
Nindy menatap pantulan dirinya di cermin. Sudah lama sekali dia tidak memandang cermin. Bahkan dia menyuruh untuk menyingkirkan semua cermin yang ada di kamar barunya. Dia takut melihat penampilannya sendiri. Dia tak sanggup melihatnya. Biarkan saja dia menjadi layaknya seorang buta, yang tak bisa melihat wajah sendiri seperti apa bentuknya. Namun, kali ini, dia berusaha keras melakukan hal yang paling dia takuti, becermin.
Yang Pou Han meletakkan kedua tangannya di bahu Nindy. Lelaki itu tampak menghela napas, lalu menyunggingkan senyum ke arah cermin, menatap bayangan mata Nindy yang tertangkap di cermin besar itu.
"Lihatlah! Kau masih cantik, tidak banyak yang berubah. Kau tidak perlu merasa rendah diri."
Nindy menyunggingkan senyum tipis. Disentuhnya tangan Yang Pou Han yang berada di atas bahu kirinya. "Aku sudah siap, Yang. Lakukanlah!"
Yang Pou Han melihat ketegaran dari wajah Nindy. Perempuan itu menguatkan diri di depannya, tak membiarkan wajah sedih terlihat sedikit pun di depan Yang Pou Han. Namun, berbeda dengan lelaki itu. Kata siap yang terlontar dari bibir Nindy membuat tangannya gemetar.
Netra sipit itu menatap gunting yang dijulurkan Nindy kepadanya. Sebuah gunting yang tampak tajam dan runcing, berkilat di bagian mata pisaunya. Yang Pou Han meneguk ludah, menatap gunting yang mengarah di depannya.
Perlahan dia mengambil alih gunting itu dari tangan Nindy, melihatnya sekilas. Tangannya tampak ragu ketika meraih rambut Nindy, tetapi tak ayal dia lakukan juga.
Kreesh
Lelaki itu memejamkan mata, ketika gunting itu dengan kejamnya memangkas rambut Nindy, memperlihatkan kulit kepala perempuan itu dengan jelas. Dia mengulanginya lagi, lagi, dan lagi. Setiap helai rambut yang berhasil dia hilangkan dari kepala Nindy membuat hatinya menangis pilu.
Rambut yang dulu sering dia mainkan, rambut yang membuatnya bergairah ketika sedang bergumul dengan Nindy, rambut yang selalu terasa lebih harum dan menggoda ketika dia menciumnya, kini dengan sadar telah dia pangkas dengan beringas.
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja Nindy sudah menjadi seorang yang baru. Kepalanya plontos tak menyisahkan sehelai rambut pun di kepala.
Yang Pou Han tampak tak kuasa. Dia membuang gunting di tangannya ke lantai, lalu membungkuk, memeluk Nindy dari belakang.
Lelaki itu menangis, menangisi Nindy. Belum pernah sekalipun Yang Pou Han menangis seperti itu di depan Nindy, tetapi kali ini, dia tak sanggup lagi menahannya.
__ADS_1
"Maafkan aku. Maafkan aku," ucapnya dengan memeluk erat tubuh Nindy.
"Kau tidak bersalah, Yang. Ini adalah takdir. Aku sudah berdamai dengan takdirku. Aku ikhlas."
Perkataan Nindy terdengar lirih, tetapi berhasil mengoyak luka di hati Yang Pou Han. "Kau akan sembuh, Sayang. Aku berjanji akan mencarikanmu pendonor. Aku janji."
Nindy hanya bisa tersenyum menanggapi. Merasa dicintai dan dipedulikan oleh suami, tentunya sangat membahagiakan, bukan? Meskipun kebahagiaan itu tertutup dengan masalah yang masih membelenggu kehidupannya.
"Aku tahu. Aku percaya kepadamu, Yang."
Ujian terberat bagi seorang suami, tatkala dia menyukai apa yang ada pada diri sang istri, tetapi Tuhan membuatnya kehilangan. Apakah dia masih bertahan dengan mencitai wanita yang sama, ataukah berpaling untuk mencari wanita yang lebih sempurna?
Sungguh cintailah istrimu, pasangan halalmu bukan karena kecantikannya, ketampanannya, harta bendanya, tetapi cintailah dia karena agamanya, karena Tuhannya. Niscaya apa pun ujian dan godaan yang menjadi penghalang keretakan rumah tangga, akan lebih mudah dilalui, meski terasa begitu berat.
