Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
72. Malam Istimewa


__ADS_3

Menjelang malam, Nindy menimang Anya dengan lagu pengantar tidur. Gadis mungil itu tertidur pulas dalam gendongan ibunya. Dengan hati-hati, Nindy meletakkan Anya yang sedang terlelap dalam box bayinya. Dia tersenyum kemudian, menatap lembut ke arah Anya yang tertidur pulas, terbuai mimpi.


Nindy membungkukkan tubuh, mendaratkan kecupan hangat di pipi gadis mungilnya. Namun, sebelum perempuan itu berhasil menegakkan tubuhnya kembali, sebuah lengan kekar memeluknya dari belakang.


Kepala itu menunduk, meletakkanya tepat di bahu Nindy.


"Aku merindukanmu." Suara serak juga parau itu berbisik lirih di telinga Nindy. Perempuan itu tersenyum, sedikit menoleh ke samping, ke arah pria itu --Yang Pou Han.


"Emm, benarkah?" Nindy membalikkan tubuh seketika, menghadap lelaki yang sedang memeluknya.


"Yeah, kau pakai parfum apa?" Lelaki itu menunduk lagi, memosisikan hidungnya di bahu Nindy. Tanganya melingkar ke pinggang Nindy, menari perempuan itu dengan posesif. "Kenapa harum sekali. Kau tidak berniat menggodaku, 'kan?"


Nindy terkekeh, mengusap kepala lelaki itu yang masih setia menunduk di bahunya. "Apakah kau merasa aku sedang menggodamu?"


"Hemm, kau melakukannya ... setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik. Apakah kau tidak lelah menggodaku terus?"


"Tapi aku tidak memakai parfum."


"Sungguh?" Hidung itu kembali mengendus, tetapi baunya tetap sama, harum dan memabukkan. "Kau berbohong. Aku tidak mudah tertipu."


"Aku tidak berbohong. Aku tidak sempat melakukannya. Kau tahu Anya seharian sedikit rewel karena tumbuh gigi."


"Emm, baiklah aku percaya." Lelaki itu mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah Nindy. "Aku baru membelinya tadi. Kata penjualnya, ini sangat nyaman." Memberikan satu bungkusan kepada Nindy. "Pakailah, aku ingin melihatnya."


"Apa ini?" ucap Nindy seraya membuka bungkusan itu di depan Yang Pou Han. Jarang sekali Yang Pou Han memberinya kejutan, tetapi malam ini Yang Pou Han memberikan kejutan satu hadiah sebelum tidur, bukankah itu sangat manis?


Tepat ketika bungkusan kertas kado itu berhasil dibuka, ekspektasi Nindy terkait kejutan manis dari Yang Pou Han luntur sudah. Dia tersenyum kecut mendapati sebuah gaun tidur kurang bahan telah berada di tangannya.

__ADS_1


"Apakah kau menyukainya?" tanya Yang Pou Han tanpa rasa bersalah.


******* ringan keluar dari bibir Nindy. "Heem, aku menyukainya."


"Bagus. Masuklah ke kamar mandi, ganti pakaianmu. Aku akan menunggu di sini." Yang Pou Han mendorong perlahan tubuh Nindy, menggiring perempuan itu memasuki kamar mandi.


"Jangan lama-lama, ya." Yang Pou Han berbisik lagi sembari mengedipkan sebelah matanya. Pintu kamar mandi pun tertutup dengan Nindy berada di dalamnya.


Nindy masih mematung menatap gaun tidur berbahan tipis, tetapi lembut di tangan. Mungkin benar kata penjualnya, gaun itu sangat nyaman jika dikenakan. Namun, memakai pakaian seperti itu, apa yang bisa ditutupi oleh Nindy?


Sementara itu, di dalam kamar Yang Pou Han tampak mondar-mandir menunggu Nindy keluar dari kamar mandi. Sudah hampir lima menit, seharusnya berganti pakaian tidak membutuhkan waktu selama itu, bukan?


