Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
50. Mencari Nindy


__ADS_3

Raga bergeming menatap sang pujaan. Hati yang kosong sebab kehilangan tujuan. Ketika cahaya kecil telah masuk pada sedikit celah yang sunyi. Menghangatkan, serta menerangi secara bersamaan. Membisikkan pikiran hampa, akan sebuah tujuan yang baru.


Langkahnya kian mantap dengan apa yang menjadi tujuannya kali ini. Lelaki itu sudah bersiap diri dengan meminjam salah satu mobil milik Sean Paderson.


"Kau yakin akan berangkat sendiri?"


Yang Pou Han mengangguk dengan pasti. "Aku akan menjemputnya sendiri. Aku berjanji akan membawanya kembali."


"Semoga beruntung. Dan jika dia menolakmu, apa yang akan kau lakukan?"


"Dia tidak akan menolakku. Kau tahu, dia sangat mencintaiku. Aku yakin, jika dia saat ini sedang merindukanku dan menunggu kedatanganku." Yang Pou Han nampak percaya diri, "Siapa yang bisa menolak pesonaku?" imbuhnya dengan bangga.


Sean berdecih mendengar perkataan lelaki itu. "Pesonamu tidak mempan untuk menarik perhatian Salwa. Itu membuktikan, jika pesonamu masih jauh di bawahku."


"Bukan tidak mempan. Akan tetapi, kau berbuat curang dengan memanfaatkan kondisinya saat itu, hingga dia mau menikah denganmu. Jika kau tak menculiknya saat itu, mungkin Salwa dan aku sudah bahagia saat ini."


"Sial! Berani bicara seperti itu, 'kan kuambil lagi mobilku. Jalan kaki saja sana, jemput istrimu!" Sean mengumpat kesal lantaran perkataan Yang Pou Han.


"Tenang saja. Itu masa lalu. Aku sudah mendapatkan ganti yang lebih menggemaskan. Sudahlah, aku sudah tidak sabar menjemput istriku."


Yang Pou Han melangkah menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah, mengabaikan raut kesal di wajah Sean. Dia memasukkan barang-barang yang mungkin diperlukan. Dia masuk ke dalam mobil, lalu menurunkan kaca mobil itu untuk sekadar berpamitan kepada Sean Paderson. "Baiklah, aku pergi. Salam untuk Salwa, siapa tahu dia mencariku." Dia masih saja berusaha membuat Sean cemburu.


"Ckk, pergi sana!"


Lelaki itu terkekeh kemudian, mengambil alih kemudi untuk segera melajukan mobil itu meninggalkan kediaman Sean Paderson.


***


Hampir empat jam dia melakukan perjalanan, berbekal Global Positioning System, Yang Pou Han nekat melakukan perjalanan seorang diri ke luar provinsi.


Tekadnya sudah bulat, membawa Nindy kembali ke dalam pelukannya. Dia sudah sangat merindukan perempuan itu. Senyumannya, perkataan konyolnya, sentuhan-sentuhannya dan juga ungkapan cinta yang sering Nindy ucapkan kepadanya sembari bersikap manja. Dia merindukan itu semua.


Dia tidak bisa menahan rindu itu lagi. Sudah cukup baginya menyiksa diri dengan tidak menunjukkan perasaan yang sesungguhnya kepada Nindy. Rasanya begitu sesak dan mencekik. Dia ingin mencurahkan rasa itu, mengungkapkan rasa itu, menyalurkannya dengan semestinya, yang selama ini hanya tertahan di dada.


Sampai ketika mobilnya memasuki sebuah bangunan yang nampak tua, yang ia yakini adalah panti asuhan tempat Nindy dibesarkan.


Bangunan itu terlihat tidak layak, melihat banyak anak-anak yang hidup di dalamnya. Menjadi tempat bernaung, juga berlindung dari panas matahari yang menyengat, dinginnya malam yang mencekam bagi mereka.


Yang Pou Han keluar dari mobilnya, melangkahkan kaki menuju bangunan tua itu. Lelaki itu sudah menyiapkan ear piece penerjemah bahasa di telinga untuk memudahkan dia berkomunikasi dengan orang yang akan ditemuinya.

