Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
61. Kehidupan Baru


__ADS_3

Manusia terkadang terlalu larut dalam kesedihan. Menganggap apa yang ada di depan mata dan apa yang telah dirasai adalah hal yang paling ditakuti. Mereka berseloroh telah berjuang mati-matian, dan berakhir dengan hal yang sia-sia. Namun, mereka terlupa akan adanya Tuhan yang mampu membolak-balikkan keadaan jika Dia sudah berkehendak.


Pertolongan Tuhan sebenarnya sangatlah dekat. Akan tetapi, sebagai manusia kita sering kali lebih mudah berputus asa dan tidak memercayai Tuhan dengan sepenuh hati. Sehingga pada akhirnya kita lebih cenderung berputus asa dan melupakan jika campur tangan Tuhan adalah sangat besar.


Hampir empat bulan berlalu. Nindy masih terbaring di rumah sakit dengan tubuh kurus dan perut yang membuncit, tetapi itu tidak membuat rasa cinta lelaki itu pudar. Yang Pou Han justru semakin mencintai Nindy, melihat bagaimana perjuangan perempuan itu demi kelangsungan nyawa anaknya, anak pertama mereka.


Sebuah kabar membahagiakan dari Sean Paderson, bahwa Salwa telah melahirkan seorang anak laki-laki. Sean mengirimkan foto bayi yang baru lahir itu kepada Yang Pou Han. Bayi yang sangat tampan, mirip sekali dengan ayahnya.


Sekali lagi Salwa harus mengalah, karena gen Sean paderson kembali mendominasi. Wajahnya begitu persis dengan sang ayah, Salwa hanya kebagian kesusahannya saja dalam melahirkan.


"Yang, aku juga ingin lihat!" Nindy berucap lirih, berbaring di atas brankar dengan posisi sedikit miring.


"Ini, Sean gagal mendapatkan anak perempuan. Sepertinya dia akan mengebut agar berhasil mendapatkan anak perempuan." Yang Pou Han sedikit terkekeh setelah mengatakannya.


"Dia sangat tampan. Aku jadi tidak sabar bagaimana wajah anak kita nanti," ucap Nindy sembari mengusap perutnya yang kini bemasuki bulan ke enam.


"Dia pasti sangat cantik, secantik ibunya."


"Aku berharap dia mirip denganmu. Kau tahu hal yang membahagiakan bagi seorang wanita, yaitu memiliki anak yang wajahnya mirip dengan suaminya. Itu menandakan jika sang ayah sangat menginginkan anak itu. Aku ingin dia mirip denganmu."


Yang Pou Han mengulas senyum penuh haru. Diusapnya perut Nindy yang berbalut pakaian rumah sakit. "Aku akan mencintainya dan menyayanginya meski dia lebih mirip denganmu daripada aku. Karena dia adalah malaikat kecil yang diberikan Tuhan untuk menghiasi kehidupan pernikahan kita. Apa pun yang Tuhan berikan, aku akan menjaganya dan menyayanginya. Kau tidak perlu mencemaskan kasih sayangku kepadanya, heem."


"Terima kasih. Aku bersyukur menjadi istrimu."


"Heem, sekarang tidurlah! Kau harus banyak istirahat."

__ADS_1


Satu kecupan telah dilabuhkan di kening Nindy, sembari usapan lembut di kepala perempuan itu, mengiringi Nindy memasuki tidur lelapnya.


Rutinitas harian yang selalu dilakukan Yang Pou Han untuk menguatkan Nindy dalam menjalani perawatannya. Perempuan itu sama sekali tidak pernah mengeluh dengan apa yang sedang dijalaninya. Makanan yang tidak enak sekalipun ditelan dengan suka hati demi mempertahankan sang buah hati.


Nindy memang tidak melakukan sejenis operasi atau pun kemoterapi yang akan membahayakan janin yang dikandungnya. Akan tetapi, konsumsi obat-obatan dan makanan yang mengandung anti kanker dengan rasa pahit dan getir dilakukannya tanpa banyak mengeluh. Dia tidak pernah protes dengan menu makanan rumah sakit yang diluar kapasitas lidah manusia. Bawang putih kukus, kacang-kacangan, wortel, brokoli dan makanan lain yang sengaja tidak diberi bumbu menjadi menu harian Nindy dalam rangka menghambat pertumbuhan sel kanker di dalam lambungnya.


Dia memilih menahan rasa ingin makan enak demi buah hatinya. Kendati Yang Pou Han merasa tidak tega melihat sang istri melakukan itu semua, di kala dirinya memakan makanan yang lezat sementara Nindy harus memakan makanan seperti itu.


Ada rasa bersalah, apalagi melihat tubuh Nindy semakin kurus sangat bertolak belakang dengan perutnya yang semakin hati semakin membuncit.


Dia hanya bisa memberi semangat. Menemani Nindy melalui hari-hari beratnya, kendati dalam hati dia ingin menangisi kondisi Nindy, tetapi dia berusaha tegar di depan sang istri. Jika dia lemah, bagaimana harus memberi kekuatan untuk sang istri dalam menjalani ujian dan cobaan kehidupan yang kini sedang dilalui.


