
Lelaki itu sudah keluar dari kamar mandi. Mengenakan handuk kecil untuk mengusap-usap kepala, sekadar mengeringkan rambut yang basah setelah usai keramas.
Nindy memalingkan muka, ketika netranya menangkap bagaimana Yang Pou Han secara tidak tahu malu keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililit di pinggang. Pria itu tak melihat tempat, mereka sedang berada di kamar rumah sakit dan bukan berada di dalam kamar pribadi. Bagaimana jika tiba-tiba dokter atau perawat datang memeriksa atau mengganti cairan infus Nindy?
"Apakah kau tidak tahu malu, atau memang tidak punya malu?" tanya Nindy yang sengaja menghina Yang Pou Han.
Ucapan seperti itu sama sekali tidak membuat lelaki itu tersinggung. Dia terkekeh sembari melempar haduk basah itu ke atas keranjang. "Apakah kau merasa terganggu melihatku seperti ini?"
"Apa, aku? Tidak mungkin. Jangan bermimpi!" jawab Nindy tanpa menatap ke arah Yang Pou Han.
"Baguslah kalau begitu." Yang mengambil bungkusan plastik yang ternyata berisi pakaian yang masih baru. Asisten Lie sudah mengirimkan pakaian untuknya juga untuk Nindy. Tanpa tahu malu, Yang melepaskan handuk yang membelit pinggangnya begitu saja di depan Nindy, mencemari pandangan perempuan itu dari tubuh yang masih basah dan lembab dengan harum segar sabun mandi.
Ekor mata Nindy tergelitik untuk sedikit mengintip ke sana, di mana lelaki itu akan mengganti handuknya dengan celana. Seketika ia palingkan wajahnya lagi, benar-benar lelaki itu tidak punya rasa malu.
"Rasa malumu memang sudah hilang, ya?"
Yang Pou Han yang baru saja menaikkan resleting celananya menoleh ke arah Nindy. Dia tersenyum miring menanggapi. Hanya dengan mengenakan celana saja, lelaki itu melangkah menghampiri Nindy yang masih berbaring di ranjang. Dia membungkuk kemudian, meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Nindy.
"Tidak perlu mengintip seperti itu. Kau mendapatkan izin dariku untuk melihat semuanya secara langsung."
Rona merah itu seketika merambat di wajah Nindy, menjalar hingga ke telinga. Bagaimana lelaki itu bisa mengucapkan hal memalukan seperti itu tanpa segan. "A-ku tidak mau. Kau terlalu percaya diri, Yang."
"Benarkah? Kalau begitu biar aku yang melihat milikmu."
__ADS_1
Nindy ternganga lantaran perkataan yang diucapkan oleh Yang Pou Han. Matanya mendelik penuh ancaman juga antisipasi, bisa-bisanya lelaki itu berkata mesum di saat kondisinya lemah dengan selang infus masih menancap di tangan. "Jangan macam-macam, Yang!"
"Apakah itu bisa disebut sebagai ancaman?" Dia menekuk sikunya, hingga lengan bawahnya menempel ke ranjang, mengikis jarak wajahnya dengan wajah Nindy. Pun dengan dada telanjang lelaki itu, hampir mengimpit tubuh lemah Nindy yang terbaring tak berdaya. "Aku suka jika bermain dengan sedikit kasar, permainan dengan cara saling mengancam. Sepertinya itu bisa kita jadikan variasi, jika dengan cara biasa sudah terlalu membosankan." Perkataan Yang membuat tubuh Nindy menggigil seketika. Membayangkan permainan apa yang dimaksudkan oleh lelaki itu.
"Kk-kau mau apa, Yang?" Nindy menahan dada lembab lelaki itu yang hampir menempel dengan tubuhnya menggunakan telapak tangan yang terbebas dari jarum infus. Nindy nampak gugup ketika melihat seringai mesum di wajah Yang Pou Han, lelaki itu bahkan mengatakan hal vulgar dengan sangat jelas tanpa mempertimbangkan di mana sekarang mereka berada. Dia sangat gila jika melakukan itu di rumah sakit, apalagi kondisi Nindy yang begitu lemah dengan selang infus masih terpasang di tangan.
Mata itu menyipit, melihat kegugupan Nindy. Wajah merona Nindy terlihat begitu menggelikan, seolah itu adalah hal yang sangat menghibur bagi Yang Pou Han.
"Aku ingin apa? Apakah aku perlu menjelaskannya?"
"Kau gila, Yang!"
"Aku tahu. Kau tidak perlu memberi tahuku."
