
Masa demi masa terlewati, menyuguhkan memori tentang peritiwa demi peristiwa yang telah terjadi, membuat manusia berpikir, memetik pelajaran dari pengalaman yang pernah mereka alami.
Nindy telah selesai melakukan transplantasi sel punca. Dia masih belum mengetahui, siapa pendonor yang baik hati itu telah memberikan sel darah murninya demi kesembuhan dirinya.
Bahkan orang itu harus rela merasakan efek samping dari hasil pengambilan sel punca itu, yang disuntikkan menembus ke dalam tulang dengan menciptakan rasa sakit dan tidak nyaman dalam beberapa waktu.
Yang Pou Han pun dengan setia mendampingi Nindy selama proses itu terjadi. Tak jarang lelaki itu mengabaikan pekerjaannya demi menyokong dan memantau kesembuhan Nindy.
Pengalaman mengabaikan perempuan itu ketika sakit, membuat Yang Pou Han mengambil banyak pelajaran darinya. Bahwa sesungguhnya keluarga jauh lebih berharga dari sebuah pekerjaan, terutama pekerjaaan yang bisa diwakilkan oleh orang lain.
Prioritasnya saat ini adalah kesembuhan Nindy dan pertumbuhan Anya. Yang Pou Han benar-benar mendedikasikan diri untuk keluarga kecilnya. Pernah terabaikan saat kecil karena kesibukan kedua orang tuanya bekerja, membuat lelaki itu tak ingin mengulangi hal sama kepada Nindy dan Anya.
Dan saat ini, Nindy masih terbaring dengan kondisi yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Perempuan itu tak lagi pucat, seolah aliran darahnya sudah memberikan rona di wajahnya. Kendati wajah kurus itu masih terlihat, tetapi Nindy tampak jauh lebih sehat dan membaik.
"Bagaimana kabarmu?" Pertanyaan yang sama selalu diajukan Yang Pou Han kepada Nindy, hingga perempuan itu terkadang bingung harus menjawab apa. Karena pada dasarnya Yang Pou Han lebih tahu tentang catatan medis Nindy daripada Nindy sendiri.
"Sangat baik. Terima kasih." Senyum tulus telah disunggingkan Nindy di bibirnya.
"Syukurlah. Jika kau siap, aku akan memperkenalkanmu dengan seseorang. Dia telah berjasa dalam kesembuhanmu."
"Kesembuhanku? Siapa?" Nindy tampak mengerutkan kening. Dia terlalu bingung dengan perkataan Yang Pou Han.
Apakah dia adalah sosok yang telah mendonorkan sel punca itu? Jika benar, maka Nindy wajib bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih.
Seketika wajah Nindy berubah pasi. Perihal pendonor biasanya adalah dari kalangan keluarga dan jarang terjadi jika pendonor dari kalangan luar, karena pastinya akan mengalami tingkat ketidakcocokan lebih besar daripada yang kerabat dekat. Dan bisa dipastikan siapa pendonor yang lelaki itu maksudkan.
Bibirnye bergetar ketika harus menerima kenyataan jika seseorang yang masih memiliki hubungan darah denganya adalah ... Akmal Arrayan, lelaki yang mengaku sebagai ayahnya.
Bayangan lelaki paruh baya yang dengan seenaknya menghancurkan masa depan ibunya demi ambisi, lalu tidak mempertanggungjawabkan perilaku bejatnya itu dengan menelantarkan ibunya yang tengah mengandung, diiringi cemoohan orang-orang di sekitarnya membuat Nindy tak sanggup menerima kehadiran lelaki itu.
Aib yang harus ditanggungnya sebagai anak haram dari kecil hingga dewasa, sebutan anak pel@cur yang telah tersemat pada diri Nindy membuat Nindy kian muak dengan wajah lelaki itu.
