
"One day you will realize you lost a diamond while too busy collecting stones"
***
"Dia sakit jiwa. Saat ini Nyonya Bay dan dua orang perawat sedang menenangkannya. Apakah kau cemburu dengan wanita yang memiliki kelainan jiwa?"
Tidak ada jawaban dari bibir perempuan itu. Dia hanya bergeming dengan tubuh bergetar. Lelaki itu tahu saat ini Nindy sedang menangis, menyembunyikan isak tangis itu dengan menutup seluruh kepalanya dengan selimut, sehingga dia merasa bersalah setelah mengatakan hal itu kepada Nindy.
"Aku akan pergi ... menemui Emelie." Nindy mendengarnya dengan memejamkan mata di dalam selimut itu, hatinya tersayat mendengar keputusan tegas yang keluar dari bibir Yang Pou Han. "Tetapi kau juga harus ikut denganku, menemuinya."
Nindy terkejut dengan jawaban itu. Dia mengusap air mata yang sempat mengalir deras di pipi, membuka selimut yang menutupi kepalanya. "A-pa?" tanyanya yang nampak terkejut dengan jawaban Yang Pou Han untuknya.
Yang mengusap kepala Nindy, jari telunjuknya ditekuk untuk kemudian disekanya sudut mata Nindy yang nampak basah karena air mata. "Aku ingin kau ikut ke sana, menemaniku. Kau mau, 'kan?"
Nindy masih terdiam, netra bulat itu terlihat penuh dengan pertanyaan. Kendati ingin bertanya, Nindy memilih bungkam, suaranya tertahan di tenggorokan tak mampu terucap karena hanya senggukan tangis yang keluar dari bibirnya.
"Aku tidak ingin pergi, tetapi perasaanku tidak tenang jika mendengar Emelie melukai dirinya sendiri. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku tidak pernah mengkhianatimu." Dia mengusap kepala Nindy lalu memberikan ciuman hangat di dahi perempuan itu.
Nindy bangkit dari posisi tidur, duduk dengan menyandarkan punggung di kepala ranjang. Kepalanya menunduk, anak-anak rambutnya menjuntai menutupi wajah. Dia tak peduli, karena di pikirannya hanya ada suara Yang Pou Han yang ingin sekali menemui Emeli kendati dirinya melarang.
"Kau mencintaiku, 'kan?" Lelaki itu bertanya lirih. Tak ada jawaban yang terdengar di indra pendengaran. Perempuan itu masih bungkam. Sepi telah mengambil alih runyam atas segala percakapan, membuat lelaki itu bertanya-tanya akan apa yang bisa membuat Nindy teralihkan.
Tepat ketika Yang menghela napas panjang, Nindy bersuara. "Heemm, tetapi kau tidak. Apakah sebaiknya aku menyerah dengan perasaanku? Yang, kenapa kau tidak melepaskanku saja? Kau bisa leluasa bertemu dan merawat Emelie. Aku tidak akan mengganggumu. Bukankah kau sangat mencemaskannya? Aku tidak bisa jika melihat suamiku mencemaskan wanita lain. Apalagi aku tahu hatimu bukan untukku. Mungkin sebaiknya kita mengakhirinya. Aku tidak ingin melewati hari-hariku dengan sakit hati setiap hari."
Yang terkesiap mendengar penuturan panjang Nindy kepadanya. Dia menarik tubuh itu ke dalam rengkuhan. Memeluknya erat, tak ingin melepaskan.
"Kau salah. Apakah begitu buruk diriku di netramu? Hingga kau lebih memilih berpisah denganku daripada memperjuangkan cintamu itu? Bukankah kita sudah melakukan kesepakatan untuk memulai semua dari awal, hingga cinta itu hadir dengan sendirinya di antara kita?"
"Yeah, kau benar. Sebelum aku tahu jika berjuang sendiri itu menyakitkan."
Yang melonggarkan pelukan itu, menangkup wajah Nindy yang nampak sendu serta putus asa. "Kau tidak sendiri. Kita berjuang bersama, mempertahankan hubungan ini, hemm."
"Apakah sesulit itu?"
"Eeh!"
