Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
49. Ketekadan Jiwa


__ADS_3

Udara pagi terasa menyegarkan. Syuruk belum juga menampakkan diri. Yang Pou Han keluar dari kamarnya untuk sekadar mencari udara segar, dia tidak bisa tidur nyenyak tadi malam. Pikirannya masih terpatri pada satu orang, Nindy.


Ini adalah hari ke dua Yang Pou Han berada di kediaman Sean Paderson. Sean mengatakan alamat panti asuhan Nindy berbeda provinsi dengannya. Butuh waktu berjam-jam untuk bisa mencari lokasi itu. Ya, dia harus bersabar untuk bisa menemukan Nindy.


Dia menghirup udara pagi dengan rakus, seolah pasokan udara di paru-parunya mulai menipis. Samar-samar terdengar suara azan berkumandang yang membuat kening lelaki itu mengernyit heran. Selang beberapa saat muncullah Sean dengan menggendong Kinan yang nampak masih mengatuk dengan mengenakan kain sarung juga baju koko warna putih.


Di belakangnya ada Salwa mengenakan mukena dengan warna senada. Wajah perempuan itu nampak basah, tetapi terlihat teduh dan sedap di pandang.


Sean berdehem, mengagetkan Yang Pou Han yang masih setia menatap wajah sang istri. "Matamu bisa kulepas jika terus saja mengawasi istriku."


Yang Pou Han menoleh ke arah Sean yang menatapnya dengan kesal. Dia hanya terkekeh menanggapi.


"Kalian mau ke mana?" tanya Yang Pou Han kemudian.


"Kita mau ke masjid. Sebaiknya kau ikut! Bukankah kau sedang membutuhkan pertolongan agar dipertemukan dengan istrimu?"


"Memang di sana ada yang bisa menolongku? Apa kau sendiri tak sanggup mencari Nindy, sehingga aku harus membutuhkan pertolongan orang lain?"


"Mungkin aku bisa membantumu menemukan istrimu, tetapi aku tidak bisa membantumu, jika dia tidak mau kembali kepadamu."


Yang Pou Han terdiam. Ya, Nindy terlalu kecewa dengan dirinya. Apalagi karena kecelakaan itu, Yang Pou Han telah menggagalkan janji untuk menjemput perempuan itu di bandara. Pasti Nindy akan menolaknya mentah-mentah meski dia telah ditemukan.

__ADS_1


"Apakah jika aku ikut, di sana ada seseorang yang bisa membantu masalahku?"


Senyum simpul terbit di bibir Sean, tangan kanannya merangkul bahu Salwa. "Kau akan bertemu dengan Sang membolak-balikkan hati manusia. Kau bisa meminta bantuanNya."


***


Manusia berbondong-bondong untuk mencari pengasihan Tuhan, ketika suatu masalah sedang datang menjerat. Ada kalanya mereka terlupa, bahkan pura-pura lupa akan panggilan Tuhan yang sering kali berkumandang. Menganggap remeh dengan bersikap tak acuh, menyibukkan diri. Namun, di saat jiwa-jiwa yang sakit membutuhkan pertolongan, kalam Tuhan menjadi pengobatan.


Yang Pou Han nampak kebingungan ketika Sean mengajaknya mengambil air wudu. Dia belum pernah melakukan itu, tetapi dia sempat melihat Nindy melakukannya.


"Lakukan seperti ini!" Sean mengajari lelaki itu dengan sabar. Ya, dia bisa sabar juga ternyata.


Setiap sapuan air yang membasahi bagian-bagian tubuhnya, terasa menentramkan jiwa. Ada rasa damai yang tiba-tiba muncul dalam hati, menelusup kemudian melingkupi, hingga rasa gelisah yang sejak beberapa hari yang lalu telah membuatnya tidak tenang, kini berubah menjadi kedamaian.


Dia melangkah, mengikuti ke mana Sean pergi. Hingga kakinya untuk pertama kali memasuki rumah Allah, hatinya berdesir. Tatapannya tertuju pada banyaknya manusia yang sedang melakukan salat sunnah dengan khusyuk dan tawaduk.


Penyerahan diri manusia kepada Tuhannya, merasa rendah diri dan kerdil di hadapan Sang Pencipta. Entah mengapa pemandangan di depannya ini terasa menggelitik jiwa. Yang Pou Han tiba-tiba meneteskan air mata, yang tanpa ia sadari telah mengalir di pipinya.


Sampai suara seorang mu'azzin terdengar mengumandangkan iqomah membuat hati lelaki itu bagai dihantam beribu-ribu peluru.


Dia mundur ke belakang, tetapi Sean segera menahannya. "Ayo, ambil barisanmu!"

__ADS_1


Anak-anak manusia adalah lumbung dari dosa. Kehilafan yang terjadi terus-menerus tanpa henti membuat mereka terlupa akan sebuah mata hati yang selalu mengiringi langkah mereka. Semakin banyak mereka mengabaikan kehilafan, maka mata hati itu akan semakin kecil pengaruhnya dalam diri.


Saat mata hati itu terbuka, mengajak kita untuk tetap dalam jalan lurus ke depan. Menegur kita yang akan berbuat suatu kesalahan.


Pernakah kita merasakan gelisah ketika melakukan suatu kesalahan? Pernakah ambisi dan emosi tak seiring dengan hati nurani. Itu adalah wujud cinta Tuhan dalam mengingatkan manusia agar tetap dalam jalanNya. Kendati manusia mengabaikan, tetapi Tuhan selalu mengiringi langkah mereka.


Hati lelaki itu bergetar, ketika lantunan kalam Allah terdengar merdu di telinga. Rasa asing yang merangsek secara paksa ke dalam sanubarinya menciptakan pergulatan batin antara hati dengan pikiran. Dia belum pernah merasakan kekalutan seperti itu. Air matanya meluruh, tanpa harus disuruh.


Rasa apa ini?


Apakah ini yang namanya mengenal Tuhan?


Dia sejak kecil jauh dari Tuhan. Orang tuanya bukan seorang agamis, pun dengan pendidikannya yang jauh dari arti keTuhanan.


Lelaki itu masih duduk bersimpuh, ketika salat Subuh selesai ditunaikan. Dia mengangkat kedua telapak tangan menengadah, berdoa kepada Yang Maha Kuasa, mencurahkan segala isi hati yang terasa menyiksa jiwa.


Dia ingin Nindy kembali. Kembali dengan hatinya sekali. Dia ingin membahagiakan perempuan itu, mengentaskannya dari sikap sinis dan antipati semua orang yang memandangnya. Karena Nindy tak pantas mendapatkan cemoohan seperti itu. Dia layak disayangi dan dihormati, bukan dicaci dan dimaki.


Ya, dia akan menjemput Nindy sendiri. Dia akan memulainya hari ini. Pikirannya mulai jernih. Dia akan menemui Nindy, menyusul sang belahan jiwa dan membawanya kembali ke dalam istananya.


》Bersambung

__ADS_1


__ADS_2