
Emelie menggelengkan kepala. Dia tidak bisa melihat kegagalan sekali lagi di depan mata. Yang Pou Han adalah pemujanya. Lelaki itu sejak kecil selalu menjadi pemujanya dan akan selamanya seperti itu. Dia tidak boleh berubah karena kedatangan orang baru seperti Nindy -- perempuan miskin, rendahan yang bodoh. Mengapa lelaki di sekelilingnya memiliki selera rendah dengan menyukai wanita-wanita miskin seperti Nindy dan Salwa?
"Kau tidak mencintainya, Yang! Kau hanya mencintaiku. Apa kelebihan perempuan itu dibandingkan dengan diriku? Perempuan yang tak jelas asal-usulnya dan dilahirkan dari rahim murahan. Apa yang kau harapkan dari perempuan rendahan seperti itu?
Emelie tidak terima jika dia dikalahkan dengan perempuan-perempuan tak tahu diri seperti itu. Harga dirinya diremehkan dengan cara yang tidak elite.
"Cukup!" Yang berteriak, tidak tahan dengan hinaan yang ditujukan kepada Nindy, yang terlontar dari mulut Emelie.
"Dia adalah wanita paling suci yang pernah kutemui. Dia selalu mengatakan apa yang ada di hatinya. Dia adalah wanita paling jujur yang pernah kumiliki. Dan yang paling terpenting adalah dia istriku. Kau tidak bisa mengubah kenyataan itu, Emelie."
Yang Pou Han melangkah mendekat, menghunjamkan tatapan penuh perhitungan kepada Emelie dan juga Zang Nan. Membiarkan lelaki itu ketakutan dengan pikirannya sendiri, sementara Emelie akan terjatuh dengan harapannya yang terlalu melambung tinggi.
"Kesempatanmu sudah tiada, Emelie. Kau sudah menyia-nyiakan kesempatan yang telah aku berikan kepadamu. Dan kau harusnya sadar dengan statusmu. Jangan menjadi duri dalam rumah tangga orang lain!" Yang Pou Han menekankan kata 'duri' dalam kalimatnya, menyadarkan Emelie dari sikap arogan dan egois yang selama ini dia lakukan.
"Apakah itu artinya kau akan meninggalkanku, Yang? Kau akan melupakan janjimu kepada mendiang ayahmu juga Nenek Bay?" Mata Emelie terlihat berkaca-kaca. Dia sudah berjuang untuk mendapatkan lelaki itu kembali di sisinya. Namun, sepertinya semuanya tidak berjalan sesuai kehendaknya. Dia telah kehilangan teman, sekaligus cintanya. Teman masa kecil yang selalu setia mendampingi, juga melindunginya. Membela segala kenakalannya di saat Emelie melakukan sebuah kesalahan.
Ya, Yang Pou Han adalah malaikat yang dikirim oleh Tuhan untuk melindungi dan menjaganya, tetapi Emelie telah menyia-nyiakan malaikat pelindung yang dikirimkan Tuhan untuknya hanya demi ambisi, ego dan kepuasannya sendiri. Dia telah kehilangan cinta tulus dari seseorang yang selalu melindungi dan memujanya karena kebodohannya sendiri.
"Kau bukan wanita bodoh yang membutuhkan jawaban dan penjelasan dariku. Tentunya kau mengerti apa yang kumaksudkan. Dan kau!" Yang Pou Han menatap lelaki yang berada di belakang Emelie - Zang Nan. "Bersiaplah ke penjara."
Zang Nan tampak kesulitan hanya untuk menelan ludah. Tubuhnya gemetar mendengar kata penjara dari mulut Yang Pou Han.
"Ampuni saya, Tuan. Saya hanya disuruh. Saya tidak ada dendam apa pun kepada Anda dan juga Nindy. Tolong maafkan saya!" Zang Nan berlutut, menyentuh kaki Yang Pou Han, tetapi lelaki itu tak peduli. Dia enggan hanya untuk menatap ke.bawah, di mana Zang Nan sedang bersimpuh di bawah kakinya.
"Seharusnya kau memikirkan ini sebelumnya, ketika kau memutuskan untuk mencari masalah dengan seorang Yang Pou Han." Dia pergi kemudian, mengabaikan Zang Nan yang masih duduk di lantai, meminta permohonan darinya.
Ya, tiada waktu untuk meladeni dua orang tak berguna itu. Waktunya sangat sedikit, dia akan menyusul Nindy, membawa perempuan itu kembali kepadanya. Apa pun caranya.
***
"Bisa lebih cepat, tidak!"
Sopir taksi itu semakin mengebut, mendengar perintah penumpang gila yang tanpa sengaja ditemuinya. Dia tak berani hanya untuk mengintip wajah penumpang itu, netranya hanya terfokus ke arah jalanan, di mana mereka sedang melaju menuju bandara.
Yang Pou Han begitu gelisah, mengingat dia terlambat menjemput Nindy. Ponselnya tertinggal di mobil yang penyok itu, beruntung dompetnya masih berada di saku celana sehingga ia bisa membayar taksi tanpa harus pulang terlebih dulu.
