
"This life is a choice. Whatever makes you sad, leave it. And, whatever makes you smile, hold it."
***
Nindy tanpa sengaja menjatuhkan tas tangan itu ke lantai lantaran terkejut dengan suara yang tiba-tiba muncul di kala dia merasa sendiri.
Wajah itu nampak pucat, tetapi seringainya licik dan penuh tipu muslihat.
"Kau ... bangun?" Nindy hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat. Bagaimana bisa Emelie yang sebelumnya tertidur pulas karena obat penenang yang disuntikkan untuknya, terbangun begitu cepat?
"Kau terkejut?" Dia terkekeh, membuat Nindy bergidik ngeri melihat wanita di depannya itu. Tiada wajah teduh dan mendamaikan, tetapi wajah yang penuh ambisi serta kelicikan. Tatapannya membuat orang harus memundurkan langkah ke belakang, mengancam penuh tantangan. Seolah dia siap memangsa siapa saja yang ada di depannya, termasuk Nindy.
Namun, di saat Nindy menatap lebih dalam ke lorong itu, yang semakin dalam, terasa gelap dan suram, hingga rasa takut menyelimuti Nindy akan tak bisa keluar dari lingkaran gelap yang berada di kedalaman mata Emelie. Sampai dia mengerjapkan matanya sekali. Dia tertolong dari ketersesatan itu, tertarik secara paksa dari ruangan yang begitu gelap dan mencekam. Namun, dia bisa menemukan sesuatu yang mungkin tidak banyak orang yang tahu. Ya, ada jiwa kesepian di dalam diri perempuan itu yang tertutupi sikap arogan juga kebencian.
Apakah Emelie sempat terluka pada masa lalu? Ataukah ada sesuatu yang membuatnya kecewa dengan kehidupannya?
Hingga sebuah jawaban yang terdengar dari bibir Emelie membuat Nindy menghentikan pemikiran tentang wanita itu.
"Apakah kau pikir aku wanita lemah yang tak berdaya?" Senyum itu kian lebar, membuat Nindy membenci seringai di bibir Emelie. "Aku tidak akan melepaskan Yang Pou Han sampai kapan pun. Kau sama sekali tidak pantas bersanding dengannya, Perempuan."
Ada semacam kilatan aneh di netra perempuan itu, sebuah tatapan penuh permusuhan dan anti pati terhadap Nindy. Bahkan sebelum Nindy sempat memperkenalkan diri, Emelie sudah menabuhkan genderang perang kepadanya.
Nindy sempat cemas, tetapi pikiran rasionalnya saat ini lebih cepat bekerja daripada emosi yang sesaat. Dia tersenyum tegas, menanggapi perkataan sinis Emelie kepadanya. "Kau sengaja melukai dirimu sendiri untuk mendapatkan perhatian suamiku?"
Perempuan itu terkekeh, tetapi tidak dengan matanya. Netra itu masih menyemburkan aura kebencian, juga permusuhan yang kental. "Aku bisa melakukan apa pun, bahkan memutus nadiku sendiri untuk mendapatkan apa yang aku mau. Apalagi pria yang kau sebut sebagai suamimu itu adalah pemujaku. Tidak mungkin kubiarkan dia tidak memperhatikanku lagi."
Nindy tersenyum miring, menatap dengan pandangan mencela yang sengaja ditunjukkan kepada Emelie. Dia sempat menyerah dengan perasaannya kepada Yang Pou Han lantaran lelaki itu tak kunjung mencintainya, tetapi melihat sikap menyebalkan Emelie, juga menyadari jika dia ternyata bukanlah perempuan baik-baik, Nindy meyakinkan tekad untuk tetap mempertahankan lelaki itu di sisinya. Apa pun masa lalu, kenangan di antara Yang Pou Han dan Emelie, tak membuat Nindy menyerah. Emelie hanyalah masa lalu, sementara dirinya adalah masa depan.
"Apa kau sudah tidak laku lagi di luaran sana sehingga harus mencari perhatian suami orang?" ucapnya seraya mengangkat dagu.
"Kau ... berani sekali kau mengatakan itu kepadaku." Dia nampak terganggu dengan jawaban Nindy yang di luar dugaan. Tangannya terlihat terkepal menahan emosi. Nindy bisa melihat itu.
"Kenapa aku harus takut? Kau siapa? Seorang wanita dengan otak yang sudah berkurang tingkat kewarasannya. Seharusnya statusku lebih tinggi darimu. Bukankah begitu, Nona drama?"
"Diam kau perempuan rendahan. Aku yakin sampai saat ini, Yang Pou Han tidak memiliki perasaan apa pun kepadamu. Jangan pernah bermimpi menguasai dia, karena sebentar lagi kau akan ditendangnya dan kembali menjadi gadis miskin yang menyedihkan."
Mengabaikan perkataan tajam Emelie, Nindy membungkuk, memungut tas tangannya yang tergeletak di lantai, lalu menegakkan kembali punggungnya.
