Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
40. Honeymoon Part 1


__ADS_3

Gadis kecil itu meringkuk, menyembunyikan tubuhnya di antara cekukan bangunan tua yang berada di ujung jalan. Tubuhnya gemetaran, mata sudah sembab karena air mata yang telah luruh membanjiri pipi.


Dia mengintip pada sebuah celah di papan kayu usang yang menutupi tempat persembunyiannya, yaitu pada lubang bekas paku untuk melihat apa yang telah terjadi di luar.


Ada dua orang anak laki-laki dan tiga anak perempuan yang sedang mencarinya, berteriak memanggilnya dengan sebutan-sebutan yang sangat ia benci. Dia menutup telinga, menahan suara tangis agar tidak terdengar ke luar.


Sampai papan kayu itu tersenggol oleh tangannya dan terjatuh. Kelima anak laki-laki dan perempuan itu melempar pandang ke arah papan kayu itu, dan seketika tubuh mungil itu terlihat dari luar.


Dengan tidak berperasaan, perempuan kecil itu diseret tangannya oleh mereka, mengabaikan isak tangis yang keluar dari bibit mungilnya.


"Anak pelac*r! Kau tidak pantas mamakai pakaian mahal!" Satu anak menarik pita kupu-kupu yang menempel di dadanya.


"Pakaianmu terlalu bagus. Seharusnya kau lebih gembel dari kami." Satu anak menarik aksesori bunga yang ada di pakaian gadis kecil itu.


Dia bisa mendengar gunting itu merobek pinggiran bajunya, seperti dicincang-cincang, membentuk guratan tipis-tipis tak beraturan. Dia menangis dalam ketidak berdayaan. Pakaian terbaik yang ia punya, dari hasil tabungan ibunya telah koyak tak beraturan seperti itu.


Mereka meninggalkannya dalam kondisi menyedihkan. Sebuah kotak yang berbalut kertas kado telah tegeletak di tanah. Seandainya ia ada ayah, pastinya ada yang melindunginya, pastilah ada yang memarahi anak-anak nakal itu.


Dia takut pulang. Ibunya pasti akan memarahinya. Dia hanya bisa menangis, memeluk kotak kado rusak yang akan ia hadiahkan di acara pesta ulang tahun temannya.


Tangisnya semakin pecah, ketika membuka kotak kado itu yang sudah penyot di berbagai sisi. Dia membeli kotak pensil sebagai hadiah, dan kotak pensil itu telah rusak karena injakan kaki anak-anak nakal itu.


Tubuhnya bergetar, dengan senggukan terdengar dari bibirnya.


"Hei, bangun! Kau kenapa?"


Nindy mengerjapkan kelopak mata, merasakan pipinya ditepuk oleh seseorang. Netranya langsung berhadapan pada dada bidang yang sedang berada di depan wajahnya. "Kau mimpi buruk?"


Mengucek kedua mata, Nindy berkata, "Heeem, hanya mimpi." Dia mengangguk, tetapi wajahnya masih linglung. Dahinya berpeluh, dengan tubuh yang masih gemetar.


"Yang ...!" Suaranya terdengar serak. Lelaki itu menunduk, memperhatikan wajah yang terlihat kusut itu.


"Apakah pernikahan kita akan berlanjut selamanya? Kau tidak akan menceraikan aku, 'kan?" Mimpi buruk itu membuatnya takut, jika suatu saat dia hamil dalam kondisi terlantar.


"Mengapa aku harus menceraikanmu? Sampai detik ini nenidurimu masih terasa paling enak." Lelaki itu masih sekenanya menjawab pertanyaan Nindy.


"Aku serius, Yang. Jangan bercanda!" Nindy bangkit dari posisi tidur menjadi duduk. Menarik selimut, menutupi tubuh uriannya hingga sebatas dada.


Lelaki itu turut mengikuti, duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dia menyentuh bahu Nindy, membuat perempuan itu menoleh kepadanya.


