
"Cinta bukanlah tentang berapa lama kamu mengenal seseorang, tetapi tentang seseorang yang membuatmu tersenyum sejak kamu mengenalnya."
***
"Biar aku saja, Yang."
Nindy merebut ponselnya, tetapi dengan sigap lelaki itu menaikkan sebelah tangannya ke atas, membuat Nindy kesulitan untuk menggapai ponsel itu. Dia melompat beberapa kali, tetapi tetap saja tidak sanggup menggapainya.
"Dasar pendek." Yang terkekeh melihat usaha Nindy untuk mendapatkan ponsel itu kembali.
"Emm, dan si pendek ini akan membuatmu jatuh cinta suatu saat nanti." Dia melompat lagi, "Ayo kembalikan, Yang!" pintanya dengan tangan menggapai-gapai ke atas.
"Emm, benarkah? Aku akan menunggu hari itu." Dia masih menahan ponsel itu ke atas, tak memedulikan wajah Nindy yang kesal karena sikapnya.
Nindy mengentakkan kaki, tersenyum nakal kemudian, dan itu tak luput dari perhatian Yang Pou Han. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada seseorang selain mereka berdua.
Terdengar helaan napas dari bibir Nindy. Dia berjinjit, melingkarkan kedua lengannya di leher Yang.
Sebuah ciuman nekat ia labuhkan di bibir pria itu, membuat Yang terkesiap seketika. Bibir itu terasa lunak, lembab juga lembut ketika bersentuhan dengan bibir lelaki itu. Kendati Nindy tak pandai dalam berciuman, tetapi itu cukup membuat Yang mematung terkejut. Hingga tangan lelaki itu yang semula diangkat ke atas dengan membawa ponsel Nindy, turun secara perlahan beralih mendekap kepala Nindy.
Perempuan itu mundur seketika, menoleh ke arah tangan Yang Pou Han lalu dengan cepat merampas ponselnya. Dia berlari setelahnya, menjulurkan lidah berniat mengejek lelaki itu yang telah teperdaya dengan ciumannya.
"Yeeay, dapat!" Nindy mengangkat tangan kanannya, memamerkan ponsel yang berhasil ia rebut lalu berlari menjauh.
Yang menyentuh bibir di mana bibir Nindy sempat menempel di sana. Dia menipiskan bibir setelah itu, seraya menarik kedua sudutnya ke atas yang 'makin lama semakin melengkung membentuk senyuman nan menawan. Dia kemudian menggelengkan kepala, merasa lucu dengan perasaannya sendiri.
Lelaki itu nampak berlari setelahnya, menyusul Nindy yang kini sedang menceburkan kakinya di tepi pantai, membiarkan air asin itu membasahi kaki serta ujung gamisnya. Yang memeluk perempuan itu dari belakang, mengangkat tubuh Nindy lalu mengayunkan serta memutarnya. Hingga gelak tawa riang terdengar dari bibir keduanya. Tiada rasa sakit hati maupun sedih, yang ada hanya sebuah senyuman tanpa beban yang sesekali berubah menjadi tawa ringan diselingi sikap usil keduanya.
Nindy mencipratkan air, membasahi wajah serta pakaian lelaki itu. Pun demikian dengan Yang Pou Han, dia melakukan hal sama, hingga tanpa terasa pakaian mereka telah basah di beberapa sisi.
"Kau nakal sekali!" ucap lelaki itu seraya mengapit hidung Nindy menggunakan ibu jari serta telunjuk. Tangan kirinya melingkar di pinggang perempuan itu, merapatkan ke tubuhnya.
"Bukan nakal, ya? Aku itu menggemaskan." Dengan percaya diri Nindy mengucapkannya, membuat lelaki itu tak berhenti tertawa.
Hingga tak terasa waktu hampir menjelang sore hari. Waktu bermain-main dirasa sudah cukup. Yang mengajak Nindy kembali ke vila. Dia menekuk kedua kakinya, posisi sedikit jongkok. "Naiklah! Bukankah kau ingin terlihat romantis?"
Nindy terdiam beberapa saat. Termenung sejenak, kemudian mengangguk. Dengan senyum mengembang, Nindy memeluk punggung lelaki itu, memosisikan ke dua lengannya di atas bahu Yang Pou Han.
Nindy merasakan kedua pahanya diapit dari belakang, tubuhnya sudah dinaikkan bersamaan dengan Yang berdiri dari posisi jongkok. Nindy mengeratkan pelukannya, seiring dengan langkah Yang Pou Han yang membawa dirinya kembali ke rumah itu.
"Kau senang?" tanyanya kepada Nindy di tengah perjalanan mereka.
"Terima kasih. Aku senang."
Tidak perlu cinta untuk memulai sebuah hubungan. Rasa saling percaya, menghargai dan menerima akan menghadirkan cinta itu sendiri meski perlahan. Karena ketika dua orang yang sedang menjalin hubungan saling peduli satu sama lain, mereka akan menemukan cara untuk membuat hubungan berjalan dengan baik dan berakhir bahagia.