"Kau benar. Dia memang belum mencintaiku. Namun, aku yakin setelah ini dia akan tergila-gila kepadaku. Karena aku bisa membuatnya bahagia, bukan hanya memberinya penderitaan seperti yang kau lakukan kepadanya. Ayolah, Nona drama! Kembalilah ke dunia nyata! Kau terlalu lama berkecimpung dengan pikiranmu yang jauh dari logika dan akal sehat. Kau tahu, bukan aku yang menyedihkan, tetapi ... engkau." Nindy memalingkan muka setelahnya, berjalan pergi meninggalkan Emelie yang terlihat begitu kesal dengan jawaban Nindy.
Namun, sebelum Nindy berhasil keluar dari ruangan itu, di saat ia sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti lantaran perkataan Emelie. "Dia tidak mencintaimu. Dia hanya tertarik dengan penampilanmu. Dia sempat tertarik dengan perempuan bodoh yang kebetulan bernasib baik. Dan aku yakin, rasa penasaran dan ketertarikan Yang Pou Han terhadapmu hanya sementara. Ketika rasa itu sudah berubah menjadi sebuah kebosanan, ingatlah! Aku adalah orang pertama yang akan mentertawakanmu."
__ADS_1
Nindy tersenyum, kendati dalam hati mulai terasa getir mendengar penuturan dari Emelie yang sepertinya banyak benarnya, tetapi tekad untuk mengalahkan kesombongan perempuan itu sudah kuat. Dia memang bukanlah wanita yang dicintai Yang Pou Han, dan mungkin lelaki itu masih menyimpan perasaan terhadap mantan istrinya. Namun, Nindy berhak mempertahankan rumah tangganya sampai ia memang tak sanggup lagi melakukannya.
"Tunggulah! Sampai rambutmu beruban dengan wajah yang penuh kerutan juga gigi yang sudah banyak yang tanggal, kau tidak akan pernah menyaksikan hal itu terjadi. Mungkin, kau akan menjadi saksi bagaimana anak-anak kami tumbuh dengan sehat, lucu, cerdas dan pintar. Mereka berlari dengan senyum mengembang menanti kehadiran ayahnya yang baru pulang bekerja. Kau akan menjadi saksi kebahagiaan ruamah tangga kami, dan saat itu kau baru menyadari jika waktu mudamu telah terbuang sia-sia karena terlalu sibuk mengganggu rumah tangga orang lain, dan terlupa dengan kehidupanmu sendiri yang ... menyedihkan."
Nindy seketika pergi meninggalkan Emelie setelah mengatakan hal itu. Dia berjalan dengan langkah tegap, dagu terangkat, menumbuhkan rasa percaya diri yang ada dalam dirinya. Ya, apa pun yang akan terjadi ke depannya, dia tidak akan menyesal karena dia telah berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya semampu yang ia bisa.
"Kau lama sekali?" Lelaki itu nampak mengalihkan perhatiannya kepada Nindy yang baru saja turun dari tangga, mengabaikan nyonya Bay yang terlihat sedang mempertahankan pendapatnya.
Nindy ikut duduk di sofa panjang tepat di sebelah Yang Pou Han. Dia tersenyum seraya melingkarkan tangannya di lengan lelaki itu. "Maaf, membuatmu menunggu."
"Apa yang terjadi di atas?" Lelaki itu nampak menelisik dengan sikap Nindy yang tiba-tiba manis kepadanya. Namun, Nindy menggelengkan kepala menanggapi. Ya, perdebatan dirinya dan Emelie biar menjadi urusannya. Ada kalanya nanti Nindy akan membongkar rahasia perempuan itu di waktu yang tepat.
"Aku lapar. Apakah kau masih lama di sini?" tanya Nindy kemudian yang segera mendapatkan tatapan kesal dari nyonya Bay.
Yang Pou Han mengagguk. Dia mulai berbicara kembali kepada nyonya Bay. "Baiklah, setidaknya Emelie saat ini sedang baik-baik saja. Aku akan menambah perawat baru untuk mengurusnya. Aku pastikan dia tidak akan bisa melukai dirinya sendiri."
Tanpa menunggu jawaban dari wanita paruh baya itu, Yang beranjak dari posisi duduknya. Tangan kekar itu menggenggam tangan Nindy yang ikut berdiri di sampingnya. Mereka melangkah kemudian, keluar dari rumah itu, mengabaikan raut ketidaksetujuan nyonya Bay akan kepergian Yang Pou Han. Mereka bergegas keluar dari rumah yang terlihat penuh dengan aura negatif karena tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Karena rumah itu hanya terdapat penghuni yang hanya memiliki rasa benci dan juga dendam.
***
"Yang, apakah aku boleh menanyakan sesuatu?"
Nindy terdiam sejenak, berusaha mencari kalimat yang tepat, lalu mengutarakan pertanyaannya kepada lelaki itu.
"Kau pernah mengenal seseorang dengan penampilan sepertiku?" tanya Nindy tanpa menatap ke arah Yang Pou Han.
"Emm, apakah yang kau maksudkan Salwa?" Yang menjawab dengan sangat santai, tanpa takut melukai perasaan Nindy.
"Ooh, iya. Harusnya aku tahu. Bagaimana kau bisa mengenalnya? Apakah karena dia istri tuan Paderson?" Nindy tampak penasaran dengan kenyataan yang telah ia dapatkan dari Emelie.
