
"Terkadang kita harus merelakan sesuatu hal bukan karena kita menyerah, tetapi mengerti bahwa ada beberapa hal yang memang tidak bisa dipaksakan."
***
Nindy berlari, melewati koridor serta lorong panjang rumah sakit. Air matanya tak berhenti meluruh membasahi pipi. Dia menyeka air mata itu dengan kasar. Kakinya hanya tahu melangkah dengan cepat, tetapi bingung harus berakhir ke mana.
Dia sudah berusaha. Dia sudah memberi kesempatan. Namun, jika memang hal itu yang diinginkan Yang Pou Han, dia harus apa?
Nindy tak sanggup jika membayangkan harus berbagi suami dengan Emelie --wanita yang berhasil merebut hati Yang Pou Han--. Atau mungkin, lelaki itu yang terlalu tergila-gila dengan Emelie, hingga apa pun yang dilakukan Nindy, sekeras apa pun usaha Nindy untuk merebut hatinya, tidak akan bisa menggantikan nama Emelie di hati Yang Pou Han.
Netra itu terasa berkabut, hingga tak sanggup untuk tetap fokus. Sampai ketika sebuah tubuh tanpa sengaja menghalangi jalannya, kening Nindy terbentur dada seseorang.
"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja."
Dia menunduk, tak ingin air matanya terlihat orang lain. Sampai sebuah tangan menyentuh bahunya, membuat Nindy menengadah seketika.
"Nindy! Kau kenapa? Apa yang terjadi?"
Nindy melepaskan tangan yang masih berada di bahunya, meminta maaf kembali. "Maaf, Zang Nan. Aku mau pergi." Lelaki itu adalah Zang Nan. Mengapa mereka selalu berjumpa di waktu yang tak terduga.
"Kau sedang tidak baik-baik saja. Sebaiknya aku antar."
Nindy menggeleng, bersamaan bulir bening itu kembali merembes di matanya. "Aku akan naik taksi. Terima kasih bantuanmu."
Lelaki itu menghalangi jalan Nindy dengan tubuhnya, tak menuruti permintaan perempuan itu untuk pulang sendiri.
"Zang Nan, aku mau pergi. Menyingkirlah!" Nindy mencari jalan, tetapi lelaki itu kembali menghalanginya, membuat Nindy kian kesal.
Sampai sebuah suara mengagetkannya, membuat Nindy dan Zang Nan terkejut seketika.
"Menyingkir dari sana. Jangan dekati istriku!"
Nampaklah Yang Pou Han datang dengan terburu-buru melangkah, mendekat ke arah Nindy juga Zang Nan. Wajahnya nampak geram melihat lelaki itu yang telah berani mendekati Nindy.
"Kau mau ke mana?" Lelaki itu menyeret tangan Nindy untuk menjauhi Zang Nan.
Nindy berusaha mengempaskan cekalan di lengannya, tetapi cengkraman itu terasa semakin kuat. "Lepaskan, Yang! Aku mau pulang." Nindy berteriak.
"Dengan dia? Kau mau berselingkuh?"
"Kau yang berselingkuh. Aku membencimu." Nindy mendorong dada lelaki itu dengan tangannya yang terbebas, tetapi tenaganya terlalu lemah untuk melakukannya. Dia kesal, marah, bercampur kecewa lantaran sikap Yang Pou Han kepadanya.
"Aku tidak berselingkuh."
"Kau mengabaikanku, tetapi memeluknya. Lalu kau dengan tenang menerima pernikahan itu. Aku kecewa denganmu, Yang. Aku membencimu."
__ADS_1
Dia menangis, ingin segera pergi dari hadapan lelaki itu. Namun, tangan yang masih dicekal oleh Yang Pou Han membuatnya tak bisa ke mana-mana.
Lelaki itu memeluk tubuh Nindy yang berguncang akibat tangis, tetapi Nindy memberontak. Dia tidak ingin luluh karena sikap manis lelaki itu kepadanya. Dia butuh kepastian, bukan hanya usaha yang setengah-setengah.
"Jangan menyentuhku! Aku tidak mau dipeluk oleh laki-laki yang sudah memeluk wanita lain. Kembali saja kepadanya! Jangan memberiku harapan lagi."
Tepat ketika Nindy selesai mengucapkan itu, Emelie berteriak memanggil Yang Pou Han. Suara itu telah berhasil membuat perhatian semua orang teralihkan.
"Yang ...! Nenek Bay ... meninggal."
***
Rintihan dari anak manusia akan kesedihan terdengar menggema, ketika menemani keluarga tercinta menuju tempat pembaringan terakhir. Suara sesenggukan nan memilukan itu terdengar hanya dari bibir satu orang, Emelie.
