
Gurat kecemasan itu terlihat jelas di wajah lelaki itu di saat menerima kabar dari pelayan, jika Nindy pingsan di kamarnya. Mereka telah membawa Nindy ke rumah sakit sebelum Yang Pou Han tiba di rumah.
Dia sempat merasa was-was ketika berangkat kerja tadi pagi. Nindy tampak pucat, lebih pucat dari sebelum-sebelumnya. Namun, dia tidak terlalu khawatir, karena Nindy aman jika berada di rumahnya. Akan tetapi, ketika menerima kabar bahwa Nindy telah pingsan di kamar, membuat Yang Pou Han menyesal telah meninggalkan perempuan itu bekerja.
Dia mendorong pintu itu, di mana ruangan dokter yang menangani Nindy secara khusus. Dia melangkah tergopoh, lalu duduk di depan meja kerja dokter wanita tersebut sebelum dipersilakan.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Yang Pou Han dengan tidak sabar. Wajahnya tampak berantakan dengan rambut yang sudah tidak tertata rapi seperti biasanya.
Wajah dokter itu terlihat muram, cukup menunjukkan jika kondisi Nindy dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Saya sangat menyayangkan ini, Tuan Yang. Istri Anda hamil dalam keadaan yang tidak tepat. Saya sangat menyesal mengetahuinya dengan terlambat. Saya harap Anda bisa menghadapinya dengan tenang. Istri Anda sangat membutuhkan dukungan Anda."
"Jangan berbelit-belit! Katakan, apa yang telah terjadi dengan Nindy?"
Dokter itu tampak menghirup napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Netranya menangkap sebuah kecemasan yang kental dalam diri lelaki itu. Akan tetapi, tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengatakan hal yang sebenarnya. "Nyonya Yang, mengidap kanker perut stadium satu."
"A-pa?"
***
Yang Pou Han melangkah dengan lemas ketika kakinya hampir mencapai ruang perawatan Nindy. Dia tidak tega jika harus mengatakan hal yang sebenarnya. Wajah bahagia Nindy yang sebelumnya terlihat sebab kehamilannya, pasti akan berubah murung dan sedih.
Baru saja Yang Pou Han membahagiakan perempuan itu, yang sejak dulu selalu merasakan penderitaan juga tekanan lahir maupun batin. Dan kabar buruk yang akan diterima Nindy kali ini, pasti akan memupuskan harapan perempuan itu untuk mendapatkan kebahagiaan yang dinanti-nantikannya.
Yang Pou Han membuka perlahan pintu ruangan itu, dan mendapati Nindy berbaring di sana. Pandangan mereka saling bertemu dengan senyum bertengger di bibir Nindy mendapati Yang Pou Han telah hadir menemuinya. Apa yang lebih membahagiakan daripada dicemaskan oleh seorang yang terkasih?
Yang Pou Han melangkah mendekat, menuju brankar dengan langkah lebar. Pandangan mereka masih saling bertemu dengan senyum simpul terpaksa, yang sekuat tenaga dibentuk Yang Pou Han demi Nindy. Langkah lelaki itu terhenti, ketika lututnya menyentuh tepian brankar, lalu duduk di sisi yang kosong. "Bagaimana kabarmu?" tanya Yang Pou Han kemudian.
"Baik, maaf sudah membuatmu cemas."
__ADS_1
"Tidak apa." Yang Pou Han tampak menunduk, tak bisa menyembunyikan raut kesedihannya di depan Nindy. Pikirannya sudah sangat kacau, membayangkan bagaimana perasaan Nindy jika mengetahui kebenaran.
Namun, dia harus kuat. Jika tidak, bagaimana dia bisa memberi semangat kepada Nindy?
"Yang, apa yang kau pikirkan? Mengapa kau sesedih itu?" tanya Nindy dengan menggenggam tangan Yang Pou Han.
Yang Pou Han tersenyum simpul, mencoba berdamai dengan pikiran, tetapi dia harus mengatakan niatnya yang mungkin akan membuat perasaan perempuan itu hancur setelah mendengarnya.
"Ndy, aku ingin kau menggugurkan kandunganmu."
Seketika genggaman tangan Nindy terlepas. Netranya membulat sempurna dengan rasa terkejut yang mendera, melingkupi.
Tidak, dia salah dengar, bukan? Apa yang baru saja Yang Pou Han katakan hanya sebuah lelucon, pasti lelaki itu hanya bercanda dengan perkataannya.
"Apa yang kau katakan, Yang?"
Nindy terkesiap dengan apa yang baru saja terlontar dari bibir Yang Pou Han. Bagaimana lelaki itu dengan mudahnya mengucapkan kata "menggugurkan" seolah nyawa yang saat ini sedang berjuang di dalam rahimnya sama sekali tidak berharga.
"Kau ingin membunuh anak kita? Darah daging kita? Tidak, aku tidak akan melakukan itu. Dia anakku. Jika kau tidak mau menerima kehadirannya, aku bisa mengurusnya sendiri. Jangan berharap aku menggugurkan anak ini, Yang. Jangan harap!"
