
"Apa? Mana ada obat seperti itu?" Nindy menggelengkan kepala. Bagaimana demam bisa sembuh dengan cara yang seperti itu?
"Kau tidak memercayainya? Apa kau tega membiarkanku kedinginan seperti ini?" Dia memalingkan muka, posisi miring memunggungi Nindy. Dia kembali merasakan kedinginan yang menjalar, menyeruak di sekujur tubuh.
Sikap merajuk Yang Pou Han membuat Nindy merasa tidak enak. Karena dirinya yang tidak membukakan pintu, lelaki itu terserang demam. Namun, permintaan Yang Pou Han sulit untuk dilakukan. Bukankah mereka sedang marahan? Apalagi Nindy masih sakit hati dengan perilaku lelaki itu yang tidak bisa tegas dengan perasaannya. Nindy kesal kepada Yang Pou Han, tetapi juga tidak tega. Dia semakin bingung dibuatnya.
"Bukan tidak mau, tetapi ...." Perkataan Nindy menggantung, tetapo secepat kilat lelaki itu menyelanya.
"Jadi, kau mau?" Yang Pou Han berkata dengan antusias, lupa jika dirinya sedang sakit.
"Aku tidak bilang begitu, auuhh ...." Tangan Nindy ditarik dengan kuat, membuat perempuan itu tersungkur ke depan, terjerembab tepat di atas tubuh lelaki itu.
Pandangan mereka saling bersirobok dengan jarak sedekat itu. Rona merah seketika membias di pipi Nindy. Napas Yang Pou Han terasa panas, berembus di wajah Nindy. Nindy ingin bangkit, tetapi lelaki itu menahannya dengan melingkarkan tangannya di punggung Nindy.
"Yang, badanmu panas," ucap Nindy cemas, ketika tangannya menahan di dada Yang Pou Han. Suhu panas itu menembus kain kemeja, merasuk ke telapak tangan Nindy.
"Aku tahu."
"Aku akan mengompresmu lagi."
"Tidak perlu."
"Kau sakit."
"Aku hanya butuh pelukanmu. Kau mau, 'kan?"
"Aku ...."
***
Tubuh itu mulai berkeringat seiring suhu tubuh Nindy yang lebih dingin menyerap suhu panas tubuh Yang Pou Han. Lelaki itu dengan tidak tahu malu mengeratkan pelukan di tubuh sang istri, tanpa memedulikan penolakan dari perempuan itu.
Nindy merasa menengang di kala tangan kekar itu mengusap perutnya, sedikit geli dan menggelitik, sehingga dia memilih memindahkan tangan itu menjauh dari tubuhnya. Sementara Yang Pou Han hanya bisa tersenyum mengamati.
"Terima kasih," bisiknya serak di telinga Nindy.
Nindy hanya mengangguk menanggapi. Dia tidak tahu ini salah atau tidak, tetapi mereka masih sah menjadi suami istri, seharusnya posisi mereka yang seperti ini tidak dipermasalahkan, bukan? Yang Pou Han memeluknya dari belakang, meletakkan keningnya di ceruk leher Nindy.
Seperti rencana di awal, Yang Pou Han memeluk tubuh itu tanpa penghalang apa pun. Berada dalam selimut yang sama, dengan tangan memeluk erat tubuh yang begitu dia rindukan.
Kerinduannya sedikit terobati dengan posisi mereka yang seperti itu. Niat awal ingin ingin bercinta semalaman untuk melepas rindu, tetapi demam sialan telah mengacaukan segalanya.
Namun, sepertinya demam yang tiba-tiba muncul pada diri Yang Pou Han tidak sepenuhnya sebuah keburukan. Mungkin, Tuhan mempersatukannya dengan Nindy melewati demam itu, dan pada akhirnya Yang Pou Han harus bersyukur dengan sakit yang datang menderanya kali ini.
__ADS_1
Diusapnya perut Nindy lagi, menggerak ke atas, tetapi Nindy menahannya. Lelaki itu benar-benar ingin mengambil kesempatan dari sikap baik Nindy.
Nindy tidak ingin terbuai, dia harus tetap sadar, jika tidak ingin dipermainkan oleh lelaki itu.
