Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
26. Akhirnya Terjadi


__ADS_3

Note : Area dewasa.


ingat! Khusus untuk dewasa.


Bocil dilarang masuk!!


******


Dia masuk ke dalam mobil dengan tetap membawa Nindy dalam dekapannya. Tatapan lelaki itu nampak dingin, mengarah ke arah depan.


"Jalan!" perintah Yang kemudian.


Mobil itu melaju, meninggalkan area basement dengan beberapa mobil lain yang mengiringi di belakang. Nindy yang berada di dalam selimut hanya bisa memejamkan mata, menyandarkan tubuhnya di dada lelaki itu.


Bayangan kejadian mengerikan yang baru saja ia alami membuat air matanya menganak sungai membasahi pipi. Hidungnya memerah dengan mata yang sudah sembab dikarenakan terlalu banyak menangis.


Hari pernikahan yang seharusnya membahagiakan justru memberikan kenangan terburuk baginya. Dipermalukan di acara pesta pernikahan sendiri, dilecehkan oleh orang tak dikenal dengan mengalami kekerasan fisik secara bersamaan.


Nindy membenamkan wajahnya di dada lelaki itu, yang telah memeluk tubuhnya dengan selimut yang membebat di seluruh tubuh sampai batas kepala. Nindy hanya mengeluarkan wajahnya saja juga ujung tangan yang terlihat jemarinya. Perasaan marah, malu bercampur kecewa telah penuh sesak di dada.


Dia sama seperti perempuan lain, yang ingin hidup bahagia. Tanpa terusik masa lalu kelam, ataupun asal-usul dirinya yang memang kurang bisa diterima oleh khalayak umum.


Nindy merasa beban pikirannya sudah terlalu banyak, membuat otaknya bekerja lebih keras untuk mengurai sebuah sebab. Merasakan sebuah akibat yang telah ditorehkan pada sebuah kisah, luka masa lalu.


Karena pada dasarnya manusia, ketika membicarakan sebuah masalah lebih cenderung pada akibat yang ditimbulkannya. Padahal suatu akibat bisa terjadi karena banyak hal yang menjadi penyebabnya.


Seperti ketika Nindy terlahir dari rahim seorang tunasusila, mereka akan menyebut bahwa Nindy anak haram, akibat dari pergaulan bebas ibunya yang tidak bermoral dan berakhlak. Namun, apakah mereka sempat bertanya mengapa itu semua bisa terjadi? Karena menanyakan sebab akan membuat seseorang menggali empatinya dan berujung rasa iba juga kasihan, sementara kebanyakan orang lebih mudah men-judge dengan satu perkataan pedas yang melukai hati daripada harus menggali lebih dalam penyebab yang mendasari itu semua.


Dia masih menangis dalam diam, hanya ada sesenggukan yang keluar dari bibirnya. Masihkah dia sanggup untuk menatap lelaki itu? Lelaki yang sudah menyelamatkan kehormatan dan telah menjadi suaminya?


Pelukan itu terasa semakin erat. Nindy bisa merasakan itu. Bersamaan dengan kemarahan yang terukir di wajah Yang, Nindy justru melihat aura dingin itu menghangatkan dirinya.


****


Angin malam berembus semakin kencang. Mengibarkan surainya yang panjang dan sedikit bergelombang, menerpa wajah yang nampak sendu dan diliputi kesedihan.


Dia menggigit bibir bawah, memeluk tubuh kurus yang berbalut baju tidur kimono panjang berbahan sejenis satin roberto cavalli kualitas tinggi. Berkali-kali ia loloskan bulir bening itu, menyekanya dengan punggung tangan secara kasar.

__ADS_1


Ingatan tentang kejadian di toilet itu membuat Nindy membenci tubuhnya sendiri. Dia merasa jijik dengan tubuh yang sudah terjamah secara paksa. Wajah mesum dan seringai menjijikkan dari pria itu masih terpatri jelas dalam ingatannya.


Nindy tak mampu untuk keluar dari pikiran buruk tentang dirinya. Menghukum diri sendiri atas kecerobohan yang tak mengindahkan ucapan suaminya. Jika sedikit saja Yang Pou Han datang terlambat, ia tidak akan pernah tahu apa yang saat ini terjadi kepada dirinya.


Aroma tubuh lelaki itu terasa melekat kuat menyatu dalam tubuhnya, terendus dalam indra penciumannya. Teriakan yang tertahan, air mata yang meluruh tanpa henti dengan senyum menjijikkan dari lelaki itu terus-menerus berputar di kepala Nindy.


