Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
42. Tidak Sanggup Lagi


__ADS_3

Manusia hanya bisa berharap, tetapi semua ada campur tangan Tuhan Sang pemilik kehendak. Kendati manusia terlalu percaya diri untuk mampu menggenggam dan mempertahankan sesuatu, tetapi Tuhan akan lebih dulu menunjukkan betapa kerdilnya peranan manusia sebagai penentu.


Netra itu memanas, sejak semua barang-barang telah dikemas dalam koper masing-masing. Nindy tak bisa menyembunyikan raut kesedihan di wajahnya. Bayangan menyenangkan untuk berbulan madu bersama sang suami telah kandas sudah. Dia hanya bisa menatap pedih koper yang telah diseret oleh salah seorang bodyguard Yang Pou Han.


Sunyi, tiada canda tawa yang biasa ia lakukan kepada lelaki itu. Obrolan ringan nan menyenangkan pun juga terasa hambar kali ini. Lelaki itu nampak mencemaskan kondisi Nyonya Bay.


Nindy bisa melihat raut ketegangan di wajah Yang Pou Han. Berkali-kali mengecek chat dengan seseorang di layar ponsel yang Nindy ketahui adalah dokter yang merawat wanita tua itu.


Tiada genggaman tangan, tiada pelukan mesra di pinggang. Lelaki itu nampak sibuk dengan dunia dan pikirannya sendiri.


Apakah Nindy terlalu jahat, karena merasa tidak senang jika Yang Pou Han terlalu mencemaskan wanita baya itu?


Ya, bukan masalah itu yang jadi soalan. Akan tetapi, dia adalah nenek dari Emelie. Dia yang selalu berjuang untuk menyenangkan Emelie, terutama untuk mendapatkan Yang Pou Han kembali.


Namun, mengapa lelaki itu tak juga menyadari niat mereka?


Apakah memang Nindy yang terlalu takut, sehingga berusaha mati-matian untuk melindungi miliknya agar tetap dalam genggaman?


Miliknya? Apakah benar?


Sesuatu yang paling menyedihkan adalah merasa takut kehilangan seseorang yang dicintai, tetapi dia tidak tahu, apakah dia sebenarnya telah memiliki atau hanya merasa memiliki.


Kendati ingin mempertahankan apa yang telah dimilikinya, tetapi Nindy ragu, karena hati itu masih abu-abu. Belum jelas siapa pemiliknya dan siapa pemenangnya. Jika Nindy merasa hati itu haknya, tetapi bukankah lelaki itu mengatakan jika tidak mencintainya? Lantas, ke mana sebenarnya hati lelaki itu berlabuh, hingga Nindy begitu kesulitan untuk sekadar menyentuh.


Burung besi raksasa itu berhasil mendarat di Bandara Internasional Hongkong tepat pukul sebelas siang. Rombongan Nindy telah dijemput oleh anak buah Yang Pou Han. Selama di perjalanan, tiada sepatah kata yang keluar dari bibir lelaki itu. Bahkan sikap manis yang biasa dilakukan telah lenyap seketika.


Nindy merasa semakin terlihat asing. Diabaikan selama berjam-jam karena memikirkan orang lain. Wanita tua itu telah sekarat, harusnya Nindy mengerti akan situasi dan tidak berharap mendapatkan perilaku lembut dan mesra dari seorang Yang Pou Han.


Meski lelaki itu pernah mengatakan bahwa Nyonya Bay sudah dianggap sebagai nenek sendiri, tetapi Nindy masih saja merasa tidak rela. Bukan perhatian yang besar Yang Pou Han kepada wanita tua itu, melainkan ketakutan akan suatu hal yang mungkin akan terjadi.


Dia meremas tangannya dengan jemari saling terjalin. Lelaki itu melangkah terlebih dulu memasuki sebuah ruang perawatan dengan bau desinfekatan menguar di indra penciuman. Di sana sudah ada Emelie yang menunggu, sementara Nindy masih berada di ambang pintu.

__ADS_1


Nyonya Bay terbaring tak sadarkan diri di atas brankar. Wajahnya tertutup masker oksigen bertekanan tinggi dengan suara monitor penerjemah detak jantung terdengar melingkupi, bagaikan iringan melodi yang terasa menegangkan.


Tanpa tahu malu, perempuan itu memeluk Yang Pou Han sembari menangis. Seolah lelaki itu tempat satu-satunya dia berkeluh kesah, tempat satu-satunya menumpahkan kesedihan. Dia menangis dengan membenamkan wajahnya di dada lelaki itu.


Nindy mengepalkan kedua tangannya, menahan rasa sesak di dada akan pemandangan menyakitkan yang terpampang di depan mata. Apakah keputusan dia ikut menjenguk Nyonya Bay adalah benar?


Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Alih-alih ingin mendorong Emelie agar menjauh dari suaminya, Nindy merasa takut jika Yang Pou Han memarahinya karena kondisi Emelie yang sedang bersedih.


Dia bisa melihat lelaki itu nampak mengusap-usap punggung Emelie, seolah menenangkan perempuan itu agar tidak terlalu bersedih. Netra itu mulai berembun, di kala merasakan rasa bergemuruh di dada. Lelaki itu mengabaikannya selama di perjalanan, dan kini malah bersikap lembut dengan perempuan lain.


Apakah Nindy boleh marah?


Apakah Nindy boleh cemburu karena itu?


Dia tidak egois, bukan?