Ranjang itu memang sempit, dan semakin terasa sesak ketika digunakan oleh dua orang sekaligus.
"Apa kau sudah membaik?"
"Emm." Hanya gumaman yang keluar dari bibir Yang Pou Han.
"Aku akan tidur di kamar sebelah. Kau tidak akan nyaman tidur di tempat sesempit ini."
"Emm, aku ikut!"
"Di sana juga sempit."
"Aku tidak bisa tidur, jika tidak memelukmu. Aku sudah terbiasa tidur dengan memelukmu. Kalau kau pergi, maka aku akan ikut pergi."
Nindy ingin menangis. Perkataan Yang Pou Han begitu membuatnya sentimental. Dia juga merasa nyaman dalam posisi seperti itu, tetapi dia tidak bisa jika harus seperti itu terus. Mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, mencintai seseorang yang tidak pernah mencintainya. Bukankah itu sangat menyakitkan?
"Aku tidak bisa, Yang. Aku tidak bisa melanjutkan ini. Aku tidak ingin berharap apa pun kepadamu. Anggap saja ini pelukan terakhir kita, sebelum kau kembali ke negaramu dan menikahi perempuan itu."
"Aku akan kembali besok." Nindy terdiam, penuturan jujur Yang Pou Han untuk kembali ke negaranya telah mengiris hatinya. Lelaki itu benar-benar ingin pergi darinya, tetapi masih sempat melakukan ini kepada Nindy. Egois, sungguh egois. Seharusnya Nindy menolak, tetapi dia selalu tidak berdaya. Nindy terlalu mencintainya, hingga dia dengan mudah menuruti semua keinginan lelaki itu, meski pada akhirnya membuat dia terluka.
"Mengapa? Mengapa aku harus ikut denganmu?"
"Karena kau istriku. Aku akan membawa istriku pulang."
"Aku tidak ingin sakit hati lagi. Kau jangan membujukku."
"Aku mencintaimu."
"A-pa kau ... bilang?" Nindy tidak salah dengar, 'kan? Baru saja Yang Pou Han mengatakan jika dirinya mencintai Nindy?
"Aku mencintaimu." Begitu ringan kata itu terucap dari bibir lelaki itu, padahal biasanya Yang Pou Han tak sedikit pun mau mengatakannya.
Nindy membalikkan tubuh, menghadap ke arah Yang Pou Han, sehingga mereka saat ini tidur berhadap-hadapan dengan posisi miring, tidak terlentang.
Nindy menatap lekat manik sipit itu yang juga sedang memandangnya. Tatapannya penuh dengan tuntutan kepada lelaki itu, agar melanjutkan kalimatnya. "Sejak dulu. Sejak pertama kali kita bertemu, di mobil itu. Kau mengingatnya?"
"Saat aku kabur dari preman-preman itu?" Dia menatap netra sipit itu dengan antusias, mengharap jawaban pasti akan hal yang terasa membahagiakan itu.
"Heem, aku sudah merasa tertarik kepadamu, tetapi aku menyangkalnya. Ternyata Tuhan telah mempertemukan kita kembali dengan cara yang unik."
__ADS_1
"Tertarik?" Hanya tertarik, bukan cinta. Dan itu membuat binar di wajah Nindy meredup.
"Iya, tertarik, sampai aku menyadari bahwa aku mencintaimu. Aku tidak bisa jauh darimu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku." Dia mengusap kening Nindy lembut, menghadiahi kecupan hangat di sana. "Aku mencintaimu, sebelum kau merasakan cinta itu. Aku mencintaimu, sebelum kau menginginkan pernikahan ini. Aku mencintaimu, karena itu aku setuju untuk menikahimu. Bukan karena skandal itu, tetapi karena aku ingin bersamamu."
"Benarkah? Aku ... tidak bermimpi, 'kan? Kau tidak sedang menipuku, 'kan?" Air mata itu mulai mengalir, merembes membasahi pipi.
"Aku mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu. Apakah kau ingin mendengarnya lagi?"