Kini hatinya kian gusar, waktu yang ditentukan sudah terlewat lebih dari tiga puluh menit. Apakah Nindy akan tetap melanjutkan penerbangan tanpa menunggu dirinya?
Seberapa pantaskah dia untuk Nindy tunggu? Sementara pertemuan terakhir mereka sama sekali tak layak untuk dikenang, bahkan dia telah menyakiti hati perempuan itu, perempuan yang amat dicintainya.
Begitu gelisah ia memikirkan tak lagi bisa bertemu Nindy. Dia bahkan belum sempat mengutarakan perasaanya dengan perempuan itu. Akan tetapi, Nindy telah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
*Bodoh-bodoh-bodo*h!
Yang Pou Han merutuki kebodohannya sendiri. Kendati ingin membuktikan kebenaran, dia terlupa akan ada hati yang harus dijaga. Jika saja dia tidak hanya memikirkan tentang masalah itu, dia bisa memberikan Nindy sedikit pengertian sehingga perempuan itu tidak begitu saja meninggalkannya lantaran merasa dikhianati. Dia tak menyadari, jika perasaan Nindy akan tersakiti karena ulahnya, dan berakhir dengan menyerah lalu pergi meninggalkannya.
Yang Pou Han segera melemparkan beberapa lembar uang kepada sopir taksi ketika dia sudah berada di depan lobby bandara. Dia membuka pintu itu tanpa menunggu dibukakan, hatinya semakin gelisah sebelum Nindy ditemukan.
"Ambil saja kembaliannya!" Dia segera berlari setelah mengatakan itu.
"Tuan, tunggu!" Sopir taksi itu berteriak memanggil. Alih-alih mengucapkan terima kasih, sopir taksi itu justru membuat Yang Pou Han kesal.
"Apa? Sudah kubilang, ambil saja kembaliannya!" bentak Yang Pou Han kepada sopir taksi tersebut. Waktunya tidak banyak, tetapi sopir taksi itu justru membuatnya mengulur-ulur waktu.
"Tapi, Tuan. Ini uangnya kurang."
"Ckkk, kau membuatku kesal saja!" Yang melemparkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Tanpa menunggu tanggapan sopir taksi tersebut, Yang Pou Han segera berlari meninggalkannya untuk mwnuju ke tempat di mana Nindy tengah menunggunya.
"Nindy, tunggu aku!"
Lelaki itu berlari, mengurai sekumpulan orang yang menghalangi jalan. Teriakan dan caci maki tidak ia pedulikan karena telinganya seolah tertutup dengan pikiran yang hanya tertuju pada satu orang, Nindy.
Netra sipit itu menyapu ke segala penjuru, mencari di mana sosok yang ingin ia temui. Sampai pada akhirnya ia menemukan kedai roti yang Nindy maksudkan. Yang Pou Han segera mempercepat langkah, berlari menuju toko roti itu.
Napasnya tersenggal, mengabaikan rasa pening di kepala yang terasa berdenyut kesakitan.
Toko roti itu kebetulan buka dua puluh empat jam. Kendati jam sudah melewati waktu tengah hari, toko tersebut masih menerima tamu untuk sekadar bersantai atau menikmati roti hangat dengan secangkir teh manis
"Siapa, Tuan?" tanya penjaga toko.
"Istriku. Di mana dia? Katakan!"
Wajah Yang Pou Han nampak dingin, membuat penjaga toko itu ketakutan, memilih mengabaikan daripada meladeni pertanyaan aneh lelaki gila itu.
"Hei! Kau mau dipecat apa? Berani mengabaikanku!"
Penjaga toko itu kembali menghampiri Yang Pou Han di balik meja barnya. Dengan gugup dia bertanya, "Siapa istri Tuan. Mungkin saya bisa membantu."
"Tentu saja dia wanita cantik. Kalau bertanya yang benar. Jangan membuatku kesal saja!"
"Mak-sud saya, ciri-cirinya bagaimana, Tuan? Karena tadi ada seorang wanita yang duduk lama di sini, menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Dia akhirnya pergi dan meninggalkan sesuatu untuk seseorang yang mungkin akan mencarinya."
"Dia berpakaian tertutup dengan tubuh mungil? Apakah perempuan yang kau maksudkan bernama Nindy?" tanya Yang Pou Han memastikan.
__ADS_1
"Iya, benar sekali." Dia mengeluarkan sebuah paper bag dari dalam laci untuk diberikan kepada Yang Pou Han.
Dengan cepat paper bag itu sudah beralih ke tangan Yang Pou Han. Dia tidak sabar membukanya, hingga tas kertas itu sedikit robek di beberapa sisi. Netra itu membulat, menatap pedih sesuatu yang berada di dalam tas peninggalan Nindy.
Ya, tidak salah lagi. Itu adalah ponsel pemberian Yang Pou Han untuk Nindy dan juga ... cincin pernikahannya.
