
Lima hari pasca transplantasi sum-sum tulang belakang, Nindy dinyatakan sehat. Meskipun setelahnya harus melakukan kunjungan rutin demi mengobservasi perkembangan kanker di dalam tubuhnya, apakah masih ada atau sudah lenyap tidak bersisa.
Adnan sudah kembali ke Singapura melanjutkan pekerjaannya yang cukup menjanjikan yaitu menjadi seorang pengajar sastra Inggris. Cuti paksa selama satu minggu membuatnya harus segera kembali lantaran dia adalah pengajar utama.
Semua barang telah dikemas dengan baik. Pakaian Nindy sudah berganti dengan pakaian pribadi. Dia tampak menghela napas lesu, lalu melempar pandang ke arah Yang Pou Han, memberi isyarat agar lelaki itu mendekat kepadanya.
Tanpa banyak bicara, Yang Pou Han menghampiri Nindy. Sedikit membungkuk, merendahkan tubuhnya untuk mendengarkan apa yang ingin Nindy utarakan.
"Yang, aku merasa lapar. Aku ingin memakan sesuatu," pinta Nindy kemudian, menunjukkan wajah memelas.
"Katakan! Kau mau makan apa?"
Nindy menyunggingkan senyum, menatap penuh permintaan kepada lelaki itu. "Apakah aku sudah boleh memakan makanan yang lezat?"
Sudah rindu rasanya Nindy memakan makanan yang berbumbu seperti dulu. Makanan yang biasa dimakan manusia pada umumnya. Ada rasa asin, manis dan asam, bukan hanya rasa getir dan pahit seperti apa yang selama ini dia makan. Ya, Nindy rindu dengan makanan itu.
Yang Pou Han mengangguk mengerti. Diusapnya kepala Nindy yang berbalut kerudung itu. "Katakan saja! Aku akan menyiapkannya untukmu," ucap lelaki itu lembut.
Nindy menggeleng, menyunggingkan senyum tulus seraya menatap manik kecoklatan milik Yang Pou Han. "Aku ingin makan di sana. Bersamamu."
***
Tubuh Nindy masih lemah, tetapi perempuan itu seolah memiliki tekad kuat untuk melanjutkan perjalanannya.
Di district Koowlon, di mana pedagang kaki lima berjajar memenuhi kanan dan kiri jalan. Kedai mereka tertata rapi, berderet di sepanjang jalan dengan memperlihatkan beraneka macam streetfood andalan.
Yang Pou Han mencangkum tubuh Nindy, menopangnya agar mudah berjalan di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang,
__ADS_1
"Seharusnya kau tunggu di mobil. Aku bisa memesankannya sendiri untukmu."
Nindy tersenyum, ketika mendengar kalimat sarat akan perhatian yang terlontar dari bibir Yang Pou Han. Dia menggelengkan kepala sejenak, menanggapi perkataan lelaki itu.
"Aku ingin makan di sini. Boleh, 'kan?
Tiada yang bisa dilakukan Yang Pou Han selain mengangguk mengiakan permintaan Nindy. Dengan hati-hati, lelaki itu memapah Nindy agar sampai di kedai yang ingin dia kunjungi.
Kedai mi yang sebelumnya pernah mereka datangi adalah tujuan Nindy. Perempuan itu duduk di salah satu kursi dengan Yang Pou Han memesankan dua mangkuk mi pipi berkuah, sama persis dengan apa yang dia makan waktu itu.
Nindy mengulum senyum di bibir melihat Yang Pou Han berbincang dengan penjual mi tersebut. Ya, kejadian langka yang seharusnya diabadikan oleh Nindy. Karena mungkin setelah ini dia akan kesulitan untuk sekadar mengajak Yang Pou Han makan di tempat seperti ini lagi.
Cukup cepat penyajian, karena dalam waktu sepuluh menit Yang Pou Han sudah kembali dengan baki yang berisi penuh dengan makanan. Sistem self service yang diberlakukan di kedai itu membuat pengunjungnya harus mengambil makanannya sendiri di dapur saji.