"Ini rumah sakit," ucap Nindy memperingatkan.
"Kau ...."
****
Ranjang sempit itu terasa semakin sesak ketika lelaki itu juga ikut berbaring di sana. Tangan kekar itu tak melepas pelukannya dari tubuh Nindy sejak semalam, hingga Nindy tak bisa banyak bergerak.
Sampai di saat seorang perawat datang memasuki kamar perawatan Nindy, sedikit terkejut melihat posisi tidur mereka.
__ADS_1
Nindy yang terbangun terlebih dulu tersenyum tak berdaya kepada perawat itu. Padahal kamar yang digunakan Nindy dilengkapi satu buah ranjang lain sebagai tempat beristirahat keluarga yang sedang menunggu, tetapi lelaki itu justru memaksa Nindy untuk berbagi ranjang dengannya.
Malu, tentu saja Nindy malu ketika tertangkap basah sedang dalam posisi seperti itu, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain tersenyum dengan menyipitkan mata.
Dengan cekatan dan mengabaikan pemandangan yang baru saja dilihat, perawat itu mengganti botol infus Nindy yang hampir habis dengan botol infus yang baru. Memeriksa denyut nadi, tekanan darah juga mencatat keluhan Nindy sebagai laporan harian.
"Silakan beristirahat kembali, Nyonya." Perawat itu undur diri setelah menyelesaikan tugasnya memeriksa Nindy. Nindy nampak menghela napas, lalu menoleh ke arah pria yang sedang terlelap dengan kepala menunduk di ceruk lehernya
Mereka memang tidak melakukan apa-apa semalam, hanya tidur dengan tangan Yang Pou Han yang memeluk tubuhnya erat dari belakang. Nindy hanya bisa pasrah dengan sikap lelaki itu. Kendati pikirannya menolak, tetapi hatinya menerima dengan senang hati. Dia tersenyum kemudian, dekapan Yang Pou Han terasa begitu nyaman untuknya, hingga ia terpejam kembali untuk merasakan kedamaian yang mungkin sebelumnya tidak pernah ia dapatkan.
****
Sudah satu minggu berlalu sejak Nindy dirawat di rumah sakit, Yang Pou Han tidak pernah sekalipun melewatkan bermalam dengannya. Meski sering terjadi adu mulut antara Nindy dan Yang Pou Han, tetapi mereka selalu berdamai dengan berakhir tidur seranjang.
Nindy bahkan sudah terbiasa dengan pelukan yang melingkar di tubuhnya setiap malam. Dengkuran halus dari napas lelaki itu malah terdengar merdu laiknya melodi yang memenenangkan.
Namun, perasaan terbiasa dan nyaman yang ia rasakan justru membuat Nindy takut. Apakah dia telah jatuh cinta lebih dulu dengannya? Pernikahan aneh yang keduanya jalani, tanpa ada rasa cinta di antara mereka, tanpa saling mengenal dan mempertimbangkan aspek lain, membuat Nindy takut untuk terjerumus lebih dalam dengan perasaannya. Dia takut, jika tiba-tiba lelaki itu memutuskan untuk menyelesaikan pernikahan itu. Apakah dia bisa menerimanya dengan hati ikhlas?
Karena sampai detik ini, kendati Yang selalu memperlakukannya dengan baik, lelaki itu tak pernah sekalipun mengutarakan perasaanya kepada Nindy. Ataukah Yang Pou Han hanya menganggapnya seorang partner di atas ranjang, yang mungkin suatu saat bisa tergantikan oleh yang lain?
Ada rasa takut kehilangan di hati Nindy. Perasaan ingin memiliki lelaki itu untuk dirinya sendiri mulai tumbuh dengan cepat. Apakah itu terdengar egois? Bukankah setiap istri pasti ingin agar suaminya hanya dimilikinya seorang? Namun, hal itu terjadi karena pasangan suami istri itu saling mencintai. Lantas, bagaimana dengan hubungan Nindy dan Yang Pou Han? Apakah boleh jika Nindy ingin menguasai lelaki itu seorang diri?
Rasa sakit di relung hatinya mulai terasa, memikirkan hal yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan. Namun, semakin rasa nyaman itu hadir dalam dirinya, rasa takut kehilangan lelaki itu tumbuh semakin besar seiring banyak hal yang telah mereka lewati bersama.
__ADS_1
Sampai suara seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu, membuyarkan lamunan Nindy.
γNext ... 2 bab ya.. tinggalkan like dan jejak dulu sebelum lanjut. π