Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
33. Memulai Dari Awal


__ADS_3

"Apa kau bilang?" Yang Pou Han menarik bahu Nindy yang sedang memunggunginya, memosisikan Nindy untuk terlentang, semantara dirinya tidur dalam posisi miring dengan tangan kanan menyangga kepala. Netra sipit itu menatap penuh antusias ke arah Nindy, seolah ingin terfokus dengan apa yang diucapkan oleh perempuan itu.


"Aku ... mencintaimu," ucap Nindy lirih.


Lelaki itu mendengar, tetapi tak mau mengakui.


"Aku tidak mendengarnya. Katakan sekali lagi!"


Nindy menghela napas, memutar bola mata malas. Dia kembali memunggungi Yang Pou Han. "Sudahlah. Kau sangat menyebalkan, Yang."


"Hei, aku hanya ingin kau mengulangi kalimat itu lagi."


"Tidak mau! Aku menyesal pernah mengatakannya kepadamu. Sudah, lupakan saja!"


Lelaki itu nampak terkekeh. Senyum tak bisa disembunyikan dari bibirnya. Tangannya memeluk Nindy erat, menempelkan punggung Nindy di dadanya. Dia berbisik di telinga perempuan itu dengan meletakkan dagunya di antara bahu kiri dan kepala Nindy.


"Katakan sekali lagi. Jika tidak kau tak akan bisa tidur malam ini."


"Kau mengancamku?"


Dia mengangguk, yang sengaja membuat gerakan menggelikan di ceruk leher Nindy. "Kau yang memulainya. Jadi kau yang harus menerima hukumannya."


"Yang hentikan! Kau membuatku geli."


"Aku tidak akan berhenti hingga kau mengatakannya sekali lagi."


Dia menggelitiki perut Nindy dengan jemarinya, menciumi leher sang istri tanpa ampun, membuat Nindy menegang dan menahan geli yang tak sanggup dia tahan. "Iya, aku mencintaimu."


Seketika lelaki itu menghentikan siksaannya terhadap Nindy, menatap lekat ke arah wanita itu yang baru saja menghela napas lega.


"Terima kasih. Aku senang mendengarnya. Bisakah kau mengulanginya?"


Wajah Nindy merona seketika. Dia menggeleng kemudian. "Tidak mau. Meski aku mengucapkan berkali-kali, kau juga tidak akan membalas perasaanku. Sudahlah, anggap aku tak pernah mengatakannya."


Yang masih mempertahankan senyum di bibir. Diakui atau tidak, pernyataan cinta Nindy kepadanya membuat hatinya lega. Ada rasa bahagia yang merayapi hati, dan rasa senang itu tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Apakah dia sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama? Yang sama sekali tidak tahu, perasaan apa yang ia rasakan terhadap Nindy. Dia hanya merasa begitu nyaman ketika perempuan itu berada di dalam dekapannya. Apakah hal semacam itu bisa dikatakan sebagai cinta?


"Aku akan mencoba. Aku akan belajar mencintaimu. Aku merasa nyaman di dekatmu, seharusnya tidaklah sulit untuk jatuh cinta kepadamu. Apakah kau mau memulai dari awal lagi denganku? Kita bisa mengawalinya dnegan ... berpacaran, menjadi sepasang kekasih," ucap Yang seraya memberikan kecupan hangat di pipi Nindy.


Wajah Nindy bersemu merah, terbuai dengan ucapan lelaki itu. Kendati dia masih merasakan kesal bercampur marah, tetapi Yang berhasil membuat Nindy tersenyum kembali. Sungguh sangat lemah hati Nindy karena bujukan lelaki itu.


"Jika hubungan kita hanya berpacaran, kita tidak boleh tidur bersama. Apa kau sanggup, Yang?"


Dia mengerutkan kening, berpikir sebentar. "Baiklah, aku tidak akan menidurimu dalam waktu setengah hari. Mulai pagi sampai sore. Dan itu tidak berlaku untuk malam hari."


