
Perjalanan yang cukup jauh membuat Anya tertidur lelap di pangkuan Yang Pou Han. Gadis kecil itu tumbuh cantik dengan wajah oriental begitu mirip dengan papanya. Tampaklah Yang Pou Han mengusap-usap kepala Anya dengan gemas dan penuh sayang. Nindy mengabadikan momen kebersamaan suami dan anaknya menggunakan ponsel pintar miliknya.
Tidak menyangka jika Tuhan memberikan kehidupan yang begitu menyenangkan setelah sekian banyak ujian yang datang bertubi-tubi di dalam hidup Nindy. Nindy tersenyum seraya mengucap syukur dalam hati. Dua orang istimewa di sampingnya adalah penyemangat hidupnya. Dia sangat menyayangi keduanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Lelaki itu mengawasi Nindy yang tersenyum sendiri dengan tatapan heran. Tangannya menarik bahu Nindy untuk direngkuhnya dalam dekapan. Perempuan itu memiringkan kepalanya, bersandar di bahu Yang Pou Han.
"Tidak ada. Aku bahagia. Aku tidak menyangka hidup denganmu begitu menyenangkan."
"Tentu saja. Kau beruntung mendapatkan suami sepertiku." Dengan tidak tahu malu Yang Pou Han mengatakannya.
"Yeah, hanya aku yang beruntung. Kau pasti sangat sial karena menikah denganku."
Yang Pou Han terkikik ringan. Dikecupnya kening Nindy penuh sayang. Dia memang selalu membanggakan diri di depan sang istri, tidak mau kalah jika itu menyangkut rasa percaya diri. "Aku mencintaimu."
Satu ungkapam cinta selalu berhasil mereda rasa ingin merajuk Nindy. Dia melingkarkan lengannya di depan Yang Pou Han, memeluk Anya dan suami secara bersamaan. "Aku mencintai kalian." Nindy berkata seraya mencium pipi Yang Pou Han dan Anya secara bergantian.
... ***...
Mobil Fortuner Sport telah memasuki sebuah rumah mewah dengan pagar tinggi menjulang mengitari bangunan itu. Mobil itu berhenti tepat di depan pintu masuk kediaman Paderson. Tampaklah Nindy keluar terlebih dulu dengan disusul Yang Pou Han yang sedang membawa Anya dalam gendongannya. Sopir mengeluarkan koper milik Nindy dan Yang Pou Han, lalu diambil alih oleh pelayan.
"Nindy!" Salwa yang sudah menunggu kedatangan mereka segera berhambur memeluk Nindy. Kedua wanita hebat itu saling memeluk, mengabaikan Yang Pou Han yang berdiri di samping mereka.
"Bagaimana kabarmu? Kau terlihat semakin cantik." Salwa memuji Nindy dengan tulus. Ya, aura kebahagiaan yang terpancar di wajah Nindy membuat perempuan itu tampak semakin cantik.
"Kau terlalu berlebihan. Justru aku yang harus mengatakan itu," ucap Nindy diselingi gelak tawa keduanya. Mereka ingin melanjutkan obrolan, tetapi suara Yang Pou Han membuat Nindy dan Salwa mengurungkan niatnya.
"Kalian sibuk dengan diri sendiri. Setidaknya suruh kami masuk." Yang Pou Han tampak menyela obrolan dua ibu-ibu muda yang saling melepas rindu.
"Oh, maafkan aku. Aku terlupa mempersilakan kalian masuk." Salwa mengangguk. Dia mempersilakan Nindy dan Yang Pou Han untuk masuk terlebih dulu.
Di dalam terlihat Kinan bermain dengan adiknya, Reynand. Dua anak laki-laki tampan yang membawa dengan baik gen milik sang ayah tampak akrab dengan berbagi mainan. Sementara tuan rumah, Sean Paderson terlihat baru turun dari tangga menyambut kedatangan Nindy dan Yang Pou Han.
"Kau datang juga," ucap Sean setelah kakinya menapaki anak tangga terakhir. Sean menoleh ke arah Salwa setelahnya."Sayang, tunjukkan kamar mereka."
Tanpa membantah, Salwa mengangguk seraya mengajak Nindy dan Yang Pou Han untuk mengikutinya. "Ayo, aku antar ke kamar kalian."
Rumah keluarga Paderson benar-benar luas. Mereka menggunakan design modern dengan warna monocrom mendominasi. Sepertinya design itu bukan Salwa yang memilihnya, tetapi Seanlah yang memilih dan memikirkan design rumahnya. Terlihat gaya eropa masih sangat kental di sini. Akan tetapi, semuanya tampak modern dan elegan dengan kombinasi yang cocok dan enak dipandang.
Salwa membukakan pintu kamar tamu yang terletak di lantai dua, sedikit jauh dari kamar utama di mana kamar Sean dan Salwa berada. "Kalian pasti sangat lelah. Beristirahatlah! Anggap saja rumah sendiri. Nanti kalian bisa keluar saat makan siang," ucap Salwa ramah kepada Nindy dan Yang Pou Han.
__ADS_1
Nindy mengangguk seraya mengucapkan terima kasih. Membiarkan Yang Pou Han masuk terlebih dulu karena beban yang dibawanya cukup berat. Ya, Anya masih dalam posisi tidur dalam gendongan Yang Pou Han. Salwa undur diri, mempersilakan tamunya beristirahat tanpa ada gangguan.
"Tutup pintunya!" Yang Pou Han segera bersuara setelah meletakkan Anya dalam posisi yang nyaman.
Nindy melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya, lalu melangkah ke arah kamar mandi. Badannya terasa lengket semua setelah perjalanan panjang yang dia lewati untuk sampai di kediaman Paderson.
"Mau ke mana?"
