Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
28. Seperti Medan Magnet


__ADS_3

Sorot mata itu nampak menelisik, menatap lekat ke arah wajah yang ekspresinya berubah dalam sekejab. Perlahan ia membungkuk, menekuk kaki, menyetarakan tinggi badannya dengan tinggi badan Nindy yang sedang duduk di atas ranjang.


"Apa kau cemburu?" Tanpa berniat mengalihkan pandangannya, lelaki itu menatap lurus ke kedalaman mata Nindy, mencoba menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.


Nindy hanya diam, bingung dengan apa yang ia rasakan. Sehingga ia memilih untuk menggelengkan kepala tanpa berucap sepatah kata. Ada hal yang tak kasat mata telah mengusik hatinya, tetapi Nindy tak mengetahui apa itu.


Dan hal itu mendapatkan perhatian dari Yang Pou Han. Mereka masih terdiam beberapa saat, sembari saling melempar pandang.


Tangan lelaki itu menyentuh bahu halus Nindy yang tak berpenghalang. Masih menatap tajam ke arah netra bulat itu, dia kembali bersuara, "Kau menggeleng, tapi matamu berkata lain." Perkataan Yang Pou Han membuat Nindy menjadi gugup.


"Memang, apa yang kau lihat dari mataku?" Bola mata Nindy bergerak ke kanan dan ke kiri sesaat setelah pandangan mereka saling bersirobok. "Kau cemburu."


Terdengar helaan berat dari bibir Nindy. "Entahlah, aku tidak tahu," ucap Nindy seraya menggelengkan kepala. Yang tersenyum kemudian, melepaskan tangannya dari bahu Nindy. Membiarkan gadis itu kebingungan dengan pikirannya sendiri.


Dia menegakkam tubuhnya, tanpa berbicara lagi dia melangkah untuk keluar dari kamar. Hampir mencapai ambang pintu, Nindy memanggil lelaki itu dan membuat Yang menghentikan langkahnya. "Yang ...!" Menatap ke arah Yang Pou Han, "Apakah kau masih mencintai Emelie?" tanyanya kemudian.


Pertanyaan Nindy membuat lelaki itu mengulas senyum di bibir, begitu tipis dan nyaris tak terlihat. Tanpa menoleh, dia menjawab, "Apakah kau sangat penasaran dengan perasaanku?"


"Karena kau tidak mencintaiku, makanya aku ingin tahu." Namun, perkataan itu hanya terhenti di kerongkongan. Nindy tak sanggup menjawab pertanyaan itu. Dia takut mendengar jawaban yang mungkin akan menyakiti hatinya.


Melihat Nindy hanya terdiam, dia membalikkan badan. Kembali berjalan ke arah Nindy yang masih duduk di atas ranjang, berhenti tepat di depan Nindy seraya membungkukkan tubuh. Dia menyentuh dagu Nindy, dengan gerakan secepat kilat dia menyentuhkan bibirnya kepada bibir Nindy, menyecapnya tanpa ampun, seolah bibir itu memiliki daya tarik tersendiri baginya. Hingga tangan Nindy menahan dada lelaki itu agar tidak melakukan yang lebih dari itu.


Lelaki itu menghentikan buaian di bibir itu, menarik kesadaran yang hampir terkuasai oleh emosi serta hasrat. Jika Nindy tak menghentikannya mungkin dia akan kembali menerjang wanita di depannya itu. Dia tidak mengerti dengan tubuhnya sendiri, yang begitu mudah terbakar hasrat oleh percikan sedikit pemantik hanya dengan gesekan kulit.


Sejak menyaksikan bagaimana wajah kesakitan Nindy malam itu, ketika menerima penyatuan darinya, serta rasa puas dengan apa yang diterima oleh tubuhnya, membuat Yang kesulitan untuk mengontrol dirinya sendiri ketika berdekatan dengan Nindy.

__ADS_1


Seolah Nindy memiliki daya pikat dengan medan magnet yang sangat kuat, menariknya begitu saja tanpa sanggup ia melawan. Bahkan dia tak pernah merasakan itu ketika bersama Emelie. Meskipun dia belum mencintai Nindy, tetapi dia tak bisa menjauh dari wanita itu. Yang nampak penasaran, apa yang sudah dimiliki Nindy hingga membuat dirinya berubah seperti itu.


Sesaat setelah Yang melepaskan bibirnya dari bibir Nindy, dia berdehem kemudian lalu mengucapkan, "Apa yang kau pikirkan?"


Nindy nampak menggeleng, tetapi tatapan mata yang ia tunjukkan sama sekali tidak bisa menutupi perasaannya. Dia menghela napas lesu, seraya mengatakan, "Apakah aku bisa memercayaimu?"


"Bukankah kita menikah karena dasar saling percaya. Apakah kau sudah melupakan itu?" tanya Yang kemudian.