"Heemm, apakah sesulit itu mendapatkan cintamu?" Dia tersenyum pilu, menundukkan pandangan. "Tapi aku akan mencobanya, sampai aku bisa mendapatkannya atau hingga aku sudah tak sanggup lagi."
Yang tersenyum mendengarnya, menempelkan hidungnya yang runcing ke ujung hidung Nindy. "Aku menyayangimu, sebagai istriku. Emelie hanya masa lalu, aku hanya merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya saat ini. Tidak ada alasan bagiku untuk melepaskanmu, dan aku harap kau juga begitu."
Nindy melebarkan senyum di bibir, setelah mendengar kata-kata yang terpercik dari hati yang tulus lelaki itu. Sebuah kecupan lembut di bibir, mengakhiri perdebatan keduanya. "Ganti pakaianmu! Kita berangkat sekarang," ucap Yang kemudian.
***
Di kabin penumpang, di mana Nindy dan Yang Pou Han berada. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu, dengan lengan Yang Pou Han melingkar di punggungnya. Kendati belum ada angin segar mendapatkan pernyataan cinta dari lelaki itu, tetapi komitmen untuk tetap bersama dan mulai belajar mencintai telah cukup membuat Nindy senang. Dia tersenyum dengan tangan tak melepaskan pelukan di perut lelaki itu.
"Apakah kau mengantuk?" Yang Pou Han akhirnya bersuara, merasa aneh melihat Nindy yang biasa banyak bicara mendadak hening tanpa kata.
Hingga perempuan itu menggeleng menanggapi pertanyaan Yang Pou Han. "Aku hanya ingin mendengar detak jantungmu, memeriksanya. Apa benar dengan posisi sedekat ini, kau tidak merasakan apa pun terhadapku?"
Perkataan konyol yang terlontar dari bibir Nindy membuat Yang Pou Han tergelitik untuk tertawa. Nindy begitu polos, tak bisa menyembunyikan perasaan. Hingga lelaki itu gemas sendiri terhadapnya.
__ADS_1
"Baiklah, kau boleh memeriksanya semaumu." Dia mengeratkan pelukan itu di tubuh Nindy. Rasa nyaman selalu hadir ketika tubuh mungil itu berada dalam dekapannya. Hingga ia tidak mengerti, apakah cinta masih diperlukan jika rasa nyaman sudah membuatnya bahagia?
Sampai ketika mobil itu sudah terhenti di kediaman keluarga Bay. Yang Pou Han menepuk pipi Nindy yang telah tertidur dalam peluknya. Perempuan itu mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali, mengumpulkan kesadaran yang sempat bertebaran untuk kembali menyatu dalam tubuhnya.
"Sudah sampai," ucap lelaki itu setelah Nindy terbangun.
"Aku tertidur? Bagaimana aku selalu tidur jika bersamamu?" Nindy menggelengkan kepala, merasa bingung sendiri dengan dirinya. Yang Pou Han terasa seperti kasur, atau mungkin bantal, bisa juga selimut, dan ... guling. Ah, entahlah. Yang jelas, Nindy selalu merasa mengantuk jika berada dalam dekapan lelaki itu.
Yang Pou Han sudah keluar terlebih dulu dari mobil, di susul Nindy setelahnya. Rumah itu sangat besar, dan sepertinya berada di area perkebunan. Keduanya berjalan memasuki rumah itu, yang nampak pemilik rumah sudah menunggu kedatangan mereka.
Seorang wanita tua, yang masih terlihat sehat dengan uban hampir memenuhi seluruh kepala datang menghampiri. Sepertinya dia adalah pemilik rumah itu.
"Kau membawa istrimu?" Wanita itu bertanya seraya mengalihkan tatapannya ke arah Nindy. Dia terlihat tidak suka dengan kedatangan Nindy, terlihat jelas dari gurat wajahnya.
Bersikap abai dengan tidak menjawab pertanyaan, Yang Pou Han memilih langsung masuk mencari Emelie dengan menggandeng tangan Nindy yang sudah digenggamnya erat, mengapit di sela jemari perempuan itu.
Mereka menaiki lantai dua, menelusuri koridor hingga berada di ruangan paling ujung. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Yang Pou Han membuka ruangan itu lebar-lebar. Tampaklah seorang wanita yang sedang tidur dengan dua orang perawat sedang berdiri di sisi ranjang. Mereka menunduk, memundurkan langkah ketika lelaki itu mendekat.
