Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
59. Rasa Bahagia


__ADS_3

Bait-bait puisi panjang, tak mampu untuk menggambarkan perasaan itu. Seorang laki-laki yang mendambakan janin tumbuh di rahim sang istri untuk sekian lamanya menanti.


Cinta bagaikan sebuah anak panah, yang sekali terlepas akan menancap ke satu tempat yang dikehendaki. Dia akan tetap di sana sampai kapan pun tanpa takut akan berkarat.


Cinta seorang calon ayah untuk sang buah hati. Buah cinta atas pernikahan yang suci, yang semakin lama terasa semakin besar dan menggebu. Terlalu dalam dan semakin dalam mengiringi sebuah kehidupan baru akan terlahir di dunia ini.


Yang Pou Han merangkul bahu Nindy, ketika mereka sudah turun dari pesawat di bandar udara Internasional Hongkong. Senyum tak henti-henti bertengger di bibir keduanya. Rasa cinta semakin dalam bersamaan benih cinta yang sudah menumbuh di perut sang istri.


"Sebelum pulang, apakah kau menginginkan sesuatu?"


Nindy menggelengkan kepala. Dia terlihat memijit pangkal hidungnya, "Tidak, aku hanya ingin beristirahat saja. Entahlah, aku merasa sedikit lelah. Aahh ...!" Tanpa peringatan terlebih dahulu, lelaki itu sudah mengangkat tubuh Nindy, menggendongnya di depan umum, mengabaikan tatapan orang-orang di sekitarnya, sehingga membuat rona merah di wajah Nindy semakin ketara.


"Yang, aku bisa jalan sendiri." Nindy sedikit memukul dada lelaki itu, dia cukup malu dengan sikap Yang Pou Han yang sangat berlebihan itu.


"Sean sering melakukan ini kepada istrinya saat hamil. Aku ingin mencobanya kepadamu."


"Tapi kopernya?"


"Asisten Lie yang akan mengambilnya. Jangan mencemaskan hal lain, cemaskan kesehatanmu. Kau tidak boleh terlalu lelah."


Nindy hanya bisa mengangguk sembari menyunggingkan senyum yang kian melebar. Dia sempat iri kepada Salwa saat itu, dicintai seseorang sampai seperti itu. Dan kini, dia merasakan indahnya dicintai oleh seorang suami. Diperlakukan bak ratu oleh raja yang begitu mencintai istrinya.


"Kau manis sekali," ucap Nindy sembari melingkarkan tangannya di punggung Yang Pou Han.


"Bukan manis, aku tampan." Yang Pou Han melangkah ke depan, menuju mobil yang sudah disiapkan Asisten Lie Am untuk menjemput kedatangan mereka.


***


Cahaya mentari membias di kaca-kaca jendela yang masuk ke dalam rumah itu, menciptakan warna jingga temaram, menerpa wajah lelaki itu.


Yang Pou Han baru saja menyelesaikan mandinya, dia menghampiri Nindy yang sedang berbaring miring di ranjang. Dengan mengenakan jubah handuk, rambut yang basah dengan buliran air yang masih sedikit menetes di bahu membuat lelaki itu terlihat kian menawan. Dia mengusap rambutnya asal dengan handuk, dan itu menarik perhatian Nindy.

__ADS_1


"Apakah aku boleh membantumu mengeringkan rambut?"


"Heem, tentu saja." Lelaki itu melangkah ke arah Nindy, memberikan handuk yang sedikit basah terkena rambutnya. Dia duduk di bawah, di atas karpet bulu yang membentang di bawah ranjang itu.


Nindy mengambil alih handuk itu, mengusap rambut Yang Pou Han menggunakan handuk dengan gerakan sedikit memijit.


"Baumu sangat harum," ucap Nindy sembari mencium kepala lelaki itu.


Yang Pou Han menengadah, matanya menatap wajah Nindy yang tampak tersipu karena ucapan implusif yang tiba-tiba keluar dari mulut Nindy.


"Apakah kau sedang menggodaku?" Tanyanya dengan wajah terangkat ke atas.


"Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya. Baumu harum, aku ... menyukainya." Tepat setelah Nindy mengucapkannya, Yang Pou Han menahan kepala Nindy agar tetap menunduk. Bibirnya segera membenam dengan sempurna di bibir perempuan itu.


Sudah bisa dipastikan, berapa lama bibir itu menyatu dengan keahlian lelaki itu melakukannya. Membuat Nindy selalu terbuai karenanya.


