Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
66. Taubatnya Seorang Pendosa


__ADS_3

Detik jam terus berputar, bergerak seirama dengan putaran waktu yang terus bergulir. Tetesan keringat membasahi pelipis, mengiringi rasa cemas di dada yang kini sedang mengais.


Yang Pou Han duduk di kursi tunggu, menatap lurus ke pintu ruang operasi yang ada di depannya. Lama, sangat lama dia rasakan waktu menunggu saat itu. Ingin sekali dia mendobrak pintu tertutup itu demi melihat bagaimana kondisi Nindy sekarang.


Bagaimana perjuangan Nindy dalam melawan penyakitnya di sana?


Apakah Nindy sanggup melewati semua tanpa Yang Pou Han di sisinya? Ini adalah operasi besar. Melibatkan banyak dokter bedah di dalamnya.


Seorang bisa saja kehilangan nyawa di ranjang operasi, karena menurut Dokter prosentase keberhasilan dan kegagalan adalah sama, yaitu lima puluh persen. Jika operasi ini berhasil, maka Nindy memliki harapan hidup baru. Apabila gagal, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Yang Pou Han selain merelakan kepergian istri tercinta.


Dia tak kuasa jika membayangkan Nindy tiada secepat itu. Baru saja mereka saling menyatakan cinta. Baru saja dirinya membuat Nindy tersenyum bahagia karena cinta yang telah dia curahkan, tetapi perempuan itu harus mengalami hal memilukan seperti saat ini. Nindy seharusnya bisa bahagia lebih lama, mendapatkan kasih sayang serta kebahagiaan dari suami dan juga anak semata wayangnya, Anya.


Yang Pou Han memijit pelipisnya yang terasa pening dan berdenyut. Terlalu cemas dan banyak pikiran membuat kepalanya seperti dihantam batu besar, terasa nyeri dan pusing. Lelaki itu setia terpaku dengan menatap ruang operasi yang masih menyalakan lampu warna merah di atasnya, tertutup rapat tanpa ada celah sedikit pun.


Seorang dokter tampak keluar dari ruang operasi itu setelah beberapa lama, tetapi lampu emergency tetap menyala, menandakan proses operasi masih berlangsung di dalamnya.


Yang Pou Han segera bangkit dari duduknya, melangkah menghampiri Dokter itu. "Bagaimana kodisi istriku, Dok?"


Dokter laki-laki itu tampak berdehem sejenak setelah menghela napas kasar. "Kami sedang berusaha. Mohon bersabar dan menyiapkan hati dengan kemungkinan buruk yang terjadi!"

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Yang Pou Han menajamkan sorot matanya, menghunjam ke arah sang Dokter.


"Pasien kritis. Hanya Tuhan yang bisa mengubah takdirnya. Berdoalah untuk kesembuhannya, biarkan kami yang berjuang." Dokter itu menepuk bahu Yang Pou Han sebelum meninggalkan lelaki itu.


Yang Pou Han mengacak rambutnya kasar. Dia terlihat berantakan, dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan. Sangat berbeda dengan penampilannya sehari-hari yang selalu rapi dan modis.


Berdoa demi kesembuhan Nindy? Apakah dia bisa melakukannya? Bukankah dia bukan pria yang taat, apakah Tuhan akan mendengarkan doanya?


Yang Pou Han memang mengerti salat, tetapi terkadang dia melalaikannya. Dia tahu itu adalah kewajiban setelah dia memutuskan untuk menerima keyakinan Nindy, tetapi terkadang rasa malas dan enggan untuk beranjak ketika pekerjaan sedang menumpuk membuat dia lalai. Lalai akan kewajiban seorang muslim.


Hingga ketika Yang Pou Han dihadapkan dengan ujian berat seperti saat ini, hatinya ragu. Dia malu untuk meminta, karena dia tidak melakukan kewajibannya dengan benar.


Ya, Yang Pou Han menyadari, ketika berhadapan dengan maut, maka manusia akan merasa kerdil di hadapan Sang Pencipta. Nyawa bukanlah sebuah mainan yang bisa dilenyapkan begitu saja. Ada seseorang yang berhak atas nyawa itu, tetapi tetap Tuhanlah yang mengatur berapa lama nyawa itu bersemayam di dalam si pemilik tubuh.


