
Dia terlihat menunduk, tak berani menatap lelaki di sampingnya. Bayangan ciuman pertamanya yang telah berhasil direnggut lelaki itu dengan begitu ganas juga panas membuat Nindy tak mampu untuk menunjukkan wajahnya lagi. Malu, begitulah yang kini dia rasakan.
Sampai mobil yang ditumpanginya sudah memasuki area restoran Jepang. Lelaki itu melepaskan seat belt-nya setelah memarkirkan mobil dengan pas.
Dia melirik ke arah Nindy sekilas, lalu memperhatikan gadis itu dengan saksama. Ada yang aneh dengannya. Nindy sama sekali tidak bersuara, bahkan cenderung menunduk seperti anak yang patuh.
"Hei, kau mau di sini terus?"
Nindy menggeleng, tetapi masih diam dan menunduk.
"Apakah kau sakit?" Lelaki itu menyentuhkan telapak tangannya di kening Nindy, dan hal itu membuat wajah Nindy bertambah memerah.
"Kenapa wajahmu merah?" Menyentuh dagu Nindy lalu mendekatkan wajahnya.
Lelaki itu bahkan tidak merasakan bahwa Nindy sudah gemetar ketika wajah itu kembali mendekati wajahnya. Hingga gadis itu bersuara. "Kau ... mau apa?"
Dia mengernyitkan dahi, menangkap hal tak biasa pada Nindy. Seulas senyum kecil terbit di bibirnya, menyadari apa yang terjadi pada diri gadis itu. "Apa kau ingin melakukannya lagi?" Semakin mendekatkan wajah, "Jika kau ingin, aku tidak keberatan melakukannya di sini. Pasti kau sangat ketagihan setelah merasakan ciuman dariku, 'kan?"
Seketika didorongnya wajah yang nampak mesum itu. Yang Pou Han benar-benar membuatnya kesal. "Jangan bermimpi!"
Segera ia buka seat belt-nya, lalu membuka pintu mobil dengan cepat. Nindy mengeluarkan tubuhnya dari mobil itu. Meski dia sudah menjadi seorang istri, tetapi dia juga memiliki harga diri. Setelah melakukan kontak fisik lalu ditinggalkan begitu saja, hal itu sangat dibenci oleh Nindy.
Yang Pou Han sudah keluar dari mobil, berjalan ke depan menyusul Nindy. Nampak gadis itu menatap rumah makan yang sedang mereka kunjungi. Dia menoleh ke samping, ke arah Yang Pou Han. "Apakah kita akan makan siang di sini?"
"Tidak, hanya aku yang makan. Kau makan di rumah saja."
Nindy nampak bersungut-sungut, menatap kesal ke arah Yang Pou Han. "Kau menyebalkan. Tega sekali berkata seperti itu dengan istri sendiri." Menghentikan jalan kemudian. "Dasar pelit!"
Yang terkekeh, mengulurkan tangan ke kepala Nindy, lalu mengempit kepala gadis itu dengan lengan kanannya. "Dasar bodoh!" ucapnya seraya menarik kepala Nindy untuk mengikutinya.
...***...
Sudah ada beberapa hidangan lezat yang tertata di atas meja. Yang memilih shabu untuk menu makan siangnya kali ini. Berbagai jenis daging yang tersaji seperti daging sapi, domba, dan ikan fugu yang diiris sangat tipis diletakkan di atas piring keramik yang nampak masih segar.
Ada beberapa sayuran dan tofu yang menyertainya. Tentunya sebagai pelengkap makanan shabu yang akan mereka nikmati.
Nindy menatap makanan itu dengan perasaan ngeri. Bukan air liur yang meleleh, tetapi rasa jijik yang saat ini sedang ia rasakan.
Dilihatnya Yang Pou Han mengambil sumpit, mengapit irisan daging yang begitu tipis itu lalu mencelupkannya di dalam air panas yang ada di dalam panci. Mengangkatnya dengan gerakan melambai-lambai, lalu mencelupkannya lagi hingga beberapa kali. Dan setelah dirasa cukup, dia memakannya dalam sekali suapan.
Lelaki itu menatap Nindy, sedikit mengernyitkan dahi. Nindy biasanya paling suka dengan makanan, tetapi melihat gadis itu masih diam di tempat dan tidak mengambil satu makanan pun membuat dia heran.
"Kenapa tidak makan?"
Dia meringis kemudian. "Apakah kita tidak bisa membeli makanan yang lain. Aku ... tidak suka daging mentah."
"Kau belum pernah mencobanya? Cobalah, rasanya tidak buruk!"
Nindy menatap Yang Pou Han yang masih melahap lembar demi lembar daging tipis itu, yang dicelupkan dengan saus gomadare yaitu sejenis saus wijen. Dia memakannya seolah ingin membuat Nindy tergoda untuk segera menyicipinya.
Ekspresi Nindy terlihat jijik. Baginya, lebih baik makan ikan asin ditambah urap-urap daun pepaya daripada memakan daging mentah seperti itu. Sungguh selera orang kaya sangat aneh.
