang Nan, "Kau bekerja sama dengan Emelie untuk menggagalkan pernikahanku dengan Nindy, bukan?! Kau juga yang merekam kejadian penghinaan Danisha untuk dipertunjukkan di pesta pernikahan kami. Kau ingin membuat Nindy malu dengan jati dirinya, sehingga dia memilih untuk tidak melanjutkan pernikahan itu. Dan kalian telah menyewa satu orang untuk menodai Nindy agar dia merasa hina dengan sendirinya. Sungguh cara kalian begitu licik."
Emelie terkesiap lantaran perkataan yang terucap dari bibir Yang Pou Han. "Itu tidak benar. Aku tidak tahu apa-apa dengan pesta pernikahan kalian. Lagi pula, siapa yang tahu jika Nindy akan ke kamar mandi saat itu?"
"Siapa yang memberi tahumu jika Nindy ke kamar mandi ketika pemerkosaan itu terjadi?" sela Yang Pou Han dengan mata menatap sinis ke arah Emelie.
"Aku sudah melihat rekaman CCTV dengan dibantu oleh Sean saat itu. Dia sudah mengirimkan potongan-potongan video yang menunjukkan satu orang yang terlibat dalam sabotase pesta pernikahanku. Aku sangat mengenal perawakan pria yang telah mengganti video asli foto prewedding dengan video cacian itu. Kau, kau yang telah menggantinya, Zang Nan."
Zang Nan mundur ke belakang. Dia ingin kabur, tetapi Emelie menahannya. "Apa yang kau katakan, Yang! Aku sama sekali tidak mengerti." Emelie nampak berkilah kendati bukti sudah di depan mata.
"Tanpa Nindy ketahui, aku sudah mencurigaimu sejak lama. Aku telah mengikuti permainanmu, membiarkan Nindy hidup dalam kebingungan. Ya, aku bersalah kepadanya, tetapi itu aku lakukan untuk mengetahui kebenaran. Aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya kau rencanakan, Emelie." Yang Pou Han menunjuk ke arah Zang Nan dengan jari telunjuknya. "Kau beberapa kali secara kebetulan bertemu dengan Nindy. Aku tidak yakin kalian bertemu secara kebetulan. Kau telah merencanakan itu semua, bukan?" Yang berteriak, menunjukkan wajah dingin yang terlihat tegang dan menyeramkan.
"Ti-dak! Itu tidak bebar. Kami bertemu secara kebetulan." Zang Nan berkata dengan sedikit terbata. Takut, tentu saja dia takut dengan Yang Pou Han.
"Lalu, untuk apa kau tiba-tiba muncul di rumah sakit saat itu?"
"A-aku ...." Zang Nan tak bisa menjawab, dia memang mendapat petunjuk dari Emelie untuk datang ke rumah sakit. Dia tidak menyangka rencana yang mereka susun dengan sangat rapi telah dengan mudah diketahui oleh Yang Pou Han. Padahal tujuan utama menyingkirkan Nindy telah berhasil mereka lakukan.
"Yang! Bukankah kau saat ini sudah terbebas dari perempuan itu? Perempuan yang mengejar-ngejarmu tanpa tahu malu meski kau tidak pernah mencintainya. Lantas, untuk apa kau marah? Mari kita mulai semuanya dari awal. Bukankah kau berjanji kepada ayahmu untuk menjagaku? Kau juga berjanji kepada Nenek Bay untuk menjaga dan melindungiku. Sekarang, sudah tidak ada lagi penghalang di antara kita. Kita bisa hidup bahagia bersama. Karena aku tahu, kau masih mencintaiku, 'kan?"
Yang Pou Han nampak mengepalkan tangannya. Betapa naif Emelie, berusaha sekuat tenaga, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Bahkan dia telah tega menghancurkan martabat sesama wanita hanya untuk mencapai keinginannya. Ya, Emelie belum berubah. Dia masih emelie yang ambisius dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
"Kau salah, Emelie. Bukan Nindy yang mengejar-ngejarku. Dan bukan Nindy yang jatuh cinta terlebih dahulu kepadaku. Ya, aku yang mengejar-ngejarnya, dan aku yang lebih dulu mencintainya. Aku sudah jatuh cinta kepadanya sebelum dia mengatakan perasaannya kepadaku. Aku mencintai Nindy, bukan dirimu. Dan aku tidak akan pernah membiarkan Nindy terlepas dariku sampai kapan pun. Apakah kau mengerti?"
》Next, gak, ya ... ☺
__ADS_1