Perempuan itu menangis tersedu, seolah menumpahkan segala penyesalan akan dirinya yang tak pernah bisa membahagiakan orang terkasih.
Nindy bisa melihat itu. Perempuan itu seorang diri, tak ada saudara ataupun kerabat yang dimiliki. Tak jauh berbeda dengan Nindy, mereka sama-sama sebatang kara.
Nindy hanya bisa menatap pedih ketika perempuan itu menumpahkan kesedihan kepada suaminya. Ya, Nindy tak bisa berbuat banyak, karena hanya Yang Pou Han satu-satunya orang terdekat Emelie. Yang Pou Han berdiri di samping Emelie, memosisikan sebagai penopang diri seraya menggenggam tangan perempuan itu yang kini telah membenamkan tangis di dadanya.
Namun, Nindy tak bisa menampik rasa sakit di relung hatinya, ketika menyadari perempuan itu telah berubah menjadi sosok rapuh yang memang butuh belas kasihan, sementara Nindy justru terlihat sebagai manusia jahat yang antipati terhadap Emelie.
Bagaimana dia bisa memisahkan Emelie dengan suaminya?
Apakah Nindy keterlaluan jika melarang Yang Pou Han untuk tak acuh kepada Emelie, meskipun perempuan itu sedang dirundung duka?
"Aku tunggu di rumah. Aku harap kau bisa cepat pulang." Nindy melirik sebentar kepada Emelie yang tidak tahu malu masih memeluk suaminya. "Aku pulang lebih dulu." Dia mengulurkan tangannya, meraih tangan Yang Pou Han untuk diletakkan di keningnya. "Assalamualaikum," kata Nindy memberi salam.
Tanpa menunggu jawaban salam dari lelaki itu, Nindy segera melangkah pergi dengan mengambil langkah lebar juga cepat.
Dia tak menoleh lagi ke belakang, membiarkan apa yang terjadi di sana tanpa perlu ia tahu. Cukup pemandangan yang menyesakkan jiwa itu saja. Nindy tak sanggup melihat yang lain lagi.
Berharap dikejar? Tentu saja. Nindy berharap lelaki itu mengejar, menahan kepergiannya. Namun, hal itu sepertinya hanya ada dalam angannya saja. Nindy tak melihat siapa pun yang mengejarnya, kecuali ... Zang Nan.
"Kau mau ke mana?"
Lelaki itu nampak berlari, menghampiri Nindy yang telah berada di dekat tempat duduk di pelataran pemakaman. Nindy mendaratkan pantatnya di tempat duduk berbahan besi itu, sembari mengistirahatkan tubuhnya sebentar.
Zang Nan ikut duduk di samping Nindy, mengamati raut lelah serta putus asa yang tergurat jelas di wajah perempuan itu.
"Apa yang terjadi?" Sedikit memutar tubuh menghadap Nindy, lelaki itu memasang wajah serius. "Apakah Tuan Yang menyakitimu?" Dia berdecak, mengusap rambutnya kasar. "Aku sudah menduga jika ini akan terjadi," imbuhnya kemudian.
Nindy menoleh ke arah lelaki itu. Menatap penuh tanda tanya akan perkataan yang baru saja Zang Nan lontarkan. "Apa maksudmu?"
"Aku mengenal Tuan Yang sejak dulu, sebelum 'The Miracle Ocean Garden' berdiri. Dia memiliki banyak wanita simpanan. Sudah banyak wanita yang telah dia sakiti, termasuk wanita yang menghinamu saat itu, Danisha."
__ADS_1
"Danisha?" Nindy membeo, menirukan nama yang baru saja disebut oleh Zang Nan.
"Ya, dia adalah salah satu wanita favorit Tuan Yang, sebelum tersingkir oleh seorang perempuan yang bernama ... Salwa."
Deg.
"A-apa? Kau tak salah menyebut nama orang, 'kan?"
Lelaki itu menggeleng. Dia berkata dengan pasti. "Dia terobsesi dengan perempuan itu, yang penampilannya mirip denganmu. Mungkin, karena hal itu dia memilihmu menjadi istrinya. Apakah dia pernah menyatakan cinta kepadamu?"
Nindy hanya terdiam, tak menanggapi pertanyaan Zang Nan. Hatinya telah terkoyak mendengar satu per satu kebenaran tentang Yang Pou Han, yang bahkan dia sebagai istrinya tidak tahu apa-apa.
"Cukup menarik. Kau bisa berteman dengan wanita sepertinya. Seharusnya kau banyak belajar darinya, bagaimana menjadi wanita yang memiliki daya tarik kuat, bukan hanya meminta belas kasihan kepadanya supaya dia membantumu."