"Aku serius denganmu. Untuk itu aku menginginkan anak darimu. Bukan dari wanita lain. Kau mengerti?"


Netra bulat itu berbinar, berkilauan. Senyum mengembang di bibirnya. Dia menghamburkan diri, memeluk tubuh lelaki itu dengan erat. "Aku mencintaimu." Kendati Yang Pou Han tak pernah sekalipun membalas ungkapan cintanya, tetapi Nindy masih saja mengucapkan itu. Dia berharap, suatu saat cinta hadir dengan sendirinya.


***


Sebuah keterikatan antara satu orang dengan orang lain, membuat sebuah simpul yang akan membawa mereka sampai ke masa depan.


Seyogyanya sebuah cinta, hubungan tak kasat mata yang membuat sebuah ikatan dan ketertarikan yang tidak bisa dimengerti hanya dengan mata telanjang. Cinta hanya bisa dirasakan, kendati bibir tak mampu mengucapkan. Cinta hanya bisa dipahami dengan hati, kendati pikiran masih belum menyadari.


Dua buah koper telah diseret oleh seorang laki-laki berkacamata hitam, dengan ear piece yang tersemat di telinga. Sementara si pemilik koper sedang berjalan di depan dengan tangan si wanita memeluk lengan si pria.

__ADS_1


Jadwal keberangkatan penerbangan lima belas menit lagi. Mereka akan melakukan penerbangan ke Bali. Alih-alih ke Maldives, mengeksplore pulau tak berpenghuni, mereka justru memutuskan untuk mengunjungi pulau dewata. Ya, Nindy ingin sekali ke Bali, sebagai destinasi pertama mereka berbulan madu.


Mereka memakai jasa penerbangan first class, atau sejenis VVIP yang langsung menuju ke badar udara internasional Ngurah Rai.


"Apakah kita akan berjumpa Salwa nantinya?"


"Tidak tahu. Aku sedang malas bertemu Sean. Sebaiknya kita tidak perlu bertemu mereka."


Nindy mengangguk pasrah. Yang Pou Han belum menceritakan kisah rumit mereka kepada Nindy, sehingga perempuan itu hanya bisa mengangguk dengan menahan banyak pertanyaan di kepala.


Butuh waktu sekitar empat jam lebih empat puluh lima menit, hingga burung besi raksasa itu mendarat sempurna di badara internasional Ngurah Rai Bali. Yang Pou Han mengajak asisten Lie dan dua orang bodyguard yang berguna membantu membawa barang bawaan mereka.


Nindy tampak menghirup udara luar yang sangat dirindukannya, kendati dia bukanlah orang Bali, tetapi tetap saja Bali masih merupakan dalam kawasan Indonesia.


"Sudah cukup, tidak perlu mendramatisir. Kau tidak mungkin merindukan kampung halamanmu yang penuh dengan derita itu, 'kan?" Suara Yang Pou Han yang seketika berhasil membuat mood Nindy hancur itu terdengar menyebalkan. Lelaki itu sama sekali tidak bisa bersikap romantis kepada Nindy. Sialnya, dia malah mencintai lelaki itu, lelaki menyebalkan dan menjengkelkan, tetapi selalu ia rindukan.


Pakai pelet apa, sih!


Yang Pou Han berjalan beriringan di samping Nindy. Tiada genggaman tangan, atau pelukan mesra di bahu. Dia berjalan seperti layaknya teman yang sekadar saling mengenal dan tiada hubungan lebih. Sungguh hambar perilaku lelaki itu.


Sebuah taksi sudah dipesan oleh asisten Lie. Berhenti tepat di depan lobby.


Dengan sopan dan cekatan, sopir taksi itu membukakan pintu untuk pelanggannya.


Nindy masuk terlebih dulu, dan diikuti Yang Pou Han di belakangnya. Asisten Lie dan dua orang bodyguard Yang Pou Han juga menaiki taksi yang berbeda untuk menuju ke destinasi pertama mereka, Kuta Bali.