__ADS_1
Dan sebelum ia ingin mencari cara agar Yang Pou Han memesankan makanan lain untuknya, tiba-tiba ada gerombolan paparazi dan wartawan yang datang menyerbu meja mereka.
"Tuan Yang. Kebetulan sekali bisa bertemu dengan Anda di sini. Apakah benar Anda akan melangsungkan pesta pernikahan dalam waktu dekat ini?" Satu pertanyaan yang membuat wajah Nindy mendadak pasi.
Berbeda dengan Yang Pou Han, lelaki itu nampak tenang sembari menyuapkan lembaran daging ke mulutnya, mengunyahnya dengan sikap elegan, tak menghiraukan seseorang yang menyodorkan microphone di depannya.
Dan ketika daging itu telah berhasil ditelan, dia menyapukan sapu tangan di bibirnya. "Iya, kami akan melangsungkan pesta pernikahan. Namun, dilaksanakan secara tertutup. Tidak terlalu banyak tamu nantinya. Hanya orang-orang terdekat dan beberapa rekan bisnis."
"Dan Nona, bagaimana perasaan Anda saat ini karena bisa mendapatkan seorang pengusaha seperti Tuan Yang?"
Nindy hanya tersenyum menjawabnya. Perasaan? Dia juga tidak tahu, ini sebuah keberuntungan atau tidak. Karena semuanya terasa mendadak.
"Apakah kalian benar-benar saling mencintai? Bisakah Anda melakukan pose romantis, untuk dijadikan headline kami." Pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan permintaan.
Yang Pou Han tampak terganggu dengan pertanyaan yang menanyakan perasaan mereka, tetapi akhirnya dia menjawabnya saja. Makin cepat dijawab, maka semakin cepat para wartawan itu pergi dari hadapan mereka.
"Tentu saja kami saling mencintai. Kami sudah resmi menikah, tinggal melangsungkan pesta pernikahan saja. Benarkan, Sayang?" Lelaki itu mengulurkan tangan, meraih tangan Nindy untuk kemudian dikecupnya ringan.
Nindy hanya mengangguk dan meringis. Perlakuan manis lelaki itu terasa menggelikan.
Dan sampailah ketika lelaki itu mengambil lembaran daging sapi tipis atau biasa disebut dengan "Gyūshabu" menggunakan sumpit, mencelupkannya ke kuah panas beberapa kali lalu mencocolkannya ke dalam saus tare. Dia menyodorkan lembaran daging itu kepada Nindy.
Nindy melotot seketika, tak ingin memakan makanan aneh itu. Namun, Yang Pou Han sepertinya tak ambil peduli. Lelaki itu dengan senyum manisnya tetap mempertahankan sumpitnya yang sudah mengapit lembaran daging sapi di depan wajah Nindy.
"Makanlah, Sayang. Jangan malu-malu. Aku tidak ingin kau sakit," ucapnya disertai seringai licik.
Dengan sangat terpaksa Nindy membuka mulutnya, tetapi hanya sedikit. Dia enggan memakan makanan itu, tetapi terpaksa hanya demi pencitraan saja.
Gadis itu mendelik, menatap tajam ke arah Yang Pou Han, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain membuka mulut dan memaksakan diri untuk menelan daging yang sepertinya masih mentah itu.
"Iya, makan yang banyak, Sayang!" Terdengar tuturan lembut dari bibir Yang Pou Han, membuat Nindy semakin ingin muntah saja.
"Sungguh sangat romantis. Ayo kalian ambil foto mereka!" perintahnya kepada rekan paparazi yang ada di belakangnya.
Nindy tak ambil diam. Dia menyumpitkan beberapa lembar daging ke dalam sumpit, lalu mencelupkan seperti apa yang dilakukan oleh Yang Pou Han. Ya, tanpa menunggu daging itu hangat setelah dicelupkan kuah panas, dia segera menyuapkan ke mulut Yang Pou Han.
Rasakan!
Lelaki itu tampak membuka mulut lebar-lebar, mengibas-ngibas lidahnya yang terasa terbakar. Dan seketika itu juga Nindy menyodorkan minuman untuk suaminya itu.
"Kenapa, masih lapar, ya? Aku suapin lagi, ya?" ucap Nindy berusaha bersikap manis. Tangannya tetap mengambil lembaran daging dan memanaskannya seperti sebelumnya, menyuapkan kembali ke mulut Yang Pou Han tanpa jeda, hingga lelaki itu terbatuk-batuk.
"Awas kau, ya! Tunggu pembalasanku di rumah!" ucapnya berbisik lirih ke arah Nindy.
Nindy hanya tersenyum puas, sudah berhasil membalas kejahilan Yang Pou Han. Apa pun yang akan diterimanya nanti, tak jadi soal. Yang terpenting saat ini dia bahagia karena berhasil membalas dendam.
...***...
"Lakukan saja! Dia hanya gadis bodoh. Aku tidak rela jika Yang Pou Han dikuasai oleh gadis itu."
