Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
67. Kuasa Tuhan


__ADS_3

Hiruk-pikuk manusia yang sedang berlalu lalang di luar sana terdengar bagaikan kicauan burung kenari. Pemandangan yang biasa dilihat dalam keseharian di mana mereka saling bekejaran oleh waktu dan kesempatan, terkadang tak memedulikan keadaan di sekitarnya.


Di tengah lalu-lalang itu, ada seseorang yang termangu dalam diam. Pikirannya hanya terpaku dan terfokus pada satu tujuan. Rasa was-was yang mencekam di jiwa, bersamaan harapan yang masih bercokol dalam pikiran mengapkirkan kesalahan demi kesalahan yang sempat dilakukan.


Hampir satu jam menunggu. Proses bedah untuk mengambil sel-sel kanker yang masih bersemayam di tubuh Nindy cukup membuat ketegangan dalam diri Yang Pou Han. Sean Paderson duduk di sampingnya, meninggalkan istri dan anak-anaknya demi menemani lelaki itu, Yang Pou Han.


Berbeda dengannya. Sean masih memiliki saudara kendati itu hanya saudara angkat, tetapi mereka sangat peduli kepadanya. Namun, hal berbeda terjadi dengan Yang Pou Han. Lelaki itu sendiri, tiada kerabat atau pun teman yang bisa menyokong dan memberi dukungan di saat terpuruknya. Dia terbiasa bekerja keras sendiri, menyembuhkan lukanya sendiri, dan terlalu mengandalkan kesendiriannya itu.


Dan saat ini, sosok teman sangat dibutuhkan di saat-saat sulit.


Ini adalah operasi terakhir. Harapan agar Nindy bisa bertahan sangatlah besar. Jika Operasi ini berhasil, Nindy bisa melakukan proses tranplantasi sel punca, yaitu sel darah murni yang ada di sum-sum tulang belakang manusia.


Nindy membutuhkan itu, demi memperbaiki sel-sel darahnya yang sudah kesulitan untuk memproduksi darah dengan normal, akibat seringnya melakukan proses radioligi juga kemoterapi. Namun, semua akan bisa dilakukan jika proses operasi yang dilakukan Nindy saat ini berhasil.


Lampu itu berhenti menyala, dan itu tak lepas dari pengamatan Yang Pou Han. Lelaki itu segera bangkit dari duduknya, menyambut seseorang yang sebentar lagi akan keluar dari ruangan seram itu, mengabaikan Sean Paderson yang sejak tadi menemaninya.


Dua orang dokter dengan satu orang perawat keluar dari ruangan itu. Yang Pou Han tidak tinggal diam, segera dia memberondong pertanyaan demi pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya.


"Bagaimana kondisi istriku? Apakah dia baik-baik saja? Apakah operasinya berhasil?


Dokter yang masih berbalut pakaian steril dan masker wajah itu mengangguk ke arah Yang Pou Han, memberikan isyarat agar lelaki itu mengikuti menuju ke ruang kerjanya.


Hati lelaki itu kian berkecamuk, antara rasa cemas juga takut. Rasa ketakutan akan kehilangan sosok yang dicinta membuat hati Yang Pou Han makin gelisah.


Dunia seakan hanya sedang menunggu kabar darinya. Tiada yang lebih mengesankan dan patut untuk dinanti, kecuali harapan agar hidup kembali.


Sampai kakinya memasuki ruangan dingin ber-AC itu, mengikuti ke mana sang Dokter, yang mulai membuka pembicaraan dengannya. Dia duduk di kursi saling berhadapan dengan Dokter bedah itu.

__ADS_1


"Operasi berjalan lancar. Namun, kita masih menunggu hasilnya ketika pasien tersadar nanti. Jika kondisi pasien sudah stabil, kita bisa langsung melakukan transplantasi sel punca dari pendonor. Tolong tandatangani ini untuk melakukan tahapan selanjutnya! Kami akan berusaha semaksimal mungkin."


Tangan Yang Pou Han bergetar ketika ujung jarinya mengamit pulpen yang diserahkan oleh Dokter itu. Dia membaca keseluruhan berkas yang harus dia isi dan ditandatangani. Sebuah berkas perizinan yang mana hidup dan mati Nindy akan bergantung dengan hal itu.


Tiada pilihan lain selain membubuhkan tanda tangannya di atas kertas putih itu. Yang Pou Han segera meletakkan pulpen kembali dan membiarkan berkas putih itu tergeletak di atas meja dengan posisi terbuka.


***


Ini adalah hari ke dua di mana pasca operasi itu berlalu. Yang Pou Han masih menunggu, duduk di kursi yang didekatkan dengan ranjang perawatan Nindy. Perempuan itu belum sadarkan diri, tetapi degup jantungnya masih berdetak dengan stabil.