__ADS_1


Hatinya kian tersayat, ketika kakinya sudah menapaki lantai ruang tamu panti asuhan yang terbuka. Banyak anak kecil di sana, dalam kondisi yang menyedihkan. Mereka makan dalam wadah besar yang sama, saling berebut untuk mendapat jatah, sekadar mengisi lambung mereka yang kosong.


Anak-anak itu bahkan mengabaikan Yang Pou Han yang saat ini berdiri di belakang mereka. Seolah makanan lebih menarik perhatian daripada tamu tak diundang.


Beginikah kondisi Nindy saat kecil? Hidup berdesakan dengan merelakan berbagi makanan dengan teman seperjuangan. Patutlah tubuh perempuan itu kurus tak terurus. Nindy pasti merasakan perjuangan hidup yang teramat keras, menahan caci maki juga hasrat mengenyangkan diri.


Ya, dia bisa melihat itu. Bagaimana ***** makan Nindy ketika Yang Pou Han membelikannya sup daging saat itu. Nindy bahkan tak menyia-nyiakan sisa kuah yang ada di mangkuk. Perempuan itu begitu menghargai makanan, seolah makanan adalah suatu hal yang paling berharga di dunia ini.


Sampai sebuah suara menegurnya, membuat lamunan Yang Pou Han segera tertarik ke permukaan.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu?"


Dia menoleh setelahnya, mendapati seorang wanita berusia paruh baya datang menghampiri.


Dia mengerti, tanpa berbasa-basi Yang Pou Han menunjukkan foto Nindy kepada wanita itu. "Apakah dia tinggal di sini?"


Wanita itu menatap lekat foto yang ditunjukkan Yang Pou Han kepadanya, lalu menatap Yang Pou Han secara bergantian. "Dia ... Nindy."


Lelaki itu tersenyum, akhirnya dia akan bertemu dengan Nindy setelah perjalanan panjang dan melelahkan yang telah dia lewati. Namun, kalimat selanjutnya yang diutarakan oleh wanita itu membuat Yang Pou Han harus berusaha lagi untuk ke sekian kalinya. "Maaf, Anda tidak bisa bertemu dengannya. Dia bekerja ke luar negeri menjadi seorang TKW sekitar tiga tahun yang lalu. Dia belum pernah kembali sampai saat ini."


"A-pa?"


***


Nindy baru saja pulang dari berbelanja. Rumah yang telah lama ditinggal penghuninya pasti membutuhkan banyak perawatan. Dia membeli beberapa peralatan masak, juga bahan-bahan makanan. Beruntung uang mahar yang diberikan Yang Pou Han saat itu cukup banyak, sehingga ia masih memiliki tabungan untuk bertahan hidup sebelum mendapatkan pekerjaan baru.


Dia menjijing kantung plastik besar setelah turun dari angkutan umum. Berjalan melewati gang-gang sempit untuk menuju ke rumahnya. Tatapannya hanya menuju ke bawah, dia tahu jika saat ini tetangga julid sedang mengawasinya.


Nindy tak terlalu memperhatikan jalan di depannya, sehingga tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya. Entah orang itu sengaja atau tidak, yang jelas hal itu membuat barang belanjaan Nindy jatuh berserakan.


"Maaf!" Nindy membungkuk, memunguti barang-barang yang tercecer itu.


"Biar aku bantu." Orang itu ikut menunduk, membantu Nindy mengumpulkan barang-barang belanjaannya. Karena terlalu sibuk memunguti barang belanjaan, tangan mereka tanpa sengaja bersentuhan. Bukannya melepas, dia semakin mengeratkan genggaman itu.


Nindy kesal, dia menarik tangannya, tetapi kesulitan lantaran genggaman itu kian menguat.


"Tuan, jangan keterlaluan!" Nindy membentak lelaki itu, terlihat berusia sekitar empat puluh tahuanan.


"Aku sering main ke sini, tetapi tidak pernah melihat gadis secantik kamu. Apakah kamu orang baru?" tanyanya dengan menunjukkan senyum yang menjengkelkan.

__ADS_1


Nindy masih berusaha menarik tangannya, berusaha melepaskan diri dari cengkraman lelaki tidak tahu malu itu.


"Lepaskan! Saya sudah menikah. Jangan macam-macam!"


