
Dua bulan berlalu. Serangkaian tes kesehatan dilalui Nindy dengan sabar. Rambut Nindy mulai tumbuh beberapa sentimeter, terlihat hitam dan lebat menandakan protein telah terserap sempurna di dalam tubuh. Sepertinya kondisi Nindy benar-benar membaik. Berat badannya pun mulai merangkak naik sedikit demi sedikit mengisi bagian-bagian tubuhnya yang kempis. Sesekali Yang Pou Han mengajaknya ke klinik gizi demi menormalkan kembali berat badan sang istri.
Kehidupan mulai berjalan normal. Anya sudah berusia delapan bulan. Batita gembul dan cantik itu selalu bisa menarik perhatian banyak orang. Setiap siapa saja yang berjalan melewatinya secara tidak sengaja, pasti akan berbalik menoleh lantaran terpesona dengan bayi yang lucu dan menggemaskan itu.
Nindy dan Yang Pou Han sedang berada di taman kota, sekadar mengisi waktu luang untuk keluarga kecilnya. Lelaki itu mendorong stroller bayi yang di dalamnya ada Baby Anya sedang duduk sembari melihat pemandangan di sebelah kanan dan kiri. Sementara Nindy membawa keranjang berisi makanan untuk dikonsumsi mereka bertiga. Mereka berjalan beriringan untuk mencari lokasi yang dirasa enak.
Yang Pou Han menggelar tikar kecil di bawah naungan pohon yang rindang. Dengan cekatan dia menata makanan yang dibawa oleh Nindy dari rumah. Lelaki itu mengangguk ke arah Nindy, memberikan isyarat bahwa semuanya telah selesai.
Nindy menggendong Baby Anya, meletakkan batita gembul itu di atas tikar, lalu ikut duduk di sampingnya. Anya tampak tersenyum senang, merangkak dengan lincah ke arah Yang Pou Han. Lelaki itu mengulurkan kedua tangannya untuk menyambut Baby Anya yang sedang menuju ke arahnya.
Sebuah kecupan hangat dilabuhkan lelaki itu di pipi gembul Anya, dan membuat bayi itu tergelak kegelian. Suara tawa Anya terdengar ceria bersamaan senyum kedua orang tua baru yang begitu menyayanginya.
"Makan, Sayang." Nindy mengangsurkan sendok berisi bubur halus ke depan mulut Anya. Bayi itu tersenyum lucu, lalu membuka mulut lebar-lebar. "Emm, anak pintar," puji Nindy dengan mengusap-usap kepala Anya, gemas.
"Iyalah, anak siapa dulu." Yang Pou Han menyela, membalikkan tubuh Anya menghadapnya. "Anak Papa, pasti pintar," imbuhnya kemudian.
Nindy memutar bola mata menanggapi seraya berkata, "Emm, kalau saat pintar anak Papa, kalau sedang rewel anak Mama."
Yang Pou Han terkekeh. Ya, memang seperti itu kenyataannya. Akan tetapi, di dalam hati Yang Pou Han, dia menyayangi keduanya. Nindy dan Anya, dua orang yang sangat berarti dan paling berharga dalam hidupnya. Tiada yang bisa menggantikan dua orang itu, yang telah menghiasi kehidupan kelamnya dengan canda, tawa, juga kebahagiaan.
__ADS_1
Dan di balik pepohonan rindang itu, dari jarak beberapa meter dari tempat Nindy dan Yang Pou Han duduki, ada dua pasang mata yang sedang mengawasi mereka. Seorang perempuan berpakaian olahraga, menguncir rambutnya dengan kuncir kuda, menatap interaksi keluarga kecil Yang Pou Han dengan tatapan miris.
"Aku pernah mengatakan kepadanya, bahwa Yang Pou Han akan meninggalkannya setelah lelaki itu bosan. Dan aku adalah orang pertama yang akan mentertawakannya. Akan tetapi, dia tidak percaya. Dia dengan percaya diri mengatakan kepadaku, bahwa aku akan melihatnya bahagia dengan anak-anak lucu di antara dia dan Yang Pou Han." Perempuan itu menjeda kalimatnya sesaat, lalu tersenyum ironi. "Dan sekarang, dia membuktikan kepadaku, bahwa apa yang dikatakannya dulu adalah benar. Aku telah kalah, hanya melawan seorang perempuan biasa dengan pendidikan rendah."
