
Suara riuh anak-anak terdengar menggema di ruangan itu. Mereka berebut kotak hadiah yang sengaja disiapkan oleh Sean dan Salwa sebelum mereka memutuskan ikut Yang Po Han datang ke panti asuhan di mana Nindy dibesarkan.
Kinan dan Reynand bergantian menyerahkan hadiah-hadiah itu kepada anak-anak yang tampak tak sabar untuk mendapatkan bagiannya. Mereka begitu antusias dan bahagia dengan hadiah yang mereka terima.
Anya yang baru saja terbangun ikut berhambur dengan anak-anak panti asuhan. Berbagi kebahagiaan kepada anak-anak yatim tentu merupakan nilai positif yang bisa diajarkan kepada anak.
Bukankah Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk menyayangi anak yatim dan memelihara mereka dengan penuh kasih? Bahkan beliau mengatakan bahwa pemelihara anak yatim akan dijanjikan surga oleh Allah kecuali mereka yang telah melakukan dosa yang tak terampuni.
Hingga suara-suara riuh itu kini terdengar merdu di telinga, bagaikan alunan melodi yang indah dan tak mungkin bisa didapatkan kembali di tempat lain. Ibu panti pun datang menghampiri, mengucap terima kasih kepada tamu-tamu dermawan itu.
"Terima kasih, Tuan dan Nyonya. Anak-anak sangat bahagia." Suara tua yang masih terdengar jelas di telinga meskipun diiringi dengan sedikit bergetar.
Nindy segera meraih tangan tua itu, lalu menciumnya. Dia menitikkan air mata ketika merasakan tangan tua itu berada dalam genggamannya.
Ibu panti itu adalah orang tua ke dua bagi Nindy. Dia adalah orang tua pengganti bagi semua anak yang berada di panti asuhan ini. Wajahnya begitu teduh dengan suara lembut yang menjadi ciri khasnya. Rambutnya disembunyikam ke dalam ciput hitam yang warnanya sedikit lusuh.
"Ibuk!" Rasa haru mulai tercipta, melingkupi dua insan berbeda usia. Hati tercondong akan sebuah kerinduan yang segera terobati dengan adanya pertemuan.
Wajah tua itu menatap Nindy dengan tersenyum. Tangan keriputnya mengusap wajah Nindy pelan. "Bagaimana kabarmu, Nak? Suamimu mengatakan kau hampir sekarat saat itu. Aku bersyukur kau akhirnya selamat. Kau beruntung mendapatkan suami sepertinya."
Nindy mengangguk dengan bibir menahan tangis. Dia terharu akan kasih sayang orang-orang di sekelilingnya. Ya, dia merasakan limpahan kasih sayang dari orang-orang terdekat. Kini waktunya bagi Nindy membalas kasih sayang serta perlindungan ibu panti dengan perlindungan yang sama. "Biar kami yang mengurus panti ini, Buk. Ibuk pasti sangat lelah mengurus semua anak di sini dalam waktu yang begitu lama. Biarkan kami yang melakukannya."
__ADS_1
Wajah tua itu tersenyum sendu, mengangguk-angguk. "Biarkan Ibuk di sini. Ibuk ikhlas menjalani semuanya. Ibuk hanya bisa berterima kasih atas bantuan kalian yang luar biasa. Terima kasih."
Keduanya pun saling berpelukan, disaksikan oleh semua anak panti dan keluarga Paderson. Semua memang akan indah pada waktunya, bersabarlah.
... ***...
Tidak hanya mengunjungi panti asuhan di mana Nindy dibesarkan. Yang Pou Han mengajak keluarga kecilnya dan keluarga Paderson untuk berkunjung ke rumah orang tua Nindy.
Meski reot tak berpenghuni, ternyata lelaki itu tak melupakan tempat bersejarah di mana dia pertama kali mengungkapkan cinta kepada Nindy. Bukan di taman bunga yang cantik dan indah; bukan di sebuah restoran mewah atau di tempat favorit sepasang kekasih memadu kasih. Yang Pou Han justru mengungkapkan cintanya pertama kali kepada Nindy di sebuah rumah kecil, tepatnya di atas ranjang yang hampir reot; rumah di mana Nindy kecil mendapatkan kasih sayang ibunya; rumah yang menjadi saksi bisu dua insan manusia memadu kasih lantaran perasaan yang telah terbalaskan. Tempat yang begitu sederhana, tetapi penuh dengan sejarah.
