Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
32. Menyerah Dengan Perasaan


__ADS_3

Lelaki itu masih fokus ke depan memperhatikan jalan. Tangannya sibuk menyetir dengan laju kendaraan yang semakin lama semakin dipercepat. Bibir Nindy bergetar, merasa takut dengan sikap ugal-ugalan Yang Pou Han.


"Yang, hentikan! Kumohon. Turunkan aku sekarang juga!" Nindy berteriak dengan menangis. Antara takut juga marah telah bercampur menjadi satu. Tangannya mencengkram seatbelt yang terpasang di tubuhnya, seolah merasa itu semua tidak cukup untuk membuat dirinya aman.


Lelaki itu masih juga diam, 'makin mempercepat kendaraan itu, tak memedulikan rengekan Nindy yang ketakutan. Menyalip beberapa kendaraan di depannya, baik itu sesama mobil, bus atau truk tak ada yang jadi soal. Semua disalip oleh Yang Pou Han tanpa terkecuali.


"Yang, hentikan! Apakah kau ingin membunuhku dengan menakut-nakutiku?" Nindy berteriak, kendati tubuhnya sudah merasakan menggigil dengan cara Yang Pou Han menyetir. Lelaki itu tak peduli, semakin Nindy berteriak, semakin kencang pula taksi itu melaju.


"Jika kau sangat membenciku, kenapa kau menikahiku? Kenapa kau tidak membunuhku saja!" bentaknya yang diikuti dengan isak tangis.


Dia memejamkan mata, merasakan taksi itu melaju kencang, bersamaan dengan tubuh yang terhuyung ke kanan dan ke kiri, seolah Yang Pou Han telah mengendarai taksi itu dengan kecepatan di luar batas maksimal.


"Turunkan aku! Jika tidak, aku akan lompat!" teriak Nindy lagi, kali ini dengan nada penuh ancaman.


Yang menekan central lock, membuat pintu taksi itu terkunci secara otomatis. Tatapannya begitu dingin, sorot mata Yang menajam hingga menusuk siapa saja yang berani beradu tatap dengannya. "Kau mau turun? Ingin pergi meninggalkanku? Bagaimana kalau kita pergi bersama. Pergi meninggalkan dunia ini?"


Perkataan Yang berhasil membuat Nindy merinding dan cemas. Tangannya semakin mencengkram seatbelt itu dengan kuat. Dia ingin marah, tetapi tak sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya, karena bibir itu nampak gemetar ketakutan.


"Kau gila, Yang. Turunkan aku! Aku tidak ingin mati."


"Bukankah kau ingin kubunuh? Aku tidak ingin membunuhmu, tetapi jika kau memaksa kita bisa mati bersama. Bukankah itu sangat mengasyikkan?" Senyuman mengerikan itu muncul di bibir lelaki itu. Sungguh Nindy tak sanggup untuk melakukan apa pun. Yang Pou Han benar-benar berpikir pendek. Tak menghargai Nindy yang masih ingin menikmati hidup meski dalam kondisi serba kekurangan.


"Mengapa kau melakukan ini kepadaku? Apa kesalahanku kepadamu, Yang? Bukankah kau yang selalu menyakitiku?"


"Diam!" Dia membentak, emosinya nampak di luar batas. Perkataan Nindy yang ingin terbebas darinya membuat hati Yang terluka. Gadis biasa seperti Nindy berani meninggalkannya, hal itu sangat melukai harga dirinya sebagai seorang laki-laki dengan harta melimpah.


Jika dia mau, seribu wanita yang jauh lebih cantik dan terpelajar dari Nindy dengan mudah bisa ia dapatkan, tetapi ia tidak mengerti mengapa Nindy yang harus ia pilih? Padahal dia tahu jika Nindy tak bisa ditaklukan dengan harta.


Entah sudah berapa jam Yang membawa Nindy pergi, hingga lelaki itu menghentikannya di sebuah rumah yang terlihat seperti vila. Dia membuka pintu lalu keluar dari taksi. Dengan kasar membuka pintu di kabin penumpang, meraih tangan Nindy untuk diseretnya keluar.


Nindy memberontak, dia takut dengan sikap kasar Yang Pou Han. Jangan-jangan lelaki itu berniat membunuhnya di rumah itu. Rumah yang nampak kosong tak berpenghuni.


"Aku tidak mau, Yang. Kau mau apa?" Nindy mencoba melepaskan genggaman tangan Yang Pou Han di pergelangan tangannya, tetapi apa yang ia lakukan nampaknya sia-sia belaka. Tubuhnya yang belum pulih benar tak kuasa melawan tenaga lelaki itu. Hingga air matanya luruh seketika membasahi pipi.