"Hei, mana ada yang seperti itu?" Nindy berbalik, menghadapkan tubuhnya ke arah Yang Pou Han. Mendebat perkataan aneh yang keluar dari bibir lelaki itu. Dasar, sifat dan sikapnya sangat aneh.


Yang nampak tak peduli, perkataan Nindy hanya bagai angin lalu. Kini pandangan Yang serasa berkabut, menatap wajah Nindy yang begitu dekat dengannya.. Dia mengulurkan telapak tangan ke pipi Nindy, mengusapnya perlahan, membuat gerakan seringan bulu di leher ke bawah lalu berhenti di bahu.

__ADS_1


Dia mendekatkan wajahnya, terfokus pada bibir mungil yang nampak sedikit membengkak akibat permainan kasarnya tadi. "Maaf atas sikapku yang kasar kepadamu. Jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkanku. Karena kau tak akan pernah bisa terlepas dariku." Sesaat ucapan itu telah selesai ia utarakan, bibirnya sudah berlabuh di tempat yang seharusnya. Mengulumnya dengan lembut, meruntuhkan segala pertahanan dari perempuan itu, hingga Nindy tak sanggup untuk menolak lelaki itu yang ingin melakukan 'hal itu' sekali lagi.


****


"Sakit sekali. Kau keterlaluan, Yang. Aku membencimu."


Nindy kesulitan menggerakkan kakinya. Tubuhnya terasa remuk redam, karena meladeni lelaki itu yang sudah mengajaknya melalukan malam panas berkali-kali. Seolah kata puas tidak ada dalam kamus Yang Pou Han, sehingga berakibat pada Nindy yang kesakitan di pagi hari.


"Bukankah sudah halal? Kau bilang, berhubungan badan sepasang suami istri adalah ibadah. Jadi kau harus berterima kasih kepadaku karena mengajakmu beribadah semalaman," ucapnya tanpa tahu malu.


Nindy hanya mendengkus kesal, lelaki itu bahkan tak merasa bersalah karena telah membuatnya sampai seperti itu.


"Ibadah tidak hanya berhubungan badan. Mengapa cara berpikirmu sempit sekali?"


Ya, bagaimana bisa Nindy harus berterima kasih karena ulahnya itu. Sebenarnya bukan cara berpikir Yang Pou Han sempit, tetapi dia terlalu mesum sehingga hanya memikirkan hubungan badan saja sebagai ibadah. Atau dia mencari ibadah yang paling mudah dan enak menurutnya. Ah, sudahlah. Nindy semakin kesal jika memikirkan cara pandang Yang Pou Han.


Nindy membalut tubuhnya dengan selimut. Entah bagaimana rupa permukaan tubuhnya kali ini. Nindy bahkan tidak berani untuk sekadar memeriksanya. Namun, dia benar-benar kesulitan menggerakkan kakinya dan itu membuatnya semakin kesal.


Mengapa selalu dia yang kalah setiap selesai berhubungan dengan suaminya?


Dan nampaknya hal itu tidak memengaruhi kondisi fisik Yang Pou Han. Dia justru terlihat semakin bugar dan sehat. Sangat berbanding terbalik dengan Nindy yang terlihat kacau dan berantakan.


"Dasar kau merepotkan sekali."


Nindy merasakan tubuhnya terayun, melayang dalam dekapan lelaki itu. Yang membawa Nindy dengan kedua tangannya untuk membersihkan diri, menanggalkan selimut yang menutupi tubuh sang istri.


"Ah, tidak! Selimutku," teriak Nindy memrotes sikap lelaki itu.


"Dasar mesum."


Yang hanya terkekeh sembari menutup pintu kamar mandi dengan tungkai kaki kanannya.


****


"Karena mengajakmu ke sini, aku tidak bisa bekerja. Kau benar-benar membuatku jadi seorang pemalas."


Yang nampak mengecek email dari ponselnya, sangat sibuk dengan tulisan-tulisan yang tertera di layar digital tipis miliknya. Keningnya berkerut, menunjukkan wajah serius sekaligus dingin ketika sedang bekerja.