Seseorang lelaki di sampingnya menepuk bahu perempuan itu, mencoba memberi dorongan kepadanya.
"Sudah saatnya kau memikirkan dirimu sendiri. Fokuslah pada kebahagiaanmu. Kau masih muda, masa depanmu masih cerah, Emelie."
Perempuan itu mengangguk. Dia terlalu lama hidup dalam ambisi, mengabaikan rasa sakit hati dan harga diri hanya demi meraih apa yang dia inginkan. Kendati hal itu justru makin menyiksanya, dia tidak peduli. Dan saat ini, ketika semua usaha yang dilakukannya sia-sia, dia mulai tersadar.
"Yeah, aku tahu. Perempuan itu pernah mengatakannya kepadaku, bahwa usahaku menunggunya ditendang dalam kehidupan Yang Pou Han adalah sia-sia. Aku sempat kesal ketika dia mengatakan itu kepadaku. Dan lihatlah sekarang ...." Emelie menyugar rambut kuncir kudanya dengan jemari tangan. "Bahkan lelaki itu mau menerima perempuan yang berpenyakitan seperti Nindy, dan memilih setia kepadanya. Mengapa Yang Pou Han bisa berubah secepat itu?"
Emelie menoleh, menatap lelaki di sampingnya itu dengan serius. "Apa?"
"Heemm, seorang anak bukan hanya sebagai penerus keturunan kita. Akan tetapi, kehadiran anak bisa menambah ikatan batin, kasih sayang, dan cinta pada pasangan suami istri. Yang Pou Han merasakan itu kepada Nindy. Perempuan itu bisa memberikannya seorang anak. Seorang laki-laki akan merasa menjadi lelaki sejati ketika berhasil menanamkan benihnya ke rahim seorang wanita, hingga terlahir seorang anak di antara mereka."
Emelie tampak termenung beberapa saat. Ya, dia pernah bertengkar masalah anak dengan Yang Pou Han. Lelaki itu marah kepadanya ketika dia memutuskan menunda kehamilannya dengan melakukan kontrasepsi tanpa sepengetahuan Yang Pou Han.
Emelie hanya merasa terlalu cepat jika mereka langsung memiliki anak. Dia takut bentuk tubuhnya berubah tidak indah lagi. Dan dia juga takut dengan suara tangis seorang bayi, yang tentunya akan merepotkannya setelah terlahir ke dunia. Ya, dia belum siap menghadapi semua itu hingga keputusan menunda kehamilan dia tempuh secara sepihak.
__ADS_1
"Ya, mungkin kau benar. Aku tidak bisa menuruti keinginannya saat itu. Aku tidak tahu jika hanya karena masalah itu, cintanya berubah kepadaku. Benar-benar laki-laki menyebalkan."
"Apa rencanamu selanjutnya? Apakah perkebunan masih dipegang olehnya?" tanya lelaki itu.
"Ya, aku tidak mengerti tentang perkebunan. Yang Pou Han yang mengatur semuanya."
"Ambil alih! Belajarlah mengelolahnya sendiri. Kau masih muda, Emelie. Kau harus menata ulang hidupmu. Berdamailah dengan garis takdir yang ditetapkan Tuhan untukmu. Kau hanya tinggal menjalani dan menikmatinya. Percayalah, semua tidak seburuk apa yang kau bayangkan."
Lelaki itu menilik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya, dia berkata kemudian. "Aku harus kembali, ada pasien yang harus kutangani." Dia berdiri kemudian, tanpa menunggu jawaban dari Emelie.
Tepat ketika lelaki itu akan melangkah, panggilan Emelie menghentikannya. "Dokter!"
Dia menoleh kemudian, menatap wajah Emelie yang sedang mengarah kepadanya. "Terima kasih," ucap Emelie dengan menyunggingkan senyum tulus.
Lelaki itu mengangguk, lalu beranjak pergi meninggalkan Emelie.
Emelie memalingkan pandangannya, beralih menatap ke arah keluarga kecil yang sedang berbahagia itu. Ya, Emelie melihat aura kebahagiaan di wajah Yang Pou Han. Lelaki itu sedang tertawa bersama Anya, bermain cilukba, dengan Nindy yang mengabadikan kebersamaan Ayah dan Anak itu menggunakan kamera ponsel pintarnya.
.
__ADS_1