Dia tak akan sanggup menerima ada darah itu mengalir lagi di tubuhnya, apalagi darah itu sebagai penolong dirinya untuk sehat kembali. Seolah kesalahan yang selama ini dilakukan Akmal Arrayan segera tertebus dengan pendonoran sel punca itu.
"Kenapa wajahmu pucat? Apakah kau tidak enak badan?" tanya Yang Pou Han, menelisik Nindy yang tiba-tiba berubah mimik mukanya.
__ADS_1
Nindy menggeleng, lalu menanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya. "Siapa pendonor itu, Yang?"
Sungguh Nindy tidak sudi menerima bantuan dari lelaki itu.
"Aku tidak memiliki pilihan lain. Semua demi kesembuhanmu."
Nindy bisa melihat raut tak berdaya ditunjukkan Yang Pou Han kepadanya. Jika benar pendonor itu adalah Akmal, ayahnya, maka bisa dipastikan lelaki itu merasa sudah memiliki Nindy. Nindy tak ingin itu terjadi selama lelaki itu tak menyesali perbuatan dan meminta maaf kepada ibunya, maka Nindy juga tidak akan pernah memaafkan lelaki itu.
"Aku ingin bertemu dengannya. aapakah dia ada di sini?
Yang Pou Han mengangguk, "Dia berada di luar. Aku akan memanggilkannya untukmu."
Sesaat Nindy hanya bisa mengangguk. Menahan batinnya yang terus-menerus bergejolak tidak menerima akan takdir yang ada. Rasa sakit hati serta ego yang masih bersarang di dalam dirinya, tidak menerima kenyataan bahwa dia memiliki sosok ayah yang tidak bertanggung jawab, munafik, dan egois.
Pandangan Nindy tampak kosong. Perempuan itu masih bergeming dengan pikiran yang bergulung, berputar-putar bersamaan rasa kecewa yang teramat sangat. Akankah dia bisa tersenyum ketika melihat wajah tua itu lagi?
Batin Nindy berteriak, tak mampu menerima semuanya secepat itu. Namun, bukankah Tuhan maha pemaaf? Apakah Nindy termasuk salah satu hamba yang sombong lantaran tak mau menerima dan memaafkan kesalahan ayahnya?
Nindy menghela napas berat. Disekanya air mata yang hampir lolos dari sudut matanya.
Nindy tak sanggup melihatnya karena terhalang tubuh tinggi Yang Pou Han. Namun, seolah mengerti apa yang ingin dilihat Nindy, lelaki itu bergerak ke samping, membiarkan pandangan Nindy mengarah pada sosok di belakangnya.
"Dia yang mendonorkan sel punca kepadamu. Dia Adnan, saudara kembarmu."
Dan tepat ketika Nindy membulatkan bibirnya, terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya, Yang Pou Han segera menghampirinya.
Digenggamnya tangan Nindy erat, memberikan kekuatan kepada perempuan itu dengan kenyataan baru yang akan dia dengar.
"Saudara ... kembar?" Nindy menggelengkan kepala. Hal yang baru saja diucapkan oleh Yang Pou Han teramat mustahil bagi Nindy. Bagaimana dia bisa memiliki saudara kembar? Bahkan ibunya saja tidak pernah memberi tahu masalah ini kepadanya.
Tidak, sepertinya Yang Pou Han salah mengatakannya. Itu semua hanya salah paham.
"Saat itu, aku meminta bantuan Sean untuk mencari pendonor. Sangat sulit menemukan orang yang memiliki kecocokan darah denganmu. Sampai saat aku menemukan satu hal yang menarik perhatianku. Buku catatan pemeriksaan kehamilan ibumu yang masih tersimpan di dalam lemari pakaianmu.
"Ya, tanpa sepengetahuanmu, aku terbang ke Indonesia. Menemui Sean untuk membahas masalah kesehatanmu. Dan buku itu memberikanku sebuah praduga."
__ADS_1
"Apa maksudmu, Yang?"