"Jadi semua salahku? Aku tidak memintamu mengajakku kemari. Seharusnya aku yang kesal."


Yang mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke arah Nindy. Menaikkan sebelah alisnya, menatap aneh ke wanita itu. "Kau kesal karena apa? Bukankah semalam kau keenakan."


"Issh ...." Nindy melemparkan bantal itu ke arah Yang Pou Han, dan dengan gerakan gesit ditangkap oleh lelaki itu. Yang jika berbicara selalu saja seenaknya, membuat lawan bicaranya mendadak jengkel sekaligus merasa sebal.


Nindy dengan menahan rasa sakit di paha, melangkah ke arah jendela kaca kamar itu. Menyibakkan kelambu yang belum sempat dibuka sejak semalam. Matanya terpaku pada sesuatu yang indah di belakang sana, yaitu tepat sedikit jauh dari rumah yang sedang mereka tempati. Bibirnya nampak ternganga, netranya menunjukkan kekaguman juga antusias. Bibir Nindy tersenyum kemudian, menoleh ke atah Yang Pou Han dengan cepat.


"Itu ... pantai?" tanyanya dengan memasang raut tak percaya.


"Jika matamu masih bisa berfungsi dengan normal, kau tidak akan bertanya lagi kepadaku." Yang berkata tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar digital itu.

__ADS_1


Nindy melangkah mendekat, mendaratkan bokongnya duduk di samping lelaki itu. Kendati jawaban Yang terasa menjengkelkan, tetapi tak mengurungkan niatnya untuk bersenang-senang.


"Aku tahu, aku hanya memastikan. Ehmm ... aku ingin ke sana. Ajak aku ke sana." Dia melingkarkan tangannya ke lengan Yang Pou Han lalu sedikit mengguncangnya.


"Aku bekerja. Kau tidak lihat, pekerjaanku sangat banyak."


Nindy mendengkus kesal. Melepaskan lengan lelaki itu kemudian. "Kau benar-benar tidak romantis, ya. Bukankah sejak menikah kau tidak pernah mengajakku jalan-jalan. Paling tidak ajak aku ke pantai di belakang sana, sebagai ganti bulan madu." Lelaki itu bahkan tak menghiraukan perkataan Nindy, masih terfokus dengan benda pipih yang menyala di tangan. "Sudahlah, lupakan! Bikin kesal saja!" Dia beranjak dari duduknya, melangkah kembali menuju jendela kaca yang menampilkan pemandangan yang mengagumkan itu.


Dia sudah lama sekali tak melihat pantai, menikmati deburan ombak, dengan angin sepoi-sepoinya yang membuat semua orang terlena karenanya. Pantai sudah di depan mata, tetapi dia tak bisa keluar untuk menikmatinya.


Terdengar desahan lesu dari bibir Nindy, tangannya membuka jendela itu kian lebar, membiarkan udara luar masuk ke dalam kamar yang berada di lantai dua itu.


Dia memejamkan mata. Bau air laut terendus di indra penciumannya. Surai panjang itu tertiup angin, menggerakkan riak-riak perhelai rambut panjang Nindy melayang di udara. Desiran angin yang menyapu wajahnya, membuat hatinya yang sempat kesal menjadi damai.


Sampai ketika sebuah tangan terasa memeluknya dari belakang, mengeratkan di bagian perut Nindy, perempuan itu menoleh. "Ganti pakaianmu. Kita akan ke pantai sekarang," bisik lelaki itu di telinga Nindy.


"Benarkah? Yeaay, terima kasih." Nindy mencium pipi lelaki itu lalu pergi begitu saja ketika lengan Yang Pou Han melepaskan pelukan dari perutnya.


