
Nindy merasakan jantungnya berdebar kencang. Pertemuan yang tak disangka-sangkanya itu membuat perasaannya campuraduk tak terkira. Dia menutup pintu rumahnya, bersandar di balik daun pintu sembari memejamkan mata.
Ada rasa lega melihat lelaki itu lagi. Dia sangat merindukannya, sangat. Hal itu tidak dapat dipungkiri, dan dielakkan lagi. Dia bahkan merasakan begitu nyaman ketika memeluk tubuh itu. Tubuh kekar yang memeluknya dengan menawarkan sebuah kehangatan dan kelembutan yang begitu menggoda untuk tetap berada dalam dekapan itu.
Suara lembut dan berat, yang setiap ucapannya penuh dengan hasrat serta näfsu. Tatapannya yang selalu meredup ketika dalam titik temu untuk menjalin cinta kasih. Nindy merindukannya, ingin bersama dengannya. Namun, pikiran warasnya masih bekerja. Dia tidak ingin terjebak di situasi yang sama.
Lelaki itu harus bisa memilih antara dirinya atau Emelie. Nindy harus bersiap diri, ketika lelaki itu memilih untuk bersama cinta pertama, Emelie daripada harus hidup bersamanya.
Air mata itu dia seka dengan kasar. Dia tidak boleh lemah. Mungkin, Yang Pou Han datang bukan untuk menjemputnya, melainkan untuk mengurus perceraiannya. Membayangkannya saja begitu sakit, apalagi harus menjalaninya? Apakah dia rela, jika lelaki itu memilih hidup dengan Emelie? Membayangkan seorang wanita menggantikan posisinya tidur seranjang dan bercinta dengan Yang Pou Han, membuat hatinya semakin pilu. Dia tidak sanggup, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya berharap, rasa itu segera musnah dari hatinya.
Sampai ketika suara seseorang dari luar rumah, menarik lamunan Nindy secara paksa, menyadarkan perempuan itu untuk masuk ke dunia nyata.
"Ndy, Buka! Aku tahu kau di dalam. Buka! Aku mau bicara."
Nindy membalikkan tubuh, menghadap pintu yang sedari tadi digunakan untuk bersandar. Dia ingin membukanya, melanjutkan pelukan nyaman yang sebelumnya sempat terjadi, tetapi dia menahannya. Dia tidak boleh tergoda dengan kenyamanan semu yang diberikan Yang Pou Han kepadanya. Jika dia hidup berkecukupan, tetapi setiap hari menahan rasa cemburu juga sakit hati akan sikap lelaki itu, lebih baik dia seperti ini saja.
"Ndy, bukalah! Aku ingin bicara kepadamu." Suara itu terdengar lagi, bersamaan ketukan di pintu kayu rumah Nindy.
"Untuk apa? Apakah kau ingin meminta tandatanganku untuk surat perceraian kita?" Suara Nindy terdengar mengambang, bersamaan air mata yang menitik di pipi.
"Siapa yang ingin bercerai? Aku ingin menjemputmu pulang. Bukankah kau juga merindukanku, mengapa kau harus menyiksa diri dengan mengabaikanku di sini?"
Suara petir terdengar menggelegar, bersamaan beberapa rintik air hujan yang sedikit demi sedikit merebak ke permukaan tanah. Udaranya terasa begitu dingin, membuat lelaki itu merasakan tubuhnya menggigil.
Sepertinya, dia terlalu lelah dalam mencari Nindy. Kondisi Yang Pou Han masih belum pulih benar setelah mengalami kecelakaan itu, tetapi tekad untuk mencari Nindy menepis rasa sakit di tubuhnya sehingga dia mengabaikan rasa sakit itu.
"Menyiksa diri? Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri, melindungi hatiku agar tidak terlalu kesakitan karena ulahmu. Buat apa kau menjemputku, jika pada akhirnya kau hanya ingin menyakitiku? Biarkan aku hidup seperti ini, Yang. Kembalilah kepada perempuan itu. Aku sudah merelakanmu, aku akan berusaha melupakanmu. Kumohon, pergilah!"
Tubuh Yang Pou Han terperosok ke bawah dengan punggung bersandar di daun pintu. Rasa dingin yang mendera semakin membuatnya menggigil. Bibirnya berkata lirih dengan senyum tipis tersungging di bibir. "Aku menginginkanmu. Apakah aku salah? Aku hanya menginginkanmu, bukan dia, bukan yang lain. Apakah kau mengerti?"
__ADS_1
Sampai perkataan Yang Pou Han berakhir, dia tak sadarkan diri.
Nindy memejamkan mata, mengapa lelaki itu tak mengerti juga? Ungkapan yang seperti itu, bukannya sama saja memberikan harapan palsu kepada Nindy.
"Kenapa kau egois, Yang? Bisakah kau mencoba memahami perasaanku sebentar saja?"
Tiada jawaban dari lelaki itu. Nindy menunggu dengan menyandarkan punggungnya di daun pintu yang sama. kepalanya menengadah, menahan buliran air mata yang mulai berderai di wajah.
Ya, sepertinya Yang Pou Han tidak bisa memberikan kepastian untuknya. Untuk apa lagi Nindy menunggu dan mengharapkan cinta lelaki itu?
