
Nindy mengatupkan mata, ketika sinar jingga sang surya menerpa wajahnya. Semburat warna keemasan di langit, dengan matahari yang mulai kembali di balik peraduannya, membuat siapa saja akan terkesima dengan lukisan alam Yang Maha Kuasa.
Sebuah tangan yang serta-merta menggenggamnya, membuat Nindy menoleh. Dia tersenyum kepada si pemilik tangan yang sedang menautkan jemarinya di sela-sela jemari Nindy. Saling menggenggam, merapatkan jari hingga tiada ruang lain di dalamnya.
"Yang, terima kasih."
Lelaki itu melempar senyum, seolah mengerti. Namun, tak ayal dia menanyakan arti dari ungkapan terima kasih Nindy.
"Untuk?" tanya Yang Pou Han dengan kening berkerut.
Senyuman itu kian merekah, menunjukkan rasa bahagia yang kini sedang melanda. "Terima kasih telah memintaku menjadi istrimu." Tatapannya masih tertuju ke sana, memandang panorama alam yang menyejukkan mata.
Lelaki itu terlihat mengangguk, melepas genggaman tangannya, beralih melingkarkan ke pinggang Nindy untuk dirapatkan kepadanya. Nindy menunduk ke samping, melihat tangan yang sedang memeluk pinggangnya. Dia menyandarkan kepala di lengan lelaki itu, menikmati pemandangan di depannya ditemani alunan melodi dari ombak laut yang bergelombang. Senyumnya melebar, merasuk hingga ke relung hatinya.
Dia bahagia.
***
"Apa kau tidak melupakan obatmu?"
Yang Pou Han melepaskan pakaiannya lalu mengganti dengan jubah tidur. Dia duduk di sisi ranjang seraya meraih segelas air untuk diminum. Netra sipit itu mengawasi Nindy yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Obat apa?"
"Obat yang kuberikan tempo hari. Kau membawanya, 'kan?"
Nindy memeriksa tasnya, mengeluarkan tablet yang ia simpan di dalam sebuah kotak.
"Aku membawanya," ucapnya dengan menunjukkan tablet itu kepada Yang Pou Han. "Tetapi aku merasa tidak sakit. Apakah aku masih perlu mengonsumsi obat?" tanya Nindy, meletakkan kembali tablet itu di atas meja.
"Kau harus meminumnya. Bukankah sakitmu sering kambuh?" Lelaki itu bertanya dengan raut wajah khawatir. Ada seberkas kecemasan yang tersembunyi di wajahnya.
"Heemm, tapi itu dulu. Sejak saat itu, aku tidak pernah merasa sakit lagi. Mungkin karena aku tidak lagi telat makan dan menahan lapar, jadi sakit perutku tidak pernah datang lagi."
"Sejak kapan kau mengalaminya?" Dia bertanya lagi. Netranya menyipit, menunjukkan keseriusan akan hal yang sedang mereka bahas.
"Sejak remaja. Entahlah, aku sudah melupakannya, karena terlalu sering mengalaminya. Tetapi akhir-akhir ini, sakit itu sudah tidak pernah muncul lagi."
"Untuk itu kau tidak boleh melewatkan meminum obat." Dia menimpali.
"Iya, aku akan meminumnya."
Lelaki itu tersenyum setelahnya. Benar kata Sean, jika memiliki istri yang patuh itu menyenangkan. Tidak perlu banyak berdebat hanya untuk mempertahankan ego masing-masing. Dia melihat Nindy telah selesai meminun obat, tangannya menepuk-nepuk sisi ranjang yang kosong, memberi kode kepada Nindy agar duduk di sana.
Nindy mengulum senyum, wajahnya ditundukkan dengan menyembunyikan rona merah di pipi. Dia melangkah mendekati ranjang, duduk dengan menjulurkan kedua kaki.
"Tidurlah!"
Yang Pou Han berbaring, merentangkan tangan kanan ke samping yang biasa digunakan Nindy sebagai bantalan kepala. Perempuan itu menurut, tidur dengan posisi miring ke kiri, tangannya memeluk tubuh lelaki itu dan mencari posisi ternyamannya. Dia bisa merasakan elusan di kepala, dengan jemari lelaki itu menyisir rambutnya. Gerakan ringan dan lembut, tetapi terasa nyaman dan menyenangkan bagi Nindy.
"Yang," panggil Nindy dengan menaikkan dagunya ke atas.
__ADS_1
"Heemm." Jawaban singkat yang keluar dari bibir lelaki itu.