"Kami menyuntikkan obat penenang, Tuan. Nona Emelie tidak bisa dikendalikan." Salah seorang dari mereka menjawab.
"Kalian boleh pergi."
Hanya dengan perkataan seperti itu, dua orang perawat tersebut segera meninggalkan ruangan itu tanpa bertanya lagi. Seolah Yang Pou Han memiliki kuasa di rumah keluarga Bay.
Lelaki itu menatap wajah Emelie yang terpejam. Tubuh Emelie nampak lebih kurus dari sebelumnya. Dia menyadari hal itu. Terdengar embusan napas dari lelaki itu, hingga Nindy mengawasinya dengan saksama.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Nindy, menatap ke arah Emelie yang masih terbaring.
"Dia baik-baik saja. Entah mengapa akhir-akhir ini dia sering mencelakai diri sendiri. Seolah ada sesuatu yang mendorongnya melakukan itu." Terlihat gurat kecemasan di wajah Yang Pou Han, dan hal itu membuat hati Nindy miris. Apakah Yang akan secemas itu ketika dia dalam kondisi tidak baik-baik saja? Ah, dia tidak ingin berharap lebih.
"Kau sangat mencemaskannya, ya? Kau mantan suami yang terbaik." Yang menoleh ke arah Nindy. Perempuan itu masih menatap ke depan di mana Emelie tengah berbaring di sana. "Tetapi bukan suami yang baik untukmu. Benar, 'kan?" Yang mengulas senyum kemudian.
"Heemm, setidaknya kau mau berusaha. Aku akan menghargainya."
Tepat ketika Nindy menyelesaikan perkataannya, Nyonya Bay datang dengan wajah cemas yang sama. Persis pada saat mereka baru datang tadi.
"Kau mengabaikan panggilannya, sehingga dia bertindak nekat lagi."
Yang Pou Han hanya tersenyum miring menanggapi. "Aku hanya membantunya untuk sembuh, bukan berarti mengurus semua apa yang dia inginkan. Kau terlalu menuntut lebih, Nyonya Bay."
"Kau sudah berjanji akan menjaganya, bukan? Aku masih memegang perkataanmu itu," ucap perempuan tua itu dengan bibir bergetar. Wajah tuanya nampak menyedihkan, seperti rona bahagia telah lama terenggut dari dalam dirinya.
Ya, Emelie adalah keluarga satu-satunya. Dan saat ini, perempuan itu sedang dalam kondisi sakit. Bukan sakut secara fisik, melainkan sakit mental. Dia membebankan semua yang terjadi pada Emelie kepada Yang Pou Han. Karena sejak Yang Pou Han menceraikan Emelie, perempuan itu menjadi hilang akal. Sangat disayangkan perempuan berpendidikan tinggi dengan wajah cantik memesona justru menjadi seperti itu karena depresi.
Lelaki itu menatap, memperhatikan ruangan itu. Kamar Emelie nampak tidak memiliki kehidupan di dalamnya, hanya ada bunga krisan yang sudah mengering di meja sudut ruangan. Bunga itu diletakkan di dalam guci bercorak bunga berwarna biru kombinasi putih yang di dalamnya berisi air untuk mengawetkan bunga krisan itu. Namun, bunga itu telah mengering dengan dahan ranting yang telah luput dari dedaunan.
"Aku akan menjaganya, merawatnya sampai sembuh, tetapi dengan caraku, bukan caramu." Dia beralih menatap ke arah Nindy, " Sebaiknya kita keluar, biarkan dia beristirahat," ucapnya kemudian.
Yang Pou Han merengkuh bahu Nindy, menggiring perempuan itu untuk segera pergi dari ruangan itu. Dalam benak Nindy mensyukuri, apa yang ia cemaskan tidak terjadi. Lelaki itu benar-benar menganggap Emelie hanya masa lalu yang masih membutuhkan perhatian karena kondisi mentalnya yang terganggu.