Dia tidak sabar. Dengan menahan rasa penasarannya, lelaki itu mengetuk pintu kamar mandi perlahan. Khawatir jika Anya terbangun karena suara ketukannya. Jika bayi kecilnya terbangun, maka tamatlah semuanya. Rencana memadu kasih malam ini akan menjadi hayalan saja.


"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa lama sekali?"


Pintu itu sedikit terbuka, hanya terdapat sedikit celah yang mungkin hanya bisa dilewati seekor ular saja.


"Aku baik-baik saja, Yang." Suara Nindy terdengar dari dalam, tetapi tetap tidak memunculkan diri. Yang Pou Han merasa lega karenanya. Ya, setidaknya Nindy baik-baik saja.


"Ayo keluarlah. Kau akan kedinginan di sana."


"Heem, matikan lampunya. Aku ... malu."


Yang Pou Han terkekeh, dia sedikit mendorong pintu kamar mandi itu perlahan, membuat celah yang lebih lebar supaya bisa memasukinya.


Nindy segera mundur ke belakang, tatkala lelaki itu berhasil masuk ke dalam kamar mandi. Dia menyilangkan kedua tangan di dada, menghalangi pandangan lelaki itu dari tubuhnya.

__ADS_1


Yang Pou Han melangkah maju, tak menghiraukan wajah merona Nindy yang susah kepalang malu. Dia memerangkap tubuh Nindy diantara dinding marmer dan tubuhnya, lalu melemparkan senyum.


"Kau ternyata lebih suka bermain di kamar mandi, ya?"


"Apa? tidak, itu tidak benar." Nindy menggeleng kuat.


"Lantas, kenapa kau tidak mau keluar?


"Aku, aku ...." Tanpa menunggu lama, lelaki itu sudah menarik tubuh Nindy, mengangkat tubuh itu ke dalam gendongannya. Nindy tampak terkejut, tetapi dia menahan bibirnya agar tidak sampai berteriak, menyadari Anya baru saja berhasil ditidurkannya.


"Yang ...." Dia melotot, memukul perlahan dada lelaki itu.


"Bukankah sudah sangat lama? Aku ingin mengulang malam-malam menyenangkan kita malam ini."


Nindy mengangguk malu, dibenamkannya wajah merona itu di dada Yang Pou Han. Ya, dia juga merindukan malam-malam itu. Malam panjang yang sering mereka lewati dengan memadu kasih, saling menghangatkan, berpeluh di ruangan ber-AC hingga malam panjang itu bergulir, berganti pagi.


Tubuh itu direbahkan di atas ranjang, dengan lelaki itu turut merangkak di atasnya, mengimpit tubuh itu dengan tubuhnya.


Malam kian larut, cahaya rembulan bersinar menghangatkan, pucuk-pucuk ranting bergoyang seiring angin malam berembus mengusik ketenangannya.


Dua insan yang saling merindu, dengan cinta yang menggebu, menyatukan tubuh yang mulai berpeluh. Sinar rembulan yang merasuk di sela-sela tirai jendela, menilik sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Mereka saling memeluk dan mendekap, membiarkan rindu yang teramat besar itu terlepas, meraup sepuas-puasnya tanpa ingin terbebas.


Yang Pou Han mengecup kening Nindy, setelah teriakan sarat akan kenikmatan itu berakhir. Dia tersenyum puas. Sudah lama sekali Yang Pou Han ingin melakukannya bersama Nindy, tetapi dia masih memikirkan kesehatan perempuan itu. Dan saat ini, ketika kesempatan itu hadir, lelaki itu tidak menyia-nyiakannya.


"Tidurlah! Aku tidak akan mengganggumu lagi," ucap Yang Pou Han seraya mendekap Nindy dalam pelukannya. Perempuan itu hanya bisa mengangguk tanpa mengucap sepatah kata. Ya, dia terlampau malu hanya untuk berbicara, hingga matanya terkatup, Nindy masih nyaman dalam dekapan lelaki itu.


***

__ADS_1


__ADS_2