Ketika mereka berjalan melewati gang itu, berpasang-pasang mata telah memperhatikan mereka. Tak ubahnya seperti anak kecil yang tak pernah melihat sesuatu yang menarik, tetapi kali ini, orang-orang itu bukanlah anak kecil, melainkan ibu-ibu sepergosipan yang sudah sangat penasaran dengan siapa yang baru menginjakkan kaki di gang sempit rumah kumuh mereka.
Mereka hanya berani menatap tanpa berkomentar. Mengingat terakhir kali seseorang yang kini sedang menggendong anak perempuan itu membuat keributan di gang sempit mereka. Namun, tidak semuanya berpikir waras. Ada seseorang yang berani merangsek maju dengan berlari ketika melihat rombongan Yang Pou Han datang.
"Jalàng!" Sebuah tamparan keras dilabuhkan ke pipi Nindy, membuat Yang Pou Han dan lainnnya terkesiap. Tatapan semua orang, terutama ibu-ibu yang sejak tadi mengintai berubah semakin penasaran. Mereka berbisik-bisik, tetapi tak berani maju untuk menampakkan diri.
"Kau berani menamparnya?" Sorot mata Yang Pou Han tampak menajam, seolah-olah sedang menusuk ke arah perempuan berambut panjang menjuntai itu.
"Ya, dia yang menyebabkan aku gagal menikah. Dia yang membuat masa depanku hancur."
"Apa yang kau katakan, Dinda?" Nindy tampak bingung dengan apa yang dituduhkan perempuan bernama Dinda itu.
"Kau, kau menggoda calon suamiku. Dan suamimu ini, dia yang menggagalkan pernikahan kami. Kau tahu, aku sudah hamil saat itu. Kau benar-benar tidak tahu diri!" Tangan Dinda hampir melayang lagi ke pipi Nindy, tetapi secepat kilat Yang Pou Han segera mencegahnya.
__ADS_1
"Berani sekali saja kau menyentuhkan tanganmu untuk menyakiti istriku. Aku pastikan tanganmu akan terpisah dari tubuhmu sekarang juga," ucap Yang Pou Han kemudian, lalu menghempaskan tangan Dinda dengan kasar.
Nindy tak percaya dengan apa yang batu saja Dinda katakan. Dia hamil ketika kejadian itu berlangsung. Dan Nindy yang menyebabkan semua kekacauan itu.
"Di mana anakmu sekarang?" tanya Nindy kepada Dinda. Perempuan itu melangkah maju, mendekat ke arah Dinda. Namun, Yang Pou Han mencegahnya.
"Cih, kau menanyakan anakku. Dia sudah mati. Dan kaulah pembunuhnya!" Dia mendorong Nindy dengan kuat sebelum Yang Pou Han sanggup mencegahnya.
"Kau!"
Nindy terjerembab ke jalan berbahan paving dengan kedua tangan menumpu di belakang. Salwa yang ada di belakangnya segera menolong Nindy. Namun, ekspresi kesakitan Nindy yang tak biasa membuat Salwa mengurungkan niatnya.
"Yang, Nindy!" teriak Salwa kemudian.
Yang Pou Han yang ingin mendorong Dinda beralih menatap Nindy. Dia memutuskan untuk menolong Nindy terlebih dulu. "Titip Anya!" Dia menyerahkan Anya kepada Salwa, karena Sean sedang menggendong Reynand yang sedang tertidur.
"Hai, apa yang terjadi?" Yang Pou Han segera mengangkat Nindy yang tampak menahan sakit di perutnya.
"Yang! Anak ... kita." Perkataan Nindy terhenti bersamaan kesadaran yang mulai menghilang.
__ADS_1
"Nindy, Nindy!" Dia berteriak lantang, tetapi Nindy tak bisa menanggapinya. Perempuan itu sudah tak berdaya di dalam gendongannya. Hingga tatapannya tertuju kepada seorang wanita pembuat masalah di depannya, Dinda. "Jika terjadi sesuatu dengan istriku, jangan harap hidupmu bisa tenang."
... ***...