
Tangis itu ingin pecah, tetapi dia tahan. Gemuruh di dada mengombang-ambing perasaan yang kian meluruh seiring mengeratnya pelukan. Riak-riak kerinduan semakin terpapar nyata, membuat dua anak manusia yang sempat beradu uraian, menyadari arti sebuah perpisahan.
"Aku merindukanmu. Mengapa kau meninggalkanku?"
Suara itu terdengar berat, penuh dengan emosi. Akan tetapi, Nindy hanya bisa memejamkan mata, merasakan sepuas hati tubuh yang begitu dia rindukan, kini sedang mendekapnya.
Pun dengan lelaki itu. Pelukannya yang mengerat seolah tak bisa mengurangi rasa rindu yang mencekam di dada. Dia begitu merindukan perempuan itu.
Dia mengusap punggung Nindy, merasakan getaran dari tubuh mungil itu. Dia tahu, jika Nindy juga sangat merindukannya. Dia bisa merasakan rasa itu, sehingga dekapan semakin dia eratkan. Rasa dahaga akan arti sebuah kerinduan seolah ingin segera dituntaskan. Tidak, rindu itu tidak akan tuntas, jika tidak berakhir di ranjang.
Yang Pou Han sudah memikirkan semuanya. Dia akan menuntaskan rasa rindu yang menggebu dengan bercinta semalam suntuk dengan perempuan itu. Dia tidak akan melepaskan barang sejenak tubuh mungil itu dari dekapannya. Tidak akan pernah.
Dia menunduk, mengusap pipi Nindy, yang terlihat lembab dikarenakan air mata. Perempuan itu masih memeluknya erat dengan air mata yang berderai. Tubuhnya masih berguncang seiring dengan merapatnya pelukan itu.
Nindy merindukan tubuh itu. Tubuh di mana dia mendapatkan kehangatan, juga kedamaian. Tubuh yang bisa membuatnya tertidur nyenyak hanya karena memeluknya dan bersamanya. Dia tidak ingin melepasnya, tetapi ketika bayangan tubuh yang sedang dipeluk dan memeluknya telah digunakan untuk memeluk wanita lain, membuat hati Nindy menjerit tidak terima. Hatinya bagai dipukul oleh godam besar, tersayat-sayat oleh belati yang tajam berkilat. Dia sakit hati memikirkan itu semua.
Sampai ketika Yang Pou Han akan melabuhkan ciuman ke wajah Nindy, perempuan itu menolak. Sekuat tenaga dia mendorong dada lelaki itu menjauh, membuat Yang kebingungan karenanya.
Pelukan itu terlepas dengan Nindy menatapnya dengan penuh kebencian juga kekecewaan. Tidak, seharusnya tatapan cinta yang dia peroleh, bukan tatapan benci seperti itu.
Netra Nindy menatap semua orang yang sednag mengawasi dirinya penuh tanda tanya, juga rasa terkejut dengan drama yang baru saja dia pertontonkan. Nindy yang seorang biasa telah dipeluk oleh seorang laki-laki berdarah Chinese dengan wajah tampan dan terawat, pakaian yang rapi bak seorang kantoran, juga yang terpenting lelaki itu terlihat memiliki banyak uang.
Siapa lagi yang berhasil digodanya? Siapa lagi yang telah menjadi korban anak pel@cur itu?
Begitulah kiranya cara pandang orang-orang terhadap Nindy. Perempuan itu masih saja terlihat sebagai sampah masyarakat yang layak ditendang, juga dimusnahkan dari peradaban. Begitu kotor dan menjijikkan.
Tepat ketika Yang Pou Han ingin menarik tangan Nindy, perempuan itu segera menghindar. Dia berlari kemudian, meninggalkan Yang Pou Han di antara kerumunan orang-orang itu.
__ADS_1
Yang Pou Han ingin menyusul Nindy. Perempuan itu tidak boleh lari darinya. Dia sudah berhasil menemukannya, mana mungkin Yang Pou Han melepaskan Nindy lagi, setelah merasakan begitu menderitanya dia ketika berjauhan dengan perempuan itu. Bagaimana batinnya tersiksa setelah perpisahan mereka. Dia tidak akan membiarkan Nindy pergi lagi darinya.
Sampai di saat Yang Pou Han ingin berlari, ibu-ibu yang ada di situ mencegahnya. "Tuan, tidak perlu mengejarnya. Dia memang sok jual mahal. Itu hanya trik agar dia semakin dikejar."
Melihat wajah tampan, bersih dan memesona membuat ibu-ibu itu tak kuasa menahan diri, ingin menjodohkan dengan anak-anak mereka. Apalagi lelaki itu nampak seperti eksekutif muda dengan karier yang cemerlang, dan tentu saja kaya. Kesempatan emas, ada di depan mata. Tentu saja mereka tidak akan menyia-nyiakan hal itu, untuk mendekati Yang Pou Han.