"Perubahan berat badan ibumu naik secara drastis dari bulan ke bulan. Dan itu pasti ada alasannya. Aku memberikan catatan itu kepada seorang dokter kandungan, dan dia membenarkan jika ibumu hamil kembar."
"Apa? Tidak mungkin?" Nindy masih belum memercayainya, bukan dia tak ingin memiliki saudara, tetapi hal yang telah dipaparkan Yang Pou Han adalah hal yang mustahil.
"Aku mencari seorang bidan yang membantu ibumu melahirkan saat itu. Tentu saja aku tidak sendiri, Sean Paderson membantuku. Bidan itu telah meninggal dalam kondisi lajang, tetapi dia memiliki seorang anak laki-laki yang seumuran denganmu. Bukankah itu sangat aneh?"
Yang Pou Han menoleh ke arah lelaki yang tampak gugup berdiri di depan ranjang perawatan Nindy. "Dan akhirnya Sean bisa menemukan dia. Dia telah bekerja di Singapura saat anak buah Sean mencarinya. Kami melakukan tes pencocokan DNA dan pemeriksaan darah kepadanya secara paksa. Kau tahu, Sean bukan seorang yang mudah menjawab kebingungan orang lain. Dia seperti diculik ketika dibawa kemari."
"Yang, ...." Nindy menggeleng, bagaimana meminta pertolongan orang lain dengan cara pemaksaan. Dia tidak mengerti bagaimana jalan pikir kedua orang itu; Yang Pou Han dan Sean Paderson.
"Ada kemungkinan, ibumu tak sanggup membayar biaya persalinan itu, dan memberikan satu di antara kalian untuk menjadi anak angkat bidan itu. Atau mungkin bidan itu merasa iba ketika melihat kondisi ibumu, dan menawarkan diri untuk mengurus satu di antara kalian.
"Kau, kemarilah! Apakah kau tidak ingin bertemu dengan saudara kembarmu?" panggil Yang Pou Han dengan sedikit kasar.
Lelaki itu mengangguk. Antara takut juga ingin. Wajahnya tampak berbinar ketika melihat dengan mata kepala sendiri bahwa dia bukanlah seorang yang sebatang kara. Pun demikian dengan Nindy. Sungguh kejaiban itu ada. Hal yang sebelumnya tidak dia duga justru terjadi.
Apakah Tuhan sengaja memberikan ujian sakit kepada Nindy karena satu tujuan, yaitu untuk mempertemukan dua saudara yang tidak saling mengenal, tetapi justru sekarang saling mengorbankan?
Sungguh rencana Tuhan sulit ditebak. Di saat kita sudah pasrah dan menerima dengan ikhlas Takdir Tuhan, Tuhan memberikan kita dengan suatu hal yang lebih dari apa yang kita inginkan.
Mereka saling memandang, antara rasa bahagia juga canggung melebur menjadi satu. Ternyata meskipun saudara, jika tidak pernah bertemu akan menciptakan rasa kikuk di antara keduanya.
Lelaki itu melangkah, dengan Yang Pou Han memberikan akses kepadanya untuk mendekat ke arah Nindy. Dia berhenti tepat di sisi Nindy di mana Yang Pou Han tadi berada.
Dia tersenyum kemudian seraya mengatakan, "Apakah aku boleh memelukmu?"
Seketika wajah Yang Pou Han menegang mendengar perkataan lelaki itu. Ingin sekali dia menempeleng tubuh kurus tak berisi itu dengan tangannya, tetapi dia menahannya.
"Jangan melampaui batas! Aku tidak suka istriku dipeluk oleh lelaki lain, meskipun kau saudara kandung. Mengerti!"
Lelaki itu --Adnan -- tersenyum kecut. Dia mengangguk kemudian. Ya, sepertinya dia hanya bisa saling bicara saja dengan saudari perempuan yang baru saja dia temukan setelah sekian lama berpisah, tidak lebih. Karena di belakangnya ada singa penjaga yang menakutkan sedang mengawasi gerak-geriknya.
***
__ADS_1