Seburuk apa pun masa lalunya, tak pernah sedikit pun Nindy merasa terpuruk seperti ini. Selama ini dia sudah berusaha menjaga tubuhnya, tak membiarkan seorang pun menjamahnya hingga siang tadi, semuanya telah terjadi. Seolah usaha yang selama ini ia lakukan sia-sia belaka. Nindy merasa sudah kotor, dia tak sesuci dulu lagi.


Hingga saat sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya, memeluk dia dari arah belakang, berhasil membuyarkan lamunan Nindy. Nindy yang tangannya mengerat di atas pagar teralis besi yang ada di balkon kamar, seketika menoleh kepada seseorang yang berada di belakangnya.


Lelaki itu mengenakan baju tidur yang sama dengannya. Warna merah marun dengan tali mengikat di pinggang.


"Yang ...."


Lelaki itu memperhatikan wajah Nindy yang penuh air mata, dia melihat memar di pipi istrinya itu mulai membiru, membuat kilatan mengerikan di matanya. Namun, tatapan dingin itu segera ia buang dan beralih lembut ketika menatap manik hitam Nindy.


"Mengapa kau menangis?" ucapnya seraya menunduk.


Dia menggeleng kemudian. Bulir bening itu berhasil meluruh begitu saja, tanpa sanggup ia tahan lagi. "Aku ... tidak pantas untukmu, Yang. Masa lalu keluargaku yang kelam hanya akan membuatmu malu, dan sekarang aku ... aku sudah kotor. Aku kotor, aku sudah kotor, Yang. Aku tidak pantas menjadi istrimu." Suaranya terdengar bergetar, sarat akan kesedihan juga keputusasaan.


Yang membalikkan tubuh Nindy, menghadap dirinya. Menatap manik bening dan berembun itu. Dia mengusap lembut air mata itu dengan ibu jarinya.


"Apakah di sini?" tanyanya dengan menyentuh bibir Nindy.


"Atau di sini?" menunjuk bagian lain.


Nindy mengangguk sembari menunduk, tak mampu berkata-kata. Dia sudah merasa menjadi wanita paling hina dan kotor di dunia ini.


Yang mengangkat dagu Nindy dengan jari telunjuk, membuat gadis itu menengadah menatap wajahnya. Lelaki itu mendekatkan wajahnya, hingga embusan napasnya menerpa wajah Nindy, hangat.


"Biarkan aku membantumu menghapus kenangan buruk itu dari tubuhmu?" bisiknya dengan suara parau.


Bersamaan dengan perkataan itu berakhir, lelaki itu memagut bibir mungil nan lembab itu, mengulumnya sesaat tanpa ***** seperti yang sebelumnya ia lakukan. Dia membelaikan lidahnya perlahan ke permukaan bibir itu, tak ingin bersikap kasar dan melukai. Yang benar-benar sangat hati-hati dalam mencium Nindy kali ini. Sangat lembut juga melambat.


Hingga kedua mata mereka terpejam, diselingi oleh embusan angin malam yang melambai-lambaikan surai indah itu yang tertangkup oleh lengan kekar yang melingkar di belakang kepalanya, menahan tengkuk Nindy untuk tetap di tempat.


Yang memperdalam ciuman mereka, dengan satu tangan melingkar di pinggang, sementara tangan yang lain menahan kepala Nindy di belakang. Sinar rembulan menyapu wajah keduanya yang saling berhadapan, dengan mata sayu diliputi perasaan antah-berantah yang tak dapat diterjemahkan juga dipetak-petakkan.

__ADS_1


Sampai ketika deru napas itu menggebu, bersamaan udara yang mulai menipis di paru-paru, Yang melepaskan pagutan bibir itu, menyatukan keningnya dengan kening Nindy. Mengembuskan hawa panas di permukaan wajah Nindy.


"Aku akan menghapus semua kenangan buruj itu dengan menggantikannya dengan kenangan lain. Aku akan membantumu melupakan kejadian itu."


Perlahan dia mendorong Nindy ke belakang, mengentakkan tubuh itu ke dinding. Hingga Nindy tak mampu lagi bergerak karena pembatas yang sudah menempel di punggungnya.


Melihat Nindy sudah terpojok, Yang segera memosisikan telapak tangan kanannya di tembok, tepat di sebelah atas pundak Nindy. Menahan agar Nindy tak bisa menghindar darinya.


