
Nindy keluar dari mobil itu, menatap takjub ke arah depan di mana gedung besar itu menjulang tinggi, berdiri dengan kokoh seolah sedang menatap remeh gedung-gedung yang lebih rendah di sekitarnya.
Gedung itu nampak megah, menjulang tinggi dengan total seratus lantai. Sebuah hotel berbintang lima yang masih belum dibuka untuk umum, yang merupakan proyek milik keluarga Paderson. Yang berencana mengadakan pesta pernikahan di lantai atas gedung ini dan dilakukan secara tertutup.
"Tutup mulutmu itu! Jangan membuat wajahmu bertambah jelek!" Lelaki itu menyadarkan Nindy yang tanpa terasa membuka mulutnya, ternganga dengan bangunan tinggi di depannya.
Dia tersenyum kecut, menatap kesal ke arah Yang Pou Han. Lelaki itu selalu saja menghinanya jelek. Kalau tahu jelek harusnya tidak perlu dinikahi, bukan?
Keduanya melangkah melewati lobby dan disambut ramah oleh resepsionis. Yang mengeluarkan black Card yang merupakan kartu khusus untuk tamu VVIP yang diberikan Sean kepadanya. Hanya pemegang kartu itu yang bisa menyewa presidential suite room tanpa harus mengantre.
Namun, kali ini mereka sedang tidak melakukan penyewaan kamar, tetapi melihat aula serba guna yang ada di lantai paling atas gedung itu untuk melangsungkan acara pesta pernikahan.
Seorang laki-laki berpakaian formal, dengan berusia sekitar empat puluh tahun, nampak matang dan berkarisma mendatangi Yang Pou Han. Mereka bersalaman kemudian seraya saling menyunggingkan senyum ramah.
Yang menoleh ke arah Nindy, sedikit menundukkan wajah untuk membisikkan sesuatu.
"Jangan ke mana-mana. Gedung ini cukup luas. Aku tidak ingin kau repotkan dengan harus mencarimu. Mengerti?"
Nindy mengangguk kemudian. Tidak mungkin dia ke mana-mana karena dia tidak hafal dengan bangunan besar itu.
Yang meninggalkannya sesaat. Melakukan perbincangan serius dengan seseorang yang nampak seperti eksekutif muda. Mereka berbicara dengan jarak sedikit jauh dari tempat Nindy berada.
Nindy menatap lelaki itu yang kini telah menjadi suaminya dengan pandangan kagum. Ternyata jika dilihat-lihat, dia cukup tampan, dan mungkin Nindy merasa lelaki itu semakin hari semakin tampan saja.
Wajah Nindy merona ketika membayangkan ketampanan suaminya. Dia menggeleng cepat kemudian.
Sampai ketika rasa bosan mulai menghinggapinya. Dia mengetik pesan kepada Yang Pou Han. Meminta izin untuk berjalan-jalan sebentar. Lagi pula, sepertinya perbincangan kedua pria itu belum juga berakhir dan akan semakin panjang juga lama. Tidak ada salahnya bukan jika Nindy melihat-lihat bangunan mewah itu?
********
"Kita memang mau ke mana sih?" Wanita berhijab itu nampak penasaran dengan ke mana mereka akan pergi.
Sean menutup mata Salwa menggunakan kain hitam yang ia ikat di belakang kepalanya, menuntun perlahan dengan memegangi tangan kiri dan lengan kanan Salwa dengan posisi tangan melingkar ke belakang.
Lelaki itu membuat sedikit kejutan untuk sang istri. Kehamilan Salwa yang baru berusia tiga bulan membuat lelaki itu tak bisa meninggalkan Salwa dan berjauhan dengannya. Hingga ketika ada urusan bisnis seperti saat ini, dengan sangat terpaksa dia harus memboyong Salwa juga putra sulungnya.
Pengalaman pernah mengalami keguguran diusia kandungan tujuh bulan membuat Sean sangat protective menjaga kandungan sang istri.
Sean membuka kain penutup di mata Salwa, membiarkan perempuan itu membuka mata, melihat apa yang telah dipersiapkan untuknya.
"Surprise!"
Bulu mata lentik itu mengerjap, menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk di indra pengelihatannya. Dan ketika semua telah nampak di netra beningnya, Salwa ternganga lantaran terpukau dengan apa yang terpampang di depannya.
__ADS_1
"Wauw! Ini sangat indah!" ucapnya seraya menatap ke arah Sean.
Lelaki itu menyentuh kedua bahu Salwa, memosisikan tubuhnya di belakang sang istri.
"Kita memiliki kesempatan melihat tempat ini terlebih dulu sebelum ada pengganggu lain yang akan membuat tempat ini terkontaminasi dengan nasib sial mereka," ujar Sean dengan mengedipkan sebelah matanya.