Yang mengeluarkan kunci dari saku celananya, membuka pagar rumah itu. Tangannya begitu siaga, tak sedikit pun melepaskan cengkraman di lengan Nindy.

__ADS_1


Sampai pintu pagar itu terbuka, Yang masih menyeret Nindy untuk mengikuti langkahnya. Nindy hanya bisa pasarah ke mana lelaki itu akan membawanya pergi. Ia sudah tidak sanggup melawan, tubuhnya masih lemas tak bertenaga. Hingga pintu rumah itu telah terbuka, dengan Yang Pou Han menarik Nindy masuk ke dalamnya.


Bayangan Nindy akan dibunuh di tempat itu kian jelas. Dia tidak tahu jika Yang akan seperti iblis jika sedang marah. Padahal sebelumnya dia sering berselisih dengan lelaki itu, tetapi sikapnya masih normal dan sering mengalah. Namun, saat ini sangat jauh berbeda dengan Yang Pou Han yang ia kenal. Dia tidak mengenal suaminya sendiri.


Tepat ketika sebuah pintu ruangan terbuka, Yang menyeret Nindy masuk lalu mengempaskannya di atas ranjang besar. Dia mengunci kembali pintu ruangan itu dengan cepat, antisipasi jika Nindy kabur darinya.


Nindy nampak semakin ketakutan, terlihat dari wajah yang pasi dengan tangan yang gemetaran.


Lelaki itu mendekat ke arahnya, membuat dia beringsut menjauh semampu yang ia bisa. Sampai ketika dia tak sanggup lagi menghindar, terentak punggung ranjang, Yang sudah memerangkap tubuh Nindy dan mengunci pergerakannya.


"Kau mau apa, Yang?" tanya Nindy dengan bibir bergetar.


"Menghabisimu," jawab Yang sembari menunjukkan wajah dingin yang membuat tubuh Nindy semakin menggigil ketakutan.


****


Nindy meringkuk membelakangi Yang Pou Han dengan tubuh yang terasa luluh lantak tak bertenaga. Lelaki itu menyelimuti tubuh polos Nindy dengan selimut sebatas leher. Dia tak menyangka bisa melakukan hal itu kepada Nindy. Emosi yang mempengaruhinya membuat Yang Pou Han memperlakukan Nindy dengan kasar.


Hatinya sakit ketika menerima penolakan dari Nindy, hingga membuat lelaki itu menyetubuhi sang istri dengan cara yang tidak patut. Terlihat bahu Nindy berguncang, seolah dia sedang menahan isak tangis karena kesakitan.


"Maafkan aku," bisiknya kemudian seraya memberikan kecupan hangat di bahu Nindy.


Tangannya menelusup di dalam selimut, menyelimuti tubuhnya juga tubuh Nindy dengan menggunakan selimut yang sama. Memperdekat jarak keduanya hingga Nindy merasa kulit punggungnya menyentuh dada telanjang lelaki itu.


Nindy pura-pura tidur, dia masih tidak rela jika Yang menyentuhnya lagi. Nindy bagai diperkosa oleh suaminya sendiri, meski tak ada larangan dalam agama melakukan hubungan badan dengan suami, tetapi saat ini Nindy benar-benar jijik tubuhnya dijamah oleh lelaki itu.


Hingga suara serak dari Yang Pou Han membuatnya sedikit melunak. "Maafkan aku. Aku tidak ingin berbuat kasar denganmu. Aku ... tidak ingin kau pergi."


Bulir bening itu menetes di pelipis, membasahi bantal Nindy yang digunakan dalam posisi miring. "Aku serius dengan pernikahan ini. Aku tidak mungkin mengkhianatimu. Meski tidak ada cinta di antara kita, tetapi aku tidak ingin meninggalkanmu, Nindy. Aku tidak mau berpisah denganmu."


Sekali lagi Nindy merasa kecewa. Hanya dia yang merasakan rasa itu, tetapi Yang tidak. Mengapa harus dia yang jatuh cinta terlebih dulu? Mengapa hatinya begitu rapuh dengan memberikan cintanya untuk lelaki yang tidak pernah mencintainya?


"Apakah kau masih mencintai wanita itu?" Akhirnya Nindy angkat bicara, tak tahan dengan hubungan aneh yang sedang mereka jalani. Hatinya menjerit, ingin dicintai, tetapi tak mendapatkan balasan yang setimpal.


Yang nampak menghela napas panjang, mengembuskannya hawa panas di tengkuk Nindy. Dia mulai bercerita.