Hingga ia memilih keluar meninggalkan Yang Pou Han dan Emelie di ruangan itu. Nindy memilih menyendiri, mengungkapkan rasa kesal dan marahnya. Dia ingin mempertahankan, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Sampai dia harus menekan perasaannya sendiri, menenangkan gejolak cemburu yang ada di dalam hati.


Apakah dia telah salah menunggu? Bukankah seorang istri harus mendedikasikan diri untuk suami dan keluarga? Mengapa balasannya harus rasa sakit yang terasa mengimpit jiwa?


Dia menghentikan langkah, ketika kakinya berada di dalah satu tempat duduk yang terletak di sisi taman tengah rumah sakit. Netranya menatap ke depan, di mana area bermain anak-anak dibuat khusus menarik perhatian. Mereka berlari-larian, hidup tanpa beban dengan senyum mengembang. Sesekali terdengar suara tawa yang menyenangkan, membuat seseorang sepertinya ikut tersenyum merasakan.


Tanpa terasa dia mengelus perutnya sendiri. Ini sudah dua bulan, sejak dirinya dan Yang Pou Han menikah. Namun, dia tidak merasakan tanda-tanda kehamilan. Apakah Tuhan sengaja menunda kehamilan itu karena tahu jika hubungan mereka sepertinya tak berjalan mulus?


Seandainya ada anak di dalamnya, mungkin dia masih memiliki kekuatan untuk mempertahankan lelaki itu. Dia merasa memiliki hak atas Yang Pou Han seutuhnya, tetapi anak itu tak kunjung hadir di dalam rahimnya.


Dia menyeka air mata itu, mencoba tersenyum ketika seorang anak tak sengaja menerbangkan bola di depannya. Nindy memungut bola itu, lalu menunduk seraya tersenyum. Dia memberikan bola warna-warni kepada bocah laki-laki bermata sipit itu, tangannya gemas untuk mengusap pucuk kepala bocah lucu itu sebelum anak itu pamit meninggalkannya.


Entahlah, Nindy tiba-tiba merindukan sesosok anak kecil. Seorang anak yang bisa membuatnya tersenyum, menggenggam jemari mungilnya yang terasa lembut dan rapuh. Sekali lagi dia mengusap perutnya sendiri, berharap sebuah janin akan bertumbuh di dalamnya.


Sudah terlalu lama dia berada di taman itu. Netranya menilik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Sesekali menghela napas untuk sekadar meringankan beban yang membebat hatinya.

__ADS_1


Nindy segera beranjak dari duduknya, melangkah perlahan menuju ke ruang perawatan Nyonya Bay. Langkahnya kian ringan daripada sebelumnya. Dia sudah bisa melebarkan senyum kendati itu begitu terpaksa. Namun, dia harus bersikap biasa dan tidak kekanak-kanakan, meski hati terasa tetiris perih dengan apa yang sebelumnya ia perhatikan.


Sampai ketika kakinya sudah berada di ruangan itu, Nindy diam terpaku di tempat, menghentikan langkah secara tiba-tiba dengan mata menatap tak percaya, juga kecewa, lantaran apa yang telah terjadi di depan mata.


Wanita tua itu telah siuman, dengan mata yang sedikit terbuka. Dokter berada di sisinya, hanya bisa menatap iba serta kasihan..


Apa yang sebenarnya terjadi?


Mengapa wajah semua orang tampak menyedihkan*?


Netra itu tak lepas dari tangan dua orang yang sedang disatukan oleh wanita tua itu. Tangan siapa lagi kalau bukan tangan Emelie dan Yang Pou Han. Wanita tua itu dengan terbata-bata mengucapkan sesuatu, yang sangat melukai hati dan perasaan Nindy.


Dia sudah menduga sebelumnya. Dia tahu ini akan terjadi. Dia telah mengatakan sebelumnya, sebelum mereka memutuskan untuk menjenguk wanita tua itu.


"Jaga Emelie! Bukankah di keyakinanmu menikahi dua orang wanita diperbolehkan? Bukankah ... sebenarnya kalian masih saling ... mencinta. Lantas, untuk ... apa kalian saling menyiksa diri."


Nindy terperangah, tak mampu berkata-kata. Netra yang sempat mengering akan air mata, kini kembali luruh dan banjir kembali.


Dia mundur ke belakang, tak sanggup menyaksikan apa yang ada di depan mata. Hingga tanpa sadar dia menjatuhkan ponsel yang ada di tangannya.


Semua mata beralih menatap ke arahnya, baik Yang Pou Han, Emelie, Nyonya Bay juga seorang dokter dengan perawat di sampingnya. Mereka menatap aneh ke arah Nindy yang telah merusak suasana, kecuali Yang Pou Han. Mata mereka saling beradu, menunjukkan sesuatu yang sulit diterjemahkan.


Lelaki itu bisa melihat raut kekecewaan di netra bulat milik Nindy. Dia menyadari itu dengan menangkap air mata yang telah membasuh wajah sembab itu. Hingga Nindy mengerjabkan kelopak mata, membungkam mulutnya dengan telapak tangan, dia berlari kemudian.


"Nindy! Tunggu!"


Yang Pou Han berteriak, tetapi Nindy tak menghiraukannya. Dia berlari dan terus berlari dengan rasa sakit yang terasa menyiksa di hati. Dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini, rasa kecewa dan harapan yang musnah telah datang secara bersamaan. Nindy sudah tak sanggup lagi.


Yang Pou Han tak tinggal diam, dia melepaskan genggaman tangan Nenek Bay, lalu berlari menyusul Nindy. Emelie berteriak, memanggil nama lelaki itu. Namun, dia tak peduli. Dalam pikirannya hanya ingin menyusul istrinya, Nindy.


》Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2