Terngiang ucapan Yang Pou Han saat itu, ketika mereka untuk pertama kalinya membicarakan sosok Salwa. Seharusnya Nindy mengerti, jika pujian itu terlontar dari hati. Dia tak sebanding dengan perempuan itu. Perempuan yang kini telah bersanding dengan Tuan Paderson, yang ternyata lebih dulu menarik perhatian Yang Pou Han. Ya, dia tidak bisa bersaing dengan Salwa, tidak akan pernah bisa.
Suasana hati Nindy terasa menyiksa, di kala kepercayaan dirinya semakin menurun setelah mengetahui kebenaran itu. Bukan hanya Emelie yang berada di hati Yang Pou Han, melainkan ada nama wanita lain yang memiliki kepribadian baik dengan hati yang lembut, Salwa. Mengapa harus Salwa?
Sampai sebuah suara meneriakinya, Nindy menegakkan tubuh seketika. "Apa yang kau lakukan di sini bersamanya?" Wajah lelaki itu nampak berang, menatap tajam ke arah Nindy juga Zang Nan.
Nindy memajukan langkah, sedikit mendekat ke arah lelaki itu, Yang Pou Han. "Apakah urusanmu telah selesai? Apakah kau akan pulang bersamaku?" tanya Nindy, mengabaikan pertanyaan Yang Pou Han sebelumnya.
"Belum, aku akan mengantar Emelie ke rumahnya. Kau juga harus ikut!"
Nindy tertawa bodoh, menggigit bibir bawah dengan sekali memejamkan mata. "Kau ingin aku ikut?" Senyum sinis ditunjukkannya, "untuk melihat kemesraan kalian berdua? Apakah kau ingin aku menjadi tukang potret untuk mengabadikan momen mesra kalian? Terima kasih, ... aku tidak tertarik, Yang. Aku pulang." Nindy berbalik setelah mengutarakan hal itu, tetapi dengan cepat Yang Pou Han menahan lengannya.
"Pulang bersamaku! Kau tidak boleh pergi ke mana-mana!"
"Tidak! Kau tidak bisa memaksaku. Aku akan pulang sekarang. Zang Nan, kau mau mengantarku, 'kan?" kata Nindy dengan menatap ke arah Zang Nan, mengabaikan rasa sakit di pergelangan tangan akibat cengkraman tangan Yang Pou Han.
Lelaki itu mengangguk senang. Akan tetapi, berbeda dengan Yang Pou Han. Dia terlihat begitu dingin dan menyeramkan, menatap ke arah Zang Nan dengan tajam, seolah ingin menelan hidup-hidup lelaki itu.
"Aku sudah memperingatkanmu agar tidak menemuinya. Kenapa kau masih saja bertemu dengannya? Kau adalah wanita bersuami. Apakah kau tidak malu melakukan hal rendah seperti itu dengan statusmu saat ini?"
"Malu, tentu saja aku malu. Aku tidak bisa menjaga diri dengan baik. Aku memang rendahan. Apakah kau puas?" Nindy nampak menantang ketika mengatakan itu. Hatinya cukup panas mendengar penuturan Yang Pou Han yang merendahkan sikapnya.
Yang nampak semakin berang, melihat bagaimana Nindy melawannya di depan orang lain. "Kau mau melawan suami? Kenapa kau tidak seperti Salwa, dia tidak pernah melawan perkataan suaminya?"
"Ya, karena aku bukan Salwa, Yang. Aku Nindy." Matanya memanas, tak kuat menahan tangis. "Aku mengerti sekarang. Kau menikahiku lantaran penasaran dengan wanita berpenampilan sepertiku, 'kan? Sama seperti yang dikatakan Emelie. Kau menyukai Salwa, tetapi dia memilih Tuan Paderson daripada dirimu. Sehingga kau mengobati rasa penasaranmu dengan menikahiku." Dia menjeda kalimatnya, menarik napas sebentar lalu mengembuskannya perlahan. "Ya, beruntung Salwa tidak memilihmu. Karena dia pasti akan selalu merasakan sakit hati seperti apa yang telah kau lakukan kepadaku. Kau mengatakan menyayangiku dan tidak akan pernah melakukan hal yang bisa menyakitiku. Lantas, apa yang kau lakukan sekarang?"
Nindy memukul dada lelaki itu dengan tangannya yang terbebas, meluapkan emosi yang memucak di dalam dada. "Ya, aku memang wanita bodoh. Kau sering mengatakan itu kepadaku. Aku bodoh karena memercayaimu. Aku bodoh telah menunggumu, dan aku bodoh telah mencintaimu."
Dia mengempaskan cekalan tangan Yang Pou Han sekuat tenaga hingga terlepas, "Temani saja dia semaumu. Aku tidak melarangmu. Aku menunggumu di rumah. Aku harap kau masih memiliki hati dengan tidak pulang terlambat."
γNext ...
__ADS_1
Masih ada satu bab lagi, Komentar dan like dulu π