***
__ADS_1
"Tuan, Nona Emelie berkali-kali menghubungi saya untuk menanyakan Anda." Asisten Lie berkata sembari menyetir mobil. Netranya menangkap Nindy dari spion tengah sedang tertidur pulas dengan paha Yang Pou Han sebagai bantalan kepala perempuan itu. Senyum tipis terbit di bibir lelaki itu, menyaksikan hubungan majikannya ternyata mengalami peningkatan.
Mengingat bagaimana Yang Pou Han mengejar Nindy, menghentikan sopir taksi secara paksa dengan menodongkan pistol ke dahi sopir taksi itu sebagai ancaman, lalu mengambil alih seragam yang sopir itu kenakan untuk dipakainya, menandakan bahwa semua yang dilakukan tuannya itu tidak berakhir sia-sia.
Nekat, tentu saja asisten Lie sangat mengenal bagaimana watak majikannya itu. Dia akan mengambil kembali apa yang sudah menjadi miliknya. Sampai ketika hubungan itu hampir runtuh, dengan segala macam cara akan ia pertahankan dan bangun kembali jika memang dia masih menginginkannya.
Apakah sopir taksi itu sangat malang karena mendapatkan ancaman dari Yang Pou Han?
Tentu saja tidak. Asisten Lie membayar semuanya dengan harga lima kali lipat dari harga sewa taksi tersebut. Ya, semua kekacauan yang dilakukan oleh Yang Pou Han, asisten Lie yang selalu membereskannya.
"Aku tahu. Aku sengaja mengabaikannya." Yang terlihat mengusap kepala Nindy yang berbalut kerudung itu, menatap dengan senyum mengembang. Wajah damai yang terlelap itu, diiringi suara dengkuran halus dari bibir Nindy membuat lelaki itu tak bisa menyamarkan senyum di bibirnya.
"Untuk nona Danisha, apakah Tuan akan melepaskannya? Karena sudah hampir satu bulan sejak tragedi penghinaan nona Nindy, nona Danisha masih berada di tahanan. Apakah Tuan ada rencana lain untuk nona Danisha, atau tetap membiarkan dia berada di penjara?"
"Aku tidak ingin dia mengganggu kehidupanku. Berapa lama masa tahanannya?" tanya lelaki itu.
"Dua bulan masa tahanan." Asistena Lie menjawab kemudian.
Yang Pou Han mengangguk mengerti. "Biarkan saja dia mendekam di penjara selama dua bulan. Kita pikirkan nanti jika dia berulah lagi."
"Baiklah, Tuan tidak perlu mencemaskan hal itu. Saya turut senang melihat Tuan sudah bisa tersenyum lagi."
"Kau mulai banyak bicara, ya, sekarang?" Yang nampak mengerutkan kening menanggapi perkataan asisten Lie. Memangnya dia terlihat bodoh apa, tersenyum terus?
"Tidak, saya hanya melihat suasana hati Tuan sedang dalam kondisi baik. Dan saya yakin itu semua karena nona Nindy. Itu baik. Saya harap hubungan kalian akan terus membaik ke depannya."
Mobil mereka sudah memasuki pelataran rumah Yang Pou Han. Butuh sekitar empat jam perjalanan normal untuk kembali ke rumah. Yang mengangkat tubuh Nindy, sengaja tidak membangunkan perempuan itu dari tidur lelapnya dengan asisten Lie membukakan pintu mobil untuk mereka.
Tepat ketika Yang mengangkat tubuh Nindy, mengeluarkan perempuan itu dari mobil, kepala Nindy justru terbentur keras di body mobil.
"Auuh," dia mengeluh keras, menyentuh keningnya. Remang-remang mata itu terbuka dan mendapati Yang Pou Han menggendongnya.
"Hei, Kau sengaja membenturkan kepalaku? Kenapa? Kau ingin aku amnesia seperti yang di novel-novel itu?" Nindy memarahi Yang dengan memukul dada lelaki itu.
Sungguh perempuan itu membuat Yang kesal saja. Matanya terbuka, mulutnya juga langsung menyemburkan perkataan pedas. Menyebalkan!
"Ayo turunkan aku!"
"Aah!" Dengan tidak berperasaan lelaki itu membuka tangannya membiarkan Nindy jatuh dari gendongannya. "Sakit, Yang! Kau memang keterlaluan."
Alih-alih ingin membantu Nindy, asisten Lie justru menahan tawa. Pemandangan di depannya itu begitu langka. Yang Pou Han tidak berkutik ketika dimarahi oleh seorang perempuan, dan lihatlah! Nindy bahkan tak henti-hentinya memaki lelaki itu yang saat ini menahan diri untuk tidak terpancing emosi.