"Kenapa kau ingin mengetahuinya?"
Nindy mengulas senyum di bibir. Terdengar napas berat yang diembuskan dari hidungnya. "Aku hanya ingin tahu tentang masa lalu suamiku. Bukankah itu hal yang wajar? Aku ingin mengenalmu lebih dekat agar tidak ada rahasia lagi di antara kita."
"Kau yakin akan tahan dengan kenyataan yang ingin kaudengar?" Pertanyaan Yang Pou Han justru memercikkan rasa penasaran dalam diri Nindy, hingga gadis itu merasa tak sabar mendengar Yang Pou Han menceritakan semuanya, semua yang Nindy tidak ketahui tentang kehidupan lelaki itu. Lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya. Lelaki yang setelah ini akan ia perjuangkan cintanya demi keutuhan rumah tangganya.
"Aku akan menceritakannya, tetapi berjanjilah kepadaku. Kesepakatan kita memulai semuanya dari awal tidak akan berubah setelah kau mengetahui bagaimana masa laluku dulu. Apakah kau bisa menepati janjimu?"
Nindy menoleh, menatap wajah serius Yang Pou Han yang masih terfokus pada jalanan di depannya.
"Kau sudah mau menerima masa lalu dan asal-usulku. Lantas apa yang menjadi alasanku untuk tidak bisa menerima masa lalumu?" Nindy menepuk bahu lelaki itu, dengan Yang segera menepikan mobilnya di jalan yang sepi. Dia melepaskan seatbelt yang melingkar di tubuhnya, lalu menghadap ke arah Nindy yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
Dia membungkuk, meletakkan tangan kanannya di sisi kiri sandaran jok mobil yang diduduki Nindy, sementara tangan kirinya berada di bahu perempuan itu. Dia semakin menundudukkan kepala, menatap lekat wajah Nindy yang terlihat kebingungan dengan posisi mereka saat ini.
Bukankah dia ingin bercerita?
Kenapa posisinya mendekat seperti itu?
Tidak tahukah lelaki itu jika detak jantung Nindy meletup-letup tak karuan.
Apalagi saat ini di dalam mobil pencahayaannya remang-remang membuat pikiran liar Nindy membayangkan yang tidak-tidak.
"Yang ...." Tangan Nindy menahan dada lelaki itu yang mengapitnya dia antara sandaran jok mobil dengan tubuh Yang Pou Han. Hingga kini telapak tangannya merasakan detak jantung lelaki itu yang nampaknya terasa menepuk-nepuk cukup kencang. Jakunnya bergerak ke atas ke bawah menandakan ada sesuatu yang sedang ditelannya.
"Apakah kau sangat lapar?" ucap lelaki itu lirih. Embusan napasnya yang hangat menerpa wajah Nindy yang ikut panas dingin karena posisi mereka yang teramat dekat.
"A-ku ...."
Sial! Menagapa dia menjadi gugup seperti ini?
Dan sebelum Nindy bisa menjawab dengan meneruskan kalimatnya, lelaki itu dengan lancang menempelkan bibirnya di mulut yang sedikit terbuka itu.
Nindy membelalakkan mata, tidak menyangka Yang akan menerjangnya di tempat seperti itu. Lelaki itu sudah tak bisa diragukan kepiawaiannya dalam melakukan perang bibir, hingga Nindy tak kuasa untuk menolaknya. Bibirnya telah takluk tak berkutik dengan kelincahan lelaki itu memainkannya, memberinya sensasi yang selalu terasa luar biasa ketika bibir mereka saling beradu. Lidahnya seolah telah terlatih, begitu gesit menerobos ke rongga mulut dan menggoda si pemilik mulut itu untuk mengeluarkan lenguhan asing yang terdengar erotis, memanaskan telinga Nindy dan membuat perempuan itu malu karenanya.
Sampai kesadaran merasuk di otak Nindy, tangannya tergerak ke depan, menahan wajah lelaki itu untuk menghentikan semuanya. Yang melapaskan bibir yang nampak lembab dan basah itu dengan tidak rela, tetapi pertanyaannya belum sempat dijawab oleh Nindy. "Apakah kau sangat lapar?" tanyanya lagi dengan suara yang teramat parau.
"Emm, tidak. Aku bisa menahannya."
Lelaki itu nampak menghela napas, dia tersenyum kemudian. "Bagus, aku ingin melanjutkannya di hotel."
"A-pa?"
》Bersambung ...
Corat-coret Author.
Kakak Reader semua, semoga dalam kondisi baik dan sehat.
Sebelumnya Author mau mengucapkan banyak terima kasih. Sumpah terharu saya melihat dukungan Kakak-Kakak semua. Terima kasih semuanya. Saya bersyukur banyak yang mau mendukung karya ini. Sekali lagi terima kasih.
Semoga gak bosen ya baca kisah ini hingga Akhir. Karena dukungan kalian saya tetap melanjutkan karya ini hingga tamat.
Terima kasih. Salam sayang selalu. 🤗🤗
__ADS_1