
Nindy mengerjapkan mata, ketika dirinya terbangun dari tidur lelapnya. Tatapan pertama tertuju pada dada lelaki itu yang semalam mendekapnya. Dia tersenyum kemudian, wajahnya kian merona dengan perasaan yang berbunga-bunga. Tangannya terulur menyentuh rahang serta pipi lelaki itu, mengusap perlahan. Akhirnya mereka bisa bersama lagi. Sungguh takdir Tuhan tidak bisa diterka.
Ketika Nindy berusaha keras mempertahankan lelaki itu, Tuhan menjauhkannya. Namun, ketika Nindy telah pasrah dan merelakan Yang Pou Han untuk perempuan lain, lelaki itu justru mendekatinya.
Nindy melepaskan pelukan Yang Pou Han, memindahkan lengan itu secara hati-hati.
Kaki telanjangnya menapaki lantai berbahan semen, yang terasa dingin di telapak kakinya. Dia berjongkok, memunguti pakaiannya yang berserakan, lalu mengenakannya kembali.
Senyum itu kembali terbit di bibir Nindy, mengingat bagaimana semalam mereka bisa bersama dengan tidur terlelap sembari berpelukan erat.
Mereka berdua sama-sama saling meridukan. Melihat bagaimana lelaki itu tak sedikit pun melepaskan tubuh Nindy dalam dekapannya, kendati mereka telah tidur dalam selimut yang sama, sudah cukup membuktikan bahwa, bukan hanya Nindy yang merindu, Yang Pou Han juga tidak kalah merindukannya.
Nindy keluar dari kamarnya, pergi ke kamar mandi yang berada di belakang rumah untuk membersihkan diri..
Hampir lima belas menit Nindy menyelesaikan mandi besar sebagai syarat wajib bersuci setelah bersenggama dengan suami. Perempuan itu mengenakan handuk yang dililit sebatas dada dengan rambut yang masih basah dengan bulir-bulir air yang menetes di ujung-ujung helaian surai panjangnya.
Dia kembali masuk ke kamar, membuka perlahan pintu itu tanpa menimbulkan suara, berharap tidak mengganggu tidur Yang Pou Han. Lelaki itu pasti kelelahan karena seharian mencari rumahnya yang terletak jauh dari pusat kota.
Lelaki itu membutuhkan banyak istirahat, mengingat demamnya semalam yang begitu tinggi, tetapi menyempatlan diri untuk bercinta meski tidak segila biasanya. Beruntung metode skin to skin itu bisa menjadi alternatif ketika demam menyerang, sementara tidak ada obat penurun panas yang tersedia di rumah Nindy.
Ya, Yang Pou Han cukup sadar, di mana mereka melakukannya. Di atas tempat tidur usang berbahan bambu dengan ukuran yang sempit, pasti tidak bisa melakukannya dengan leluasa, tetapi itu cukup membuat keduanya untuk saling melepas rindu.
Nindy berganti pakaian setelahnya, merapikan handuk, lalu menggelar sajadah di samping ranjang bambu yang sedang di tempati Yang Pou Han tidur.
__ADS_1
Pagi itu terasa dingin, udara sejuk membaur dengan kulit yang basah, semakin menciptakan rasa dingin dan menggigil. Namun, hal itu tidak menyurutkan niat Nindy melakukan salat sepertiga malam.
Suasana yang begitu sunyi, hening dan tenang membuat hati Nindy terasa begitu damai ketika melantunkan doa di setiap bacaan salatnya. Hubungan spiritual antara seorang hamba dengan Sang Pencipta memberikan ketenangan di hati juga psikis atau batin manusia ketika melakukan salat Tahajud.
Ya, ada dimensi dzikrullah atau mengingat Allah di kala manusia sedang khusuk masyuk dengan Tuhannya. Karena hanya dengan mendekat dengan Tuhan hati menjadi tenang, karena dengan mendekat kepada Tuhan, hati menjadi damai.
Nindy meneteskan air mata ketika sebuah doa dia panjatkan untuk ibu tercinta. Bagaimana pun kondisi ibunya dulu, dia tetaplah seorang ibu. Ibu yang merawat Nindy, mencintai Nindy dan membesarkan Nindy sampai maut telah merenggut kehidupannya.
