Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
38. Harga Diri Senilai Es Krim


__ADS_3

“Heavy hearts, like heavy clouds in the sky, are best relieved by the letting of a little water”


***


Ruangan itu masih sunyi, sama seperti sebelum-sebelumnya. Tiada perubahan yang berarti. Hanya bunga krisan yang sudah diganti dengan bunga baru nan segar, membuat ruangan itu terlihat lebih hidup dan berwarna.


Nampaklah perempuan itu duduk termenung di ujung ranjang tidur. Menyisir rambut dengan jemari lentiknya. Senyumnya yang misterius membuktikan ada hal yang telah dia pikirkan.


Seseorang yang sudah ditungguinya telah datang. Seorang laki-laki berusia matang berpakaian dokter lengkap dengan tas kerja melangkah maju menghampiri. Langkahnya terhenti dengan duduk di salah satu kursi yang tersedia di samping ranjang tidur itu. Dia mulai melakukan tugasnya setelah sedikit berbasa-basi. Begitu cekatan tangannya memeriksa kondisi perempuan itu yang saat ini dalam posisi berbaring.


"Bagaimana perasaanmu?" Dokter itu bertanya sembari memasukkan perlengkapan kembali ke dalam tas kerjanya.


"Kosong. Aku tidak merasakan apa-apa."


Dokter itu mengulas senyum. Sebuah tatapan iba yang tersembunyi dari mata sipit yang sedang tersenyum itu, menunjukkan kepedulian kepada wanita itu.


"Kau bisa menangis jika diperlukan. Menahan beban terlalu banyak seorang diri, tidak membuat dirimu menjadi kuat. Kau butuh meluapkan itu semua, karena pikiran manusia hanya bisa menahan beban dalam porsi tertentu."


Dia terkekeh mendengar penuturan dokter itu. Netra itu sudah lama tidak menangis. Dia lupa cara untuk menangis, hingga semua orang-orang terdekatnya satu per satu meninggalkannya membuat wanita itu terselap bagaimana meluapkan emosi dengan menangis.


"Air mataku sudah membeku, sama seperti hatiku." Wanita itu berkata tanpa melihat ke arah dokter itu.


"Kau bisa mencairkannya jika kau mau. Hati yang membeku bisa dicairkan oleh perasaan cinta dan kasih sayang. Mulailah mencintai dirimu, maka seorang 'kan datang membawakan cinta untukmu."


"Cinta?" Kalimatnya menggantung. "Aku sudah kehilangannya. Dan itu karena kesalahanku sendiri. Di saat aku ingin memperjuangkannya, wanita lain telah merebut cinta itu dariku. Aku harus apa?" Pertanyaannya penuh dengan harapan juga keputusasaan secara bersamaan.


"Jika dia memang mencintaimu, siapa saja wanita yang berusaha mengambil hatinya pasti akan kalah. Kau hanya butuh berjuang lebih keras untuk mendapatkan hatinya kembali. Bukankah waktu bersama kalian sudah sangat lama? Pastilah banyak kenangan di antara kalian. Kau bisa memanfaatkan itu untuk memercikkan api cinta yang sempat padam di antara kalian berdua."


Wanita itu menoleh seketika, ada rasa penasaran dari tatapan matanya. "Menurutmu begitu?"


"Bersemangatlah! Jika dia memang ditakdirkan untukmu, perjuangkan sebisamu."


Senyum itu mengembang di bibirnya, netra itu ikut berbinar seketika. Hasrat memiliki memberi warna baru dalam hidupnya. Dia ingin membawa kembali seseorang yang seharusnya menjadi miliknya, pemujanya sampai kapan pun. "Aku akan membawanya kembali," ucapnya kemudian.


***


Cinta seolah sedang menemukan tempat ke mana untuk bermuara. Beberapa hal yang sebelumnya menjadi penghalang, seakan luruh dengan sendirinya seiring waktu.