Salwa terkekeh kemudian. Bagaimana nasib sial bisa membuat suatu tempat terkontaminasi?
Dia menatap sekali lagi ruangan yang luas itu. Yang sepertinya satu lantai khusus sengaja digunakan sebagai aula, tanpa sekat .
Masih dengan ekspresi takjub dengan apa yang ia lihat, Salwa memperhatikan setiap sudut ruangan itu. Dekorasinya bergaya retro, tetapi justru terlihat unik dan sangat mengagumkan. Panggung besar yang terletak di bagian ujung yang nanti akan menjadi pusat perhatian semua orang. Salwa merasa mereka sedang berada di area konser musik indoor.
"Ini adalah aula yang mungkin ke depannya akan kami sewakan, tetapi saat ini aku ingin mengajakmu menikmati tempat ini secara eksklusif, hanya kita berdua," ucap Sean lembut dengan memeluk pinggang Salwa yang terasa semakin lebar dan berisi.
Wanita itu menoleh ke belakang, menatap Sean yang sedang memeluknya. "Eksklusif?"
"Iya, hanya kita berdua. Tidak ada yang lain. Apakah kau siap?"
Dengan isyarat mata, tanpa perlu berkata, semua lampu padam seketika. Salwa nampak terkejut karena semuanya gelap gulita. Tepat ketika lampu itu padam, pinggangnya telah ditarik oleh seseorang. Dia hampir menjerit, tetapi dengan sigap lelaki itu menenangkannya.
Dan sampailah lampu sorot atau biasa dikenal dengan spot light menyala begitu terang ke arah Sean yang sedang memeluk Salwa. Wanita itu mengernyit, terlalu silau dengan pendaran lampu sorot yang mengarah kepadanya.
Suara musik tiba-tiba terdengar dengan mendayu-dayu diiringi lagu romantis yang membuat semua orang terhipnotis kala mendengarnya. Hingga wanita itu tak sanggup untuk menyembunyikan senyum yang bertengger di bibirnya.
"Bisa kita mulai?" bisik Sean dengan wajah menunduk, menatap wajah Salwa yang sudah membias dengan semburat rona merah.
Lelaki itu mengangguk, seraya mengulas senyum teduh yang menghanyutkan siapa saja yang telah beruntung mendapatkan senyum itu. "Mari kita berdansa!"
Seketika perempuan itu ikut tersenyum, menggigit bibir bawah lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Apakah tidak ada yang melihat kita?" tanya Salwa kemudian, dan segera mendapatkan gelengan oleh lelaki itu.
"Jika ada yang berani melihat kita, aku akan membunuhnya."
"Mas!" Sontak wanita itu berteriak, tidak menyukai ucapan menyeramkan yang terloontar dari mulut suaminya. Sean hanya terkekeh, lalu mendaratkan kecupan hangat di dahi Salwa.
"Aku hanya bercanda. Mungkin aku akan memotong gajinya jika mereka mengintip kita," ucap Sean kemudian karena tidak ingin berdebat dengan Salwa.
Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang Salwa, sementara kedua tangan Salwa melingkar di leher lelaki itu. Tatapan mereka saling bertabrakan, dengan senyum yang tak kunjung pudar di bibir keduanya . Mereka larut dalam alunan musik di bawah cahaya lampu sorot yang mengikuti arah pergerakan mereka yang tenang.
Hingga sampailah ketika lelaki itu menundukkan wajahnya, menyapukan pandangannya ke arah bibir yang selalu nampak menggoda di netranya.
Dia menahan tengkuk Salwa, hingga perempuan itu menengadah menatapnya. Hanya dalam hitungan sepersekian detik, bibir lelaki itu sudah membenam, tertancap di sana. Menikmati bibir lembut dan sedikit basah yang selalu berhasil memabukkan dirinya.
__ADS_1
Hingga keduanya terlarut dengan pergulatan bibir itu, dan terlupa jika mereka berada di dalam aula.
Di balik pilar-pilar yang menjulang tinggi, tampaklah seseorang yang tanpa sengaja mengintip kemesraan sepasang suami istri itu. Dia menelan ludah beberapa kali melihat bagaimana tuan Paderson tidak bisa melepaskan pagutan bibirnya dari bibir istrinya.
Ia pernah melihat adegan ciuman di film-film luar negeri. Namun, melihat dengan mata kepalan sendiri bagaimana pertautan bibir yang begitu erotis dengan saling beradu tanpa ingin saling melepas membuat tubuhnya panas dingin.
Perempuan itu bersembunyi dengan membalikkan badannya di antara pilar-pilar pembatas sebagai sandaran punggungnya. Degub jantungnya berdetak tidak beraturan, tangannya menyentuh bibirnya sendiri. Ia belum pernah merasakan berciuman seperti itu, ada rasa aneh yang menjalar di sekujur tubuh saat ini.
