
Di meja makan itu, telah tersaji hidangan untuk sarapan pagi dengan Nindy, Yang Pou Han, dan Anya telah duduk mengitari meja oval tersebut. Hening suasana tercipta, hanya ada suara gesekan sendok dan garpu yang menari-nari di atas piring.
Sesekali suara tawa Anya yang sedang belajar makan di kursi bayinya terdengar mengiringi makan pagi mereka. Nindy tampak sabar mengajari batita itu untuk memakan makanannya sendiri. Ya, Anya terlihat antusias mengambil potongan-potongan pisang itu untuk dimasukkan ke dalam mulutnya menggunakan tangan.
Ekspresinya lucu dengan mulut belepotan akan pisang masak yang telah dimakannya. Sesekali Yang Pou Han terkekeh di sela makannya, melihat tingkah menggemaskan Anya ketika menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Gadis kecil Yang Pou Han sudah pintar makan menggunakan tangan sendiri.
Keluarga Yang Pou Han tampak harmonis, tiada pertengkaran atau pun suara teriakan di rumah itu. Yang ada hanya tawa serta senyuman yang mengiri hari-hari lelaki itu. Sedikit perselisihan terkadang terjadi, tetapi semua itu dengan cepat teratasi lantaran Nindy adalah tipe pengalah. Perempuan itu lebih mudah mengendalikan lelaki itu dengan sifat lembut dan penyayang yang tersembunyi dalam dirinya.
Seperti ketika Yang Pou Han kesal karena Nindy lupa meletakkan dasi favoritnya. Yang Pou Han ingin marah, tetapi urung dilakukan setelah melihat tanggapan Nindy ketika menyesali keteledorannya.
"Maaf, aku memang tidak pintar. Menjaga dasimu saja aku tidak becus. Aku sering melupakan hal-hal penting seperti itu. Mungkin aku memang tidak pantas untuk bersanding denganmu. Kau terlalu pintar, sementara aku ...."
Perkataan Nindy yang selalu merendah diri di depan Yang Pou Han membuat lelaki itu tidak tega jika harus memarahinya. Dan sepertinya Nindy mengetahui kelemahan lelaki itu, hingga pertengkaran jarang terlihat dalam rumah tangganya.
Lelaki itu pasti menghela napas setelahnya, merasa kasihan kepada Nindy. Sampai perdebatan masalah dasi atau apa pun itu, bisa berakhir menjadi saling memeluk atau bahkan saling menghangatkan di atas ranjang.
Menyelesaikan makannya, Yang Pou Han mengusap bibirnya menggunakan sapu tangan yang tersedia di atas meja. Dia bangkit dari duduknya, melangkah ke arah Anya yang baru saja meminum susu dari gelas bayi. Nindy menyapukan bekas susu di mulut Anya dengan tisu, dan disambut gelak tawa oleh Anya.
Gadis kecil itu diangkat Yang Pou Han, lalu menggendongnya. Rutinitas pagi sebelum lelaki itu berangkat bekerja, yaitu menggendong Anya hingga teras rumah diikuti Nindy di sampingnya.
Dua kecupan hangat dilabuhkan Yang Pou Han di pipi gembul Anya. Gadis kecil itu tergelak lagi, menggerak-gerakkan tangannya ke atas dan ke bawah, berupaya menggapai wajah sang Papa.
"Papa kerja dulu, ya?"
Nindy meraih tangan lelaki itu, menyentuhkan punggung tangan Yang Pou Han ke keningnya. "Hati-hati, ya?" ucap Nindy seraya mengambil alih Anya dari tangan suaminya itu.
Yang Pou Han tersenyum, mencium sekilas kening Nindy. "Aku akan pulang cepat."
__ADS_1
Nindy mengangguk menanggapi. Yang Pou Han memang sering kali mengatakan hal itu, tetapi lelaki itu juga sering melupakannya. Namun, Nindy tidak pernah mempermasalahkan hal itu, karena dia tahu pekerjaan Yang Pou Han sangat banyak. Tanggung jawab lelaki itu terlalu berat hingga menghabiskan hampir keseluruhan waktunya untuk memikirkan perusahaan.
Tepat ketika lelaki itu akan masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya dengan seorang sopir yang duduk di depan, ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk.
Yang Pou Han merogoh saku jasnya, mengambil ponsel itu untuk menjawab panggilan.
"Ya," ucapnya ketika panggilan telah terhubung dengan benar.
"Apa?"
Wajah lelaki itu berubah tegang mendengar penjelasan dari seseorang di seberang sana. Entah apa yang mereka perbincangkan, yang jelas raut muka Yang Pou Han membuat Nindy penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ada apa, Yang?" tanya Nindy kemudian, berjalan maju mendekati Yang Pou Han dengan membawa Anya dalam gendongannya.
"Akmal Arrayan, dia kritis. Apakah kau ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali?"
"Apa?"
Ya, kabar buruk itu menggemparkan hati Nindy. Antara kesal dan rindu, antara benci dan sayang, seolah perbedaan itu hanya dipisahkan oleh garis tipis yang tak kasat mata, hingga perbedaan itu tak lagi menjadi penghalang.
"Aku tidak memaksamu, jika kau tidak ingin menemuinya. Akan tetapi, aku takut jika kau menyesalinya karena tidak sempat melihat dia untuk terakhir kalinya."