Pandangan berlebihan anak manusia tentang suatu hal yang bernama cinta, mencetuskan sebuah praduga akan kebahagiaan yang hakiki. Namun, pada dasarnya kebahagiaan tidak hanya soal cinta. Ada dua individu berbeda kontemplasi yang disatukan atas dasar persamaan asa serta tujuan untuk saling menerima dan memberi kebahagiaan.


Cinta akan menjadi nomor yang ke sekian ketika rasa nyaman dan saling menghargai telah hadir dalam suatu hubungan. Manusia akan berseloroh dengan bangganya bahwa dia mengerti akan 'arti cinta'. Kendati hubungan mereka dalam masa kritis di ujung tanduk, mereka masih mempertahankan pendapatnya tentang 'cinta'. Ya, karena sesungguhnya manusia selalu merasa tahu segalanya tanpa ingin mengukur kemampuan diri.


Yang Pou Han baru saja keluar dari kamar mandi. Sementara Nindy menyiapkan makan malam di lantai bawah. Lelaki itu mengambil pakaian santai yang telah disiapkan Nindy untuknya yang diletakkan rapi di atas nakas.

__ADS_1


Kebiasaan baru yang membuatnya berat untuk meninggalkan Nindy adalah dedikasi wanita itu selama menjadi seorang istri. Pengalaman tidak baik ketika menjalani rumah tangga bersama Emelie memberikan lelaki itu banyak pelajaran berharga. Ya, tidak hanya cinta yang bisa membuat rumah tangga bahagia dan bertahan, tetapi kesetiaan, kepatuhan serta ketakziman seorang istri kepada suami yang bisa membuat biduk rumah tangga bisa terjalin selamanya.


Yang Pou Han tidak mendapatkan itu dari Emelie. Kendati pendidikan Emelie jauh lebih tinggi dengan kasta sosial yang lebih terhormat, tak membuat seorang Emelie berhasil menjadi seorang istri yang baik.


Perempuan itu lebih mementingkan ego, ambisi serta keinginannya daripada harus melakukan kewajibannya sebagai istri. Dan Nindy tidak melakukan hal itu, meskipun dia tidak pernah mengungkapkan cinta kepada perempuan itu.


Pria itu turun dari ruangan atas, melewati tangga lalu menuju ke meja makan yang ada di ruang tengah. Rambutnya terlihat basah tanpa disisir terlebih dulu. Nindy melempar senyum ketika melihat sang suami sudah memasuki area ruang makan.


"Kau sudah lapar, 'kan? Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu." Nindy menarik kursi untuk di tempati Yang Pou Han, dan segera diterima dengan baik oleh lelaki itu. Dia duduk di tempat di mana Nindy memilihkan kursi untuknya. "Terima kasih."


"Heem, apakah ini cukup?" Nindy menuangkan nasi ke piring seraya mempertanyakan porsi makan lelaki itu.


"Cukup."


Dilihatnya Nindy mengambilkan beberapa lauk dan sayuran untuk diletakkan di piring yang sama. Bukan Nindy yang memasak semuanya, tetapi dia turut campur di dalamnya. Nindy menggeser piring yang sudah penuh makanan itu ke depan Yang Pou Han, lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Mereka menikmati makan malam itu tanpa suara. Hanya bunyi gesekan piring dan sendok yang beradu, saling gemeretak yang terdengar berkali-kali.


Hanya butuh waktu sepuluh menit makanan di piring itu tandas tak bersisa. Yang Pou Han menyapukan sapu tangan di bibir untuk mengakhiri makan malamnya. Dia segera bangkit dari duduknya, sebelum mendengar pertanyaan Nindy. Lelaki itu tak jadi berdiri karena Nindy sepertinya ingin menanyakan sesuatu.


"Apa yang ingin kau tunjukkan kepadaku?"


Nindy masih menunggu, suatu hal apa yang menjadi kejutan untuknya. Dia sudah penasaran sejak tadi, hingga rasa penasaran itu sudah berada di puncaknya, Nindy tak bisa menahan untuk menanyakannya.


