Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
27. Perasaan Asing


__ADS_3

Mata itu mengerjap dua kali, setelah kesadaran merasuk dalam dirinya. Pandangannya langsung dihadapkan dengan dada bidang yang sejak semalam ia gunakan untuk membenamkan wajahnya.


Wajah Nindy merona seketika mengingat bagaimana lelaki itu menuntunnya untuk merasakan indahnya surga dunia bagi kaum yang sudah memiliki pasangan.


Melakukan sebuah kewajiban yang membuat Nindy telah menjadi seorang istri yang sebenarnya. Sebuah hubungan terlarang, tetapi menjadi halal ketika kata pernikahan telah menjadi surat izinnya. Nindy tak menyangka bisa melakukan itu semua dan telah berada di titik ini. Senyum tipis dengan rona di wajah membuktian bahwa dia sedang dalam kondisi bahagia.


Nindy menengadah, menatap wajah yang masih tertidur lelap dalam buaian mimpi. Mematri setiap inchi wajah dari seseorang yang tanpa sadar sudah mencuri sekeping rasa di dalam hatinya. Hingga tanpa disadari, tangannya sudah terulur menyentuh wajah itu, di mana rahang dengan garis wajah tegas berbingkai di sana. Hidung runcing, mata sipit, alis tebal dengan bulu mata sedikit lentik. Nindy tak kuasa ingin mengusap wajah itu dengan telapak tangannya.


Lelaki itu nampak memesona dan tanpa dosa ketika sedang terlelap seperti itu. Sangat berbeda ketika matanya telah terbuka dengan mengucapkan kata-kata yang menyakiti gendang telinga Nindy. Siapa yang menyangka jika lelaki yang sebelumnya ingin ia siksa justru sekarang dadanya menjadi tempat kepala Nindy bersandar.


Mulut yang selalu berkata pedas dan lidah yang menusuk tajam dengan perkataan yang dilontarkan kepada Nindy, semalam justru telah memberikan pengalaman baru bagi Nindy.


Nindy tak menyangka hubungan bagai kucing dan tikus malah berakhir dengan saling menghangatkan di atas ranjang. Dia tersenyum kembali, sembari tak melepas pandangannya dari sang pemilik rupa yang telah menjungkir balikkan kehidupannya.


Sampai sebuah suara yang terdengar menjengkelkan di indra pendengaran Nindy, membuat rusak suasana hatinya yang sempat berbunga. "Sudah puas menikmati wajah tampanku?"


Tangan Nindy yang sedari tadi menempel di rahang lelaki itu, diturunkannya dengan segera. Memutar bola mata malas, Nindy menggeleng. "Aku tidak sedang melihatmu. Jangan terlalu percaya diri, ya?"


"Eheem, kau memang tidak sedang melihatku, tapi kau sedang mengagumiku. Lihatlah! Wajahmu sudah semerah tomat, tetapi masih saja mengelak." Netra sipit itu terbuka kemudian. Lelaki itu memosisikan tubuhnya miring menghadap Nindy. Selimutnya menurun ke bawah hingga sebatas pinggang.


Nindy memalingkan muka, menahan selimut yang ia kenakan menggunakan tangan kanannya agar tidak ikut menurun. "Bisa tidak, kau tidak pamer tubuh."


Yang terkekeh dibuatnya. Perkataan Nindy terdengar menggelikan. Tangannya meraih wajah Nindy yang sedang membuang muka untuk diarahkan kepadanya. Wajah merona itu nampak menggemaskan jika dilihat lebih dekat, membuat gemuruh di dada terasa semakin meleduk bersamaan dengan gairah yang kembali terbakar dengan sendirinya.


Tubuh mereka masih saling menempel, tak ada penghalang yang menjadi penengahnya. Hingga wajah Yang Pou Han sudah didekatkan di sisi kiri wajah Nindy, menghadiahi kecupan hangat di area telinga.


Tubuh Nindy menegang seketika, di saat cupingnya memanas akibat sengatan dari bibir lelaki itu bersamaan satu permintaan Yang Pou Han kepadanya. "Aku mau lagi."