"Kau tahu, kau menggodaku, dan aku tidak tahan jika digoda olehmu. Jangan salahkan aku jika aku menginginkanmu," ucapnya disela-sela pertautan bibir itu terjadi.


"Tidak perlu malu, jika kau juga menginginkannya."


"Tidak, bukan seperti itu yang kumaksudkan."


"I love you."


Nindy tersenyum kemudian, tidak bisa berdebat lama jika lelaki itu mengucapkan kata cinta kepadanya. Hatinya tak bisa menolak rasa bahagia dan berbunga-bunga ketika ungkapan cinta itu diucapkan secara langsung kepadanya.


"I love you too, so much."


"Emm, itu adalah kode bahwa kau juga menginginkannya."


Keduanya terkekeh, menyadari kekonyolan yang telah mereka perdebatkan, dan setelah itu Nindy dan Yang Pou Han kembali melakukan hal yang tentunya sayang untuk dilewatkan.

__ADS_1


***


"Aku akan pulang cepat. Jika kau menginginkan sesuatu, panggil pelayan. Jangan lupa, habiskan susu itu."


Yang Pou Han telah bersiap dengan pakaian kerja, begitu rapi dan tampan. Nindy seolah tak rela jika suaminya itu keluar dengan penampilan seperti itu. Pasti di tempat kerja banyak wanita yang menatap Yang Pou Han dengan pandangan ingin memiliki, meski Yang Pou Han tidak memiliki sekertaris genit seperti kebanyakan pengusaha lain. Alih-alih mencari sekertaris wanita yang cantik dan tubuh molek, Yang Pou Han justru mempekerjakan sekertaris laki-laki dan asisten laki-laki. Sekertaris Wang Chi Lin dan Asisten Lie Am.


Namun, tetap saja di sana banyak karyawan staf admin dan para manager berjenis kelamin wanita, dan itu membuat Nindy cemburu. Ah, sepertinya tingkat kecemburuan Nindy terlalu berlebihan jika sudah seperti itu.


"Jangan genit dengan wanita. Aku tidak suka."


Lelaki itu terkekeh mendengarnya. Dia mengusap kepala Nindy dan mencium pipi perempuan itu dengan gemas. "Kau cemburu?"


"Heem, tentu saja. Jangan macam-macam, ya?"


"Baiklah, apa aku harus melaporkan setiap jam kepadamu agar kau bisa tenang?"


"Emm, tidak perlu. Aku memercayaimu. Akan tetapi, aku merasa tidak rela jika ada yang memandangmu. Kau terlihat semakin ... tampan setiap hari." Wajah Nindy tersipu lagi ketika mengatakannya. Dia tidak bisa menyembunyikan perkataannya itu. Sungguh bibirnya tak pandai berbohong.


"Apa aku harus mengenakan topeng? Atau menggunakan make up tebal seperti badut?"


Nindy terkekeh, menyadari perkataannya yang berlebihan itu. Beruntung Yang Pou Han meladeni rasa cemburunya tanpa berniat memarahinya. "Tidak, Yang. Aku tidak tega melihat suamiku ditertawakan orang lain. Pergilah, aku selalu mendoakan kebaikan untuk harimu."


Sebuah kecupan berlabuh di kening Nindy. "Terima kasih. Ingat pesanku!" Lelaki itu menyibakkan pakaian Nindy, mengecup perut Nindy yang masih datar itu, menciptakan rasa geli oleh pemiliknya. "Jaga anak kita."


Nindy mengangguk menyetujui. "Aku akan menjaganya dengan sepenuh hati. Kau tidak perlu mencemaskannya."


Yang Pou Han beranjak dari posisi duduk di ranjang. Dia mengulurkan tangan yang disambut oleh Nindy dengan meletakkan keningnya di punggung tangan Yang Pou Han. Dan sebuah kecupan juga mendarat di kening Nindy dengan mata perempuan itu terpejam ketika bibir Yang Pou Han berlabuh di sana.


Rutinitas harian yang terkesan manis dan meneteramkan, menciptakan rasa harmonis dalam sebuah ikatan pernikahan. Begitu sederhana, tetapi terasa indah. Menunjukkan betapa hormat sang istri kepada suami, betapa takzim seorang istri memperlakukan suami. Dan betapa sayang sang suami kepada istri.


***

__ADS_1


__ADS_2