Dia menggeleng lalu tersenyum, "Eheem, aku akan memercayaimu, Yang."


"Bagus. Sekarang makanlah! Aku ada rapat penting pagi ini." Lelaki itu menegakkan tubuh, ingin segera beranjak pergi. Namun, dengan cepat Nindy menahan tangannya. Dia menoleh kemudian, mengerutkam kening dengan sikap Nindy yang tak biasa. Belum sempat dia bertanya, Nindy menyentuhkan punggung tangan Yang ke keningnya.


"Assalamualaikum warahmatullah," ucapnya kemudian.


Dia tertegun beberapa saat, tak mengerti. Mencoba memahami, Yang mengulas senyum setelahnya. Dia menangkup kepala Nindy, sedikit membungkuk lalu menghadiahi kecupan hangat di keningnya. "Waalaikumsalam," jawabnya seraya mengusap pucuk kepala Nindy.


Asisten Lie yang sudah menunggu di bawah terlihat sedikit bingung dengan sikap atasannya pagi ini. Ya, mungkin suasana hati lelaki itu sedang senang, sehingga ia tidak berani bertanya agar tidak merusak aura merah jambu yang terlihat di wajah lelaki itu.


"Sepertinya tuan Yang menikah dengan orang yang tepat," gumam asisten Lie dalam hati.


****


"Nona Emelie dipastikan boleh pulang hari ini. Nyonya Bay mengatakan jika nona Emelie ingin agar Tuan yang menjemputnya."


Yang mengangguk menanggapi, tentu ia sudah tahu jadwal kepulangan Emelie sehingga ia mengatakan kepada Nindy jika ia pulang terlambat.

__ADS_1


"Aku akan menemuinya," ucap Yang kemudian.


Asisten Lie nampak tak setuju dengan keputusan Yang Pou Han. Terlihat gelengan perlahan dari kepala lelaki itu bersamaan sorot mata kecewa setelah mendengar perkataan Yang.


"Tetapi, Tuan. Saya sarankan jangan terlalu dekat dengan nona Emelie. Saya takut jika kedekatan kalian akan memicu masalah ke depannya."


Ekor mata Yang menatap tajam ke arah asisten Lie, merasa terganggu dengan perkataan lelaki itu yang telah lancang mencampuri urusan pribadinya.


"Apakah kau sekarang ingin berganti posisi menjadi penasihatku?"


"Tidak, Tuan. Mana mungkin saya berpikir seperti itu?" Asisten Lie menunduk ketika mengatakannya. "Saya hanya takut jika nona Nindy ...."


Belum selesai asisten Lie berbicara, tatapan tajam Yang Pou Han yang diarahkan kepadanya terasa menusuk mengerikan. Dia terdiam kemudian, takut untuk melanjutkan kalimatnya.


Sampai ia teringat sesuatu hal yang penting. Sebuah informasi yang harus segera ia laporkan kepada sang atasan.


"Tuan Paderson menyerahkan ini kepada Tuan. Beliau sudah melakukan penerbangan kembali ke negaranya kemarin setelah menghadiri pesta pernikahan Tuan. Ayah mertuanya sedang sakit keras." Asisten Lie menyodorkan sebuah memory chip di atas meja Yang Pou Han.


"Apa ini?" tanyanya dengan kening berkerut dalam.


"Video rekaman kamera CCTV yang berhubungan dengan video yang diputar di pesta pernikahan kemarin." Asisten Lie menjelaskan.


Nampak lelaki itu mengangguk mengerti. Tangannya meraih laptop yang ada di atas meja kerja untuk digeser tepat di depannya. Memasukkan memory chip itu ke dalam salah satu port yang ada di komputer itu. Jemarinya begitu piawai memainkan mouse juga keyboard untuk mencari file yang dimaksudkan. Sepertinya Sean Paderson sudah memotong video-video yang ia dapat dari beberapa kamera yang terpasang di gedung itu. Ya, temannya itu memang sangat bisa diandalkan dalam urusan pengintaian.


Yang menekan tombol enter kemudian, mengeksekusi video itu agar terputar dengan segera. Netranya menyipit, ketika mendapati satu wajah yang tertangkap oleh kamera dalam waktu sekejab. Tidak begitu jelas, tetapi sepertinya lelaki itu tidak asing bagi Yang. Perawakan tubuh serta wajah yang sepertinya pernah ia lihat. Kendati wajah itu tertutup hampir separuh oleh topi dengan visor yang lebar, tetapi Yang yakin jika wajah itu tidak asing. Namun, ia tidak mengingat di mana wajah itu pernah dilihatnya.

__ADS_1


》Bersambung ...


Maaf hanya 1100 kata, nanti malam lagi ya. 😉


__ADS_2