Blush


Wajah Nindy kian merona lantaran permintaan Yang Pou Han yang teramat jujur. Matanya mengerjap sekali, mencoba menguasai keadaan yang sudah membuat perasaannya melambung tinggi. Hingga ketika pikiran warasnya bekerja mengirimkan sinyal darurat yang tiba-tiba muncul, menyadarkan Nindy dari apa yang terjadi, dia menggeleng tidak menyetujui.


Tubuhnya masih terasa remuk dengan rasa sakit di bagian sensitifnya. Lagi pula, jam sudah menunjukkan waktu hampir subuh. Mana mungkin mereka melakukan pergulatan panas itu sekali lagi?


"Sudah ... hampir subuh, sebaiknya kita membersihkan ... diri." Nindy tampak tidak fokus mengatakannya, merasakan bibir lelaki itu kembali menjelajah telinga serta lehernya. Lelaki itu bahkan sudah mengusap bagian bawah perut Nindy dengan sembarangan.


"Satu jam saja, ya?" pinta Yang dengan suara serak, tetapi terdengar seksi. Emm, otak Nindy sepertinya sudah tercemari. Pikiran polosnya sudah mulai membayangkan yang tidak-tidak hanya dengan mendengar suara lelaki di sampingnya.

__ADS_1


Dia menggeleng lagi. "Tidak sempat. Waktu subuh hanya sebentar."


Hidung itu terus saja mengendus, menciptakan sensasi geli, tetapi nikmat. Rasa yang sebelumnya tak terbayangkan oleh Nindy, kini ia justru menyukai sentuhan-sentuhan seperti itu.


"Tiga puluh menit?" Yang kembali mencoba bernegosiasi, sembari menggoda Nindy dengan mengusap bagian yang lain. Nindy menahan diri dengan perlakuan Yang, tidak ingin terjerumus dalam godaan seperti itu kendati tubuhnya sudah panas dingin dibuatnya.


Dia menggeleng lagi, mengerjapkan mata sekali yang terkesan lugu di mata Yang Pou Han. "Tidak bisa."


Tidak mau kalah, lelaki itu masih berusaha membujuk. "Dua puluh menit," pintanya kemudian yang langsung disela oleh Nindy dengan dua kata, "Lima menit."


Lelaki itu nampak mendesah pelan, sengaja berbisik di telinga Nindy untuk menggoda. "Lima menit itu hanya cukup buat masukin aja, Dy. Belum sempet keluar juga. Aku gak mau, ya, kalau harus disuruh cabut saat lagi enak-enaknya," bisiknya dengan tak tahu malu.


Ih, ngomong apa sih. Sangat mengotori pikiran Nindy yang sudah mulai ikut kotor. Bisa tidak itu mulut dijaga, Yang?


Sampai akhirnya perdebatan itu berakhir dengan bujukan Nindy selanjutnya.


"Habis subuh, ya?" ucap Nindy dengan berusaha tersenyum semanis mungkin, memberikan pilihan yang menurutnya paling masuk di akal.


*****


"Kau juga harus belajar shalat, Yang. Itu kewajiban, meski kau belum bisa mengerjakannya." Nindy melipat mukena setelah menunaikan ibadah subuh, "Aku juga ingin suatu saat kau bisa berdiri di depanku untuk menjadi imam shalat-ku."


Dia tidak ingin kalah dengan Sean. Jika Sean bisa, kenapa dia tidak. Meski itu sulit.


Sampai ketika Nindy sudah selesai meletakkan mukenanya di tempat yang seharusnya, lelaki itu dengan tidak tahu malu menagih janji yang sebelumnya Nindy ucapkan.


"Sudah?" tanyanya dengan antusias.


"Eeh! Apa?"


Senyuman jahil itu seketika terbit di bibirnya, melangkah mendekat ke arah Nindy lalu berhenti tepat ketika tubuhnya sudah mengimpit sang istri. "Jangan pura-pura lupa, ya?"