"Aku mencintaimu," ucapan singkat yang sering terlontar dari bibir Nindy disertai ciuman hangat di pipi lelaki itu. Dia memejamkan mata, memeluk sang suami dengan begitu erat. Tak memedulikan ungkapan cintanya yang tak pernah terbalaskan. Dia sudah tak pernah lagi mendebat tentang perasaan Yang kepadanya. Memprotes lelaki itu yang tak pernah menyatakan cinta atau sekadar membalas ungkapan cintanya.
Bagi Nindy, sikap lembut dan perhatian kecil lelaki itu kepadanya sudah cukup membuat Nindy senang. Dia akan bersabar hingga cinta itu akan datang seiring waktu.
Yang Pou Han terlihat mengulas senyum. Kendati tiada rasa lebih di hati, tetapi dia tak menampik perlakuan manis Nindy kepadanya membuat perasaan Yang Pou Han bahagia. Dia menunduk, mengecup kening perempuan itu yang kini telah terbuai, merasuk di alam mimpi. Dia mematikan lampu tidur, membiarkan cahaya remang-remang rembulan yang merasuk di celah-celah tirai jendela.
"Selamat malam," ucapnya dengan memejamkan mata, menyusul Nindy yang sudah tertidur terlebih dulu.
***
Cinta bisa menjadi sesuatu yang suci dan patut untuk diagungkan. Perasaan cinta bisa menjadikan sebuah rumah tangga dipenuhi kebahagiaan. Namun, cinta akan berubah dari sebuah perasaan suci menjadi kotoran yang menjijikkan jika dia berlabuh kepada hati yang salah. Kendati itu hanya sedikit, bahkan hanya sebesar biji jagung, jika dibiarkan berlarut-larut akan membuat malapetaka bagi siapa yang telah mengendapkannya.
Selepas subuh, Mereka tak langsung memulai aktivitas pagi. Nindy masih terperangkap di bawah kendali lelaki itu. Yang Pou Han benar-benar menepati janji. Dia tak memberikan celah bagi Nindy untuk mengistirahatkan diri. Kesungguhan untuk segera memiliki momongan membuatnya lebih gila dalam bermain di ranjang. Entah sudah berapa kali dia menyemburkan benih itu ke rahim sang istri, seolah dia memiliki stok yang melimpah dan tidak pernah ada habisnya.
"Apakah kau tidak lelah? Aku sudah mengantuk, Yang."
Dia mengusap peluh di dahi Nindy, mendaratkan satu kecupan hangat di sana. "Jangan tidur! Kau harus sarapan dulu. Sebentar lagi makanan datang."
Tak selang berapa lama, sebuah ketukan terdengar. Yang Pou Han segera bangkit, mengambil jubah handuk lalu dipakainya, mengikat dengan asal tali di pinggang dan segera berjalan ke arah pintu.
Melarang petugas masuk karena Nindy hanya berbalut selimut saja, lelaki itu memilih membawa makanannya sendiri dengan dua kali angkut. Dia menutup pintu itu segera setelah makanan telah selesai beralih di atas meja.
"Hei, makanlah! Jangan tidur!" Dia mengguncang bahu Nindy agak keras, menyadarkan perempuan itu yang hampir terbuai mimpi dengan mata terkatup.
"Emmm, sepuluh menit lagi. Aku sangat mengantuk." Nindy nampak tak kuat hanya untuk membuka mata. Dia merasa lelah sekali.
"Bangun atau aku tak membiarkan kau bangun sampai siang nanti!" Lelaki itu mengancam, membuat Nindy segera membuka mata secara paksa. Kesal, tentu saja dia merasa kesal, tetapi bayangan harus meladeni Yang Pou Han sampai berlanjut hingga siang, jauh lebih mengerikan daripada harus membuka mata untuk melakukan sarapan pagi.
***
"Apa kau bilang?"
Suara itu terdengar halus, tetapi Nindy masih bisa mendengarnya dengan baik. Matanya masih terkatup, seolah waktu tidur malamnya yang sedikit itu harus terbayarkan dengan tuntas saat siang hari.
"Baiklah. Aku akan kembali!"
Kembali? Ke mana?
Nindy segera membuka mata, mendengar kata 'kembali' yang sempat terucap ketika Yang Pou Han menerima panggilan telepon membuat pikiran Nindy terusik. Netranya tak lepas dari wajah gusar lelaki di depannya itu, membuat Nindy begitu tertarik dengan isi pembicaraan Yang Pou Han di telepon itu.
"Ada apa, Yang?"
Terlihat raut menyesal di wajah lelaki itu, menatap Nindy dengan pedih. "Maaf, aku harus pergi. Apakah kau mau menunggu di sini sampai aku datang kembali?"
Nindy nampak terkejut dengan perkataan lelaki itu. "Kembali? Ke mana?" tanyanya dengan perasaan yang campur aduk.