Tubuhnya melemas seketika, meluruh hingga terjatuh di atas lantai. Dia bersandar di meja bar dengan kaki menjulur ke depan, mengabaikan tatapan aneh semua otang yang melewatinya. Tangan itu meremas cincin pernikahan yang sudah terlepas dari jari manis si pemiliknya. Dia hampir menangis, tetapi sekuat tenaga ditahan. Wajahnya pilu menunjukkan kebingungan.
Ya, Nindy telah pergi. Dia telah kehilangan bidadari penakluk hati yang telah dikirimkan Tuhan untuknya, dan itu semua bukan karena hal lain, melainkan karena kesalahannya sendiri.
***
Terkadang manusia selalu menyesalkan sebuah pertemuan, jika memang pada akhirnya akan terjadi sebuah perpisahan. Mereka terlupa, jika pertemuan itu merupakan salah satu skenario Tuhan kepada makhluknya agar mereka memetik sebuah pelajaran.
Nindy memejamkan mata, menikmati penerbangan yang akan membawanya kembali ke tanah air. Baru dua hari yang lalu, dia merasakan kesenangan ketika melakukan penerbangan ke Indonesia. Sangat berbeda dengan situasi dan suasana hantinya saat ini. Aroma itu masih tercium, pelukan hangat itu juga masih terasa. Nindy tak bisa melupakan begitu saja kebersamaannya dengan Yang Pou Han.
Begitu burukkah dirinya hingga tak mampu untuk bersaing dengan perempuan itu?
Rasa sakit yang teramat sangat, sedikit demi sedikit menggerogoti hatinya. Nindy tak kuasa menahan tangis. Netranya mengalihkan perhatian ke luar jendela, di mana awan putih yang menghiasi gelapnya malam nampak sedang berdempul dengan berkelompok, membentuk sebuah koloni yang terlihat dari bawah menjadi melebar bak lautan luas di angkasa.
Betapa bodohnya ia karena terlalu mengharapkan cinta dari lelaki itu. Kendati Nindy telah memberikan segalanya kepada Yang Pou Han, tak sekalipun lelaki itu mengucapkan rasa cinta yang sangat diharapkan oleh Nindy.
Ya, Nindy telah mencurahkan kasih dan sayang yang tulus hanya untuk mencintai Yang Pou Han, lelaki pertama yang telah masuk terlalu dalam pada kehidupannya. Memberikan sebuah pengalaman-pengalaman baru dalam sebuah hubungan percintaan.
Nindy memejamkan mata, mencoba mengusir rasa gelisah, serta sakit di hatinya. Namun, setiap matanya terpejam, embusan napas lelaki itu terasa menerpa wajahnya. Kendati tak bersua, Nindy merasakan lelaki itu masih saja berada di sampingnya, memeluknya dengan sesekali mencium keningnya.
Senyuman menyebalkan yang selalu ditunjukkan Yang Pou Han kepada Nindy berhasil membuat perempuan itu merindu. Nindy tak bisa menampik rasa rindu itu di hatinya. Air mata Nindy meluruh seketika, bersamaan rasa sakit hati, sesal, juga kecewa.
Mengapa harus dia yang merasakan itu?
Mengapa harus dia yang jatuh cinta?
Mengapa harus dia yang merasakan rasa sakit itu?
Sungguh jika waktu boleh diputar ulang, lebih baik dia tidak menikah dengan Yang Pou Han. Dia takut jatuh cinta, seperti orang bodoh yang memperjuangkan cinta seseorang, tetapi tak dianggap atau dipedulikan.
Kenyataan pahit mendengar Yang Pou Han menikahinya karena terobsesi dengan wanita berhijab, membuat batin Nindy semakin sesak. Dia terlalu berharap lebih, menginginkan dicintai laiknya sepasang suami istri yang saling menyayangi dan mengasihi. Melabuhkan rasa cinta hanya untuk dirinya saja. Namun, semua itu hanya ada dalam angannya saja. Yang Pou Han sama sekali tak mencintainya.
Melihat bagaimana lelaki itu begitu memperhatikan mantan istriya cukup membuktikan di mana posisi Nindy berada. Permohonan Nindy untuk mendapatkan sedikit waktu hanya untuk mengucapkan kata perpisahan, sama sekali tak dihiraukan oleh lelaki itu.
Mungkin, saat ini dia masih menemani Emelie. Menemani perempuan itu yang sedang dirundung duka. Memeluk bak sepasang kekasih yang sedang membujuk dan menenangkan wanita yang dicintainya agar tidak bersedih. Membayangkannya saja Nindy tak sanggup, apalagi jika harus melihat dengan mata kepala sendiri.
__ADS_1
Mungkin, pergi lebih baik baginya agar tidak lagi melihat pemandangan yang menyiksa jiwa. Sudah cukup baginya merasakan batin yang terombang-ambing dengan ketidakpastian, pengharapan yang sia-sia, juga kenisbian. Kendati masih ada rasa sayang dan cinta yang begitu besar di hati, Nindy tak akan menoleh ke belakang lagi. Ada saatnya dia harus berpaling dan memulai hidup baru, yang jauh dari bayang-bayang seorang Yang Pou Han.
***