Nindy menoleh ketika suara Yang Pou Han menegurnya. "Ke kamar mandi. Aku ingin membersihkan diri. Rasanya sangat panas."
Lelaki itu tampak mengawasi Anya yang masih terlelap dan seketika dia menyunggingkan senyuman penuh arti.
"Aku ikut. Memangnya kamu saja yang kepanasan. Aku juga." Wajahnya dibuat sekesal mungkin membuat Nindy tak sanggup untuk menolaknya.
"Tapi ... hanya mandi, kan?"
"Ya, memang mau ngapain lagi? Jangan mesum, ya!" Yang Pou Han mencolek hidung Nindy, lalu melangkah mendahului sang istri untuk ke kamar mandi.
Nindy tampak berdiam diri, memilih mengalah, membiarkan Yang Pou Han mandi terlebih dahulu. Ya, mungkin Yang Pou Han merasa kegerahan karena cuaca di sini begitu panas. Sampai suara Yang Pou Han memanggilnya, membuat Nindy segera menoleh ke arah kamar mandi.
"Di dalam tidak ada handuk?" Aneh sekali, Salwa tidak menyiapkan handuk di kamar tamu.
"Tidak ada, buruan!"
"Ya, tunggu sebentar!" Nindy membuka lemari pakaian yang ada di kamar itu. Di sana sudah tertata beberapa handuk yang sudah disiapkan pemilik rumah. Mengambil satu handuk berwarna biru muda, Nindy segera melangkah ke kamar mandi untuk memberikan handuk itu kepada Yang Pou Han.
Nindy mengetuk pintu kamar mandi dan tampaklah tangan lelaki itu dijulurkan keluar. Nindy segera memberikan handuk itu ke tangan Yang Pou Han. Akan tetapi, tepat ketika tangan mereka bersentuhan, tangan lelaki itu tidak mengambil handuk, melainkan menarik tangan Nindy agar ikut masuk ke dalam.
"Eh!" Nindy memekik terkejut. Tubuhnya tertabrak dada lelaki itu yang sudah tak berpakaian. Dia melotot, memprotes tindakan Yang Pou Han.
"Yang!"
"Aku dari tadi menunggumu. Kau lama sekali!" Yang Pou Han mengentakkan tubuh Nindy ke dinding marmer kamar mandi, memerangkap tubuh perempuan itu dengan kedua tangan yang dia tempelkan ke dinding.
"Aku ... menunggumu keluar." Wajah Nindy sudah merona, merasakan telapak tangannya menyentuh tubuh lembab lelaki itu.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu menunggu di luar?" Lelaki itu makin mendekat, membuat Nindy semakin salah tingkah.
"Aku takut Anya terbangun."
"Dia masih tidur. Jangan beralasan lagi."
"Tapi ... kau bilang hanya mandi, kan?"
"Itu tadi, sebelum kau mengabaikanku."
"Lalu?"
Dan semua perdebatan akhirnya berakhir hanya dengan satu ciuman dari Yang Pou Han yang membuat Nindy hanya bisa bungkam dengan segala perlakuan lelaki itu. Tangan Yang Pou Han teramat trampil untuk melepaskan satu persatu kain yang menutupi tubuh Nindy. Lelaki itu bahkan melakukannya tanpa melepas ciuman mereka.
Dia memindahkan tubuh Nindy di bawah pancuran shower, menikmati dentuman air yang diatur tidak terlalu deras hanya untuk membuat suasana semakin menghangat. Seperti seorang predator yang telah lama tak mendapati mangsa, lelaki itu bahkan tak memberi kesempatan Nindy untuk menolak.
Hasrat Yang Pou Han selalu berkobar ketika Nindy berada di dekatnya. Cumbuan tak henti-henti diberikannya kepada Nindy, hingga tiba waktunya Yang Pou Han akan menyelesaikan semuanya.
"Papa, Papaaa!" Terdengar suara tangis dengan gedoran di pintu kamar mandi.
Nindy dan Yang Pou Han melepaskan pertautan bibir mereka. Nindy menelan ludah, Anya telah bangun. Seolah sedang terkena razia, mereka buru-buru mencari pakaian kembali.
Pakaian Nindy sudah berserakan di lantai. Dia tak mungkin menggunakan pakaian basah itu. Sementara handuk hanya membawa satu.
Yang Pou Han memilih mengenakan pakaian lamanya, sementara Nindy mengenakan handuk dengan dililitkan sebatas dada.
Suara gedoran itu semakin menjadi, membuat keduanya kelabakan. Yang Pou Han segera membuka pintu kamar mandi dengan cepat, lalu mendapati Anya tengah menangis di depannya.
Dengan penuh kesabaran lelaki itu menggendong Anya untuk menenangkannya. "Papa ada di sini. Jangan menangis, *My Sweety*!"
Bola mata Anya menatap ke arah dalam kamar mandi. Dia mendapati Nindy yang ikut basah kuyup seperti papanya. Dia mengusap air matanya, lalu mengernyit heran. "Mama mandi? Kenapa Papa juga di dalam? Papa ngintip Mama?" tuduh Anya, menatap marah ke arah Yang Pou Han.
"Apa? Tidak, Papa tidak mengintip. Tadi Papa hanya cuci tangan di dalam sebentar, tidak ngintip Mama."
"Beneran?" Anya tampak tertawa setelahnya. "Papa kalau cuci tangan jangan sama kepalanya, cukup tangannya saja. Nanti Anya akan ajarin Papa cara cuci tangan yang benar," ucap Anya ketika melihat rambut dan wajah Yang Pou Han ikut basah kuyup.
__ADS_1
Yang Pou Han tersenyum kemudian, mencium pipi gembul Anya. "Iya, Papa tidak tahu caranya. Nanti ajarin Papa, ya?"
...***...