Bukankah menunggu itu melelahkan? Bolehkah Nindy menyerah dengan keputusannya menunggu cinta itu datang? Karena sepertinya yang ditunggu tak menunjukkan iktikad baik untuk memenuhi janji. Lelaki itu masih menggantungkan perasaannya.
Nindy bangkit dari duduknya. Menunggu jawaban dari lelaki itu yang tak kunjung terdengar. Mungkin karena turun hujan turun membuat Yang Pou Han memilih untuk kembali daripada harus memohon dan membujuknya.
Nindy merasa kecewa memikirkan itu. Dia masih menjadi yang kedua. Bukan prioritas. Bahkan, usaha Yang Pou Han hanya sebatas itu. Dia tidak memaksa Nindy sama sekali. Bukankah itu artinya Nindy bukanlah yang utama?
Tentu saja di sana sudah ada Emelie yang menunggu. Perempuan cantik dengan pesona yang luar biasa. Mana mungkin Yang Pou Han harus repot-repot membujuknya kembali.
***
Malam itu kian larut. Air hujan sudah berhenti menghunjam bumi. Tetes-tetes air di pucuk daun pepohonan tampak berkiluan akan pendaran lampu jalan yang membiasnya.
Nindy belum juga tidur. Perasaannya begitu sakit dan terluka. Memikirkan lelaki yang sempat dipeluknya semalam. Apakah dia benar-benar pergi? Mengapa dia tak berusaha masuk ke dalam?
Mungkin itu lebih baik, agar luka itu tidak kembali menganga. Terluka terlalu dalam akan sulit diobatkan. Pertemuan yang sebentar itu tidak membuat rindunya menghilang. Nindy justru semakin merindukannya. Sampai rasa gelisah itu hinggap di hati, Nindy segera keluar dari kamarnya.
Dia ingin menghirup petrikor yang menguar dari rumput-rumput liar. Mencoba mencari kedamaian dari aroma hujan kesukaannya.
Dia mengenakan kembali kerudungnya, membalut baju tidurnya dengan outer berbahan sedang, tidak terlalu tebal. Dia membuka engsel pintu rumah itu, dan betapa terkejutnya Nindy dengan apa yang dia lihat di depan mata.
__ADS_1
Sebuah tubuh tergeletak bersamaan pintu rumahnya terbuka. Dia membungkuk, menekuk kaki. Raut wajahnya tampak cemas sekali.
"Yang, apa yang terjadi?" ucapnya dengan menepuk-nepuk pipi lelaki itu yang ternyata adalah Yang Pou Han.
***
Lelaki itu mengerjapkan mata. Kepalanya terasa pusing dan berat. Dia masih kedinginan, tubuhnya menggigil tak karuan.
Dari pandangannya yang masih berkabut, dia melihat Nindy sedang memeraskan handuk basah di sebuah wadah yang masih terlihat uap airnya. Sepertinya itu adalah air hangat. Handuk itu dia tempelkan di dahi Yang Pou Han.
"Kenapa kau tidur di luar?" Suara Nindy terdengar cemas ketika mengatakan itu. Bukannya menjawab, lelaki itu malah tersenyum.
Akhirnya, tidak sia-sia dia menahan rasa sakit dengan tubuh menggigil di luar ruangan yang terasa begitu menyiksa, jika pada akhirnya dia bisa melihat Nindy kembali. Apalagi melihat raut mencemaskan dari wajah perempuan itu, membuat hatinya menghangat.
"Kenapa kau diam? Harusnya kau pulang saja. Kenapa harus tidur di luar?" Nindy tampak kesal mengatakannya.
"Aku ingin tidur bersamamu."
'Dasar mesum. Kondisi sakit masih memikirkan hal seperti itu. Yang Pou Han benar-benar tidak berubah.'
"Aku tidak mau. Kenapa aku harus melakukannya? Lihatlah, badanmu masih sangat panas. Tidak ada dokter di dekat sini. Rumah sakit ada di kota, sementara puskesmas baru buka besok pagi. Aku tidak menyimpan obat penurun panas. Kau akan seperti ini semalaman. Kau benar-benar keterlaluan, tidak bisa menjaga diri sendiri. Sudah tahu di luar hujan, harusnya kau segera pulang. Mengapa harus tidur di luar seperti itu?" Nindy terus saja mengoceh, tetapi lelaki itu hanya mengawasinya saja dengan senyum mengembang.
"Apakah kau ingin membantuku menurunkan suhu tubuhku agar aku tidak demam lagi? Jika kau mau, aku tahu caranya."
Nindy menatap serius kemudian, menanti perkataan selanjutnya yang keluar dari mulut Yang Pou Han. "Apa itu?" tanya Nindy.
"Aku pernah membaca suatu metode. Ketika anak kecil badannya panas, seorang ayah akan menggendongnya dengan tubuh yang telanjang, memeluknya di dada. Saling menempelkan kulit untuk menyalurkan suhu panas itu kepada sang ayah. Sehingga suhu panas anak itu lama-lama akan menurun secara perlahan. Jadi, apakah kau bisa melakukannya untukku?"
"Mak-sudmu?" tanya Nindy mempertegas permintaan Yang Pou Han.
__ADS_1
"Aku membutuhkan pelukan tanpa penghalang apa pun di antara kita. Kau bisa mencobanya untuk menurunkan suhu tubuhku agar aku tidak menggigil lagi. Kau mau melakukannya, 'kan?"