Bukankah doa yang terkabul adalah doa anak yang soleh kepada orang tuanya? Sehingga Nindy senantiasa memohonkan ampunan untuk sang Ibu kepada Tuhan.
Entah mengapa Nindy merasakan rindu terhadap sosok orang tua. Mungkin dia ingin menunjukkan kepada ayah ibunya bahwa dia telah memiliki seorang suami yang mencintainya. Dia tidak lagi sendiri di dunia ini. Ada seseorang yang telah menjadi pasangannya, imamnya, dan kelak akan menjadi ayah dari anak-anaknya.
Tubuh Nindy sedikit berguncang bersamaan air nata yang tumpah di atas sajadah. Dia bersujud, memohon ampun atas dosa dan kekhilafan selama dia menjadi seorang hamba Allah. Dia sempat kabur dari suami, yang ternyata sangat mencintainya. Suami yang seharusnya tempat dia mencari banyak keberkahan, dan ladang pahala, tetapi Nindy malah pergi menjauh darinya.
Rasa syukur berkali-kali dia ucapkan, atas apa yang telah Tuhan takdirkan untuknya. Dia berharap tidak akan menjadi seorang yang lupa diri serta kufur akan nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadanya.
Hampir tiga puluh menit berlalu, hingga tanpa terasa azan Subuh berkumandang. Nindy beranjak dari duduknya yang akan melakukan ibadah salat Subuh. Namun, sebelum dia melakukan takbiratul ikh**ram, sebuah suara memanggilnya, membuat Nindy menoleh seketika.
"Apakah kau tidak mau menungguku? Aku juga ingin salat? Kau mau mengajariku?"
Senyum Nindy mengembang. Dia tidak percaya jika Yang Pou Han mau melakukan salat. Kejutan apa lagi ini? Nindy mengulum bibir bawahnya, lalu menariknya tipis. Senyum itu kian mengembang, bersamaan anggukan penuh antusias.
"Tentu saja. Aku akan membantumu belajar salat."
__ADS_1
Lelaki itu mengangguk, menurunkan kedua kakinya untuk menapak ke lantai. Selimut itu terlepas dari tubuhnya, membuat Nindy segera berpaling membuang muka.
"Sebaiknya kau gunakan kembali pakaianmu. Aku akan mengantarmu ke kamar mandi."
Dengan tidak tahu malu lelaki itu malah terkekeh. Melihat wajah merona sang istri ketika tanpa sengaja menatap tubuhnya yang masih tak berpakaian. "Kenapa wajahmu merah begitu? Bukankah kau sudah melihatnya hampir setiap hari?"
"Yaaang, jangan mulai lagi! Sudah, kenakan pakaianmu! Aku akan menunggumu di luar." Nindy menunduk, tanpa melepas mukenanya, dia berjalan keluar kamar menunggu lelaki itu mengenakan pakaiannya kembali.
***
Detik demi detik terus berputar. Rasa tenang dan damai menjelajah waktu. Bergulir seiring dengan butiran tasbih itu berputar.
Nindy tidak menyangka Yang Pou Han bisa melantunkan sedikit demi sedikit doa salat, lalu melakukan zikir bersama. Nindy tak banyak mengajarinya, tetapi lelaki itu seolah sudah hafal bacaannya? Sejak kapan dia mulai belajar?
Apakah Yang Pou Han belajar secara diam-diam di belakang Nindy?
Tidak jadi soalan itu semua, karena yang terpenting Nindy akan merasakan mimpinya menjadi kenyataan. Dia akan menjadi makmum salat dengan seorang imam yaitu suaminya sendiri.
Nindy menitikkan air mata. Pemandangan yang menyejukkan mata, melihat yang terkasih telah mengikutinya, mengikuti dengan hatinya sekali, bukan karena sebuah keterpaksaan. Namun, dengan kesadaran dari lubuk hati yang terdalam.
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (۱) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (۲) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (۳)
Artinya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.”
__ADS_1