Jalanan tidak selamanya terjal. Kadang kala akan lurus dan mulus tanpa suatu halangan yang berarti. Begitu juga dengan kehidupan. Yakinlah akan ada suatu titik cerah yang akan menolong kita dari suatu kesusahan. Dan itu pasti akan hadir setelah hujan mendung yang tak berkesudahan bergantikan dengan pelangi indah yang memanjakan mata.


***


Kondisi Nindy sangat tidak baik, wajah pucat dengan tubuh yang lemah. Sel kanker itu menggerogoti tubuhnya, membuat Nindy tak sanggup hanya untuk sekadar duduk bersandar.


Dokter menyarankan untuk melakukan operasi caesar demi kebaikan ibu dan anaknya kendati waktu persalinan masih menunggu bulan. Memutuskan melahirkan bayi secara premature adalah keputusan sulit, tetapi itu tetap harus dilakukan. Tiada pilihan lain, semua dilakukan hanya demi kebaikan Nindy dan calon buah hati.


Yang Pou Han masuk ke ruang operasi ketika sebuah tirai penutup yang membentengi bagian perut dan juga bagian atas tubuh Nindy secara terpisah.


Sebuah suntikan anastesi diberikan di tulang punggung, menciptakan traumatik bagi siapa saja yang pernah mengalaminya. Tubuh yang kurus dan perut yang membuncit membuat Nindy kesulitan untuk menekukkan tubuh hingga seperti itu. Namun, genggaman tangan Yang Pou Han memberinya kekuatan untuk menjalani semuanya.


Dia memejamkan mata, merasakan sentakan yang menghunjam di tubuhnya, begitu sakit dan menciptakan rasa traumatik. Setetes air mata berhasil diloloskan, dengan menggenggam tangan lelaki itu yang selalu menemani di sisinya.

__ADS_1


"Kau wanita yang luar biasa. Kau pasti bisa melalui ini semua. Percayalah, ini adalah perjuangan yang tidak sia-sia."


Nindy tersenyum sembari mengangguk. Yang Pou Han terus-menerus mengajak Nindy berbicara, mencoba mengalihkan perhatian perempuan itu dari apa yang sedang dilakukan dokter di bagian bawah tubuh Nindy yang terhalang kain penutup.


"Kita akan menjaga anak kita bersama-sama. Saat aku pulang nanti, pasti sangat menyenangkan jika disambut oleh kalian di depan rumah.


"Aku akan menantikan hari itu. Hari bahagia kita. Dan itu akan menjadi bukti bahwa pernikahan kita adalah pernikahan yang bahagia."


Nindy menitikkan air mata, merasa haru dengan kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Yang Pou Han. Apakah itu benar akan terjadi? Bahkan Nindy tak sanggup untuk sekadar memimpikannya.


Dia bisa melahirkan sang buah hati dengan selamat saja merupakan sebuah keajaiban, dia tidak berani meminta lebih untuk kehidupannya. Yang dia inginkan hanyalah anaknya terlahir dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun.


Meski Yang Pou Han tidak pernah menyinggung tentang penyakitnya, dia mengerti jika kondisi tubuhnya tidak sedang baik-baik saja. Dan mungkin memburuk tiap harinya. Nindy bisa merasakan itu kendati hatinya menolak untuk menerima kenyataan yang ada.


"Jangab menangis! Tersenyumlah, karena sebentar lagi anak kita akan melihat dunia. Melihat ibunya yang cantik, yang telah berjuang sekuat tenaga demi keselamatannya."


Nindy mengulum bibirnya, menahan tangis yang sebenarnya ingin pecah. Sampai sebuah suara tangisan seorang bayi mengalihkan perhatian keduanya.


Rasa haru, sakit dan bahagia, melebur menjadi satu. Bahkan Yang Pou Han yang sejak tadi berbicara kini hanya bisa terpaku sembari mengarahkan pandangannya ke arah bayi yang baru saja keluar dari selaput pembungkusnya.


Dia tertegun, bergeming di tempat, tak mampu mengeluarkan sepatah kata.


"Yang, apakah itu suara anak kita?" tanya Nindy dengan menatap Yang Pou Han, menunggu jawaban dari lelaki itu. Bukannya menjawab, Yang Pou Han justru menangis. Lelaki itu mengeluarkan air mata di sudut matanya, yang lolos begitu saja tanpa sanggup dia tahan.


"Yang, apakah itu anak kita?" Sekali lagi Nindy bertanya, mengguncang tangan lelaki itu yang sejak tadi menggenggamnya. Hingga kesadaran merasuk ke dalam jiwa Yang Pou Han, lelaki itu mengerjabkan kelopak matanya. Dia mengangguk kemudian.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Itu adalah tangis anak kita. Dia perempuan," ucap Yang Pou Han diselingi tangis haru lelaki itu.


***


__ADS_2