"Ndy!"
"Tidak! Pergi! Aku tidak mau bicara denganmu!" Nindy berbalik, memunggungi Yang Pou Han. Air matanya meleleh, membasahi pipi, mengalir di atas bantal yang sedang dipakai.
Bagaimana Yang Pou Han tega ingin menghabisi buah hati yang masih sangat lemah di kandungannya? Mengapa dia sejahat itu? Apakah dia sama sekali tidak menyayangi anak itu?
Nindy tidak akan pernah mau melakukan sesuatu yang bisa membahayakan nyawa anaknya. Tidak akan pernah! Dia akan mengorbankan nyawanya demi sang anak kendati ayahnya tidak menginginkannya.
Bukankah ibunya dulu juga melakukan hal yang sama? Meski berat, nyatanya ibunya bisa melakukan itu. Nindy pasti bisa melakukan hal yang sama demi sang buah hati.
__ADS_1
Satu tepukan di bahu kanan Nindy membuat perempuan itu mengusap air matanya.
"Nindy, aku menyayangi anak itu. Akan tetapi, aku tidak bisa kehilanganmu. Aku harus memilih salah satu. Apa kau mengerti? Ini sangat sulit untukku, tetapi aku tetap harus melakukannya."
Nindy segera berbalik, punggungnya menyentuh ranjang lagi dengan posisi terlentang. Ditatapnya Yang Pou Han yang tampak kacau dengan wajah sembab penuh air mata. Tidak, lelaki itu bahkan lebih kacau dari dugaannya. Nindy bisa melihat keputusasaan dari wajah lelaki itu.
"Yang, apa maksudmu? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Lelaki itu mengusap kepala Nindy dengan sayang, menurun menyentuh pipi perempuan itu, lalu mengelusnya.
"Maaf, sudah membuatmu hamil. Seharusnya aku mencari tahu hal ini sejak dulu. Sejak pertama kali kau sering pingsan karena kesakitan di bagian perutmu. Seharusnya aku memeriksanya lebih lanjut. Namun, aku justru mengabaikannya. Maafkan aku, Nindy. Maafkan aku. Semua yang terjadi adalah kesalahanku."
"Yang, apa maksudmu? Katakan dengan benar! Apa yang terjadi? Jangan membuatku bingung!"
Nindy tak kuasa untuk menahan segala rasa penasaran yang menggebu di dada. Yang Pou Han tak kunjung menjawab, dengan wajah yang sudah tak enak untuk dilihat. Lelaki itu hanya bungkam dan bergeming di tempat. Hingga tangan Nindy mengguncang lengan lelaki itu, seolah sedang menarik paksa lamunan Yang Pou Han agar segera kembali ke permukaan, lelaki itu mengerjabkan kelopak mata dua kali, lalu menatap manik bening milik Nindy yang juga sedang menatapnya.
"Ada kanker yang bersarang di lambungmu. Kau bisa melakukan perawatan dan penyembuhan jika tidak ada janin yang terkandung di dalam rahimmu. Nindy, ini adalah keputusan yang sangat sulit bagiku. Aku menyayangi kalian. Andai saja bisa ditukar, lebih baik aku yang mengalaminya."
Bening embun di mata Nindy kian menderas, mengalir dengan lancar membasahi pipi serta permukaan wajahnya. Dia tidak mengetahui itu semua. Namun, kata kanker pasti lebih mendekat ke arah kematian. Meski banyak orang yang bisa selamat dari kanker, tetapi mereka harus menjalani berbagai pengobatan medis baik alami, maupun kimiawi. Bahkan kemoterapi yang paling menyakitkan dan dibenci para penyandang kanker harus dilakukannya demi kesembuhan.
Akan tetapi, bagaimana dengan janin lemah yang saat ini sedang berjuang hidup di perutnya? Nindy tak bisa membahayakan nyawa janin yang suci itu demi kesembuhannya. Dia tidak akan bisa mengambil paksa kehidupan yang baru saja dimulai oleh buah hatinya. Sungguh Nindy merasa menjadi ibu yang egois, tidak memiliki hati nurani jika melakukan itu. Hingga satu keputusan sulit, harus segera dia ambil.
"Aku akan berjuang demi anak ini, Yang. Aku tidak akan mampu mengorbankannya hanya demi kesembuhanku. Aku ingin anak ini tetap lahir. Dia berhak lahir ke dunia ini, dia berhak mendapatkan kehidupan sama seperti janin-janin lainnya. Yang, kumohon! Jangan menggugurkan anak ini. Rasa penyesalanku akan lebih besar dan akan kutanggung seumur hidupku jika aku melakukannya."
"Tapi ...?"
"Kumohon. Berikan kesempatan anak ini hidup. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melahirkannya. Berjanjilah kepadaku, Yang!"
***
__ADS_1