Yang menghela napas lesu, dia tahu apa yang menjadi keputusannya akan membuat Nindy kecewa. Namun, tiada pilihan lain selain mengatakannya. "Nyonya Bay terkena serangan jantung. Dia hampir sekarat. Aku harus menemuinya. Dokter mengatakan kondisinya kritis."
Nindy masih mematung, mendengar pernyataan yang baru saja diungkapkan lelaki itu. Sampai akhirnya kesadaran merasuk di kepalanya. "Kau akan pergi meninggalkanku ... di sini?" Netra itu menatap penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Aku akan kembali. Kau bisa berjalan-jalan atau berbelanja. Lakukan apa saja yang membuatmu senang."
Nindy menggeleng, tak menyetujui ide Yang Pou Han. Mata itu mulai berembun. Dia sudah sering kali ditinggalkan, di malam pertama, di saat dia sakit dan kini saat berbulan madu. Tidak, itu tidak boleh terjadi.
"Jangan pergi!"
"Nindy ...!"
"Kumohon!" Dia menunduk, meneteskan air mata itu di selimut yang membalut tubuhnya.
"Dia hampir sekarat. Mengertilah!" Lelaki itu masih bersuara, yang terdengar sumbang di telinga Nindy. Sekali lagi, dia harus mengalah. Ya, rasa egois untuk mendapatkan perhatian dari lelaki itu telah membuat Nindy sakit hati.
"Mengapa kau tidak mengutus asisten Lie untuk melihatnya?"
"Dia ingin menemuiku? Mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikannya."
Nindy meneguk ludah, menyeka air mata yang sudah merembes sebulir demi sebulir membasahi pipi. "Apakah itu sejenis wasiat terakhir? Apakah dia akan menitipkan Emelie kepadamu? Bagaimana jika dia menyuruhmu menikahi Emelie, apakah kau akan melakukannya, Yang?"
Rasa takut kehilangan, membuat Nindy melontarkan pertanyaan demi pertanyaan kepada lelaki itu. Kemungkinan terburuk harus dipersiapkan, menyiapkan hati juga perasaan. Bahagia? Apakah sesulit itu untuk didapatkan?
Yang Pou Han mendekat, duduk di sisi Nindy dengan mengusap bahu perempuan itu. "Aku sudah menikah. Dan aku akan mempertahankan pernikahan ini sampai kapan pun. Kau tidak perlu mencemaskan itu. Bukankah aku sudah berjanji kepadamu?"
"Tapi kau mencintainya, tidak mencintaiku. Bagaimana aku tidak gelisah?" Begitu sesak Nindy mengucapkannya. Sesulit itu kah mendapatkan balasan cinta dari suaminya?
Diraihnya tubuh Nindy, mendekapnya dalam pelukan. Bibirnya mencium kening perempuan itu, yang kini diliputi kekalutan di hati. "Aku menyayangimu. Aku tidak mungkin berbuat yang bisa melukai perasaanmu."
Dia mengusap air mata Nindy dengan ibu jarinya, membingkai wajah itu dengan kedua telapak tangannya. "Jangan memikirkan yang tidak-tidak! Aku akan segera kembali." Dia menyentuhkan keningnya ke kening Nindy, menatap sorot mata Nindy dengan dalam. "'Cause I want you. I want all of you, forever. Just you and me โฆ every day."
Mata itu terlihat berbinar, ada secercah harapan baru baginya.
"Hemm, just let me in."
"Please!"
Yang Pou Han mengangguk menyetujui. "Bersiaplah, kita berangkat setelah ini!" ucapnya seraya menghadiahi kecupan singkat di bibir Nindy.
ใBersambung ...
***
Maaf kemarin tidak update. Nyicil nulis dr kmarin tp tidak memenuhi jumlah kata, jd baru dipublish sekarang.
Ya ampun, gk up berasa kepikiran terus. Kayak sedang ditagih tukang kredit panci keliling, bikin gak bisa tidur tahu enggak.. ๐คง๐คง
Oh, ya. kita mulai konflik ya..
Gak berat kok, cuma nangsi2 dikit ๐
Biar si Yang sadar akan perasaannya ke Nindy.
Rencana sih tamat awal bulan depan, semoga kekejar ya, biar bisa rilis yang baru ๐
__ADS_1
Btw, semoga masih ada yang nungguin, meski othornya sok sibuk banget. Tp saya pastikan gk akan pernah menelantarkan karya sy meski di NT gk bersahabat dg saya.
Terima kasih yang sudah setia menunggu dan memberi dukungan, like, komentar, vote, hadiah atau apa pun itu. Terima kasih. Kalian luar biasa ๐ค๐ค