"Tunjukkan? Tunjukkan apa?" Dia menaikkan alisnya, merasa tidak mengerti dengan perkataan Nindy.


"Bukannya menjemputmu di pusat perbelanjaan juga merupakan kejutan?" Lelaki itu bahkan menganggap hal kecil yang ia lakukan sebagai kejutan, membuat Nindy kecewa karenanya.


Nindy menghela napas, "Mungkin ekpektasiku terlalu berlebihan kepadamu. Sudahlah, lupakan perkataanku!" Dia memunguti piring bekas makan lelaki itu tanpa bersuara lagi. Dia beranjak dari duduknya, membawa piring-piring itu ke dapur, membiarkan Yang Pou Han yang masih terduduk di meja makan.


Nindy bahkan telah membayangkan sedikit kejutan yang mungkin dipersiapkan lelaki itu untuknya. Entahlah, sepertinya itu hanya ada dalam mimpinya saja. Nindy terlupa jika yang jatuh cinta di sini adalah dirinya, bukan Yang Pou Han. Mana mungkin lelaki itu repot-repot memberikan kejutan untuknya, seperti kejutan manis yang biasa diberikan suami kepada istrinya, sementara lelaki itu tidak pernah mencintainya.


Nindy kembali keluar dari dapur setelah menyelesaikan mencuci piring-piring kotor itu. Dia mengira Yang Pou Han akan menanyainya lagi, tetapi lelaki itu malah tidak ada di tempat. Entah ke mana dia pergi, dan hal itu berhasil membuat Nindy kesal.


Ya, rasa senangnya yang semula membuat Nindy tersenyum seketika lenyap sudah. Yang Pou Han benar-benar membuat suasana hatinya memburuk.


Dia menaiki tangga, menuju roof top, menyendiri seperti sebelum-sebelumnya. Dia tidak memiliki teman untuk diajak bicara, setelah menikah pun dia masih merasa kesepian. Tiada teman untuk bercengkrama atau sekadar bercanda. Sempat merasakan kehangatan hubungan pernikahan itu, tetapi itu tidak berlanjut lama. Lelaki itu bahkan jauh dari kata romantis, lihatlah saat ini, dia menghilang tanpa jejak. Dia bahkan tidak berpamitan kepada Nindy jika ingin keluar rumah.


Nindy duduk dengan menekuk kedua kakinya. Dia memeluk lututnya sendiri sembari memandang hamparan langit yang gelap gulita. Ya, hujan tadi sore masih menyisakan awan gelap yang menutupi bintang-bintang yang biasa menemani kesendirian Nindy. Lantai roof top pun terlihat basah karena hujan. Dia tak peduli, dia hanya ingin menyendiri saat ini.


Kehidupannya tak jauh berbeda, masih sama. Dia kesepian dengan tiada seorang yang memahaminya. Mungkin itu sudah menjadi takdirnya.


Dia mengusap air mata yang sempat menetes sebulir itu dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Jangan menangis, Nindy. Kau wanita kuat. Bukankah kau sering mengalami rasa sepi ini? Mengapa kau harus menangisi hal yang sudah sering kau alami?


Mungkin dia terlalu berharap lebih dengan lelaki itu, membuat Nindy merasa kecewa karenanya. Ya, tiada yang perlu dikasihani, semua yang dijalaninya ini adalah takdir hidupnya, dan Nindy harus mensyukurinya.


Sampai sesuatu yang hangat tiba-tiba menyelimuti tubuhnya. Nindy menoleh ke belakang ketika meraskan sebuah sweater rajut telah memeluk tubuhnya yang kurus.


Dia menatap ke depan lagi, tak menghiraukan seseorang yang telah memasangkan sweater itu kepadanya.


Dan sebuah es krim disodorkan di depan wajahnya. Nindy menatap malas tangan yang masih menggenggam eskrim berbentuk kerucut itu di depannya.