Ada rasa asing yang menjalar dari pipi merambat ke seluruh tubuhnya. Hanya sebuah ciuman di pipi yang secara ikhlas tanpa diminta diberikan Nindy untuknya membuat rasa kikuk tiba-tiba melanda dirinya. Bibirnya melengkung kemudian, yang 'makin lama semakin landai membentuk cekungan yang berakhir menjadi sebuah senyuman yang aneh karena merambat ke hatinya yang terasa berbunga-bunga.


****


"Yang, ambil fotoku!" Nindy menyerahkan ponselnya kepada Yang Pou Han, lalu berjalan ke belakang di mana pantai yang berombak tenang itu berada.


Nindy melepaskan alas kakinya, menginjakkan kaki telanjang itu membentuk sebuah jejak-jejak di pasir yang basah akibat sapuan air laut, tetapi terasa lembut di telapak kakinya.


Hanya dengan bermain-main air seperti itu, sudah membuat perempuan itu senang. Sangat sederhana, tetapi bermakna. Yang mengambil beberapa gambar Nindy dengan berbagai pose. Dia tidak menyangka akan melakukan hal gila seperti itu hanya demi melihat senyum sang istri.


"Mana aku ingin lihat hasilnya?" Nindy meminta ponselnya kembali, memeriksa satu per satu hasil bidikan Yang Pou Han. Dia mengerutkan kedua alisnya kemudian. Hasil bidikan lelaki itu tak seindah ekspektasinya. "Kenapa kau hanya mengambil gambarku? Di mana pemandangannya?" protes Nindy sembari menggeser satu per satu foto di ponselnya.


"Benarkah? Aku tidak menyadarinya?" Yang mengambil alih ponsel itu. Memeriksa semua foto yang ia ambil. Dan benar, sesuai apa yang dikatakan Nindy, lelaki itu hanya mengambil foto Nindy. Foto wajah, foto punggung, kepala yang menoleh juga foto seluruh badan.


Bagaimana bisa dia tak menyadari hal itu?


"Kau memang payah dalam memotret." Dia mengambil alih ponselnya, "Atau jangan-jangan kau sebenarnya mengagumiku diam-diam, ya? Hahaha, lihatlah! Wajahmu memerah!" Terdengar gelak tawa Nindy, mentertawai Yang Pou Han yang tiba-tiba sedikit salah tingkah.


"Tidak mungkin. Kau bukan tipeku." Dia berkilah lagi.


"Iya, aku tahu. Lihat sini!" Nindy mengambil gambar wajah mereka berdua, mengalihkan posisi kamera depan untuk siap memotret.


Berbagai ekspresi mereka lakukan, ekspresi dingin, cemberut, meringis juga tersenyum dengan pipi saling menempel. Hal-hal konyol yang tak pernah Yang Pou Han lakukan, saat ini justru dilakukannya dengan sengaja. Beruntung asisten Lie tidak ikut bersamanya. Jika tidak, wibawa Yang akan turun seketika.


"Wah kau terlihat tampan. Sangat berbeda dengan kenyataannya." Nindy terkekeh ketika mengatakannya. Menutup mulut dengan satu tangan menahan tawa.


"Kau bercanda. Aku yang asli jauh lebih tampan dari yang di foto. Mana, biar aku kirim ke ponselku!"


Dengan gerakan cepat, Yang menyambar ponsel milik Nindy, dan seketika itu juga ponsel Nindy beralih ke tangan Yang Pou Han. Dia mengetik namanya ketika ingin mengirim foto-foto mereka, tetapi tak ditemukan. Kata 'My Husband', 'My Lovely', 'My Enemy' juga tak ditemukan. "Kau mencari apa, Yang?"


"Siapa namaku di ponselmu?"

__ADS_1


Nindy meringis kemudian, menyipitkan mata tanpa rasa bersalah seraya menelan ludah dengan sekali tegukan kasar. Dia terlupa belum mengganti nama Yang Pou Han di ponselnya, dan pasti lelaki itu akan memarahinya setelah tahu sebutan apa yang dituliskan Nindy di gawai kesayangannya itu.


》Bersambung ...


__ADS_2