Dokter mengatakan, ini adalah hari terakhir penantian Nindy pasca operasi. Jika Nindy bisa melewati masa kritisnya, akan ada harapan baru baginya. Namun, jika Nindy tak kunjung sadar, maka kemungkinan perempuan itu akan koma dalam waktu yang lama.


Disekanya wajah Nindy dengan handuk basah yang telah direndam dengan air hangat, membersihkan bagian-bagian tubuh Nindy agar tetap steril dan bersih.


Setiap sapuan di tubuh kurus Nindy, lelaki itu teringat akan hari-hari berat yang telah dilewatinya bersama Nindy. Setitik air mata terjatuh membasahi pipi, seiring dengan rasa rindunya yang menggebu kepada Nindy. Nindy yang ceria, selalu menyempatkan diri untuk beradu mulut dengannya. Nindy yang sering kali memarahi tanpa canggung dan takut kepada Yang Pou Han, jika dirinya melakukan kesalahan. Yang Pou Han merindukan semua itu, merindukan hangatnya perhatian perempuan terkasih. Dia masih berharap, jika Nindy akan segera sembuh dan memulai hidup baru dengannya juga Anya.


Hingga sebuah suara yang terdengar lirih, serak, dan bergetar mengusik lamunan Yang Pou Han.


"Yang ...."


Sayup-sayup suara itu terdengar, begitu lirih dan lemah. Yang Pou Han bisa menangkapnya, membuat lamunan lelaki itu tertarik secara paksa ke permukaan.


"Yang ...." Suara itu terdengar lagi. Yang Pou Han segera membuka mata, lalu mengerjapkannya sekali. Tatapannya bersirobok dengan mata itu, mata yang telah lama dirindukannya terbuka, mata Nindy.


Detik waktu terus berputar, bayangan kelam tersingkir sudah. Senyum itu mengembang, tak bisa ditutup-tutupi. Harapan yang sempat terputus kini mulai terangkai kembali.


"Kau ... bangun?" Lelaki itu masih belum memercayai apa yang terjadi di depan mata.

__ADS_1


Yang Pou Han menghela napas lega, menahan air mata agar tidak mengalir lagi. Dia tidak ingin Nindy melihat kesedihannya.


Ya, Nindy telah sadarkan diri. Perempuan itu telah berhasil melewati masa kritisnya. Bukankah hal itu adalah berita yang sangat baik?


Tuhan telah menunjukkan kuasaNya. Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bersama Nindy lagi.


"Yang, aku ... haus." Suara lemah itu hampir putus asa lantaran Yang Pou Han tak kunjung bereaksi atas panggilannya.


Yang Pou Han segera mengangguk. Dengan cekatan lelaki itu meraih air mineral yang telah disediakan, memasukka pipa penyedot ke dalamnya, lalu memberikannya kepada Nindy.


Begitu hati-hati lelaki itu membantu Nindy duduk, menyamankan perempuan itu agar bisa minum dengan baik, membuat tubuhnya sebagai sandaran tubuh Nindy


"Terima kasih," ucap Nindy setelah menyerap sedikit minuman hanya untuk membasahi tenggorokannya saja.


"Aku akan memanggil Dokter. Aku akan memberi tahu kabar baik ini. Kita sudah mendapatkan pendonor yang tepat untukmu."


Yang Pou Han memeluk tubuh kurus Nindy. Bibirnya mengucap syukur berkali-kali. Akhirnya masa kritis itu terlewati. Dan itu artinya, Nindy akan bisa melakukan tranplantasi sel punca dari sum-sum tulang belakang seseorang yang telah terpilih.


"Benarkah?" tanya Nindy lirih.


"Benar, kau akan sembuh, Sayang. Kau akan sembuh."


Yang mencium pipi Nindy, melepaskan pelukannya segera. Tanpa menunggu persetujuan Nindy, Yang Pou Han segera beranjak dari duduknya berdiri, lalu keluar dari ruangan itu. Dia melupakan tombol emergency yang ada di atas kepala ranjang Nindy sebagai alat bantu untuk memanggil Dokter. Dia terlalu senang, sehingga tanpa berpikir lagi mencari sang Dokter untuk memeriksa kondisi Nindy dengan cara berlari.


Yang Pou Han terengah-engah setelah berlari dari ruangan Nindy. Lelaki itu berhenti ketika mendapati Dokter itu duduk di ruangannya. Dia masuk kemudian tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Napasnya masih tersenggal, penampilan berantakan, tetapi binar di matanya tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang kini tengah dirasakannya.


"Dokter, istriku telah sadar."

__ADS_1


****


__ADS_2