Sejenak dia merasa bangga dengan sang suami. Sangat jarang mantan suami mau mengurusi mantan istri sampai seperti itu. Namun, Yang mau melakukannya atas dasar menepati janji, bukan yang lain. Jika janji seperti itu dia tepati, bukankah janji untuk selalu bersamanya pasti akan ditepatinya juga?
__ADS_1
"Yang, aku meninggalkan tasku di dalam. Kau bicaralah dengan nyonya Bay, aku akan mengambil tasku dulu."
Lelaki itu mengangguk, mengerti. Dia melepaskan gemggaman tangannya dari tangan Nindy, membiarkan perempuan itu mengambil barangnya yang tertinggal.
Nindy menaiki anak tangga yang terlapisi karpet hitam tebal di tengahnya. Dia sedikit mempercepat langkah kaki agar segera sampai di ruangan itu, menyusuri koridor panjang yang akhirnya sampai di ruangan paling ujung. Dia menghela napas panjang, entah mengapa, atmosfer mencekam tiba-tiba terasa di tubuh Nindy. Seolah ada hawa negatif yang berada di dalam ruangan itu.
Perlahan ia putar kenop pintu itu, dan ... terbuka. Nindy menelan ludah. Padahal dia tidak sedang mencuri, dia hanya ingin mengambil tasnya yang tertinggal. Dia memperlebar celah pintu itu agar bisa dimasukinya.
Dalam ruangan yang sunyi itu, nampaklah Emelie sedang tidur lelap dengan selimut tebal menutupi tubuhnya hingga batas dada. Nindy melangkahkan kakinya perlahan, mengurangi gesekan kaki dengan lantai keramik yang sedikit di tengahnya tertutup karpet bulu.
Perlahan, tetapi pasti. Dia sudah berada di depan nakas. Tangannya meraih tas tangannya dengan cepat, hingga sebuah suara mengagetkannya.
"Kau berani juga, ya, datang ke rumah ini?"
Nindy menoleh, dia terkesiap melihat mata sinis yang menatapnya tajam dengan seringai mengerikan di wajah.
Bersambung...
Assalamualaikum Wr. Wb.
Hai Kakak pembaca Nindy. Author ucapkan terima kasih, ya, udah relain waktu buat baca karya aneh ini 😄
Semoga bisa merasuk ke dalam hati, dan gak garing ya? Author hanya bisa mempersembahkan yang terbaik dari apa yang Author bisa.
Kapan hari ada yang menanyakan tentang vote, like dan komentar.
Maaf, ini bukan maksud Author maksa bhat vote, like dan komentar, ya? Karena Author sadar, karya yg lain pasti jauh lebih bagus. Ada yang mau baca aja Author udah seneng banget.
Bagi yang belum tahu aja.
Bagaimana sih cara Vote?
Vote : Vote untuk menaikkan karya yang telah kita baca. Semakin banyak vote karya gak akan tenggelam di antara ribuan karya keren yang ada di Noveltoon. Satu akun hanya memiliki satu Vote, kecuali member VIP yang memiliki 2 Vote.
Nah, bagaimana caranya nge-vote itu?
Yang A untuk memberikan hadiah, berupa poin atau koin. Poin bisa didapat dari misi harian.
Yang B untuk ngevote. Satu akun hanya bs ngasih vote satu judul buku. Dan vote akan hadir kembali ketika sudah memasuki hari senin.
Nah, itu dia caranya.
Dan untuk like juga komentar. Itu sangat penting bagi Author abal-abal kayak saya, yg gak ada yg kenal 🤧
Karena terkadang pembaca baru terpaku dengan tingkat kepopuleran juga like serta komentar yg ada di karya tersebut. Mereka beransumsi semakin banyak like dan komentar dg popularitas tinggi maka semakin bagus karya itu. Jadi terima kasih yang sudah ringan tangan memberi like juga komentarnya. Lophe-liphe pokoknya 😍😘😘
Oh, iya. Terima kasih yang udah mendukung karya ini dari awal hingga akhir. Meski level karya sangat rendah, dengan pembaca yg gak banyak, tetapi melihat antusias kalian dari like jg komentar yg lucu-lucu membuat saya tetap bersemangat memberikan cerita terbaik yang bisa saya suguhkan di sini.
Terima kasih.
__ADS_1
Salam sayang selalu 🤗🤗
Walaikumsalam, Wr. Wb