Dia terkekeh, tak memercayai perkataan Nindy. Dengan mengangkat sebelah alisnya, dia berkata, "Benarkah? Aku tidak melihat cincin kawinmu? Apakah itu artinya kau akan bercerai dengan suamimu?"


"Bukan urusan Anda. Lepaskan tangan saya!"


Nindy melotot, merasakan cengkraman tangan itu kian kuat. Dia mempunyai ide untuk menggigit saja tangan lelaki hidung belang di depannya itu. Namun, ketika mulutnya akan menyentuh tangan itu, sebuah teriakan membuat Nindy mengurungkan niatnya.


"Hai, berani sekali kau mengganggu calon suami Dinda. Dasar anak pel@cur!" Perempuan tambun itu mendorong tubuh Nindy yang sedang berjongkok, sehingga tubuh Nindy terjerembab ke tanah.


Seketika tangan lelaki itu terlepas, melihat siapa yang menangkap basah dirinya berdua dengan perempuan cantik.


"Aku hanya membantunya. Tapi dia mencari kesempatan!" Lelaki itu berkilah.


Nindy menatap tajam lelaki itu. Mulutnya benar-benar penuh dusta. Perempuan berbadan tambun itu berkacak pinggang, menunjukkan raut permusuhan yang kental kepada Nindy.


"Dia berbohong! Dasar orang tua tidak tahu malu." Nindy kesal, dia menyebut pria itu sebagai orang tua, membuat perempuan berbadan tambun itu semakin marah.


"Kau yang tidak tahu malu! Dasar gatel! Aku sudah memperingatkanmu supaya tidak menggoda calon suami Dinda, tetapi kau memang tidak tahu malu! Pel@cur!" Ibu itu mendorong-dorong tubuh Nindy, sembari memaki-maki Nindy dengan sebutan-sebutan yang tak layak di dengar.


Keributan itu menarik perhatian banyak orang, terutama ibu-ibu penghuni komplek gang sempit itu. Wajah Nindy nampak memerah, malu dengan tatapan mencemooh orang-orang kepadanya. Setiap dia mengelak, melawan dan membela diri, tidak ada satu orang pun yang memercayainya. Dia tidak pernah berbohong, tetapi asal-usulnya membuat semua orang benci dan jijik kepadanya.


"Aku tidak melakukan itu. Dia yang menggodaku. Dia laki-laki buaya!"


Nindy merasa pipinya memanas, ketika tangan besar nan lebar itu memukulnya sekuat tenaga. Tangannya meraba pipi kemerahan dan sedikit lebam itu. Rasanya berdenyut nyeri. Nindy ingin membalas, tetapi dia tahan. Tidak boleh memukul orang tua.


Tatapan mengejek semua orang yang ditujukan kepadanya, membuat dia semakin tersudut. Nindy mundur ke belakang, membiarkan barang-barang belanjaannya berhamburan di jalan. Dia ingin segera menjauh dari manusia-manusia munafik itu. Namun, tepat ketika dia berbalik, keningnya terbentur dada seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.


Nindy menengadah, menatap siapa yang telah mengahalangi jalannya. Dan seketika dunia terasa berhenti berputar. Matanya memanas, ingin menangis. Merasakan sesak di dada yang semakin lama semakin mengimpit. Bulir air mata itu meluruh seketika karena tak sanggup dibendung. Rasa sakit hati, kecewa dan rindu bercampur menjadi satu.


Masa seolah-olah telah berakhir. Memikirkan rasa yang sempat terukir. Rindu itu menggebu, mendera, menyiksa di kalbu. Mencerabut denyut hati tanpa permisi. Menarik satu per satu kata dari sebuah bait puisi. Membuatnya seolah tiada arti.


Kini hanya ada Nindy dan dia. Dia si pemilik rindu. Si pemilik wajah di mana tempat hati berlabuh.


Nindy mengulum bibir bawahnya, seiring air mata itu jatuh terurai di wajah.


Dan satu tarikan di tangan, membuat semua pertahanan Nindy tergoyahkan. Di depan semua orang, dua anak manusia yang sempat terpisahkan, mengikis jarak dengan berpelukan. Semakin lama semakin mengerat, seolah enggan dan sulit untuk dilepaskan.

__ADS_1


"Nindy, aku merindukanmu," ucap lelaki itu dengan memejamkan mata, menenggelamkan wajah Nindy di dadanya.


__ADS_2