Butuh sekitar dua puluh menit hingga mereka berada di depan lobby hotel berbintang lima, ******* Bali. Mereka disambut dengan baik, dengan porter yang membawakan barang-barang mereka, serta ditemani seorang bell boy untuk menunjukkan kamar yang telah dipesan.


Matanya terpejam sembari merasakan nikmatnya kehidupan yang akhir-akhir ini ia rasakan. "Kau senang?"


Nindy membuka mata, ketika suara itu menggema di telinga. Dia terkekeh, nampak malu-malu mengakui. "Terima kasih. Aku senang."


"Kau ingin tidur, atau berenang?"


"A-Apa? Berenang?" Nindy segera bangkit dari tidurnya, dia menatap ke arah luar jendela. Matanya terpaku pada kolam renang yang berada di lantai bawah.


"Tidak, sepertinya tidak akan menyenangkan." Pasti banyak lelaki bertelanjang dada di sana, dan itu membuat Nindy tidak nyaman.


"Tapi aku ingin berenang." Dia melemparkan sebuah tas kertas kepada Nindy. Segera dibukanya tas kertas itu dengan penasaran. Nindy menelan ludah, ketika tangannya memegang sebuah pakaian renang two pieces mini, yang sering mereka sebut sebagai bikini.


"Kau gila. Aku tidak mau mengenakan pakaian seperti ini untuk berenang."


"Tapi aku ingin."


"Aku tidak mau. Kau ingin tubuhku dijadikan tontonan orang-orang itu." Nindy berdecak kesal, dia tidak menyangka Yang Pou Han akan memaksanya mengenakan pakaian seperti itu di depan banyak orang. Itu sama saja melukai harga dirinya sebagai seorang istri dan wanita.


"Siapa yang menyuruhmu pamer tubuh di depan semua orang?"


"Kau yang menyuruh." Nindy masih tetap mempertahankan pendapatnya.


"Aku tidak menyuruhmu melakukannya. Aku hanya ingin kau berenang mengenakan itu."

__ADS_1


"Ckk, sama saja."


"Lalu, kau mau memakai apa?"


Dia terdiam. Tidak menyangka akan ada ajakan berenang, padahal mereka baru saja sampai. Ingin menolak, tetapi suami meminta. Dia harus bagaimana?


Yang Pou Han melangkah mendekat, mengambil pakaian renang minimalis itu. Dia meraih tangan Nindy, lalu meletakkan pakaian itu di telapak tangan sang istri. "Pakai atau kutinggal kembali ke Hong Kong."


***


Nindy berada di puncak gedung dengan Yang Pou Han berjalan di depannya. Dia tidak mengira lelaki itu malah menyewa kolam renang untuk acara bulan madu mereka. Ya, kolam renang itu berada di puncak gedung hotel *******. Namun, tetap saja, jika ini adalah tempat terbuka, kendati hanya ada mereka berdua.


Dengan tidak tahu malu, Yang membuka jubah handuknya dan menyisakan sepotong kain yang hanya membalut bagian pribadinya saja. Nindy memalingkan muka, lelaki itu memang urat malunya sudah putus.


Kolam renangnya cukup luas, dengan dinding kaca di bagian ujung, membuat siapa saja yang berenang di dalamnya nampak seperti berenang di udara. Terdapat rest area yang diletakkan beberapa pasang tempat pembaringan di sisi kanan dan kiri kolam renang dengan diteduhi payung-payung cantik berwarna putih yang manancap kokoh di antara pembaringan itu.


Pohon-pohon berdaun sedikit juga tumbuh di sana. Nindy sempat berpikir, bagaimana pohon bisa tumbuh di atas gedung seperti itu? Mereka menanamnya di atas tanah, bukan di dalam pot, dan itu cukup membuat otak Nindy bekerja dengan keras karena memikirkannya.