Dan sudah dipastikan Nindy tak bisa lagi mengelak serta menolak dengan permintaan sang suami. Melakukan lagi apa yang semalam sudah membuat tubuhnya kelelahan, tanpa ampun dan mengenal lelah. Seolah lelaki itu sedang melakukan balas dendam atas dirinya yang selama ini sudah menahan hasrat yang tidak tersalurkan. Hingga Nindy tak sempat menghitung berapa kali lelaki itu menanamkan bebih ke rahimnya pagi ini.


*****


Mata Nindy terlalu mengantuk untuk terbuka, tetapi bau harum sabun menguar, menggelitik indra penciumannya membuat dia membuka mata segera.

__ADS_1


Dilihatnya lelaki itu sudah rapi dengan pakaian kerja, setelan jas berwarna abu-abu dengan rambut yang disisir rapi ke belakang. Sangat berbeda dengan dirinya. Nindy tampak acak-acakan. Tubuhnya penuh tanda kemerahan dengan wajah lesu kurang tidur. Tubuhnya terasa remuk dan lelah sekali. Dan hal itu membuat Nindy kesal.


Mereka sama-sama melakukannya, tetapi seolah hanya Nindy yang merasakan rasa pegal dan lelah itu. Namun, Yang Pou Han justru terlihat semakin segar dan bugar. Itu tidak adil, bukan?


"Aku sudah menyiapkan makananmu di meja. Jika sampai nanti siang kau masih kesulitan berjalan, kau bisa meminta pelayan untuk mengantarkan makan siang ke kamar."


Mata Nindy seketika menoleh ke arah lelaki itu. Apa? Kesulitan berjalan? Tapi kenapa? Nindy memang merasa begitu lelah, tetapi untuk kesulitan berjalan sepertinya itu terlalu berlebihan.


"Aku tidak kenapa-kenapa. Aku masih sanggup berjalan dengan baik. Memang apa yang bisa membuatku tak sanggup berjalan sendiri." Nindy membungkus tubuhnya dengan selimut. Mulai menurunkan kaki, Nindy bangkit dari ranjang.


"Aahh!" Dia memekik, ketika rasa sakit di area pribadinya dengan kaki yang sulit digerakkan.


Bagaimana bisa?


Yang terkekeh melihat sikap keras kepala Nindy. Sudah jelas dia akan kesakitan karena setelah semalam, mereka melanjutkan kegiatan panas itu berulang kali di pagi hari.


"Dasar bodoh."


Lelaki itu mengambil makanan serta minuman untuk diletakkan di atas nakas terdekat dengan posisi Nindy.


"Makan saja dulu! Kau tidak perlu buru-buru untuk membersihkan diri."


Dia menunduk, masih kesal dengan tubuhnya yang tak bisa digerakkan seperti biasanya. Lelaki di depannya itu benar-benar keterlaluan.


"Jangan memasang wajah seram seperti itu. Kau terlihat semakin jelek." Perkataan Yang masih sama, tidak berubah. Menyebalkan!


Nindy masih betah berdiam diri, tak menyahut dan menjawab ejekan Yang Pou Han kepadanya. Hingga perkataan lelaki itu selanjutnya membuat Nindy tiba-tiba merasakan sakit yang di relung hatinya.


"Nanti malam aku pulang terlambat. Jangan menungguku!"


"Kau mau ke mana?" tanya Nindy nampak penasaran.


Lelaki itu menatap ke arah Nindy, menangkap raut curiga dari wajah sang istri.


"Aku ingin menemui seseorang. Mungkin akan pulang larut."


"Siapa? Apakah dia seorang ... wanita?" Ada sesuatu yang terasa mengganggu di hati Nindy. Membuatnya tidak tenang ketika menanyakannya. Sesuatu yang asing yang membuat dia gelisah dan terasa sakit, membelit serta menusuk di sudut hatinya.

__ADS_1


Yang Pou Han mengangguk menanggapi, "Dia Emelie, mantan istriku."


》Bersambung


__ADS_2