"Sudah, ayo masuk!" Yang membantu Nindy berdiri, mengabaikan makian sang istri yang sepertinya belum sepenuhnya sadar dari alam mimpi.
Nindy ingin mengoceh lagi, tetapi tangan lelaki itu sudah bersiap membungkamnya sembari mengapit kepala Nindy sambil berjalan. Mereka masuk ke dalam rumah dengan membiarkan asisten Lie yang masih berada di luar. Lelaki itu menggelengkan kepala kemudian, tersenyum tipis di bibirnya. Melangkah memasuki mobil, Asisten Lie bergegas melajukan mobil itu untuk kembali ke rumahnya.
Nindy merebahkan tubuhnya di ranjang, merasa kesakitan akibat pendaratan yang tidak sempurna. Yang mengambil duduk di sisi ranjang yang kosong, menyentuh bahu Nindy untuk sekadar memastikan kondisi perempuan itu.
__ADS_1
"Masih sakit?" tanyanya kemudian.
Dia mengangguk, menyibakkan kerudung untuk memperlihatkan dahinya yang terbentur. Yang memperhatikan memar di kening Nindy, nampak memerah dan mungkin sebentar lagi akan berubah membiru dan muncul benjolan.
"Lepaslah! Aku akan mengoleskan krim untukmu."
"Heeem, punggungku juga sakit. Apakah kau akan mengoleskan krim di sana juga?" tanya Nindy dengan menaikkan sebelah alisnya.
Lelaki itu terkekeh menanggapi. "Sepertinya otakmu mulai tercemar, ya?" Dia menjentikkan jarinya di kening Nindy yang tidak memar.
"Auuh, sakit. Kau senang sekali menyiksaku."
"Ya, kau memang pantas disiksa," ucap Yang Pou Han seraya mengusap bekas jentikan jarinya di kening Nindy.
Yang beranjak dari duduknya, mencari krim dingin yang dimaksudkan. Mengecek tanggal kadaluarsa, lalu kembali melangkah menemui Nindy yang sudah melepaskan kerudungnya sembari berbaring di ranjang.
Gerakannya cukup lembut ketika jari telunjuknya menyapukan krim dingin itu di luka memar Nindy. Rasanya begitu sejuk dan nyaman membuat Nindy memejamkan mata.
"Coba miring ke sana!" Nindy menurut, dia memunggungi Yang Pou Han dengan tidur miring ke kanan. Perlahan lelaki itu menurunkan resleting Nindy, memeriksa luka lebam di punggungnya. Tidak cukup serius, tetapi terlihat memar kemerahan. Dia mengaplikasikan krim itu dengan hati-hati hingga menciptakan rasa dingin yang menyapu kulit Nindy.
Sampai ketika Yang Pou Han menyelesaikan sapuan terakhir, ponselnya berbunyi nyaring. Nindy ikut menoleh melihat ponsel yang sedang ada panggilan masuk itu.
Panggilan masuk, malam-malam begini?
"Halo!"
"Apa? Emelie. Iya, baiklah. Aku akan ke sana."
Mendengar nama Emelie disebut membuat Nindy menatap pedih ke arah Yang Pou Han. Dia akan pergi lagi, meninggalkannya untuk menemui perempuan itu. Sama seperti di saat Yang Pou Han meninggalkannya ketika malam pertama mereka.
"Kau akan pergi?" tanya Nindy dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Emelie sedang dalam bahaya. Dia membutuhkanku. Mengertilah!"
"Jika aku tidak mengizinkanmu pergi. Apakah kau akan tetap pergi, Yang? Tatapan Nindy nampak penuh harap, mengharapkan sekali saja dirinya menjadi prioritas, mengabaikan perempuan bernama Emelie itu.
"Kau akan mengizinkanku, 'kan?"
Nindy menggeleng, "Tidak, apakab aku salah jika menginginkan suamiku untuk diriku sendiri? Apakah itu terlalu berlebihan?"
"Nindy, ayolah. Dia mengancam bunuh diri jika aku tidak menemuinya. Seharian dia meneleponku dan aku mengabaikannya. Dan malam ini dia frustrasi dan ingin mencoba bunuh diri. Mentalnya masih terganggu, kau harus mengerti itu."
Nindy mengulas senyum getir, menatap langit-langit kamar, menahan bulir bening itu jangan sampai terjatuh. "Pergilah! Aku tidak berhak menahanmu, Yang. Karena yang bisa menahanmu bukanlah aku, tetapi hatimu sendiri. Pergilah, temui dia."
Nindy menarik selimut itu, menutupi tubuh beserta kepalanya. Menyembunyikan tangis di dalam selimut itu.
Yang menghela napas panjang. Antara Emelie atau Nindy, siapa yang akan ia pilih? Nindy yang merajuk, atau Emelie yang berniat mencelakai dirinya sendiri? Sungguh pilhan itu sangat sulit, membuat dia terdiam untuk memikirkan apa yang terbaik.
__ADS_1
》Bersambung ....