Tanpa ia sadari, sebuah tangan menariknya, menahan tubuhnya hingga ia terimpit di pilar yang paling besar.
"Yang!" pekiknya ketika menyadari siapa yang telah mengimpit dirinya. Ya, perempuan itu adalah Nindy yang tanpa sengaja menaiki lift sampai ke lantai paling atas. Jiwa penasarannya dengan tempat yang akan dijadikan resepsi pernikahan mereka membuat Nindy berada di tempat itu. Entah bagaimana bisa dengan cepat Yang Pou Han telah berhasil menemukannya.
Bahu Nindy tak bisa digerakan lantaran Yang Pou Han sudah menahannya. Dia tak bisa bergerak kendati tubuhnya memberontak. Yang Pou Han telah menguncinya dengan tangan dan juga kaki.
"Apakah kau sangat penasaran dan ingin tahu rasanya berciuman?"
Dia menggeleng kemudian. Sangat memalukan jika dia sampai ketahuan mengintip sepasang suami istri yang sedang bermesraan seperti itu.
Namun, sebelum dia menjawab dengan perkataan, lelaki itu sudah membenamkan bibirnya di sana.
Matanya membulat sempurna, ketika Yang tanpa aba-aba menanamkan bibirnya tepat di bibir Nindy. Dimulai dari kecupan ringan di tengah, menyecap di sudut bibir hingga pergerakannya mulai sedikit liar.
Nindy tampak melenguh ketika dia merasakan bibir atas dan bawahnya dilum*** habis-habisan oleh lelaki itu. Suara asing yang keluar dari bibir Nindy membuat darah lelaki itu berdesir. Memercikkan nafsu yang mulai berkobar dalam diri.
Ditekankan tangannya pada tengkuk Nindy hingga gadis itu mengangkat wajah. Mulutnya sedikit terbuka memberikan akses lidah lelaki itu untuk menelusup ke dalamnya. Menjelajah rongga mulut Nindy, memberikan sensasi liar bercampur nikmat yang membuat gadis itu tak mampu untuk mengimbangi.
Nindy merasakan lidah itu menyapu, membelai lembut permukaan bibir atas dan bawahnya. Lelaki itu begitu piawai dalam melakukannya, menaklukan bibir yang terasa lembab dan kenyal, hingga lidah itu kembali maju, membuat gerakan menggoda di dalam rongga mulut Nindy.
Lelaki itu bahkan tidak memberi ampun, kendati Nindy sudah tak mampu untuk menopang tubuhnya sendiri jika saja tangan Yang Pou Han tak menahan tubuh gadis itu.
Tak sampai di situ, tangan lelaki itu bergerak naik, menelusup di bawah pakaian atas Nindy, mengusap perut gadis itu yang menegang. Bersamaan dengan itu, dia semakin memperdalam ciumannya.
Dorongan tangan yang merupakan pertahanan terakhir Nindy yang berada di dada Yang kini runtuh sudah. Tangan itu terkulai lemas dan berubah menjadi cengkraman di kemeja Yang seolah tubuhnya menginginkan lebih. Ia tidak berdaya hanya dengan ciuman yang tak kunjung berkesudahan itu, membuatnya hampir gila dan membenci pikirannya sendiri.
Yang melepaskan pagutan bibirnya kemudian ketika ia merasakan sesuatu yang tak biasa dalam dirinya. Lelaki itu berdehem sejenak, sementara Nindy menunduk menahan rasa malu yang merayapi hatinya.
Yang Pou Han nampak mengatur napas yang tersenggal, lalu mengusap bibir gadis itu yang terlihat sedikit membengkak karena ulahnya.
"Kau sudah merasakannya bukan, apa itu namanya berciuman," bisik lelaki itu dengan suara yang teramat parau.
"Ini adalah hukumanmu. Kau tidak mendengar perintahku untuk tetap diam dan menunggu. Jika kau berulah lagi, maka kau akan mendapatkan yang lebih dari ini."
Lelaki itu melepaskan cekalan tangannya dari tubuh Nindy. Dia pergi begitu saja ketika selesai mengatakan hal itu, meninggalkan Nindy yang masih syok dan berdiri mematung di belakang pilar besar itu.
__ADS_1
Nindy menatap punggung Yang, lelaki yang sudah menjadi suaminya itu yang makin lama menjauh darinya lalu menghilang di balik pintu. Ia menyentuh bibirnya di mana bibir suaminya telah mendarat dan memberikan pengalaman baru baginya. Degub jantungnya terasa semakin keras, seolah sedang berpacu dengan waktu dan saling berkejar-kejaran.
Perasaan apa ini? Apakah ini yang dinamakan cinta?