Perempuan itu membanting amplop berwarna coklat yang penuh dengan uang di atas meja. Dia tersenyum kemudian yang makin lama semakin lebar. Tatapannya nampak mengerikan dengan sorot mata yang menggelap. Dia beranjak dari duduknya kemudian, mengambil jaket untuk menutupi pakaian rumah sakit yang sedang ia kenakan.
Sampailah ketika perempuan itu hampir mendekat di bibir pintu, dia menoleh kembali ke arah lelaki yang telah menerima uang darinya. "Pastikan kau sudah melakukannya dengan benar. Aku ingin Yang merasa jijik dengan gadis bodoh itu!" Dia berlalu kemudian setelah terdengar pintu itu dibanting.
__ADS_1
...***...
"Mau ke mana?"
Nindy berjalan terburu-buru ketika sudah memasuki rumah. Dia berlari menaiki tangga, lalu masuk ke dalam kamar. Perutnya terasa mual, dia tidak terbiasa memakan makanan seperti itu. Sangat tidak cocok dengan lambungnya. Mengapa mereka tidak memasak dagingnya terlebih dahulu. Membayangkannya saja Nindy ingin muntah, apalagi tadi dia menghabiskan banyak daging mentah.
"Huueekk ...!" Nindy memuntahkan makanan yang telah masuk ke lambungnya. Dia tidak tahan jika membiarkan daging itu masuk mengotori usus besarnya.
"Hei, kau kenapa?"
"Hueeek ...."
Suara itu terdengar lagi, membuat Yang Pou Han segera mendorong pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci. Dilihatnya Nindy sedang berusaha mengeluarkan makanan yang sempat dimakan olehnya tadi siang.
"Kenapa kau muntahkan makanan itu? Apakah kau tidak tahu, itu tadi adalah makanan mahal."
Seketika Nindy menoleh ke arah Yang Pou Han, memberikan tatapan kesal kepada lelaki itu. Masih saja membahas harga makanan, mengapa dia harus menikah dengan lelaki super perhitungan seperti Yang Pou Han?
Apakah ini kutukan? Ya Tuhan, cabut kutukan itu dariku!
"Kau mau? Itu ambil saja muntahanku!" ucapnya kesal.
"Apa? Kau semakin berani, ya!"
Dia tak peduli.
Nindy mencuci mulutnya dengan air kran, lalu berkumur setelahnya. Lantas, ia mengambil handuk untuk diusapkan ke wajahnya yang penuh dengan air.
Tiba-tiba perutnya merasa lapar. Sayangnya tidak ada makanan di rumah. Dia tidak sempat memasak tadi pagi. Hingga akhirnya gadis itu menatap ke arah Yang Pou Han dengan tatapan memelas. "Aku ... lapar."
...***...
Semangkuk mi instan sudah masak dengan harum yang menggoda. Nindy mengajak Yang Pou Han untuk membeli mie instan di supermarket terdekat. Lelaki itu tak mengizinkannya, tetapi wajah memelas Nindy berhasil menggoyahkan keteguhan Yang Pou Han.
"Mi instan itu tidak sehat, tidak ada gizinya. Seperti makanan sampah!" Lelaki itu mengoceh di depan Nindy yang sedang menyeruput mi goreng asal Indonesia yang sudah mendunia. Dia menatap kesal ke arah Yang Pou Han.
"Kau pernah makan sampah?"
"Kau!" Lelaki itu melototkan matanya yang sipit itu.
"Ha-ha-ha, tidak-tidak. Mana mungkin kau pernah makan sampah." Nindy meringis, takut juga dengan pelototan Yang Pou Han. "Ini cobalah! Rasanya sangat lezat. Kau pasti akan ketagihan ketika mencobanya sekali." Nindy menyodorkan mangkuk minya ke arah Yang Pou Han.
Lelaki itu menatap mie yang sudah diberi irisan cabe plus telur rebus itu dengan tatapan jijik. "Tidak, aku tidak akan mengotori lambungku dengan makanan seperti itu."
Nindy mengambil kembali mangkuk mi itu, lalu melahapnya dengan penuh kenikmatan. "Ah, enak sekali."
Dengan wajah kesal lelaki itu duduk di bar stool, menarik mangkuk mi itu secara paksa, lalu meraih sumpit dengan cepat. Ia mengapit mie itu kemudian, mencoba makanan yang dia bilang seperti makanan sampah. Anehnya dia menyuapkan terus mi itu ke mulutnya hingga tandas tak bersisa.
"Kenapa kau habiskan? Kau bilang tidak suka, lalu apa ini? Kau bahkan tak menyisakan sedikit untukku."
Yang Pou Han menatap mangkuk mi itu dengan tatapan aneh. Dia tak menyangka malah menghabiskan makanan sampah itu dengan begitu cepat. Dia menoleh ke arah Nindy kemudian. "Buat saja lagi. Aku mau pergi," ucapnya seraya berdiri setelah menenggak satu gelas air putih milik Nindy.
"Yang Pou Han, kau keterlaluan!" teriak Nindy dan hanya ditanggapi dengan lambaian tangan oleh lelaki itu yang sudah melangkah pergi memunggunginya.
__ADS_1