Di salah satu rest area terfavorit, telah tersaji beberapa hidangan makan siang. Ternyata Yang Pou Han sudah menyiapkan ini sebelumnya. Ada rasa bahagia ketika dirinya menyadari jika suaminya itu ternyata 'manis'. Kendati sifat pelit selalu ditunjukkan kepadanya, tetapi dia cukup baik dan penuh kejutan.


"Jangan hanya melamun. Ganti pakaianmu. Aku tunggu di dalam." Lelaki itu berjalan kemudian, melangkah ke arah kolam renang, melakukan gerakan pemanasan sebelum menceburkan diri ke dalam air.


Nindy meremas kostum renang yang dipilihkan Yang Pou Han untuknya.


Dasar lelaki mesum. Bagaimana dia bisa berpikir memberikan kostum kurang bahan seperti itu?


Tiada pilihan lain, selain mengenakannya.


Sekitar sepuluh menit berada di ruang ganti, Nindy akhirnya keluar dengan mengenakan jubah handuk panjang. Dia mencepol rambutnya dengan beberapa anak rambut terurai di sisi kanan dan kiri pelipisnya.


Dia ragu, ketika kakinya berada di depan kolam renang itu. Yang Pou Han sepertinya tak mau menunggu, lelaki itu tampak berenang dari kejauhan.


Nindy memilih duduk dengan menceburkan kakinya saja. Membiarkan kedua kaki itu terendam air dengan sedikit menggerak-gerakkan ke depan secara bergantian, menimbulkan cipratan-cipratan air yang terusik di dalam kolam air itu.


Kedua tangannya menopang ke belakang, dengan wajah menengadah, memandang langit yang terasa lebih dekat dengannya. Dia memejamkan mata, merasakan udara segar yang terbebas dari pencemaran udara. Bibirnya mengulum senyum, terlihat begitu damai. Hingga sebuah tangan menarik kakinya secara paksa, membuat Nindy terkejut dan berteriak seketika.


"Aaahhgggh ...!"


Suara Nindy tertelan oleh suara air kolam, yang mana dengan paksa dirinya tercebur ke dalamnya. Dia tergagap, terkejut dengan tarikan kaki yang tiba-tiba itu, dengan tubuh yang hampir tenggelam, jika sebuah lengan tidak menahan tubuhnya agar tetap melayang di tengah-tengah air.


Nindy mengusap wajahnya yang basah kuyup, mengerjapkan matanya yang terasa perih. Dia ternganga melihat senyum menjengkelkan dari wajah lelaki itu. "Dasar! Kau menyebalkan! Aku hampir mati, tahu." Nindy memukul-mukul dada lelaki yang tengah menahan tubuhnya itu.


Dia terkekeh, melihat reaksi Nindy yang berlebihan itu.


"Kau lama sekali. Aku menunggumu sejak tadi."


Dia mengerutkan dahi, melihat Nindy masih mengenakan jubah handuknya. "Apakah muat? Aku belum melihatnya."


Dia meraih tali ikat handuk itu yang terendam di dalam air, tetapi Nindy menahannya. "K-kau mau lihat apa?"


Dengan senyum nakal, dia mengabaikan pertanyaan Nindy, menarik tali itu, lalu membuka jubah handuk yang membalut tubuh berpakaian renang pilihannya itu secara paksa. Nindy mendelik seketika, memprotes tindakan Yang Pou Han kepadanya. Dengan sigap dia segera menyilangkan kedua lengannya menutupi dada.

__ADS_1


"Kau tidak mungkin berenang menggunakan handuk, 'kan?" Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Nindy, membisikkan sesuatu setelah melempar handuk basah itu secara asal, dan hal itu berhasil membuat Nindy merinding. "Aku mengajakmu ke sini bukan hanya untuk berenang, tetapi kita juga akan melakukan hal lain di sini," ucapnya dengan senyum mencurigakan.


__ADS_2