__ADS_1


"Kami berteman sejak kecil. Ada ikatan kuat yang tak bisa dijelaskan di antara kami. Ayahku bekerja di perusahaan ayah Emelie, dan kami tumbuh besar bersama. Sejak saat itu dunia Emelie adalah duniaku. Aku berusaha melidunginya semampuku. Jika ada anak lain mengganggunya, aku dengan berani menjadi tameng untuknya. Dan itu berlaku hingga dewasa."


Hati Nindy kian sesak mendengar perkataan Yang, bisakah lelaki itu diam saja, tak perlu menceritakan hal yang membuat hatinya semakin sakit. Oh, Tuhan. Mengapa harus Nindy yang merasakan rasa sakit itu?


"Aku mulai mencintainya, dan menginginkannya menjadi istriku. Sebelum ayahku meninggal, dia menitipkan Emelie kepadaku. Ayahku sangat menyayanginya, hingga dia tiba-tiba menghilang enam tahun silam. Aku merasa sangat kehilangannya. Hingga takdir mempertemukan kami kembali empat tahun setelahnya. Dan kami akhirnya menikah."


Cukup, bisakah dia diam. Nindy tak kuasa mendengarnya.


Bibir Nindy bergetar, tak mampu berucap, tetapi ia harus mengatakannya. "Jika kau mencintainya, nikahi dia dan lepaskan aku, Yang. Aku akan menerimanya dan tidak akan mengganggu hubungan kalian."


Sakit, tentu saja rasa sakit itu menyayat hati Nindy. Bagaimana merasakan seorang suami yang tubuhnya begitu dekat dengannya, tetapi hatinya bukan menjadi miliknya. Apakah tiada sedikit tempat di hati Yang untuk dirinya? Apakah kedekatan mereka sama sekali tidak memberi sedikit celah untuk nama Nindy menyelinap di antara nama Emelie yang telah menguasai hati suaminya itu?


Ya, mana mungkin Nindy sanggup bersaing dengan wanita itu. Siapa dirinya? Dia hanyalah gadis miskin dengan tampang biasa, otak yang pas-pasan dan tidak memiliki suatu yang bisa dibanggakan. Mana mungkin Yang bisa jatuh cinta kepadanya?


"Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku tidak tahu apa yang membuatku begitu takut kehilanganmu. Setiap kali memelukmu seperti ini, aku merasa menemukan kedamaian yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Kau membuatku nyaman, Nindy. Aku mengakuinya."


Hanya nyaman, bukan yang lain. Tidak bisakah rasa nyaman itu berubah menjadi cinta?


"Saat asisten Lie mengatakan kau pingsan di rumah, aku segera pulang meski urusanku belum selesai. Aku begitu mencemaskanmu. Aku takut terjadi sesuatu dengamnu. Apakah kau mengerti, aku sangat peduli denganmu."


Peduli? Apakah itu semacam perasaan seorang majikan yang takut peliharaan kesayangannya kenapa-kenapa? Apakah perasaan Yang untuknya sebatas itu?


"Apakah sedikit pun tidak ada rasa cinta untukku di hatimu, Yang? Kau menyakitiku dengan perkataannu itu." Nindy menangis tersedu. Mungkin karena dia tak pernah berhubungan dengan seorang pria, hingga ketika lelaki itu telah membawa Nindy masuk ke dalam kehidupannya, hati Nindy tak kuasa untuk menolaknya. Nindy jatuh cinta, dan itu membuatnya terluka. Cinta yang tak berbalas terasa sangat menyakitkan.


Sementara Yang, sudah terbiasa berhubungan dengan wanita. Meski mereka selalu bersama, tak membuat hati lelaki itu terketuk untuk menerima nama Nindy tersemat di hatinya. Ataukah mungkin, sebenarnya nama Nindy sudah masuk terlalu dalam sehingga lelaki itu tak menyadarinya.


"Maafkan aku." Dua kata yang membuat hati Nindy semakin teriris, pilu. Dia tidak boleh terlalu berharap banyak dengan lelaki itu. "Aku akan memberikan segalanya untukmu. Asalkan kau tetap bersamaku. Jangan pernah berpikir pergi dariku!" imbuhnya kemudian.


"Aku ... tidak tahu, Yang. Apakah kau bisa untuk tidak menemuhi wanita itu lagi? Apakah kau mau melakukannya untukku?"


Yang terdiam beberapa saat. Mencoba mencerna permintaan Nindy. "Apakah kau cemburu?"


Dengan berat hati Nindy mengatakannya, menjawab dengan jujur apa yang telah dirasakannya, meski itu sulit. "Ya, aku cemburu. Aku membenci perasaanku untukmu. Karena aku sadar bahwa aku sudah terlalu dalam mencintaimu."


》Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2