Dulu nyawa seseorang adalah mainan bagi Yang Pou Han. Dengan mudah dia melenyapkan nyawa seseorang, hanya demi mempermudah segala urusannya. Dia tidak pernah berpikir jika ada Zat lain yang berhak dan memiliki kuasa penuh atas nyawa itu. Dengan mudahnya dia merenggut secara paksa nyawa seseorang yang sesungguhnya di luar kapasitasnya sebagai sesama manusia.


Apakah Tuhan sedang menghukumnya atas kesalahannya di masa lalu? Apakah dia bisa dimaafkan mengingat banyaknya dosa yang telah dia lakukan sebelumnya? Tangannya berlumuran darah, mulutnya sering berdusata. Suka memprovokasi dan merendahkan orang lain adalah kesenangannya. Sungguh Yang Pou Han merasa dirinya begitu nista.


Dan saat ini, Yang Pou Han merasa takut jika nyawa kecil dan lemah yang bersemayam di tubuh Nindy akan diambil oleh yang Kuasa. Bukankah perempuan itu selalu tersakiti di dunia? Tak cukupkah Tuhan memberi ujian kepada Nindy dengan apa yang telah perempuan itu alami sejak kecil? Ataukah, semua yang terjadi kepada Nindy hanya untuk menegur Yang Pou Han serta mengingatkan dosa-dosanya di masa lampau? Jika itu benar, maka dialah yang patut disalahkan atas apa yang telah menimpa Nindy.

__ADS_1


Tubuh Yang Pou Han melungsur ke lantai, merobohkan segala kesombongan dan keangkuhannya selama ini. Dia tidak berdaya dengan tubuh lemas tak bertenaga. Harapannya kian menipis, menatap pintu ruang operasi itu masih tertutup rapat dengan lampu masih menyala.


Dia bersimpuh, mengangkat kedua tangan, merendah kepada yang Khalik, Tuhan penerima taubat. Air matanya mengalir dengan deras, membasahi pelipis juga pipi seiring kata maaf yang terlontar pada bibirnya. Permohonan maaf dengan dosa-dosa yang telah dia lakukan dulu terdengar bergetar bercampur isak tangis.


Bukankah Tuhan mencintai tangisan taubat seorang pendosa daripada tasbih seorang alim yang sombong?


Ilmu agamanya memang kecil, bahkan tidak ada. Akan tetapi, dia sadar dengan kekerdilan dan ketidakberdayaan dirinya di hadapan Tuhan, dia membutuhkan campur tangan Tuhan.


Hanya Tuhan yang mampu menyembuhkan Nindy. Bukan Dokter, bukan Yang Pou Han dengan segala kekuasaannya. Doa-doa itu terpanjat dengan segala keikhlasan dan harapan yang masih ada. Ya, bukankah Tuhan tidak suka jika hambanya menyerah? Yang Pou Han masih menggantungkan harapannya di atas langit, mengetuk arsy di mana Tuhan sedang bersemayam.


Tepat ketika Yang Pou Han menangis tersedu dalam senyap di depan ruang operasi, seseorang menepuk bahunya. Dia menoleh seketika, menatap siapa yang telah mengganggu doa-doanya.


Yang Pou Han terperangah, terkejut dengan siapa yang tengah berdiri di belakangnya. "Sean Paderson?"


"Aku tidak terlambat, bukan?" ucap Sean dengan menoleh ke belakang, memberikan kode kepada seseorang yang tengah bersembunyi di belakangnya.


Tatapan mata Yang Pou Han mengikuti pergerakan pandangan Sean. Dan seketika seseorang yang berada di balik tubuh Sean bergerak maju, berdiri di samping Sean Paderson.


"Aku sudah memeriksakannya, dan tingkat kecocokannya hampir sembilan puluh persen. Dia sudah siap melakukannya."

__ADS_1


Yang Pou Han tampak ragu, tetapi dia mengangguk menyetujui. Tiada pilihan lain, yang terpentung adalah keselamatan Nindy. Lelaki itu menatap kembali orang itu dengan pandangan yang berbeda. Ya, dia, seseorang yang telah lama dicari Yang Pou Han untuk menolong Nindy akhirnya bisa ditemukan.


__ADS_2