***
Waktu terus berputar, bergelincir dengan cepat. Menggasak kejadian-kejadian yang hampir luput dari ingatan. Tak ada sesal atau pun kekecewaan yang sempat terutarakan, semua akan berakhir dengan satu kata yang hampir semua manusia menantikan atau bahkan menghindarinya, kematian.
Nindy berlari menelusuri lorong-lorong itu. Mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang sedang memandanginya. Air mata luruh membasahi pipi, dia mengabaikannya. Tak sempat untuk berbenah diri, seolah ada sang waktu yang sedang berkejaran dengan dirinya. Siapa yang lebih cepat, dialah pemenangnya. Dan siapa yang lambat, akan menyesal di ujung penantian.
__ADS_1
Kakinya terhenti ketika berada di depan ruangan itu. Ruangan sunyi yang tertutup rapat dengan kelambu hijau bertengger menutupi jendela kaca. Tangan Nindy bergetar, ketika hendak menyentuh kenop pintu. Dia sempat mengusap bekas air mata yang sudah membasahi wajahnya. Degup jantungnya berdetak keras, mengatur ritme yang sempat berpacu seiring dia berlari menuju ruangan itu.
Pintu itu terbuka sendiri. Ternyata Adnan sudah lebih dulu sampai menemui Akmal. Saudaranya itu keluar dengan mata sembab. Ikatan batin antara seorang anak dengan orang tua memang kuat, kendati mereka tak pernah bersua sekalipun.
Nindy bisa melihat Adnan berusaha tegar dengan melebarkan senyum terpaksa kepadanya. Dia mengangguk kemudian, membiarkan Nindy masuk ke dalam ruangan itu.
"Sebelum kritis, dia sempat meminta ingin bertemu denganmu. Dia ingin meminta maaf. Dia menantimu, Nindy." Sebuah tepukan di bahu Nindy didaratkan oleh Adnan, menyadarkan perempuan itu dari lamunan yang entah apa itu. Seolah pikirannya sedang berkecamuk tanpa henti. Ya, Nindy tak sanggup mengondisikan dirinya saat ini.
"Masuklah! Dia menanti kedatanganmu," ucap Adnan kemudian.
Nindy mengangguk. Perlahan dia memasukkan tubuhnya ke ruangan itu, memakai pakaian steril dengan masker rangkap yang telah disediakan oleh rumah sakit.
Bunyi detak jantung Akmal dari monitor itu terdengar lemah, saturasinya juga terdengar berat. Air mata Nindy mengalir lagi, ketika melihat begitu mengenaskannya kondisi lelaki yang sedang terbaring di depannya itu.
Tubuh kurus tak berpakaian, hanya tertutup bagian bawahnya saja dengan celana rumah sakit. Bagian atasnya sengaja dibuka dengan banyaknya kabel-kabel penunjang kehidupan berserakan di atasnya, terlihat rumit dan mengerikan. Matanya terkatup rapat dengan mulut ternganga menghadap ke atas.
Nindy mendekat, menyentuhkan tangannya ke tangan kurus itu. Untuk pertama kalinya, tangan seorang Anak telah bersentuhan dengan tangan seorang Ayah. Hati Nindy bergemuruh, perasaan asing yang membelenggu dengan segenap kobaran emosi siap meledak saat itu juga.
Dia terguguk dalam tangisnya, tak kuat menahan perasaan yang hampir tersulut bagaikan lecut. Tubuhnya luruh ke lantai, kakinya melemas tak sanggup menopang beban tubuhnya. Emosional yang telah menguasai Nindy tak bisa dilawannya. Dia menangis tersedu-sedu. Rasa marah, kecewa, benci, dan dendam seolah lebur menjadi sebuah penyesalan. Mengapa takdir mereka seperti ini? Mengapa harus berakhir seperti ini?
Nindy berusaha menguasai keadaan. Menghapus air mata yang mengalir deras dengan punggung tangan. Dia menegakkan tubuhnya seketika, berusaha tersenyum kendati sulit dilakukan.
"Pergilah dengan tenang. Aku Nindy, memafkan semua kesalahanmu, Ayah."
Panggilan Ayah yang merupakan panggilan pertama dan juga terakhir Nindy kepada seorang Akmal Arrayan. Lelaki itu tampak menitikkan air mata yang luput dari pandangan Nindy. Perempuan itu terlalu fokus dengan tangisnya, hingga tak menyadari sebuah air mata kebahagiaan yang lolos dari pelupuk mata lelaki tua itu.
Sampai di saat suasana haru itu terjadi, Akmal menegang, saturasinya tampak tak terkendali. Nindy panik, dia memanggil-manggil dokter, berteriak kencang sembari menekan tombol emergency.
__ADS_1
Seorang Dokter dan Perawat telah datang menghampiri, memeriksa kondisi Akmal dengan teliti. Dan sampailah ketika tubuh tegang dan kejang itu mulai tenang bersamaan embusan napas terakhir yang sempat dilakukan, Dokter itu mengucapkan satu kalimat yang membuat rasa sesak di dada Nindy semakin meradang.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Dokter itu mengusapkan telapak tangannya ke kening Akmal menuju mata, memejamkan mata lelaki tua itu yang sempat terbuka ketika tubuhnya mengejang tadi. "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dia berasal dari Allah, dan akan kembali kepada pemiliknya. Bersabarlah, Nona. Tuan Akmal telah diambil Yang Kuasa."