Sementara itu, tangan kiri Yang segera menyelip di lekuk pinggang Nindy. Melingkar hingga ke punggung lalu menarik tubuh nan indah itu perlahan, mendekatkan kepada dada bidangnya yang sudah bergemuruh tak tertahankan..


Dia menundukkan wajahnya, menyelip di ceruk leher putih itu. Sedikit menyibakkan baju tidur yang membungkus bahu indah itu hingga memperlihatkan bahu sampai sebatas ketiak.


Hidungnya menempel, menelusuri bahu serta leher, membuat kecupan-kecupan kecil di sana hingga mengakibatkan bulu halus Nindy meremang. Sensasi aneh, geli, malu, bercampur nikmat beradu menjadi satu. Nindy tak kuasa untuk menahan kecupan bertubi-tubi itu hingga suara asing dan liar tak sengaja keluar dari bibirnya.


Yang menghentikan pergerakan bibirnya. Dia tersenyum simpul kemudian. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua. Malam yang penuh dengan energi untuk saling menerima dan berbagi kehangatan.


Sampai ketika Nindy merasakan tubuhnya terayun dan melayang. Lelaki itu membawanya masuk ke dalam kamar, membiarkan pintu kaca itu dalam posisi terbuka. Dia membaringkan Nindy di atas ranjang, mematri wajah sendu nan teduh itu.


Tatapannya beralih ke arah tali pengikat yang terlilit dengan simpul tarik. Lelaki itu merangkak, menaiki ranjang itu, menyusul Nindy yang sudah berbaring di sana. Hanya dengan satu tarikan, dia berhasil melepaskan simpul itu dan membuat baju tidur itu terbuka.


Tangannya bergerak lincah, menyentuh sesuatu yang selama ini membuatnya begitu penasaran. Yang memungut selimut di bawah kakinya, menutupkan ke tubuhnya dan tubuh Nindy yang tanpa mereka sadari sudah tak berbalut apa pun.


Wajah Nindy sudah memerah ketika merasakan lelaki itu begitu piawai dalam menuntunnya untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Sentuhan yang membuatnya melayang dengan kecupan-kecupan ringan yang ia dapatkan di sekujur tubuh membuat badan Nindy menegang dan melemas secara bersamaan.


Suara asing yang beberapa kali keluar dari bibir Nindy akibat sentuhan-sentuhan lelaki itu, juga posisi mereka yang begitu intim membuat Nindy malu, tetapi lelaki itu seakan tak peduli.


Hingga ketika Yang Pou Han merasakan semuanya telah siap, dengan Nindy yang tampak sudah tak bisa berkutik lagi, dia melakukannya dengan sekali entakan. Teriakan kesakitan Nindy membuktikan jika mereka telah melakukan penyatuan yang sudah lama tertunda. Cengkraman tangan lelaki itu yang mengapit di sela-sela jemari Nindy memberikan kekuatan kepada perempuan itu untuk menerima penyatuan mereka.


Luruh sudah segala rasa benci, sesal, sedih bergantikan dengan kehangatan juga kasih sayang. Hingga sang rembulan yang sedang mengintip kegiatan mereka merasa iri juga rendah diri.


Yang menyeka bulir air mata Nindy yang mengalir ketika merasakan kesakitan di area pribadinya. Kenyataan bahwa Nindy adalah masih perawan membuat lelaki itu merasakan kepuasan yang belum pernah ia rasakan. Hingga ketika selesai menyemburkan cairan itu ke rahim sang istri, dia tak langsung melepasnya. Masih betah berlama-lama dalam posisi seperti itu sembari menatap wajah sang istri yang sudah kelelahan dibuatnya.


Dia tersenyum kemudian, menghadiahi kecupan di kening serta bibir. Menyelesaikan semuanya secara tuntas tanpa tersisa.


Yang memeluk tubuh yang sudah terasa remuk redam itu, tak bertenaga karena dirinya. Dia membelai punggungnya, meletakkan lengan sebagai bantalan kepala Nindy.


"Tidurlah," ucapnya seraya mengecup kening Nindy.

__ADS_1


Dia mengangguk, membenamkan wajah kemerahan itu di dada Yang Pou Han, yang terasa hangat dan nyaman. Mereka tertidur kemudian dengan posisi saling memeluk dengan senyum mengembang di bibir. Berselimutkan dengan selimut yang sama dengan tubuh urian yang saling menempel.


》Bersambung...


__ADS_2