Nindy melempar senyum ke arah Yang Pou Han, menanti lelaki itu untuk duduk berhadapan dengannya. "Silakan, Tuan Putri!" Yang Pou Han berkata sembari meletakkan baki itu di atas meja.
"Terima kasih."
Dua mangkuk mi kuah telah tersaji di atas meja ditemani dengan dua gelas jeruk hangat dengan gelas ukuran sedang.
"Kau yakin akan memakannya?" tanya Nindy ketika melihat Yang Pou Han tidak juga mengambil sumpit di depannya.
"Lain kali kita makan di restoran saja, ya. Kita tidak pernah makan malam spesial di restoran mewah."
"Emm, terserah kau saja. Aku akan senang makan di mana saja asalkan bersamamu. Akan tetapi, makanlah ini terlebih dulu. Rasanya sangat lezat, kau akan ketagihan setelah mencicipinya."
Nindy menyapit mi kuah itu dengan sumpit, mengangsurkan capitan mi itu ke depan mulut Yang Pou Han. Lelaki itu hanya menatap mi itu yang berjarak beberapa mili saja dari bibirnya. Dia sudah terbiasa dengan apa saja yang disodorkan Nindy untuk dimakannya. Dari makanan paling aneh di Indonesia hingga makanan jalanan yang ada di negaranya. Dan kali ini, Nindy menyodorkan mi kuah jalanan kepadanya.
__ADS_1
Yang Pou Han tersenyum kemudian, membuka mulut untuk menerima suapan pertama Nindy untuknya. Dikunyahnya mi pipih dengan kuah yang bercampur bumbu itu, mencoba menikmati cita rasa yang belum pernah dicobanya. Tekstur minya lembut, rasa asin dan gurih dengan takaran pas membuat penikmat mi akan ketagihan untuk menyuapkan makanan berbahan dasar tepung terigu itu.
"Lumayan, tidak terlalu buruk," ucap Yang Pou Han setelah berhasil menelan mi itu.
"Hai, bisakah kau mengatakan enak saja."
"Emm, tidak bisa. Karena yang paling enak dan lezat adalah masakan istriku."
Satu gombalan itu berhasil membuat rona merah di wajah Nindy. Dia terkekeh seraya menggeleng perlahan. "Apakah itu sebuah sindiran? Kau tahu aku tidak pandai memasak."
"Benarkah? Aneh sekali, padahal aku adalah tipe pemilih, tetapi aku selalu menghabiskan apa pun yang kau buatkan untukku."
Senyum Nindy kian mengembang mendengar penuturan dari mulut lelaki itu. Dia tahu jika Yang Pou Han berbohong, tetapi dia bahagia mendengarnya. "Baiklah, aku akan membuatkan makanan untukmu setiap hari."
Nindy mengangsurkan mi itu lagi ke mulut Yang Pou Han dan diterima dengan baik oleh lelaki itu.
"Ayo, makanlah! Bukankah yang lapar adalah engkau? Mengapa jadi aku yang memakannya?"
"Emm, suapi aku." Nindy membuka mulutnya, bersiap menerima suapan dari lelaki itu.
"Dasar, manja."
"Sudah sejak dulu. Ayo buruan, suapi aku."
Yang Pou Han terkekeh, tak ayal dia lakukan juga menyuapkan mi itu ke mulut Nindy.
Ya, seandainya Nindy bukan tipe yang agresif, yang berani mengungkapkan keinginan dan perasaannya tanpa rasa canggung, mungkin Yang Pou Han tidak akan pernah menyadari bahwa perempuan itu sangat berharga untuknya.
__ADS_1
Terkadang seorang wanita perlu menentukan sikap, mengatakan sejujurnya tentang apa keinginan dan perasaan yang sesungguhnya kepada pasangan, karena tidak semua laki-laki bisa memahami bahasa isyarat dan teka-teki wanita yang mengatakan tidak apa-apa, tetapi sebenarnya ada apa-apa.