"Baru saja dia menggoda calon suami anak saya karena tahu jika calon menantu saya orang kaya," ucap Bu Lina, ibu dari Dinda teman sebaya Nindy.
Yang Pou Han mengerutkan kening, mendengar Nindy dihina sampai seperti itu. "Siapa yang digoda olehnya?"
"Dia, calon menantu saya." Perempuan berbadan tambun itu menunjuk lelaki di belakangnya.
Yang mengalihkan perhatiannya pada sosok lelaki berusia sekitar empat puluh tahun lebih itu, yang rasanya lebih cocok menjadi suami ibu itu daripada menjadi menantu. Dia melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di depan lelaki itu.
"Kau yakin, dia yang menggodamu, dan bukan kau yang mengggodanya?"
"Untuk apa dia menggodamu? Apa kelebihanmu yang membuatnya harus merendahkan diri seperti itu?" Yang Pou Han masih mencoba bersabar, meladeni manusia-manusia tidak tahu diri itu.
"Tentu saja karena aku pria matang dan kaya."
"Benarkah? Apa pekerjaanmu?" Yang Pou Han menatap lurus ke arah pria yang lebih tua darinya itu, menunggu jawaban yang keluar dari mulut yang penuh dusta.
"Aku seorang Manager di sebuah proyek perusahaan asing terkemuka, Paderson Grup. Kau tahu itu perusahaan apa? Perusahan yang masih berumur jagung, tetapi sudah maju pesat. Itu semua karena dedikasi dan jasaku." Dia menyombongkan diri, membuat Yang Pou Han semakin muak saja.
"Ooh!" Yang Pou Han mengangguk-angguk, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Hanya orang seperempat kaya, tetapi sok jumawa.
__ADS_1
Dia menepuk bahu lelaki itu seraya berkata, "Bersiaplah kehilangan pekerjaanmu besok!"
Netra itu melotot, terkejut dengan ucapan Yang Pou Han kepadanya. "Siapa kau, berani sekali mengatakan itu kepadaku!"
Yang Pou Han tak menghiraukannya. Dia hanya membungkuk sembari memunguti belanjaan Nindy yang tercecer di jalan, lalu memasukkannya kembali ke kantong plastik berlogo salah satu mini market.
"Hai! Apakah kau tuli!" teriak lelaki itu, kesal.
Yang melirik sekilas ke arah lelaki tidak tahu diri itu. Menegakkan tubuhnya, Yang Pou Han mengarahkan pandangan lurus ke depan, yang bersitatap langsung dengan netra lelaki itu.
"Kau hanya kehilangan pekerjaan. Aku bisa saja membuatmu tinggal nama, jika kau berani mendekati istriku lagi." Yang Pou Han berlalu setelah mengucapkan itu.
Ancaman Yang Pou Han membuat lelaki itu terkesiap. Akan tetapi, jiwa arogannya merasa tertantang, sehingga dia menahan bahu Yang Pou Han, lalu menariknya ke belakang. Tangannya mengepal kuat, lalu melayangkan pukulan ke kepala Yang Pou Han.
Tanpa dia duga, Yang Pou Han menghindar dari pukulan tiba-tiba itu. Yang mencekal lengan lelaki itu, menariknya, lalu menghantam wajah mesum yang telah berani menggoda Nindy dengan beberapa kali pukulan. Begitu terjatuh, segera diterjangnya dari arah depan dengan pukulan bertubi-tubi di dada juga kepala.
Ibu-ibu yang sedari tadi memperhatikan perkelahian antara Yang Pou Han dengan lelaki itu berteriak histeris, meminta tolong. Namun, Yang Pou Han segera menahannya. "Berhenti, atau dia akan mati!"
Bu Lina yang paling antusias meminta bantuan untuk calon menantu tercinta, terdiam. Dia menelan ludah, tatapan tajam lelaki bermata sipit itu nampak mengerikan, hingga dia takut untuk sekadar menjawab.
Yang Pou Han menegakkan punggungnya, merapikan kembali pakaiannya yang lusuh akibat perkelahian itu. Dia memungut kembali belanjaan Nindy yang sempat terjatuh, lalu menatap semua orang dengan penuh ancaman.
"Aku suami Nindy. Aku datang untuk menjemputnya. Jika kalian masih mengganggu istriku lagi, aku tidak segan membawa kalian ke ranah hukum," ucapnya dengan penuh penekanan.
》Bersambung...
bentar, lanjutannya masih diketik. jika berhasil pas satu bab, akan di up sekalian. Jika ada gangguan, maka besok. Moga lancar 😁
__ADS_1