***
Yang Pou Han terlihat begitu cemas. Tak henti-hentinya lelaki itu mengumpat ke arah sopir pribadinya lantaran terlalu lama sampai di rumah sakit. Dia memeluk tubuh lemah dan kedinginan itu.
Nindy begitu pucat, dengan mata sayup-sayup hampir terpejam. Bibirnya gemeretak, merasa kedinginan dengan suhu tubuh yang panas. Yang Pou Han bahkan memeluk Nindy dengan membuka pakaiannya, tetapi tidak dengan pakaian Nindy. Lelaki itu masih waras untuk menjaga aurat istrinya dari pandangan orang lain.
"Sayang, bertahanlah!" Dia berucap perlahan, mengusap wajah Nindy. Dikecupnya kening Nindy berkali-kali, berusaha agar Nindy jangan sampai tidak sadarkan diri.
Nindy tampak begitu lemas, tak bertenaga. Dia hanya pasrah dalam dekapan Yang Pou Han. Merasakan tubuh kurusnya dipeluk oleh lelaki yang dicintainya. Apakah ini adalah akhir hidupnya? Nindy sudah pasrah dengan semua yang ada. Dia ikhlas jika memang takdirnya sampai di sini. Dia bahagia telah mendapatkan suami yang mencintainya, sempat melahirkan seorang anak perempuan cantik yang merupakan buah cinta mereka.
Nindy merasa semua itu adalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri, karena tidak semua orang bisa mendapatkan nikmat seperti apa yang telah dia peroleh.
__ADS_1
"Yang, dingin." Suara Nindy begitu lirih dan nyaris tak terdengar, tetapi karena jarak mereka sedekat itu, Yang Pou Han bisa mendengarnya.
"Bertahanlah. Aku di sini, menghangatkanmu."
Lelaki itu menangis, mendekap erat tubuh Nindy. Mencoba menyalurkan suhu tubuhnya untuk menurunkan demam Nindy. Itu bukan demam biasa. Dokter mengatakan, jika Nindy dalam fase kritis, demamnya akan meninggi karena tubuh sedang melawan keras penyakit itu.
Mengingat penjelasan sang Dokter, Yang Pou Han semakin takut. Takut kehilangan wanita yang telah mengambil separuh hatinya itu. Takut jika Nindy akhirnya meninggalkan dirinya dan Anya. Bagaimana hidupnya nanti? Apakah dia bisa melewati semuanya seorang diri? Sampai suara lirih Nindy terdengar di indra pendengarannya, membuat hatinya kian pedih dan teriris perih.
"Yang, apakah aku akan mati?" tanya Nindy dengan mata yang hampir terkatup.
"Tidak, Sayang. Kau akan sembuh. Berjanjilah, kau harus kuat. Kau harus sembuh. Kita akan menua bersama, hidup bersama, membesarkan Anya bersama. Anya sangat membutuhkanmu. Dan ... aku."
Nindy tersenyum mendengar perkataan Yang Pou Han. Matanya terkatup, yang makin lama makin merapat. Menghilangkan celah di antara pelupuk mata atas dan bawah. Senyum itu begitu damai, seolah tiada beban yang sedang ditanggungnya. Dia bahagia, dalam dekapan orang tercinta. Dengan nyanyian tembang pengantar tidur, mengalun merdu, merasuk kalbu.
"Nindy, bangun! Nindy!"
Tangis itu pecah, meraung-raung. Dicengkramnya sandaran jok depan mobil, mengatasi rasa perih yang mencekam di jiwa. Bayangan Nindy yang selalu beradu mulut dengannya, saling melempar canda, dan tertawa bersama, membuat hati Yang Pou Han tersayat-sayat. Dia belum pernah jatuh cinta sedalam itu, belum pernah menemukan wanita yang mampu mengubah dunianya. Akan tetapi, ketika dia telah berhasil menemukan wanita itu, Tuhan berkata lain.
"Nindy ...!" teriaknya dengan begitu keras, memecah kesunyian di dalam mobil itu.
》Bersambung.
Part berikutnya bertabur bawang, tetapi berbuah manis. Siapkan tisu yang banyak, kita akan memasuki bab-bab akhir, karena ini adalah konflik ******* yang sudah disusun Author sebagai bagian akhir kisah Nindy dan Yang Pou Han.
Terima kasih atas dukungannya. Jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1
eh, moga cepet lolos, ya 🤭