Nindy mengangguk, seraya tersenyum. Disekanya air mata kebahagiaan itu dengan ibu jarinya. Dia tidak mengira jika perasaannya terbalaskan. Dia dicintai, dia istri yang diharapkan. Dia memiliki suami yang menyayangi dan mencintainya. Bukankah itu hal yang sangat menggembirakan?
"Katakan lagi. Aku ingin mendengarnya lagi," pinta Nindy dengan mengusap pipi lelaki itu perlahan. Hatinya terasa berbunga-bunga saat ini. Dia sangat mencintai lelaki itu, bahkan pernyataan cinta Yang Pou Han yang berulang kali untuknya tak membuat Nindy puas.
Tangan Yang Pou Han segera menangkap jemari Nindy, menciumnya berulang kali, membuat perempuan itu kian melayang dengan sikap lembutnya.
"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Apakah kita bisa melanjutkannya dengan bercinta sebagai pembuktian?"
"Ehh!"
Lelaki itu berbalik, memosisikan tubuhnya di atas tubuh Nindy, dengan kedua siku sebagai penyangga agar bebannya tidak terlalu berat menimpa Nindy. Wajahnya kian mendekat, dan semakin mendekat, hingga bibir itu menyentuh lembut permukaan bibir Nindy dengan sentuhan seringan bulu.
"I love you," bisiknya lirih di atas bibir yang hampir menempel itu.
Nindy memejamkan mata, ketika merasakan kelembutan sentuhan halus nan lembab di bibirnya, begitu basah dan menyenangkan, membuat dia kian melayang.
Yang Pou Han menuntunnya lagi, untuk mencapai keindahan juga kenikmatan surgawi. Rasa cinta dan rindu melebur menjadi satu, mengangkasa hingga ke puncak tertinggi nirwana. Sampai suara asing yang biasa terdengar ketika mereka melakukannya terdengar berkali-kali membuat lelaki itu kian menggila.
Nindy nampak malu, ketika dia tak bisa menahan suara-suara itu, tetapi Yang Pou Han justru semakin menyukainya. Dia tidak akan melepaskan perempuan itu, yang bisa menentramkan hati, menyenangkan dan juga memuaskanya.
Hingga pada detik-detik terakhir, ketika semua sudah merasa melambung, mencekam, mengimpit, sehingga tak sanggup lagi ditahan, runtuhlah semua ego, kebencian dan kekecewaan. Nindy memeluk erat tubuh itu yang berhasil menanamkan kembali benih di rahimnya.
Mereka berakhir dengan saling memeluk, dengan wajah Nindy ditenggelamkan di dada lelaki itu. Kecupan hangat di dahinya membuat perempuan itu tersenyum. Dia bahagia, dia mencintainya.
Terima kasih, Tuhan. Atas kebahagiaan ini. Terima kasih, mengirimkannya kembali kepadaku. Terima kasih telah mempertemukanku kepadanya. Terima kasih, terima kasih. Nindy.
》Pertanyaan menarik dari reader tersayang.
a) Yang Pou Han bisa berbicara bahasa Indonesia?
Jawab : Hanya sedikit, karena dia menjalin kerja sama dengan orang Indonesia sehingga dia sedikit tahu tentang bahasa Indonesia. Untuk itu dia menggunakan ear piece penerjemah bahasa, sejenis translator yang biasa digunakan pejabat tinggi suatu negara dalam melakukan rapat penting di PBB. Karena tidak semua petinggi negara mau menggunakan atau belajar bahasa Inggris, terutama Jepang, yang banyak diketahui mereka menjunjung tinggi bahasa negaranya, sehingga mereka memiliki moto agar bangsa lain yang mempelajari bahasa mereka, bukan mereka yang harus mempelajari bahasa negara lain kendati itu bahasa internasional.
Semoga bahasa negara kita semakin dikenal di kanca Internasional, yaa ...
Next, masih diketik. Jika sanggup mungkin siang atau sore up lagi. Kemarin bocil rewel, tidak sanggup menulis banyak. Semoga dimaklumi yaa...
__ADS_1
Terima kasih yang sudah menyumbangkan vote, hadiah, like, dan komentarnya. Terima kasih. Salam sayang selalu. 🤗🤗