"Aku bukan anak kecil," cebiknya dengan kesal.


***


"Apakah aku membuatmu marah?" Lelaki itu duduk dengan bersila, mengabaikan lantai yang masih nampak basah itu yang pasti akan membekaskan noda kotor di bagian bawah pantat celananya.


Nindy mengangguk sembari memakan es krim itu dengan lahap. Dia kesal, tetapi tergoda dengan es krim itu. Dan hal itu cukup membuatnya semakin kesal. Harga dirinya hanya senilai es krim cone.


Yang Pou Han nampak tersenyum melihatnya. Nindy selalu bisa membuatnya tertawa, baik dengan tingkah serta perkataannya. "Apa sekarang masih marah?" Dia bertanya lagi.


"Emmm, aku tidak ingin bicara denganmu. Mendengar suaramu semakin membuatku kesal saja."


"Oh, begitukah? Baiklah aku akan pergi." Dia berdiri, beranjak dari duduknya untuk meninggalkan Nindy seorang diri.


Nindy nampak berdecak, lelaki itu benar-benar tidak peka. "Iya, pergi sana. Jangan mencariku lagi!" teriaknya kesal. Dia membuang bungkus eskrim itu sembarangan. Yang membuat suasana hatinya hancur berantakan.


Dasar wanita. Bibirnya menyuruh pergi, tetapi hatinya menyuruh tetap tinggal. Wanita sulit dimengerti.


Yang Pou Han berbalik, menghampiri Nindy yang kini sedang berdiri memunggunginya dengan langkah senyap. Langkahnya terhenti tepat di belakang wanita itu, menarik tubuh ramping itu hingga Nindy berbalik menghadapnya. Lelaki itu menarik pinggang wanita itu untuk merapat ke padanya, dengan tangan Nindy menahan dada lelaki itu yang hampir bertabrakan dengan tubuhnya.


Yang mengusap bekas es krim yang belepotan di bibir Nindy dengan ibu jarinya. Perlakuan sederhana itu membuat jantung Nindy berdegup kencang. Hingga ia merasakan bibir lelaki itu menempel di bibirnya dengan lancang, tanpa pemberitahuan atau ancang-ancang. Lidah itu mengusap lembut permukaan bibirnya yang masih tersisa bekas es krim itu, membuat tubuh Nindy menegang seketika.


Nindy kembali tidak berdaya, ketika lelaki itu mulai melakukan kepiawaiannya dalam meluluhkan wanita itu dengan ciuman panasnya. Yang Pou Han begitu andal, menjungkirbalikkan perasaan dan hati Nindy dengan sikapnya yang sering berubah-ubah. Sentuhan-sentuhan yang ia lakukan selalu berhasil meluluhkan hati Nindy yang acap kali kesal dengan sikapnya.


Nindy tak sanggup menolak, atau pun sekadar menghindari perlakuan lelaki itu yang mengambil nira dari manisnya bibir itu. Dia selalu terpedaya dengan apa yang Yang Pou Han lakukan kepadanya. Nindy menyadari hal itu. Hatinya begitu lemah ketika telah berhubungan fisik dengan lelaki itu.


Yang melepaskan bibir itu setelah hampir sepuluh menit pergulatan bibir itu terjadi. Ibu jarinya mengusap bibir yang basah itu dengan lembut. Nindy hanya bisa pasrah dalam dekapan lengan kokoh lelaki itu, membiarkan lelaki itu bertindak semaunya.


Yang nampak merogoh sesuatu di saku celananya. Netra sipit itu tak melepas pandangan dari netra bulat milik Nindy, hingga tangan kanannya menunjukkan sesuatu di depan wajah Nindy.


"Apakah kau ingin berbulan madu?" tanya lelaki itu kemudian.


"A-pa?"

__ADS_1


"Kita akan berangkat minggu depan. Bersiaplah! Mungkin aku harus mengebut untuk membuatmu hamil."


》Bersambung ...


__ADS_2